Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 54


__ADS_3

[Chapter 54.]


[Invasi Dimulai.]


[Silahkan Dibaca.]


Depan Mansion.


Kohta memandang ke arah Tessa yang memegang kepalanya, lalu Kohta memandang ke arah Rina.


“Bawa masuk, Tessa,” ucap Kohta dengan tenang, Rina mengangguk dan membawa Tessa masuk ke dalam.


Kurht yang melihat hal tersebut, dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar kedua istri Kohta.


“Kejar dia, jangan sampai kabur,” teriak Kurht memerintahkan pasukan berjubah abu-abu mengejar istri Kohta.


Slashhhh.


Sebuah proyektil melesat ke arah para orang berjubah abu-abu yang mencoba menerobos masuk ke dalam.


Boooommmm.


Para orang-orang berjubah abu-abu terpental ke belakang, Kurht membelalakkan matanya dan menatap ke arah Kohta.


“Siapa kau, rendahan,” teriak Kurht, meraung dengan marah, karena pasukannya di halangi Kohta.


“Nah, kau tadi bilang, ingin membunuh kedua perempuan tadi, bukan?” tanya Kohta, kemudian mengeluarkan pedang satunya.


Pedang Tresta di kanan, Pedang Iblis di kiri. Aura miliknya keluar dan menerpa Kurht dan para orang-orang berjubah abu-abu.


“Asal kalian tau, siapapun yang menyentuh kedua istriku, dia wajib mati di tempat,” ucap Kohta, auranya menjadi lebih kuat.


Wushhhh.


Kurht dan para orang berjubah abu-abu benar-benar ketakutan, mereka serasa di tatap oleh binatang buas yang sedang kelaparan.


Kansha terkejut, lalu dia melihat isyarat tangan dari Kohta, menyuruh dirinya untuk masuk ke dalam.


Kansha segera masuk ke dalam mansion, Kohta berdiri di depan gerbang dan menatap ke arah para orang berjubah abu-abu tersebut.


“Majulah, akan kulayani kalian semua,” ucap Kohta, tatapannya menjadi dingin, kedua pedangnya dimasuki Kin.


Kurht yang melihat hal tersebut, dia segera menggertakkan giginya, lalu dia tersenyum menyeringai dan berkata.


“Kau suaminya, apa kau tahu bahwa pe-“ ucap Kurht terhenti, saat Kohta berkata dengan nada tenang dan tajam.


“Diamlah,” ucap Kohta, tatapannya benar-benar mengerikan, lalu terlihat bayangan iblis yang kuat di belakang Kohta.


Kurht benar-benar ketakutan, dia gemetar dan menggertakkan giginya, lalu dia berteriak dengan marah.


“Sialan kau, manusia rendahan. Semuanya bunuh orang itu, dia hanya 1 sedangkan kita ada 30,” teriak Kurht.


Para orang berjubah abu-abu memandang ke arah Kohta, mereka benar-benar yakin akan menang, karena jumlah.


“Mulai, serang,” ucap para orang berjubah abu-abu tersebut, mereka menyiapkan berbagai lingkaran sihir.

__ADS_1


Lingkaran sihir tersebut tidak sedikit, satu orang mengeluarkan minimal 10 lingkaran sihir.


“Tidak berguna, 24 langkah tebasan,” ucap Kohta, dia menggunakan teknik pedang baru miliknya.


Wush.


Kohta menghilang dari tempat, kemudian terdengar suara teriakan dari arah orang berjubah abu-abu yang berada di ujung kanan.


Slash Slash Slash Slash.


“4....” ucap Kohta samar, namun dapat di dengar oleh orang berjubah abu-abu tersebut.


Slash Slash Slash Slash.


“8.....” ucap Kohta, membuat orang berjubah abu-abu tersebut kacau, mereka benar-benar ketakutan.


10 lingkaran sihir batal, mereka semua mencoba berlari pergi, namun saat satu langkah ke belakang rasa sakit muncul dari punggung dan leher mereka.


Slashhhhhh.


Jresssss.


Kohta muncul setelah melakukan 24 langkah miliknya, dia menstabilkan nafasnya dan menatap ke suatu arah.


“Ternyata dia pengecut, beruntung bisa lolos,” ucap Kohta, kemudian dia menyarungkan kedua pedangnya kembali.


Kemudian, Kohta masuk ke dalam Mansion yang mereka beli tersebut, saat akan masuk, mayat yang di depan seketika terbakar menjadi abu.


Di sisi lain.


