
[Chapter 74.]
[Bluzen.]
[Silahkan Dibaca.]
Pohon Abadi.
Tessa dan Kansha masuk ke dalam pohon abadi tersebut, mereka berdua berjalan dan tiba di sebuah ruangan yang sangat luas.
“Selamat datang di Pohon Abadi, kedua Elf keturunan Elf Raja.”
Suara tersebut membuat Tessa dan Kansha sedikit terkejut dan mereka bersiap-siap untuk hal yang tidak mereka inginkan.
“Aku adalah Pohon Abadi, dimana hanya Elf Raja beserta keturunannya yang bisa mengetahui lokasi ini,”
“Sebelum kalian mendapatkan kekuatan dariku, aku akan mengetes kalian dengan cara melalui 10 ujian, persiapkan diri kalian.”
Suara tersebut mengakhiri ucapannya yang membuat Tessa dan Kansha menjadi sedikit bingung.
Namun, mereka merasakan sesuatu muncul di tanah. Tessa dan Kansha melihat ke arah hal tersebut.
Blub blub blub blub.
“Tantangan pertama dimulai, silahkan kalian berdua kalahkan 10.000 Pasukan kayu di depan kalian.”
Suara tersebut berkata kembali, kemudian muncul berbagai prajurit yang terbuat dari kayu.
Kayu tersebut memiliki warna masing-masing berbeda, Tessa dan Kansha menatap ke arah pasukan tersebut dengan waspada.
Seketika mata para pasukan kayu tersebut bersinar berwarna emas, kemudian mereka berdiri dengan tegap dan mengeluarkan masing-masing senjata mereka yang terbuat dari kayu.
“Sepertinya pasukan ini bukan pasukan normal, Kak,” Tessa berkata dengan wajah serius miliknya.
“Kau benar, Tessa. Kita harus serius menghadapi mereka,” Kansha membalas dengan belati muncul di tangan miliknya.
Tessa juga mengeluarkan sarung tangan miliknya, kemudian senjata milik mereka berdua bersinar berwarna kuning.
“Dust.”
Wushhhhhhh.
Debu menyerbu ke arah para pasukan kayu tersebut, Kansha yang melihat Tessa sudah memulai, diapun mulai melepaskan sihirnya.
“Typhoon.”
Wushhhhhhhhh.
Pusaran angin kencang menerpa maju ke depan, debu dan pusaran menjadi satu, kemudian para pasukan terseret oleh angin debu tersebut.
(Note : enak lingkaran sihir keknya dibandingkan cahaya.)
Beberapa pasukan kayu memunculkan berbagai lingkaran sihir berwarna putih, kemudian lingkaran sihir menghilang.
Seketika pusaran angin besar menerpa pusaran angin debu milik Tessa dan Kansha, kedua pusaran bertabrakan.
Boosshhhhh.
Swushhh.
__ADS_1
Gelombang angin menyebar ke segala arah, pasukan kayu yang diterbangkan jatuh ke tanah.
Brukkk Brukkk Brukkk.
Pasukan kayu seketika patah dan hancur ketika bertabrakan dengan tanah, Tessa dan Kansha memandang hal tersebut dan berfikir.
‘Mereka rapuh.’
Namun, fikiran tersebut mereka hilangkan ketika melihat beberapa pasukan kayu masih bisa berdiri.
“Sepertinya ada yang rapuh dan ada yang kuat,” kata Kansha, kemudian Tessa mengangguk dan berkata.
“Ayo kita hancurkan mereka, kita tidak bisa membuat Suami dan Saudari Rina menunggu terlalu lama,” Kansha mengangguk.
Keduanya menyiapkan serangan kembali, kemudian mereka melesat maju ke arah para pasukan kayu.
Pasukan kayu yang melihat keduanya melesat maju, mereka dengan cepat mulai berlari ke arah Tessa dan Kansha.
**
Di sisi Kohta dan Rina, mereka berdua berjalan bersama, mengelilingi Negeri Elf, walaupun dikatakan Negeri, wilayah Negeri tersebut sebesar wilayah kota.
“Bagaimana kalau kita berpencar?” Rina mengusulkan hal tersebut, dia merasakan sesuatu menarik dirinya untuk ke tempat tersebut.
“Tidak perlu, apakah kau tidak ingin berjalan bersama denganku lagi?” tanya Kohta, dia mencoba terlihat sedih.
Rina melihat hal tersebut, segera khawatir dan berkata dengan panik, “Tidak, bukan begitu. Aku merasakan sesuatu menarikku ke arah sana.”
