Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 90


__ADS_3

[Chapter 90.]


[Yeti.]


[Silahkan Dibaca.]


Frozen Mountain, Avrest. Sebuah pegunungan dengan permukaan yang sangat tertutup oleh salju. Air yang berada di gunung tersebut selalu membeku. Di gunung tersebut hanya ada kehidupan para monster-monster dan para manusia yang memiliki energi menghangatkan.


Kohta berjalan menyusuri gunung Avrest. Dia berjalan dengan pelan dan melapisi dirinya dengan Kin. Dia benar-benar bingung dengan arah melewati gunung Avrest tersebut. Pemuda itu melihat ke sekeliling dan berkata,”Aku harus pergi kemana?”


Oda yang berada di dalam jiwa Kohta menepuk keningnya mendengar ucapan Kohta. Dia tidak percaya mengikuti pemuda yang sangat buruk dalam arah. Pria tua itu menatap ke arah Kohta.


“Nak, pergilah ke Timur batu depanmu itu!” perintah Oda, Kohta dengan cepat mengangguk. Pemuda itu berjalan ke arah batu terlebih dahulu, kemudian melihat ke kanan dan kiri. Dia mengambil arah ke kanan, Oda yang berada di dalam Kohta mengedutkan bibirnya.


“Nak, itu Barat. Timur arahnya ke kiri dari batu.” Oda benar-benar lelah mengarahkan Kohta di pegunungan. Pria tua itu benar-benar tidak menyangka bahwa Kohta seburuk itu dalam mata angin di pegunungan.


“Maaf Pak tua, kau tahu segala arah bentuknya sama, jadi aku sudah berjalan lurus dan itu benar,” ucap Kohta, Oda semakin lelah mendengar alasan Kohta. Mereka sudah berjalan selama 5 jam dan Kohta hanya berputar di jalan yang sama terus.


“Oh Pak tua, lihat-lihat ada jejak kaki sebesar ini. Aku hanya seukuran dengan jari manis jejak kaki ini. Apakah kau tahu jejak kaki apa ini?” tanya Kohta dengan serius. Oda menatap ke arah jejak kaki tersebut, dia mengerutkan keningnya.


“Nak, ini jejak kaki dari Yeti, Monster salju level Beast tingkat 1.” Oda berkata dengan serius, Kohta mengangguk dan berkata dengan nada semangat,”Ayo kita ikuti, Pak tua. Entah kenapa aku memiliki firasat akan bertemu hal baik nantinya.”


Oda yang berada di dalam jiwa Kohta berkata,”Ikuti saja, kau bisa mengatasi 1 Yeti. Jika mereka berkelompok segera pergi, karena mereka paling susah dilawan jika di gunung ini.” Oda memperingatkan Kohta.


Kohta mengangguk paham. Kemudian dia mengikuti jejak kaki dari Yeti itu, dia mengikuti secara cepat, karena jejak kaki akan perlahan menghilang tertutup oleh salju. Oda menatap Pemuda itu dengan penuh penasaran dengan insting yang dimilikinya.


**


Timur Pegunungan Avrest, hamparan bidang yang sangat luas tertutup oleh salju. Di tempat tersebut terdapat beberapa Monster yang sangat besar. Monster tersebut mirip dengan Orangutan, namun Monster itu berdiri dengan tegap dan bulunya berwarna putih.

__ADS_1


Monster itu memiliki taring yang runcing mirip seperti Harimau. Mata Monster itu bewarna merah, tinggi Monster itu 30M, Monster itu ialah Yeti. Monster salju yang paling kuat dan tinggi, Monster yang menempati peringkat ketiga dari Monster paling berbahaya di Gunung Avrest.


Di balik gundukan salju terlihat sebuah kepala manusia yang sedang mengintip para Yeti di hamparan bidang bawah tersebut. Manusia itu ialah Kohta, dia sudah tiba di lokasi para Yeti berkumpul. Kohta dan Oda menatap ke bawah dengan penuh rasa penasaran.


“Pak tua, mereka terlihat menjaga sesuatu disana,” kata Kohta sambil menunjuk ke sebuah gua yang dalamnya terlihat bercahaya merah. Oda menatap gua itu, lalu dia melebarkan matanya. Dia tidak menyangka ucapan Kohta benar.


