
[Chapter 36.]
[Perang 6.]
[Silahkan Dibaca.]
Gerbang kerajaan Yunan.
Theo menatap kedua temannya, lalu dia dan para pasukan mendengar suara orang yang berteriak dari hutan.
“Hidup Yunan, Hidup Arta,” teriak banyak orang dari hutan, para pasukan kerajaan akhirnya mendapatkan bantuan.
“Kalian berdua, jika terlambat sedikit mungkin saja, aku dah dipukul kembali,” ucap Theo, kemudian baju perang milinya berubah menjadi hitam.
Pedangnya yang merah berubah menjadi hitam. Mirip seperti ciri-ciri Sean, namun warnanya hitam.
“Maaf, maaf. Kau tahu, aku juga sedikit kurang olahraga karena kedamaian kota,” ucap Pria tua sambil pemanasan, pria tua tersebut ialah Elric.
“Kau benar, sudah lama aku tidak bertarung, jadi kecepatanku sedikit menurun,” ucap pria tua yang lain, pria tersebut bernam Eldor.
Elric, memiliki rambut panjang dan berantakan, warna rambut tersebut golden, lalu di bagian matanya terdapat sebuah bekas luka bakar, tubuh yang dia miliki memiliki otot yang keras, dengan sebuah tato dari setengah wajah sampai punggungnya.
Eldor, memiliki rambut pendek berwarna hitam, dia terlihat seorang tentara, dengan baju ketat berwarna hitam yang menampilkan tubuhnya yang berotot, dia memakai jubah dengan sebuah kata ‘Yunan,'
“Jadi, lawan kita adalah Chimera kah?” ucap Eldor, menatap ke arah Monster yang dia pakai.
“Itu benar,” ucap Theo, apinya mulai menyala dan berkobar-kobar. Dia menatap ke arah Chimera dengan iris mata merah.
Chimera, sebuah monster gabungan antara beberapa monster level Titan, namun berbeda jenis.
Monster tersebut menciptakan sebuah monster baru, arti monster baru tersebut ialah Chimera.
Monster yang sama bergabung disebut, Evolusi paksa.
“Yah, sepertinya kita harus mengeluarkan semuanya,” ucap Elric.
Kemudian, Elric dan Eldor mengeluarkan Ohma milik mereka dan menyelimuti tubuh mereka.
Seketika, tubuh mereka membengkak dan otot-otot ditubuhnya menjadi membesar, mata mereka menjadi seperti binatang buas.
“Oi, Theo. Ayo kita mulai,” ucap keduanya, sedangkan Theo mengangguk. Lalu, dia mengayunkan pedangnya ke samping.
“Mulai,” ucap Theo, kemudian Elric dan Eldor melesat dengan cepat. Seketika mereka berdua tiba di kedua sisi Chimera.
“Burst Knuckle,” ucap keduanya, dengan cepat mengayunkan tangannya ke tubuh bawah Chimera.
Booommmmm.
Chimera di kirim terbang menembus beberapa awan, Chimera mengerang rasa sakit dan meraung dengan marah.
“Terkutuk kalian, Manusia,” teriak Chimera, namun sebuah suara menginterupsi nya di atas.
Chimera memandang ke atas, dia melihat sosok orang dengan armor berwarna hitam, dia mengayunkan sebuah pedang berwarna hitam ke bawah.
“Terima ini, Chimera,” ucap orang tersebut, yang tak lain tak bukan ialah, Theo.
__ADS_1
“Soaring Black Dragon,” ucap Theo, dengan cepat melesat ke arah Chimera, pedangnya lurus di depan.
Siluet naga hitam muncul di pedang tersebut, Chimera menatap dengan marah, sebelum dia bergerak, serangan sudah mengenainya.
Booommmmmm.
Chimera meluncur dengan cepat menuju ke bawah, dia terjun dengan cepat seperti sebuah meteor.
Semua prajurit menatap ke arah atas, mereka benar lemas dan terduduk melihat Chimera seperti meteor.
Chimera tersebut terjun dengan cepat dan mengarah ke Dragon Flame yang sedang menatap ke atas.
“Hooo, jadi kau ingin Raja ini maju ya,” ucap Dragon Flame, kemudian mulutnya keluar percikan Api kecil.
Kemudian, percikan semakin membesar dan membentuk sebuah Api yang menyala-nyala di mulut Dragon.
“Flame Pillar,” raung Dragon, seketika Api besar dengan cepat mengarah ke Chimera.
Bushhhhh.
