Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 25


__ADS_3

[Chapter 25.]


[Kakek tua.]


[Silahkan Dibaca.]


Kota Arta.


Di dalam pelelangan, Kohta dan Rina di sambut oleh seorang pelayan. Pelayan tersebut melihat bahwa Rina adalah salah satu anggota kerajaan, pelayan tersebut segera mengarahkan Kohta dan Rina menuju ke tempat VIP.


“Silahkan Tuan dan Nyonya.” Ucap pelayan tersebut, sambil membukakan pintu untuk mereka berdua.


Kohta dan Rina masuk ke dalam ruangan tersebut, kemudian duduk di kursi yang mengarah ke tempat pelelangan tersebut.


“Sungguh ramai.” Ucap Kohta melihat pemandangan Pelelangan tersebut. Rina mengangguk dan membalas.


“Itu benar, disini bukan hanya pelelangan budak saja, melainkan pelelangan Senjata dan Ramuan.” Ucap Rina.


Mereka berdua menatap ke arah pelelangan yang sudah dimulai tersebut.


“Baiklah, lelang selanjutnya adalah sebuah Bola Elemen Lanjutan, yang memiliki atribut Es. Harga awal adalah 10 Koin Emas.” Ucap juru lelang.


“20 Koin Emas.” Ucap seseorang.


“40 Koin Emas.” Ucap Orang lain lagi.


Kohta tersenyum melihat suasana tersebut, dia entah kenapa menikmati pemandangan perebutan barang lelang.


Rina yang berada di sampingnya, menatap bosan ke arah pelelangan, kemudian dia menatap ke arah Kohta, lalu berkata.


“Apakah tidak ada barang yang kamu inginkan?.” Ucap Rina, dia bertanya dengan nada bosan. Sementara Kohta, menatap Rina dan menjawab.


“Hmm, entahlah. Aku menunggu budak yang mereka jual.” Ucap Kohta, lalu Rina mengangguk dan menatap ke arah pelelangan dengan fokus dan menghilangkan rasa bosannya.


“Bola Elemen lanjutan, terjual dengan harga 600 Koin Emas.” Ucap juru lelang, kemudian lelang selanjutnya adalah seorang budak Elf.


“Lelang selanjutnya adalah budak Elf, nama dia adalah Tessa, umur 18 Tahun, serta dia masih segel. Harga awal budak ini adalah 100 koin Emas.” Ucap Juru lelang.

__ADS_1


Penonton terkejut dan semakin heboh, mereka segera mengangkat papan nomor mereka, lalu satu persatu berteriak.


“250 Koin Emas.”


“450 Koin Emas.”


Sementara itu, di tempat Kohta dan Rina. Mereka menatap ke arah Elf tersebut, Rina kemudian mengangkat papan nomornya.


“5.000 Koin Emas.” Ucap Rina dengan lantang, segera kerumunan menjadi diam. Mereka, melihat sumber suara tersebut dan melihat bahwa tempat VIP khusus anggota Kerajaan.


Mereka semua tersenyum dan merasa tidak masalah. Bagaimanapun juga, di dalam hati mereka anggota Kerajaan selalu memberikan terbaik untuk mereka.


“Itu, Nona Rina. Kalau dia yang mengambil budak ini tidak masalah.” Ucap salah satu orang yang berada di kursi bawah.


Kohta benar-benar terkejut, biasanya orang yang bawah akan mengeluh, namun mereka malah senang saat Rina mengambil budak tersebut.


“Kamu kenapa, Sayang?.” Ucap Rina, sedangkan Kohta menghela nafas, dan tersenyum. Kemudian, dia berkata.


“Aku terkejut melihat para penduduk Kota ini tidak mengeluh atau merasa tidak puas, saat melihat Anggota kerajaan berkuasa.” Ucap Kohta, sementara Rina tersenyum dan menjawab.


“Bukan seperti itu, Sayang. Kerajaan Yunan selalu memberikan terbaik kepada para warganya, mereka rakyat benar-benar berterimakasih dengan Kerajaan, namun mereka bingung harus memberikan apa. Lalu, mereka berjanji jika salah satu anggota kerajaan berminat sesuatu di kota tersebut, mereka akan memberikannya.” Ucap Rina.


Kohta akhirnya paham, kenapa warga tidak mengeluh atau mengeluarkan keberatan. Namun, saat Kohta menatap ke arah Rina, dia membelalakkan matanya.


