
[Chapter 111.]
[Perang.]
[Silahkan Dibaca.]
Gerbang Kota, terdengar ledakan yang sangat dahsyat. Ledakan itu membuat seluruh penduduk terkejut, mereka langsung menatap ke arah gerbang kota. Seluruh warga melihat sosok monster dengan leher yanga sangat panjang.
“I-itu, Monster,” teriak salah satu penduduk, membuat seluruh orang sadar dan berbalik dengan cepat melarikan diri dari gerbang kota. Para prajurit kota dengan cepat mulai bergerak melintas menuju ke arah gerbang kota.
“Semuanya, evakuasi penduduk dan mulai pergi ke gerbang kota!” perintah seorang pria yang mengenakan armor emas. Pria itu dengan ringan memasang pelindung kepala dengan sebuah aksesoris rambut merah.
***
Sosok pemuda terlihat melompat di setiap atap rumah, sosok itu menatap depan tepatnya gerbang yang mulai muncul siluet-siluet berbagai monster. “Mari kita menari, Monster sialan.”
Sosok itu memegang pedangnya dengan erat, api berkobar dengan kuat. Sosok tersebut ialah Kohta Hideoki. Dia melihat para siswa yang dia tugaskan, mulai mengevakuasi para warga, hal itu membuar sudut mulutnya naik membentuk senyuman.
Tiba di dekat gerbang, Kohta dengan lihai mengayunkan pedangnya. Dia tidak menggunakan teknik miliknya, hanya mengandalkan fisik. Kemudian, terlihat dari ayunan pedang muncul proyektil tebasan merah melesat ke arah para monster yang siap masuk ke dalam Kota.
Wushhhhhh.
Para prajurit terkejut melihat tebasan tersebut. Para monster yang berjalan seketika berhenti, di saat tebasan mengenai tubuh mereka. Seluruh pasukan melihat para monster teriris menjadi dua bagian. Hal itu membuat mereka semakin terkejut.
“Itu tadi apa?”
“Sihir apa itu tadi?”
Namun, sebelum ada yang menjawab. Kohta mendarat di tanah tepat tengah-tengah para pasukan tersebut. Kobaran api membuat semuanya sadar akan kehadiran Kohta tersebut. Mereka dengan cepat menatap Kohta yang memegang pedang miliknya.
__ADS_1
“Sepertinya aku tepat waktu.” Kohta berkata dengan ringan, seluruh pasukan sadar seketika. Namun, sebelum mereka bertanya. Terdengar suara auman monster yang begitu mengerikan. Terlihat di gerbang kota sosok monster tinggi sedang berlari masuk ke dalam gerbang.
Pedang Arsta menyala, kobaran api emas berkibar dengan gembira, sepuluh rantai keluar dari tubuh Kohta. Rantai berwarna biru seketika berubah merah dan berkobar api di rantai tersebut. Para prajurit terkejut akan hal itu.
“Kalian urus yang kecil saja!” Perintah Kohta kepada seluruh prajurit. Dia melesat dengan cepat tanpa menunggu jawaban dari para prajurit. Tujuan Kohta hanya satu, menari di medan perang, bunuh sebanyak-banyaknya monster.
***
Para prajurit mendengar perintah Kohta, mereka bingung harus bereaksi bagaimana. Akan tetapi, seluruhnya cepat sadar dan mulai mengikuti perintah Kohta tersebut. Pedang mereka pegang dengan erat, Kapten dari prajurit berteriak, “Bunuh para Monster, lindungi Ibukota!”
Teriakan-teriakan para prajurit terdengar, semangat mereka berkobar. Dengan cepat seluruh prajurit melesat ke arah Monster dan membunuh para monster dengan cepat. Pemimpin para prajurit tiba, dirinya melihat prajurit maju penuh semangat, entah kenapa heran.
“Sepertinya ada yang kulewatkan.” Pemimpin prajurit menaikkan sudut mulutnya, senyum menghiasi dirinya. Pedang miliknya keluar, mana menyelimuti pedang membuat pedang tersebut bersinar terang.
“Baiklah, dengan begini mari menari.” Pemimpin prajurit melesat dengan kuda miliknya. Dia menambahkan sihir di kuda miliknya, membuat kuda melesat dengan cepat sampai-sampai hanya terlihat siluet bayangan kuda saja.
