
[Chapter 108.]
[Melepas Rindu.]
[Silahkan Dibaca.]
Akademi Xenoa, Akademi yang terletak di Ibukota Arslan. Akademi ini memiliki dinding dengan ukiran yang indah. Gerbang berwarna hitam dengan lambang bintang terlihat. Ada beberapa bangunan di dalam Akademi tersebut.
Bangunan Asrama, Gimnasium, Lapangan olahraga, Arena pelatihan, Arena pertandingan, Arena Ujian, Kantin, dan lain-lain. Kemudian juga terdapat sebuah bangunan besar yang terletak di tengah-tengah seluruh bangunan tersebut. Bangunan besar itu adalah Bangunan Utama Xenoa.
Bangunan Utama memiliki empat tingkat. Tingkat pertama untuk siswa kelas awal, Tingkat kedua untuk siswa menengah, Tingkat ke tiga untuk siswa tinggi, Tingkat ke empat untuk para guru dan ruang kepala sekolah.
Setiap tingkat berbeda fitur dan arsitektur. Warna pun juga berubah mengikuti warna sesuai tingkatan seragam para siswa.
Dalam tingkat ke empat, Ruang kepala sekolah terlihat ada lima orang disana. Dua wanita cantik, satu pasangan kakek dan nenek, satu lagi adalah seorang pemuda yang memakai pakaian kimono hitam dan merah.
“Jadi, bisakah kau memberitahuku? Bagaimana kau mengetahui putriku?” Wanita yang memiliki penampilan paras cantik dengan rambut berwarna hitam bertanya dengan nada khawatir.
“Sebelum itu, namaku adalah Kohta Hideoki, aku adalah Suami dari Rina El Yunan, Tessa Lumina, Kansha Lumina, dan Riana Lumina.”
(Note : Kuubah nama kerajaan Elfnya.)
Ke empat orang yang di depan Kohta terkejut, mulut mereka terbuka namun suara mereka berhenti di tenggorokan. Mereka bingung harus berkata apa? Mereka tidak menyangka orang di depannya adalah suami dari putri / cucu / ponakan yang mereka miliki.
“Ba-bagaimana bisa?” Wanita yang berambut pirang tersebut berkata dengan nada terkejut, dia jelas yang paling terkejut dari ke tiga orang lainnya, bagaimanapun juga dia adalah Ibu dari ke tiga anak yang dinikahi oleh Kohta, dia adalah Kiana Lumina, Ratu dari Kerajaan Elf Lumina.
“Sebelum itu, aku akan ceritakan pertemuanku dengan mereka semua.” Ke empat orang yang mendengarkan ucapan Kohta mengangguk, mereka ingin mendengar cerita bagaimana pemuda di depannya bertemu dengan ke tiga putri Elf.
Kohta mulai menjelaskan awal dirinya dari pertemuan dengan Rina, lalu menyelamatkan Tessa, kemudian bertemu Kansha, dan menyelamatkan Riana. Keempat orang mendengarkan dengan serius dan fokus, terutama Kiana.
“Itulah pertemuan diriku dengan mereka semua.”
Keempatnya masih mencerna cerita dari Kohta. Sampai akhirnya, Kiana yang sudah tenang dari rasa khawatirnya bertanya, “Lalu, sekarang berada dimana putriku, lebih tepatnya istrimu seluruhnya?”
Kohta tersenyum, kemudian ke-4 istrinya keluar dari Dunia kecil dan muncul di belakang Kohta secara tiba-tiba. Ke empat orang tersebut terkejut melihat hal itu. Kiana yang melihat ketiga putrinya dengan cepat melesat ke arah ketiganya.
Tessa, Kansha, dan Riana matanya memerah, air mata sudah tidak kuat mereka bendung. Dengan cepat keempat perempuan itu saling berpelukan. Rina sendiri berjalan dan duduk disebelah kiri Kohta dan memeluknya.
__ADS_1
Kakek, Nenek, Tante ke-3 putri elf tersebut tersenyum melihat Kiana yang memeluk putrinya. Mereka bertiga juga mendekat untuk memeluk ke-3 putri tersebut. Kohta sendiri tidak masalah diabaikan, dia meminum teh yang sudah disuguhkan tersebut.
***
Beberapa menit kemudian, acara melepas rindu telah usai. Tessa, Kansha, dan Riana duduk di sebelah Kohta. Empat istri masing-masing sisi dan di tengah adalah Kohta berhadapa dengan 4 orang di depannya.
“Aku akan keluar sebentar, kalian berbicaralah bersama.” Nenek ke-3 putri berdiri. Dia berjalan keluar dari ruangan tersebut. Sementara Kakek dan Tante ke-3 putri tersebut juga ikut keluar dari ruangan. Sekarang tersisa hanya 6 orang di ruangan tersebut.
“Kalian, datang kesini bukan hanya mengunjungi Ibu kan?” Kiana bertanya dengan lembut, entah kenapa dirinya sedikit tertarik dengan pasangan di depannya.