“Aku harus segera memberitahu Raja,” ucap Kurht, dengan cepat berlari menuju ke pintu gerbang kota.


Dia segera keluar dan melesat menuju ke Hutan dengan cepat, tanpa sadar dia, diikuti sosok hitam di belakangnya.


“Khekhekhe, Elf yang tersesat. Sepertinya, menyenangkan mengendalikannya dan memusnahkan Elf,” ucap sosok tersebut.


Kemudian, sosok tersebut menghilang dan mengikuti, Kurht dari belakangnya.


Di sisi Kohta.


Kohta masuk ke dalam mansion miliknya, disana dia melihat ada 3 perempuan sedang duduk bersama.


Rina yang sedang duduk di dekat Tessa, sementara Tessa sudah selesai memahami apa yang terjadi padanya.


Di depan mereka berdua, duduk seorang perempuan cantik dengan rambut berwarna silver panjang.


Perempuan tersebut memiliki iris mata berwarna putih, ukuran kedua buahnya lebih besar dibanding milik Tessa.


Saat pintu terbuka, ketiga perempuan tersebut menatap ke arah pintu dan menemukan Kohta yang tengah masuk ke dalam Mansion.


“Sayang,” ucap Rina dan Tessa, sementara Kansha menatap Kohta dengan rumit, dia juga melihat aura milik Kohta.


“Kalian tak apa?” tanya Kohta, kemudian terlihat Rina dan Tessa mengangguk, tanda baik-baik saja.


Kohta berjalan ke arah ketiganya, lalu duduk di tengah kedua istrinya. Kohta pun memandang ke arah Kansha.

__ADS_1


“Bisakah kau jelaskan apa yang terjadi?” tanya Kohta, dia menatap ke arah Kansha dengan tenang, namun serius.


“Itu, sebenarnya kerajaan milikku dan Tessa, sedan-“ ucap Kansha terhenti saat sebuah ledakan besar terdengar.


Boooommmmmmm.


Kohta, Rina, Tessa, dan Kansha berdiri, keempatnya keluar dari Mansion dengan cepat.


Tiba di luar Mansion, mereka melihat asap di berbagai tempat di Kota, mereka juga melihat sebuah gerombolan lebah.


Bzzzt.


Suara desisan lebah yang sangat begitu keras, Kohta, Rina, Tessa, dan Kansha dapat mendengar suara tersebut.


“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Kohta, kemudian Rina mengerutkan keningnya dan berkata.


“Kemungkinan, ada yang melukai Ratu lebah, kalau tidak ada yang memanfaatkan musim lebah untuk menghancurkan tempat ini,” ucap Rina.


“Bukankah Kota Sina ada pelindungnya?” tanya Kohta, dia mengeluarkan pedang miliknya.


“Ya ada, tapi pelindung tersebut Ratu lebah itu sendiri,” ucap Rina, kemudian dia mengeluarkan pedang miliknya.


“Sepertinya kita di datangi,” ucap Tessa, kemudian menyiapkan sarung tangan miliknya.


Kansha sendiri langsung mengeluarkan belati miliknya, dia juga bersiap-siap untuk bertarung sekarang.


“Namamu Kansha, bukan?” tanya Kohta, kemudian Kansha mengangguk, Kohta melanjutkan.


“Jaga dirimu, jangan lengah. Jika kau mendapatkan masalah, pecahkan batu itu,” ucap Kohta.


Dia melemparkan sebuah batu berwarna biru, Kansha terkejut dia memandang ke arah Kohta dan memandang ke arah Tessa.


Tessa tersenyum dan mengangguk, tanda bahwa untuk menyimpan batu tersebut.


Kemudian, mereka mendengar suara dari gerombolan lebah yang mendekat ke arah mereka.


Lebah tersebut, memilki ciri-ciri berwarna merah dan kuning. Kaki, tangan, dan antena milik mereka terlihat tajam.


Terlihat sengatan mereka ada yang mengeluarkan petir dan ada yang mengeluarkan api.


“Lebah Spesial tipe Api dan Petir, sedikit berbahaya,” ucap Kohta, dia memandang tajam ke arah lebah.


Ketiga perempuan pun juga memandang dengan tajam ke arah lebah spesial.


Jumlah mereka ada 40, mereka juga menatap tajam ke arah Kohta dan kelompoknya, mata lebah menjadi sengit menatap mereka.


Kohta menstabilkan nafas dan memasuki mode tenangnya, lalu dia berkata dengan nada tenang.


“Mulai,”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thanks you Minna-san.


__ADS_2