Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 28


__ADS_3

[Chapter 28.]


[Kohta tiba.]


[Silahkan Dibaca.]


Gerbang kerajaan Yunan.


Alen melesat maju, begitu juga dengan Thomas. Alen mengayunkan pedangnya dengan cepat.


Wush.


Tingg.


“Mati..mati..” ucap Thomas menangkis serangan Alen dengan kuku miliknya. Kemudian, Thomas mengayunkan tendangan ke arah perut Alen.


Bugh.


“Urghh,” ucap Alen, kemudian dia terbang menuju ke arah dinding kerajaan Yunan. Lalu, Alen menabrak dinding tersebut.


Booom.


“Kapten,” teriak para prajurit, saat melihat kapten mereka ditendang oleh Thomas. Namun, berikutnya mereka melihat sebuah Api menuju ke arah mereka.


Wush Wush Wush.


“Merunduk,” teriak prajurit lain, namun beberapa prajurit terkena api dan terbakar menjadi abu dengan cepat.


Mata prajurit yang melihat prajurit lain menjadi abu, seketika mereka merasakan ngeri dan takut.


Di sisi Alen.


“Uhuk,” ucap Alen batuk darah, karena serangan tersebut. Kemudian, dia berdiri dan menatap ke arah Thomas.


“Dari tendangan ini, jelas ini peringkat Master tingkat 5,” ucap Alen, kemudian dia melihat bahwa Thomas menyerang anak buahnya.


Alen marah, lalu dia melesat ke arah Thomas dengan cepat. Kemudian, Alen berteriak marah.


“Beraninya kau membunuh anak buahku, Iblis,” teriak Alen, kemudian mengayunkan pedangnya dengan cepat.


“Api berputar,” teriak Alen. Kemudian, Api yang dihasilkan oleh Pedang Alen, seketika berputar, lalu menuju ke arah Thomas.


(Entah kenapa, nama teknik jika Indonesia, kelihatan bagaimana gitu, ada saran. Lebih baik pakai Inggris atau Indo?)


Booommm.


Thomas terkena serangan tersebut, banyak prajurit menatap hal tersebut dengan senang, mereka berkata.


“Kapten, akhirnya kembali,” ucap Prajurit1.


“Rasakan itu, pengkhianat,” ucap Prajurit 2.


Semuanya bersorak untuk Alen. Namun, hal berikutnya mereka membeku dan rasa takut kembali lagi.


Mereka melihat Thomas baik-baik saja, dan tidak terluka sama sekali. Thomas hanya mengarahkan tangannya ke arah Api tersebut dan Api tertahan.


Di sisi Alen.


Alen terkejut melihat serangannya ditahan dengan satu tangan, apalagi Thomas terlihat tidak terluka sama sekali.

__ADS_1


Kemudian, Thomas menatap ke arah Alen. Sementara Alen yang di tatap segera menjadi lebih waspada.


Seketika Thomas menghilang, Alen terkejut namun dia merasakan sakit di perutnya. Lalu, dia melihat Thomas yang memukul dirinya dengan tangan di selimuti Api.


Dughhh.


“Urhhhh,” ucap Alen tanpa sadar, lalu dia muntah darah, kemudian terbang menuju ke arah pohon yang tepat berada di belakangnya.


Wushhh.


Booommm.


Tiga pohon hancur, Alen berhenti di sebuah batu yang besar. Serta, dirinya tertanam di batu tersebut.


“Ughh,” ucap Alen, mengeluarkan darah lebih banyak lagi. Dia benar-benar tidak berdaya menghadapi Thomas, dia menggertakkan giginya.


‘Demi kerajaan, Demi kedamaian orang yang kucintai, aku harus mengalahkannya,' batin Alen, dia berusaha untuk keluar dari batu tersebut.


Namun, seketika Thomas muncul tepat di depannya. Lalu, Thomas mengayunkan dengan keras tangan yang diselimuti Api tersebut ke arah Alen.


Wushhh.


Boooommmm.


“Oh, aku tepat waktu,” ucap seseorang menghentikan pukulan api tersebut, dengan sebuah pedang dengan motif bunga.


Lalu, orang tersebut mengencangkan pegangan tangannya, lalu mengayunkan dengan keras yang membuat Thomas terbang ke belakang dan menabrak pohon.


Wusshhhh.


Boommm.


“Kerja bagus, prajurit-san. Serahkan sisanya kepadaku,” ucap orang tersebut, dengan senyum senangnya, orang tersebut tak lain Kohta Hideoki.


Kohta, Rina, dan Tessa melesat dengan cepat menuju ke arah Kerajaan Yunan. Mereka memiliki wajah yang serius.


“Berapa lama lagi kita sampai, Rina?” ucap Kohta, lalu Rina menjawab dengan serius.


“5 menit lagi, jika kita pada kecepatan ini,” ucap Rina. Sementara Kohta, mengangguk dan berkata.