Chimera yang tertelan oleh Api, perlahan-lahan terlihat menghilang dan berubah menjadi Abu.
Hening.
Para pasukan bergidik ngeri saat melihat Dragon. Mereka benar-benar berkeringat dingin.
Sementara itu, Elric dan Eldor menatap ke arah Dragon dan mengerutkan keningnya.
“Dia lebih kuat dari Dragon Flame biasa,” ucap Elric, dia paham dengan tipe Dragon. Baginya, Dragon Flame tidak seperti di depannya.
Theo perlahan turun, dia menatap ke arah Dragon Flame, dan berkata dengan nada serius.
“Sekarang waktunya, Bos,” ucap Theo, tiba di tengah Elric dan Eldor. Ketiganya menatap ke arah Dragon.
Sedangkan Dragon, menatap mereka dengan rendah. Dia bangun, sayap terbuka sangat lebar, lalu Dragon meraung.
“Manusia rendahan, seperti kalian ingin melawanku,” ucap Dragon, dia dengan cepat bergerak ke arah ketiga orang tersebut.
“Mulai,” ucap Theo, ketiganya melesat bersama. Mereka tiba dan saling memandang satu sama lain.
Elric dan Eldor segera meninju tubuh dari Dragon tersebut, namun hal yang tidak terduga muncul.
Dinggggg.
‘Keras,' batin keduanya, lalu sebuah ekor muncul di samping mereka.
Booommmm.
Ekor menyapu keduanya dengan mudah, Theo yang berhadapan langsung, dia dihempaskan dengan kaki Dragon.
Booommmm.
Brukkkkkkk.
Ketiganya menabrak sebuah pohon, dan terus terbang sampai menabrak sebuah batu yang besar.
__ADS_1
Booommmm.
“Ughhh,” ketiganya mengeluarkan seteguk darah dari mulut mereka. Dragon menatap ketiganya, lalu mengangkat kakinya dan menurunkan dengan cepat.
Booommm.
Berbagai pecahan batu naik ke atas, Dragon mengayunkan ekornya yang dia lapisi dengan api.
“Raising Meteor,” ucap Dragon, seketika pecahan batu tersebut dengan cepat melesat ke arah Elric, Eldor, dan Theo.
Wushhhh.
“Raja,” teriak seluruh pasukan, begitu juga pasukan Arta yang berperang dengan monster yang ada.
“Tuan Kota,” teriak para pasukan Arta, mereka ingin segera menyelamatkan ketiganya.
Sementara itu, ketiganya menatap ke arah depan, mereka melihat berbagai cahaya menuju ke arah mereka dengan cepat.
“Sial,” teriak mereka bertiga, kemudian dengan cepat menahan serbuan meteor tersebut.
Boom Boom Boom Boom Boom Boom Boom.
Ledakan terjadi di tiga arah tersebut, asap menutupi ke tiga tempat tersebut.
Pasukan jatuh dan bergumam, “ Sudah berakhir,” mereka benar-benar ketakutan, tubuh mereka gemetar.
Asap pun perlahan menghilang, menampilkan ketiga orang yang penuh dengan darah dan luka bakar, pakaian mereka compang camping.
“Uhh,” ucap ketiganya, lalu Elric dan Eldor terjatuh tak sadarkan diri, sedangkan Theo terduduk dan pandangan mulai buram.
Dia menatap ke arah Elric dan Eldor, lalu tersenyum dengan ringan.
“Tak kusangka, kita benar-benar dipukuli....” ucap Theo pelan dan sedikit susah, dia sudah kehabisan kata-kata dan akan pingsan.
Dragon menatap ke arah Theo dengan sedikit terkejut, lalu dia berkata dengan ringan.
“Ohh, kau masih sadar,” ucap Dragon, berjalan menghampiri Theo. Dia dengan cepat sudah berdiri di depan Theo.
“Aku benar-benar terhibur dengan pertempuran tadi, namun kau harus tahu, bahwa di tempatmu tidak ada yang sebanding dan melebihi diriku,” ucap Dragon.
Dia benar-benar merendahkan para pasukan dan orang yang berjuang di kerajaan Yunan.
Dragon menatap tajam ke arah Theo, lalu dia menyeringai dengan tajam.
“Terimalah nasibmu, Manusia,” ucap Dragon, kemudian mengangkat kakinya, menunjukkan kuku yang tajam.
“Mati,” ucap Dragon, lalu mengayunkan kakinya ke arah Theo, namun sebelum mencapai Theo, sebuah teriakan muncul.
“Hentikan,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thanks you Minna-san.