Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 37


__ADS_3

[Chapter 37.]


[Perang 7.]


[Silahkan Dibaca.]


“Berhenti,” teriak seorang perempuan. Kemudian, sebuah Golem muncul tepat di belakang Theo.


Golem tersebut memukul serangan kaki dari Dragon.


Booommm.


Dragon yang tidak menduga hal tersebut, mundur beberapa meter. Dia mendarat dengan keras, lalu menatap ke arah golem dengan tajam.


Terlihat sebuah Golem, serta seorang Elf di atas Golem tersebut. Elf memandang Dragon dengan tajam.


Sementara Dragon, membalas tatapan tajam. Kemudian, beralih ke bawah. Dragon melihat dua orang Wanita membawa pergi Theo.


“Beraninya kalian, membawa orang itu,” teriak Dragon, kemudian dari mulutnya mulai membuat Api.


Elf yang tak lain ialah Tessa, mengarahkan tangannya ke Golem. Begitu juga Golem mengarahkan tangan ke tanah.


“Tessa, kita gunakan bersama,” ucap Golem tersebut, kemudian matanya bersinar. Tessa yang mendengar itu, tersenyum.


“Baik, Kugo,” ucap Tessa, kemudian kedua memandang ke arah Dragon lalu berkata satu sama lain.


“Earth Defense Slice,” ucap keduanya dengan serius. Kemudian tanah di depannya naik ke atas membentuk dinding yang tebal.


Kemudian di depan dinding, duri tanah terus muncul dan mengarah ke Dragon yang fokus membuat api.


Durt Durt Durt Durt.


Duri terus mengarah ke Dragon. Sementara Dragon menatap ke arah Duri, dan berkata dengan nada tinggi, “Hancurlah.”


Dragon membuka mulutnya, kemudian semburan Api melingkar dengan cepat mengarah ke Duri.


Bushhhh.


Boommm.


Duri hancur dan serangan Dragon tertahan oleh dinding, namun tak lama kemudian, dinding pun roboh.


Tessa memfokuskan Ohma di tangannya, kemudian dia berkata dengan fokus dan serius.


“Earth Ten Pillar,” ucap Tessa, menggunakan sihir tingkat tinggi.


Seketika, tanah menjulang tinggi muncul dan muncul terus, sampai area dari Dragon.


Blur Blur Blur Blur.


Dragon mewaspadai kemunculan pilar tersebut, dia merasakan bahwa di tempatnya akan muncul pillar.


Dia segera menghindar pergi, kemudian tempat sebelumnya muncul pillar.


Roarrrr.


Dragon marah, dia juga merasakan pillar muncul kembali di tempatnya sekarang.


Dia pindah dan terus diikuti oleh pillar, sampai akhirnya dia tersudut dengan dilingkari oleh 6 pillar.

__ADS_1


Dragon menatap ke arah Tessa dengan tajam. Kemudian, dia mengumpulkan api di mulutnya.


“Fire breath,” raung Dragon menggunakan kekuatan miliknya. Terlihat Api besar menyebar lurus ke depan.


Bushhhhh


Pilar yang mengurung Dragon tersebut meleleh karena suhu dari api tersebut, Tessa yang melihat itu, mengerutkan keningnya.


“Kuat,” kata Tessa, kemudian wajahnya berubah menjadi lebih serius. Kemudian, dia mengeluarkan skillnya.


“Earth Wall,” ucap Tessa, lalu muncul dinding tanah yang sangat besar dan tinggi. Serangan Dragon menabrak dinding tersebut.


Booommmmm.


Asap bertebaran ke segala arah, kemudian perlahan menghilang dan terlihat dinding yang semula Kokoh, berubah menjadi setengah meleleh.


“Tessa, gunakan elemen airmu,” ucap Kugo, kemudian dia menaruh tangannya yang besar ke tanah.


Tessa yang melihat itu tersenyum, lalu dia mengangguk. Kemudian mengayunkan kedua tangannya membentuk sebuah putaran.


Perlahan-lahan sebuah air terkonsentrasi di tangannya, air tersebut mengikuti tarian dari tangannya.


(Note : kalau kalian bingung, bayangkan seperti Katara, di Avatar.)


“Water Brush,” ucap Tessa kemudian, mengayunkan tangannya ke depan dengan keras.


Bushhhh.


Air yang terkonsentrasi meluncur dan meledak ke depan, seketika mata Kugo bersinar dan berkata.


“Earthquake,” ucap Kugo, kemudian tanah bergetar hebat, lalu muncul retakkan lurus ke arah Dragon.