“Kalau begitu, kita tambah kecepatan lagi,” ucap Kohta, keduanya mengangguk. Lalu, mereka bertiga menambah kecepatan mereka.


Sampai akhirnya, mereka bertiga mendengar suara ledakan, tepat di gerbang kerajaan Yunan. Kohta yang melihat itu, dia menambahkan kecepatannya.


Wushhhhh.


Lalu, Kohta melihat sosok Thomas di depan. Namun, wajah Kohta menunjukkan seringai, lalu mengeluarkan pedang bunga miliknya.


‘Clara, apakah aku bisa menggunakan bilah mawar,'


[Tidak bisa, Kohta. Teknik sesuai dengan Seni pedang yang berada di sistem.]


‘Oh, oke,' batin Kohta, dia tidak merasa sedih karena kehilangan teknik andalan. Namun, Kohta paham bahwa teknik tersebut, jaminan hidupnya saat dia baru pertama kali disini.


Seluruh jaminan mulai dari Aura pedang dan lainnya terkunci, karena sekarang Kohta sudah memiliki 100% kesesuaian dengan Dunia ini.


Kohta melesat, lalu mengayunkan pedangnya saat melihat pukulan akan di luncurkan. Kohta tersenyum, menambahkan Kin ke pedangnya, kemudian bergumam dengan senang.


“Mari kita gunakan opening Shank saat perang besar,” gumam Kohta, lalu tepat di depan Thomas, dia mengayunkan pedangnya tepat pukulan api Thomas.

__ADS_1


Booommmm.


Kembali ke Kohta sekarang.


Kohta menatap ke arah Thomas yang menabrak pohon. Lalu, pohon yang ditabrak oleh Thomas terbakar sampai menjadi abu.


Thomas berdiri kembali, namun wajahnya berubah menjadi lebih coklat, tato miliknya menyebar dan merubahnya menjadi makhluk lain.


Kohta mengerutkan keningnya, namun dia tetap tersenyum dan menyebarkan Kin miliknya ke segala arah.


Thomas melihat ke arah Kohta, lalu muncul sebuah kebencian yang tinggi. Kemudian, Thomas berteriak.


“Mati...” teriak Thomas, kemudian melesat ke arah Kohta dengan cepat. Sementara Kohta, tersenyum dan bergeser ke kiri sedikit.


Kemudian, Kohta menaikkan pedangnya lurus ke depan. Seketika, Thomas muncul tepat di depannya dan mengayunkan pukulan ke arah Kohta.


Tingggg.


Tanpa disadari, pedang Kohta menahan pukulan dari Thomas. Lalu Kohta menendang perut Thomas dengan kaki yang dilapisi oleh Kin.


Bughhh.


Tendangan Kohta berhasil membuat Thomas mundur beberapa langkah. Lalu, Kohta muncul di depan Thomas.


“Tebasan Mawar,” ucap Kohta, lalu sebuah siluet mawar muncul di pedang bunga. Kemudian, Kohta mengayunkan pedang bunga tersebut.


Slashhh.


Thomas tertebas dari atas sampai bawah, lalu Thomas terdorong dan terbang kembali menuju ke pepohonan.


Boom Boom Boom Boom Boommmm.


Thomas berhenti dan tertanam di batu besar, Kohta melihat hal itu sudut mulutnya naik, menunjukkan senyum senang.


“Akhirnya, dia serius,” ucap Kohta, kemudian mengganti pedang bunga ke pedang Tresta. Saat, Kohta mengeluarkan pedang dari sarungnya.


Aura haus darah menyebar dengan mengerikan, Kohta tersenyum dan menyelimuti Tresta dengan Aura Ken. Seketika Aura haus darah kembali lagi, ke pedang tersebut.


Boooommm.


Ledakan di tempat Thomas, terlihat batu tempatnya tertanam hancur berkeping-keping. Sementara Thomas, diselimuti oleh Api berwarna biru.


“Mati....mati..mati...mati,” ucap Thomas, semakin cepat semakin kencang. Lalu diakhiri dengan teriakan sambil mengeluarkan Aura kebencian yang besar.


“Mati..” teriak Thomas, Aura kebencian disertai niat membunuh, membuat para pasukan yang berada di atas benteng ketakutan.


Sementara itu, Kohta yang merasakan Aura kebencian dan membunuh, dia tersenyum. Kemudian, mengayunkan pedangnya ke bawah.


Wajah Kohta berubah menjadi serius. Dia memandang ke arah Thomas, begitu juga sebaliknya.


Kemudian, keduanya menghilang dari tempat dan muncul kembali, tepat saling memandang.


Thomas mengayunkan kuku panjang di tangannya, sambil melapisi dengan Api. Sedangkan Kohta, mengayunkan pedang Tresta dengan lapisan Ken.


Boooommm.


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.


__ADS_2