Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 44


__ADS_3

[Chapter 44.]


[Berangkat] [End.]


[Silahkan Dibaca.]


Pagi hari.


Kohta terbangun, dia meregangkan tangannya ke atas, lalu melihat ke arah kanan dan kiri, namun tidak menemukan Rina dan Tessa.


“Mereka berdua sudah bangun terlebih dahulu,” ucap Kohta, dia menggelengkan kepalanya dan turun dari tempat tidur.


Kemudian, Kohta pergi mandi, selepas itu memakai pakaian dan keluar dari kamar miliknya.


Namun, saat membuka pintu. Kohta sedikit terkejut, melihat ada pelayan yang menunggunya.


“Tuan Kohta, Nyonya Rina dan Nyonya Tessa, menunggu anda di ruang makan,” ucap Pelayan, menundukan kepalanya.


“Oh, begitu, terimakasih telah memberitahuku,” ucap Kohta dengan ramah, kemudian pelayan berkata.


“Mari saya antar menuju ke ruang makan,” ucap pelayan tersebut, Kohta mengangguk setuju.


Kemudian, mereka berdua berjalan bersama menuju ke ruang makan Istana.


Kohta, Rina, dan Tessa tetap tinggal di Istana, karena itu perintah dari Grisela. Mereka akan tinggal di Istana sampai Raja bangun.


Mereka sudah tinggal selama 5 hari di Istana, namun hari ini adalah hari akhir mereka tinggal.


Karena, malam hari ada berita bahwa Raja terbangun dari tidurnya. Kohta, Rina, Tessa senang dengan berita tersebut.


Begitupun dengan Grisela, Sean, dan Elli. Mereka benar-benar senang dan menangis bahagia.


Kembali ke sekarang.


Kohta dan pelayan tiba di depan pintu ruang makan, pelayan membukakan pintu untuk Kohta.


“Silahkan masuk, Tuan,” ucap pelayan tersebut, kemudian Kohta mengangguk dan masuk ke dalam.


Di sana, Kohta melihat ada tujuh orang sedang duduk di tempat makan, Theo yang melihat Kohta, segera berkata.


“Nak, segera kesini. Kita makan bersama,” tegas Theo, membuat Kohta tersenyum dan berjalan menuju ke tempat makan.


Kohta duduk dan para pelayan mulai menyiapkan makanan untuk kedelapan orang tersebut.


Selesai mempersiapkan segalanya, para pelayan undur diri, kedelapan orang tersebut mulai makan makanan yang berada di depannya.


Beberapa menit kemudian.


Mereka selesai makan, lalu Theo memandang ke arah Kohta, Rina, dan Tessa. Kemudian, dia berkata.


“Apakah kalian yakin, akan pergi hari ini?” tanya Theo, ketiganya mengangguk. Kohta pun menjawab.

__ADS_1


“Ya, Raja. Kami akan pergi hari ini,” ucap Kohta sambil tersenyum, mendengar panggilan dari Kohta, muncul tanda centang di kepala Theo.


“Bocah Bau, jangan terlalu formal, ini di ruang makan!” ucap Theo dengan marah, sementara Grisela terkikik mendengar hal tersebut.


Sean dan Elli tersenyum melihat hal tersebut, Kohta sendiri menatap datar ke arah Theo, lalu dia berkata.


“Baiklah, Pak Tua, terserahmu,” ucap Kohta, dia benar-benar merasa tak berdaya. Kemudian, Sion yang diam berkata.


“Kak Kohta, apakah kakak akan kembali lagi?” tanya Sion, membuat ketujuh orang menatap ke arah Sion.


Kohta yang mendengar hal itu, tersenyum. Kemudian dia berkata dengan nada santai.


“Aku akan,” ucap Kohta, membuat Sion senang. Dia berdiri dan berlari menuju ke Kohta.


Sion melompat ke arah Kohta, kemudian Kohta menerima Sion dan mereka berpelukan.


“Jangan lupakan Sion, kak,” ucap Sion, dia benar-benar merasa sedih mendengar Kohta akan pergi.


Dalam 5 hari, Kohta, Rina, dan Tessa selalu bermain dengan Sion. Mereka benar-benar terlihat sangat akrab, terutama Sion.


Dia benar-benar senang dan bahagia bermain bersama Kohta, Rina, dan Tessa. Sementara Sean dan Elli, dia sedikit merasa bersalah kepada Sion.


Mereka berdua berjanji akan menggantikan Kohta, Rina, dan Tessa dalam bermain dengan Sion.


Melihat suasana ruang makan tersebut, Theo dan Grisela tersenyum. Mereka benar-benar menikmati suasana tersebut.