“Dasar bodoh,” ucap Dragon, kemudian dia ingin terbang, namun dia merasakan bahwa dia tidak bisa terbang.


Dragon pun sedikit terkejut, dia pun melihat ke arah sayapnya. Dragon melebarkan matanya.


Dragon kini melihat sayapnya, yang berada di sela-sela pilar. Sayap Dragon tidak bisa terbuka dengan lebar.


Dragon menatap ke depan, namun dia merasakan tanah yang dia pijak menghilang, Dragon terkejut dan terjatuh ke bawah.


Wushhh.


“Beraninya kau,” raung Dragon tersebut, kemudian dia melihat sebuah air deras menyerbu kearahnya.


Booomm.


Roooaarrrr.


Dragon meraung marah dan kesal. Dia benar-benar lemah terhadap air, Dragon terhanyut dalam air tersebut.


Di sisi Tessa.


“Apakah kita berhasil?” tanya Tessa dengan penasaran, dia sangat kelelahan menggunakan banyak mana dan Ohma.


Kemudian Kugo dengan tajam menatap ke arah Dragon yang jatuh. Lalu, dia berkata dengan suara berat.


“Belum, Tessa,” ucap Kugo, kemudian sebuah cahaya merah menyala di retakan tanah yang dihasilkan Kugo.


Sringgg.

__ADS_1


Cahaya menyebar dan mengisi setiap retakan tersebut. Kugo melihat hal tersebut dengan wajah yang gelap.


“Bahaya,” ucap Kugo, ketika melihat cahaya di retakan tanah tersebut, Tessa pun melihat, lalu dia melebarkan matanya.


Terlihat Magma mengalir dan menghilangkan air milik Tessa, tanah pun semakin meleleh terhadap Magma tersebut.


Roooaarrrr.


Terdengar teriakan amarah dari retakan dari tanah, kemudian muncul dua cahaya bersinar dengan tajam.


“Terima ini, kalian,” raung sebuah suara dari dasar retakan tanah tersebut. Raungan tersebut tak lain tak bukan, milik Dragon.


“Lava Blast,” raung Dragon, kemudian sebuah magma melesat keluar dari retakan tanah tersebut.


Magma menyembur dengan cepat ke arah Tessa dan Kugo, Tessa yang melihat serangan tersebut, dia benar-benar tak berdaya.


“Tessa, berlindung,” teriak Kugo, kemudian dia menahan serangan Magma tersebut.


Booommmm.


Asap keluar, namun perlahan asap menghilang. Terlihat kedua tangan Kugo meleleh, begitu juga kepalanya.


“Tessa, aku akan kembali, waktuku di luar sudah habis,” ucap Kugo dengan berat, kemudian berubah menjadi partikel dan masuk ke dalam tubuh Tessa.


Tessa mendengar hal tersebut, dia terjun ke bawah, namun sebuah sinar melesat ke arahnya.


“Mati kau,” raung Dragon tersebut, Tessa melihat bola Magma besar melesat ke arahnya.


‘Apakah aku akan mati disini,' batin Tessa, dia berjuang untuk merapalkan sebuah sihir, agar terhindar dari Magma besar tersebut.


‘Sepertinya, aku akan mati, maaf Tuan dan Nyonya, aku pergi dulu,' batin Tessa menatap ke arah magma dengan air mata keluar dari matanya.


“Tesssaaaaa,” teriak Rina, melihat Tessa yang sudah diambang kematian. Rina dengan cepat merapal sihir.


Namun, itu terlambat. Kemudian, terlihat siluet seseorang disebelah Rina, kemudian terlihat bayangan melompat menuju ke Tessa.


Bayangan tersebut memakai sebuah Haori berwarna hitam, dengan sebuah pedang berwarna Hitam.


Pedang bersinar berwarna hitam, bayangan tersebut terlihat memakai pakaian kimono berwarna hitam.


”Lautan tidak akan pernah menghentikanku,” ucap bayangan tersebut, kemudian matanya menyala berwarna merah.


“Daratan hanya gumpalan dari sebuah tanah,” ucap bayangan tersebut, kemudian pedang tersebut menjadi lebih gelap.


"Semua hal di dunia ini..." ucap bayangan berhenti, kemudian siluet seorang Ksatria dengan armor gelap muncul di belakangnya.


“Tidak ada yang tidak bisa kutebas.” lanjut bayangan tersebut, sambil mengeluarkan sebuah Aura yang kuat dan memposisikan pedangnya.


Bayangan perlahan-lahan terlihat, siluet seseorang yang sangat dikenal Rina dan Tessa. Kemudian bayangan tersebut mengeluarkan skill.


“Seni Bulan - Tarian Bulan.”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2