“Nak, firasatmu sepertinya benar. Apapun yang terjadi, cobalah untuk pergi ke dalam gua itu,” ucap Oda, entah kenapa dia seperti benar-benar melihat harta karun. Kohta mengangguk, bagaimanapun juga hal yang berada di gua tersebut pasti akan menguntungkan dirinya.


Namun, Oda memikirkan cara agar Kohta bisa sampai ke gua tersebut. Dia berfikir bagaimana melewati 40 Yeti yang sedang berjaga di depan gua tersebut. Kohta sendiri menyeringai dan berkata dengan penuh semangat.


“Pak tua, kenapa kau lama berfikir? Bukankah lebih mudah turun dan menyerbu ke gua secara terang-terangan.” Kohta melompat ke bawah. Oda terkejut dengan tindakan Kohta, dia berteriak,”Dasar bodoh.”


Boommm


Namun percuma, Kohta sudah tiba di hamparan bidang itu. Seketika seluruh Yeti menatap ke arah ledakan kecil tersebut. Mereka menatap ke arah ledakan dan melihat sosok pemuda yang memegang dua pedang.


Para Yeti mulai berkumpul dan melindungi gua. Mereka terlihat tidak ingin pemuda itu masuk ke dalam gua yang mereka jaga. Bulu mereka seketika tegak dan mereka memunculkan pedang es di tangan masing-masing.


Wushhhhhhh.


Kin perlahan memasuki kedua pedang yang di pegang oleh Kohta. Kedua pedang seketika berubah menjadi merah. Pedang mengeluarkan tekanan yang membuat Yeti mundur selangkah ke belakang. Oda terkejut dengan hal itu.


‘Bocah ini ternyata sudah memasuki tahap kedua dari Kin,' batin Oda dengan penuh kejutan, dia tersenyum dan mulai mengamati pertempuran Kohta dan 40 Yeti. Dia benar-benar ingin melihat perkembangan Kohta sejauh mana.


Kohta yang sudah menjadi serius, seketika mengayunkan kedua pedangnya. Dua proyektil tebasan besar melesat ke arah 40 Yeti.


Slashhh Slashhhh.


Para Yeti melihat Proyektil tebasan tersebut. Mereka dengan cepat melemparkan pedang ke arah proyektil tebasan tersebut. 40 Pedang es melesat ke arah Proyektil tebasan tersebut.

__ADS_1


Wush Wush Wush Wush Wush


Boooooooommmmmm.


Ledakan terjadi antara pedang es dengan proyektil tebasan. Salju di bawah ledakan terbang beterbangan menutupi pandangan Yeti. Para Yeti tidak tahu dimana keberadaan Kohta, mereka hanya bisa meningkatkan kewaspadaan.


Wushhh.


Salju perlahan turun menghilang, Para Yeti melihat ke arah tempat Kohta berdiri sebelumnya. Mereka melihat bahwa Kohta masih berada di tempat dengan senyum seringai. Mereka benar-benar merasa dihina oleh Kohta.


Grooooooaaaaaaarrrrrrr.


Kohta mendengar raungan marah dari Yeti tersebut. Dia senang, karena itu adalah tujuan dari serangan awal miliknya. Serangan yang digunakan di awal pertempuran adalah salam pembuka bagi Kohta.


“Salam pembukaku ternyata ditanggapi, maka dari itu, waktunya serius.” Kohta mengeluarkan ken ke arah dirinya dan pedang miliknya. Salju di dekatnya menghilang membentuk sebuah lingkaran. Pedang yang sebelumnya merah berubah menjadi putih.


Oda tersenyum melihat Kohta menggunakan Ken yang sudah berada di tingkat kedua. Dia mengangguk puas.


Para Yeti yang sudah melapisi tubuhnya dengan es. Mereka berlari menuju ke arah Kohta dengan cepat. 40 Yeti terlihat seperti melesat maju dengan cepat.


Boom Boom Boom Boom Boom.


Setiap langkah kaki mereka pasti akan menimbulkan ledakan di tanah. Kohta melihat hal itu, juga ikut melesat ke arah Yeti. Perang antar makhluk terkuat Avrest melawan Pendekar Pedang terkuat dimulai.


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thanks you Minna-san.


__ADS_2