Beberapa menit kemudian.


Mereka semua keluar dari ruang makan. Kohta, Rina, dan Tessa bersiap-siap untuk pergi.


Kohta, Rina, dan Tessa berjalan menuju ke arah gerbang kerajaan dan mereka melihat kelima orang tersebut.


“Akhirnya kalian sampai, semuanya sudah siapkan,” ucap Grisela kepada ketiga orang tersebut.


“Ya, kak. Semuanya sudah siap,” ucap Rina, kemudian dia dipeluk oleh Grisela, mereka semua saling berpelukan satu sama lain.


Giliran Kohta dan Theo, mereka saling tatap-menatap. Keduanya tersenyum dan saling berpelukan.


“Jaga kedua istrinya, jangan sampai membuat Rina menangis,” ucap Theo, penuh dengan emosional.


“Itu pasti, Pak Tua,” ucap Kohta, dia benar-benar emosional, walaupun sebentar, dia menganggap Theo seperti figur Ayahnya.


Mereka saling melepaskan pelukan, Kohta pun menatap ke arah Sean, keduanya hanya saling melempar toss satu sama lain.


Grisela memeluk Kohta, dia benar-benar merasa sedih saat mendengar mereka akan pergi berpetualang.


“Ingat jaga makan dan lindungi kedua istrimu,” ucap Grisela, entah kenapa dia menjadi seperti Ibu yang akan ditinggal anaknya pergi keluar.


“Baik, kak,” ucap Kohta, kemudian mereka saling melepaskan pelukan. Sion pun melompat dan memeluk Kohta.


“Jangan lupakan Sion Hiks, jangan lupa kembali ke kerajaan dan bermain dengan Sion lagi,” ucap Sion, dia terisak-isak.

__ADS_1


Kohta menepuk punggung Sion, kemudian keduanya melepaskan pelukan. Kohta mengeluarkan sebuah kalung.


“Ini hadiah dariku, jaga dan rawat oke?” ucap Kohta, memasangkan kalung tersebut. Sion tersenyum senang menerima hal tersebut.


“Pasti akan kujaga,” ucap Sion dengan senang. Kemudian, Kohta berjalan keluar dari gerbang.


Rina dan Tessa juga mengikuti, kemudian mereka bertiga berbalik dan saling berkata bersama.


“Kami berangkat,” ucap ketiganya, lalu pergi melesat menuju ke Barat. Mereka pergi dengan cepat.


Di tempat lain.


Ke sembilan orang berjubah hitam berhenti di sebuah gua, mereka berhenti karena sebuah hujan deras selama 5 hari.


“Selepas ini, hujan pasti akan berhenti,” ucap Master tersebut, kemudian orang berbaju hitam 1 berkata.


“Apakah hujan ini termasuk tanda-tanda akan munculnya hal tersebut?” tanya orang berjubah hitam 1 tersebut.


“Kau benar, Hujan ini disebut Hujan akhir. Selepas ini, seluruh lebah akan bersatu dan mulai berterbangan ke kota Sina,” ucap Master mereka.


Mereka semua mengangguk dan mendengarkan gemuruh petir yang selalu muncul dan menyambar berbagai pohon di dekat mereka.


Mereka tidak takut, karena mereka semua pernah memasuki kondisi hidup dan mati berkali-kali.


Blarrr Blarrr.


Bzzzt Bzzzt.


Kemudian, mereka mendengar sebuah suara dari dalam gua tersebut. Mereka menjadi waspada saat mendengar suara tersebut.


“Khekhekhekhe, ternyata ada Manusia yang berteduh disini,” tawa makhluk yang mirip dengan manusia.


“Iblis,” ucap Master, mereka terkejut lalu bersiap-siap untuk bertempur, namun Iblis tersebut menatap ke arah jubah mereka.


“Oh, kalian dari Organisasi itu, jika kalian berada disini, berarti hanya satu jawabannya, yaitu misi di Kota Sina,” ucap Iblis tersebut.


“Baga-“ ucap Master terpotong oleh suara Iblis kembali, dia berkata dengan nada tenang dan serius.


“Nah, bagaimana kalau aku membantu kalian menghancurkan Kota Sina tersebut,” ucap Iblis, tersebut sambil tersenyum.


Pertemuan tak terduga, antara Iblis yang menyerang kerajaan Yunan dan Orang berjubah hitam.


Apakah akan bertambah buruk kepada Kota Sina ataukah akan ada yang mencegah kehancuran Kota Sina?.


[Arc 2 : Invasi Monster.] [End.]


[Arc 3 : Pertempuran Sina.] [Dimulai.]


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.


__ADS_2