Kohta terkejut, jadi itu alasannya, dia juga merasakan hal yang sama, Kohta merasakan sesuatu memintanya ke arah sebaliknya.
“Kau juga?” tanya Kohta dengan terkejut, dia menghilangkan wajah sedihnya, Rina juga terkejut.
“Kita bersama, mulai dari ke tempat yang menarikmu, aku tidak bisa membiarkan istriku dalam bahaya lagi.”
Kohta benar-benar tidak ingin kejadian terulang kembali, Rina merasakan hangat dalam hatinya.
“Baiklah,” Rina menyetujui hal tersebut, kemudian mereka berdua berjalan ke arah barat.
**
Beberapa menit kemudian.
Mereka tiba di depan sebuah Gua yang terlihat tertutup oleh sebuah lumut, mereka benar-benar mengira tidak ada Gua disini.
“Mari kita masuk,” Kohta memegang tangan Rina, kemudian keduanya masuk ke dalam Gua tersebut.
Seketika suhu dalam Gua menurun, Kohta bisa menahan hal tersebut, sementara Rina sudah terbiasa dengan kedinginan.
Rina khawatir terhadap Kohta, bagaimanapun tidak mungkin Kohta bisa bertahan dengan kedinginan ekstrim.
“Sayang, kau tunggu disini,” Rina berkata dengan nada khawatir, Kohta menatap ke arah ujung gua, dia benar-benar merasakan familiar.
“Kau pergilah, sesuatu disana menunggumu,” Kohta berkata, kemudian dia mundur dan melihat Rina yang berjalan masuk semakin dalam gua tersebut.
‘Niat pedang, itu benar ini kehendak pedang, jika begitu berarti....’ batin Kohta, dia menatap ke arah Timur, dimana perasaan menariknya ke arah Timur.
“Sepertinya aku akan menerima pedang baru,”
**
__ADS_1
Di sisi Rina.
Rina masuk ke dalam, dia juga merasakan dingin, namun dia sendiri kebal terhadap dingin.
“Rina, kau akan mendapatkan sesuatu yang menarik.”
Sigmarus dengan tajam memperhatikan perasaan tersebut, Rina sendiri senang dan bersemangat.
“Semoga bisa meningkatkan kekuatan tempurku,” ungkap Rina, dia ingin menjadi lebih kuat agar kelak bisa bertarung bersama dengan Kohta dan para saudari lainnya.
(Note : Rina selalu merasa lemah, walaupun aslinya dia kuat, namun dia selalu rendah diri, dia akan selalu menganggap ada yang lebih diatasnya, sifat seorang yang ingin berkembang lebih.)
Rina tiba di ujung Gua, dia melihat sebuah pedang berwarna biru dengan motif lambang es.
Pedang tersebut berada di atas es dengan di sangga oleh sebuah es, Rina tidak menemukan apapun kecuali sebuah tulisan di depan pedang.
{Pedang Bluzen.}
{Siapapun kau yang terpilih oleh pedang ini, ambillah dan rawat pedang Bluzen tersebut. Aku menitipkan pedangku disini agar kelak bisa menemukan pasangan yang cocok.
Salam, Elf Frozen, Kirikasa.}
Rina membaca hal tersebut, kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah pedang tersebut.
Rina berjalan di depan pedang tersebut, dia bisa merasakan keinginan pedang tersebut, Rina mengulurkan tangannya dan memegang pedang tersebut.
Sringg
Wushhhh.
Cahaya menyinari pedang dan Rina, aura dingin menyebar ke segala arah. Pedang tersebut melakukan kontrak dengan sendirinya ke Rina.
“Jadi, pedang ini adalah Pedang Roh, Bluzen.”
Sigmarus akhirnya ingat dengan pedang tersebut, dimana pedang yang pernah dibawa oleh Elf Frozen.
Pedang dan Rina menyatu, kemudian cahaya menghilang digantikan Rina yang tenang dan menerima seluruh ingatan pengalaman pengguna pedang tersebut.
Rina membuka matanya yang terpejam, kemudian ditangan miliknya terdapat simbol elemen es, pertanda bahwa pedang miliknya sudah terkontrak.
“Bluzen.”
Brushhhh.
Seketika pedang muncul dengan angin kencang, pedang muncul tepat di tangan dari Rina.
“Sekarang aku adalah partner barumu, Bluzen. Namaku adalah Rina El Yunan, mohon kerjasamanya,”
Pedang menyadari hal tersebut, dia bersinar berwarna biru, kemudian meredup kembali.
Rina kembali memasukkan Bluzen kedalam tangannya kembali, kemudian dia berjalan keluar dari Gua.
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.
__ADS_1