Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 66


__ADS_3

[Chapter 66.]


[Akhir.]


[Silahkan Dibaca.]


Gerbang Kota Sina.


Oda menatap ke arah Rashura Bee yang sudah selesai membuat serangan miliknya, kemudian Rashura Bee melesatkan serangan tersebut ke arah Oda.


(Note : Kohta di rasuki oleh Oda, jadi namanya kutulis Oda, bukan Kohta, seperti sebelumnya.)


Oda menatap serangan tersebut, kemudian mengayunkan pedang Tresta dengan pelan, namun ketiga istri Kohta bisa merasakan sensasi ngeri dari ayunan pedang tersebut.


Wushhh


Booommm.


Proyektil muncul dan menghantam serangan dari Rashura Bee tersebut, ledakan terjadi. Namun, sebelum mengakibatkan efek dari ledakan, proyektil tebasan Oda menelan ledakan tersebut.


Kejadian tersebut hanya berselang dalam 1 detik, bagi mata ketiga istri Kohta. Serangan proyektil tidak terlihat, mereka hanya mendengar suara ledakan saja.


“Kapan?” tanya Tessa dengan penasaran, Rina dan Kansha juga penasaran, mereka benar-benar terkejut melihat serangan Rashura Bee menghilang.


Oda tidak menjawab, dia melesat maju ke depan Rashura Bee, kecepatan miliknya benar-benar membuat ketiganya terkejut.


Terlihat Oda melesat, namun dalam pandangan mereka bertiga, mereka melihat Oda seperti berteleportasi terus-menerus.


Tak butuh waktu lama, Oda tiba di depan Rashura Bee, pedang Tresta yang berada di tangan kirinya, dia taruh di belakang dengan posisi terbalik.


“Dark Impulse.”


Oda berputar dan terciptalah sebuah pusaran lurus ke depan berwarna hitam, Rashura Bee yang melihat hal tersebut tidak sempat menghindar maupun bertahan.


Brushhhhh.


Rashura Bee terkena serangan tersebut, dia terbawa arus ke belakang. Pusaran hitam menghilang, kemudian terlihat Rashura Bee penuh dengan luka dan kobaran hitam.


“Shadow Steps.”


Oda berubah menjadi asap hitam, dia benar-benar menghilang sepenuhnya. Rashura Bee yang melihat hal tersebut, dia merasa bingung.


***


Kansha yang melihat hal tersebut terkejut, bahkan kedua saudarinya juga terkejut dengan teknik Oda tersebut.


“Bagaimana bisa, itu adalah teknik tertinggi dari Stealth,” Kansha benar-benar terkejut, dia merasakan bahwa teknik Oda lebih kuat dari teknik sama lainnya.


“Sebenarnya siapa yang merasuki tubuh Kohta?” tanya Rina, dia terkejut saat melihat pusaran hitam tersebut, mereka saja harus menggunakan mana banyak dan juga bentuknya tidak horizontal melainkan Vertikal.


Tessa sendiri terdiam, dia juga terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka, orang yang merasuki tubuh Kohta benar-benar seorang Raja Iblis.


“Aku tidak tahu,” Tessa menggelengkan kepalanya, Rina dan Kansha tidak bertanya selepas dia tahu bahwa Tessa tidak memiliki apapun informasi soal roh Kohta.

__ADS_1


“Kita harus mendesaknya untuk memberitahu rohnya,” Rina penasaran dan harus tahu hal tersebut, jika tidak dia tidak akan bisa berkembang lebih jauh.


Tessa dan Kansha diam-diam mengangguk, kemudian mereka menatap ke arah pertempuran dengan serius dan fokus tinggi.


***


Oda muncul di depan Rashura Bee, kedua pedangnya bercahaya. Kemudian, dia mengayunkan kedua pedangnya tersebut.


“Double Slash.”


Wushhh Wushhh.


Proyektil tebasan yang sangat besar melesat ke arah Rashura Bee yang berada tepat di depan Oda tersebut.


Rashura Bee menyadari bahaya tersebut, dia dengan cepat menyatukan ke enam tangannya membentuk silang dua kali.


Tringgggggg.


Bzzzzzzzzztttttttt.


Benturan kedua serangan melawan enam tangan yang bertahan, menghasilkan kilatan-kilatan petir berwarna hitam.


Kraakkkk


Pyaarrr.


Keenam tangan Rashura Bee hancur berkeping-keping, dua proyektil tebasan masih utuh dan menebas Rashura Bee.


Jresssss Jresssss.


Rashura Bee berteriak dengan keras, dia benar-benar merasakan rasa sakit yang dalam, dari luka yang timbul kobaran api hitam dan melalap Rashura Bee.