***
Slash Slash Slash Slash.
Kohta muncul di belakang Orc yang terlihat tertebas di berbagai tempat. Kohta menatap ke depan dan melesat maju dengan cepat, dia mencari dalang penyerangan tersebut. Banyak monster menghadangnya, akan tetapi seluruh monster itu tertebas dengan cepat.
Kohta melihat tepat di puncak atas hutan, disana terlihat sosok makhluk dengan raga manusia, tanduk empat terpasang di atas kepalanya, sayap lebar terlihat. Sosok itu tidak lain ialah Iblis tingkat tinggi.
“Pak tua, berada di tingkat apa, Iblis itu?” Kohta sambil menebas monster, bertanya kepada Oda yang berada di dalam Alam bawah sadarnya. Oda yang ditanya tersebut, menatap ke arah Iblis itu dengan datar.
“Hanya tingkat Grandmaster puncak.” Oda benar-benar menganggap itu Iblis, rendah. Dirinya sendiri adalah Raja Iblis. Hanya seorang Iblis Grandmaster puncak, baginya itu dengan satu jari saja cukup. Arthur di sisinya paham, dia juga sama akan Oda. Iblis di depannya hanya bagus tampilan namun tidak kekuatan.
Kohta sedikit menaikkan alisnya, hanya Grandmaster puncak. Dia bertanya-tanya apakah Grandmaster puncak adalah lemah. Dia terkejut dan sadar, dirinya tersenyum dan berkata, “Itu benar, hanya Grandmaster puncak saja.”
__ADS_1
Kohta benar-benar tidak peduli tingkat Iblis tersebut, dirinya melihat monster sudah menghilang dari tempat dia berdiri. Kobaran api semakin membesar, di sekitar Kohta terlihat berbagai macam bunga merah berserakan.
“Hideoki art...” Kohta berkata dengan pelan, dia menstabilkan nafasnya. Api membentuk lingkaran dengan pusat adalah Kohta sendiri. Dalam api terlihat berbagai bunga terangkat naik ke atas, bunga itu semakin memerah. Kohta dengan cepat mengayunkan pedangnya ke depan. “Flaming Flower Blade.”
Wush Wush Wush Wush Wush Wush.
Berbagai melesat menuju ke arah Iblis di atas hutan. Bunga api tersebut melesat dengan membentuk sebuah formasi pedang. Iblis melihat hal itu, dirinya menatap dengan rendah serangan tersebut. Dia berkata, “Dasar manusia rendahan, beraninya menyerangku.”
Sringggg.
Penghalang tak kasat mata muncul di depan Iblis tersebut. Iblis memandang serangan Kohta dengan remeh. Namun, ketika pelindung miliknya bersentuhan dengan serangan tersebut. Berbagai bunga keluar dari formasinya dan menyerang ke arah sisi yang tidak terlindungi.
Iblis terkejut akan serangan tersebut. Dirinya dengan cepat membuat pelindung di sisi lain, akan tetapi sudah terlambat. Bunga api melesat terlalu cepat menusuk berbagai tubuh dari Iblis tersebut. Tusukan bunga api begitu dalam dan api panas membuat luka tersebut menjadi sakit.
“Rahhhhhhhh,” teriak Iblis kesakitan. Dirinya benar-benar tidak menyangka akan rasa sakit yang dia terima. Rasa sakit yang begitu dalam membuatnya harus jatuh ke dalam hutan. Dirinya jatuh dan berguling-guling di tanah.
***
Kohta melihat asap dari hutan, dirinya menyadari bahwa asap tersebut adalah asap dari api yang berada di dalam Iblis yang diserang dirinya. Kohta dengan cepat melesat ke arah hutan. Dia merasa akan ada sesuatu hal yang buruk terjadi.
Namun, ketika akan masuk ke hutan. Lingkaran sihir besar terlihat, lingkaran berwarna merah muncul di atas hutan. Kohta melihat itu, segera mundur dengan teknik miliknya. Dia kemudian, mendengar teriakan amarah dari dalam hutan.
“Bjingn, kau sudah membuatku marah, Manusia Rendahan.”
[To be Continued.]
Note : Bulan ini kuhiatuskan dulu. Lanjut bulan depan, ada kendala di RL, juga device belum mendukung. Sampai jumpa, Bulan depan.
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.