“Siapa kamu?” ucap Kohta, menarik Rina untuk berada di belakangnya. Sementara Rina sendiri, dia terkejut dengan ucapan Kohta, kemudian dia melihat arah yang dituju oleh Kohta.


Disana terlihat seorang Kakek Tua, dia terlihat kurus namun ototnya terlihat kekar. Kakek Tua itu sedang minum dengan botol yang berisi Sake.


Di leher Kakek tua tersebut, terdapat semacam kalung. Rina yang melihat itu segera mengenali, bahwa Kakek tua tersebut adalah budak. Sebelum, Rina ingin berteriak, Kakek tua tersebut menghentikannya.


“Nona, jika kamu berteriak. Nyawamu akan menghilang loh,” ucap Kakek tua tersebut, sambil menatap ke arah Kohta dan Rina.


Rina terkejut dengan ucapan tersebut, serta dia terkejut saat merasakan sesuatu yang menekan dirinya dan Kohta.


“Aura apa ini?” ucap Kohta merasakan tekanan Aura yang berbeda dari Aura lainnya. Sementara Rina, dia terkejut dengan Aura tersebut.


Rina tidak mengenal aura tersebut, karena Aura tersebut sangat baru. Kemudian, Kakek tua tersebut menarik kembali Auranya, lalu meminum sake di botolnya.

__ADS_1


“Hahahaha, sake memang menyegarkan,” ucap Kakek tua tersebut, sambil tertawa. Kemudian, dia menatap ke arah Kohta, lalu menyipitkan matanya.


“Aura mu sungguh menarik, Bocah,” ucap Kakek tua tersebut. Kohta mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan dari Kakek tua tersebut.


Rina di sebelah Kohta sedikit terkejut dengan ucapan dari Kakek tua tersebut, lalu Rina sedikit mendekat ke arah Kohta.


“Tenanglah, Nona. Aku tidak akan menyakitinya,” ucap Kakek tua tersebut, sambil minum sake tanpa melirik ke arah Kohta dan Rina.


“Aku tidak bisa percaya begitu saja,” ucap Rina dengan penuh curiga. Melihat Rina begitu melindungi dirinya, Kohta mengeluarkan pedang Iblisnya.


“Jika kamu ingin bertarung, aku akan melayanimu bertarung,” ucap Kohta menatap ke arah Kakek tua tersebut.


Sementara itu, Kakek tua yang sudah kehabisan sakenya, dia berdiri dan berjalan ke arah Kohta dan Rina.


Kakek tua tersebut menatap ke arah Kohta dan Rina dengan senyum yang misterius. Kemudian, menyebarkan Auranya dalam sekejap.


Wushhh.


Kohta dan Rina sedikit terkejut, mereka berdua jatuh dan terengah-engah. Sementara di tempat pelelangan, terlihat sepi. Namun, jika diperhatikan, terlihat setiap orang memiliki mata yang putih, yang artinya mereka pingsan.


“Hooo, kalian berdua bisa bertahankah?” ucap Kakek tua tersebut, kemudian dia tersenyum lebar dan berkata yang membuat Kohta dan Rina terkejut.


“Kalian berdua, jadilah muridku,” ucap Kakek tua tersebut sambil tersenyum lebar. Kohta dan Rina terkejut dan berteriak bersama.


“Ehhhhhhhh,” teriak keduanya, mereka berdua benar-benar terkejut dengan ucapan Kakek tua tersebut. Sebelum Kohta maupun Rina berkata, Kakek tua tersebut menyela.


“Tidak ada penolakan. Serta, kamu akan mati jika tidak bisa mengendalikan Auramu, nak,” ucap Kakek tua tersebut, menatap dalam ke Kohta.


Rina terkejut dengan informasi tersebut, dia memandang Kohta, lalu memandang ke arah Kakek tua tersebut, lalu dia berkata.


“Apa maksud dari ucapanmu, Kakek tua?” ucap Rina, dia tidak terima dengan ucapan dari Kakek tua tersebut. Sementara itu, Kohta tertegun dengan ucapan Kakek tua tersebut, bahwa dia akan mati.


“Dia memiliki sosok yang mengerikan di tubuhnya,” ucap Kakek tua tersebut, kemudian pundak mereka. Setelah itu mereka menghilang tanpa jejak, begitu juga dengan Elf yang pingsan.


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.


__ADS_2