“Fase terakhir kah, kalau begitu akan kuakhiri dengan serangan 1% milikku,” Oda berkata sambil memposisikan kuda-kuda miliknya.


Kedua pedangnya masuk ke dalam sarung pedang, Oda menghirup udara agar dirinya menjadi lebih tenang.


Siluet matanya terlihat, kemudian dia menutup matanya dan lingkungan di sekitar dirinya mulai berwarna putih hitam.


“Fire art - Devour Fire.”


Slashhhh.


Seketika Oda berada di belakang Rashura Bee, kemudian terlihat Rashura Bee terpotong menjadi dua.


Api melahap seluruh api hitam beserta Rashura Bee, meninggalkan area yang rata penuh dengan debu.


“Baiklah, waktunya tidur kembali,” Oda menghilang dan mengembalikan Kohta ke dalam tubuhnya.


‘Ingat kata-kataku, jangan buat masalah selama sebulan,' Oda mengingatkan kembali kepada Kohta, lalu Oda pun tidur.


‘Baik, akan kuingat,' Kohta membalas dengan serius, lalu dia tersenyum dan berterimakasih kepada Oda yang sudah tidur dalam jiwa miliknya.


“Terimakasih, Pak Tua Oda,” ungkap Kohta, kemudian dia berbalik dan melangkah menuju ke tempat ketiga istrinya.

__ADS_1


Namun, sebelum dia bisa bergerak. Dia merasa lemah dan ingin jatuh ke bawah, namun Kansha seketika muncul dari kekosongan dan menangkap Kohta.


Grep.


“Kohta, kau tidak apa-apa?” tanya Kansha, kemudian dia membaringkan Kohta di paha miliknya.


“Uhh, aku tidak apa-apa, hanya lelah saja, mungkin beberapa menit kemudian pulih kembali,” ucap Kohta.


Kansha menghela nafas lega mendengar hal tersebut, kemudian mereka berdua mendengar suara teriakan dari jauh.


“Kohta,” teriak kedua suara tersebut, yang tidak lain ialah suara dari kedua istrinya, Rina dan Tessa.


Tak lama kemudian, keduanya tiba di dekat Kohta. Mereka berdua menatap ke arah Kohta dan mengecek keadaan Kohta.


“Kau tidak apa-apa?” tanya kedua istrinya tersebut, dengan penuh kekhawatiran. Kohta yang melihat hal tersebut tersenyum dan merasa hangat dalam hatinya.


“Aku tak apa, hanya sedikit lelah. Lalu, bagaimana dengan kalian?” tanya Kohta, ketiganya tersenyum dan menjawab secara bersamaan.


“Kami tak apa,” ketiganya menjawab dengan kompak, kemudian Rina dan Tessa mencium kedua pipi Kohta, Kansha sendiri mencium kening Kohta.


Kohta terkejut mendapatkan hal tersebut, lalu dia mendengar ucapan selamat dari ketiga istrinya tersebut.


“Selamat telah membunuh Monster itu,” ucap mereka bertiga.


Kemudian, mereka berempat menikmat waktu mereka bersama, sebelum berjalan pergi menuju ke Kota Sina yang sudah hancur.


*


Para petualang mulai menyisir luar kota Sina, mereka mulai melakukan hal tersebut, saat selesai mendengar ledakan dan getaran gempa.


“Oi, disana ada orang yang tergeletak,” petualang1 berkata sambil menunjuk ke tempat samping kawah besar tersebut.


“Kita kesana,” dengan cepat para petualang menuju ke arah orang tergeletak tersebut, mereka tiba dan terkejut.


“Guildmaster,” teriak mereka, kemudian dengan cepat tim healing menyembuhkan Guildmaster.


Mereka bergerak cepat saat merasakan jantung Guildmaster masih berdetak dengan normal.


“Oi, disana ada orang berjalan ke arah kita,” teriak petualang2 melihat ke arah kawah dan melihat 4 sosok orang menuju ke arah mereka.


“Kita hampiri mereka,” beberapa petualang menghampiri ke empat sosok tersebut, yang tak lain sosok Kohta beserta ketiga istrinya.


Pertempuran Kota Sina selesai, pertempuran yang paling mengerikan, dengan kerugian yang dialami Kota Sina begitu tinggi.


Mereka kehilangan seluruh rumah, mereka kemungkinan akan menurun menjadi sebuah desa, beruntung mereka hanya memiliki korban sedikit.


Paling penting tidak seluruh lebah mengamuk, mereka masih tetap bisa memasok Madu kembali.


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thanks you Minna-san.


__ADS_2