Kohta menyadari pandangan dari Kiana tersebut. Namun, apakah dia harus menjadikan dirinya masuk ke dalam haremnya? Itu masih difikirkan belakangan, akan tetapi tatapan Kiana benar-benar mengandung hal aneh, membuat Kohta merasa akrab.
Ke-4 istri Kohta memandang ke arah Kiana, mereka sedikit menyipitkan matanya karena melihat ada yang aneh dengan wanita di depannya. Kohta yang mendengar pertanyaan dari Kiana tersebut menatap dengan serius.
“Kami ingin pergi ke Alam Pejuang. Apakah anda mengetahui dimana gerbang itu?”
Kiana menatap ke arah 5 orang di depannya dengan terkejut. Gerbang menuju Alam Pejuang, kalimat itu membuat Kiana benar-benar terkejut dan dengan cepat menjadi serius menatap ke arah Kohta.
“Kenapa kau ingin kesana?”
Kohta yang mendengar pertanyaan tersebut menghela nafas, dia sudah tahu pasti akan ditanya begitu. “Orang tuaku berada di Alam tersebut. Mereka menunggu kedatanganku beserta para istriku.”
Rentetan pertanyaan dari Kiana membuat Kohta mengerutkan keningnya. Kohta tersenyum dan berkata dengan ringan. “Jangan terlalu khawatir, mereka akan aman jika di dekatku.”
Kiana melihat siluet mata Kohta yang penuh akan rasa percaya diri. Dia benar-benar tidak menyangka akan melihat kejadian tersebut. Kiana tersenyum, entah kenapa dia suka kepada pemuda di depannya.
Rina, Tessa, Kansha, dan Riana melihat hal itu tidak bisa tidak menghela nafas. Mereka tahu pasti akan terjadi hal ini, bagaimanapun juga mereka tahu Ibu di depan mereka sudah di tinggal suaminya. Tessa, Kansha, dan Riana saling memandang mereka sedikit rumit jika Ibunya menyukai Kohta.
Kiana tahu akan hal itu, dia tersenyum namun dalam hati sedih. Entah kenapa, dia ingin mengikuti Kohta padahal mereka baru saja bertemu. Kiana baru sekarang tertarik dengan seseorang sebelum-sebelumnya dia tidak tertarik sama sekali.
Kohta dan Rina merasakan konflik tersebut. Rina sendiri tidak masalah, sementara Kohta terserah pilihan para istrinya namun dia berharap Kiana masuk ke dalam haremnya. Rina menatap ke arah Kohta dan berkata, “Sayang, keluarlah terlebih dahulu. Kami ingin berbicara hal penting antar perempuan.”
Kohta mengangguk setuju dan berdiri, kemudian berjalan pergi meninggalkan ke-4 perempuan itu untuk berbicara satu sama lain. Kohta keluar ruangan dan melihat ke arah sisi kanan dan kiri, dia bingung harus kemana.
“Nak, pergilah ke kanan.”
Kohta mendengar suara Oda, dia tidak tahu ada hal apa sampai-sampai Oda memintanya untuk kesana. Kohta tidak keberatan, karena dirinya tidak tahu arah tujuan. Sementara Oda sendiri tatapannya menajam, begitu juga Arthur.
__ADS_1
“Sepertinya Ibukota dalam bahaya nanti.”
Arthur yang mendengar itu mengangguk paham, mereka di dalam jiwa Kohta dan merasakan ada Iblis di dalam Akademi. Iblis itu bukan hanya satu melainkan ada 100. Jelas hal ini pasti akan mengakibatkan perang dan Iblis-Iblis bertujuan untuk mengacaukan dari dalam.
Kohta terus berjalan, dirinya yang sudah menguasai Qi Bulan dapat melihat Aura seseorang dengan jelas. Kohta terus mengikuti arahan dari Oda dan menjelaskan situasi yang dia prediksi. Mendengar hal itu Kohta menjadi lebih serius dan tajam.
“100 Iblis, sepertinya penyerangan akan terjadi malam ini, Pak Tua.”
“Kau benar, Nak. Cobalah kurangi Iblis itu, mereka benar-benar pintar menyamar menjadi manusia.”
Kohta mengangguk, dia terus mencari sampai akhirnya bertemu dengan salah satu Iblis di antara para siswa. Kohta melihat iblis tersebut, dia benar-benar merasa Iblis sangat pintar dalam berbaur, bahasa dan kondisi mental yang cepat akrab.
Kohta berjalan dan menatap ke arah dinding yang berisi banyak pengumuman. Dirinya menatap papan pengumuman dan berjalan perlahan ke arah Iblis tersebut namun Kohta berjalan dari belakang Iblis.
Kohta masih menatap ke arah dinding dan tiba di dekat Iblis tersebut. Kohta menarik pedang miliknya, ekspresinya menjadi serius dan menusuk tepat jantung Iblis tersebut. Siswa yang mengobrol dengan senang terkejut akan hal itu.
“Ap-Apa yang sedang kau lakukan!” Siswa di dekat Iblis tersebut berteriak dengan keras namun ketika mereka semua akan menarik pedang. Sesuatu terjadi kepada Iblis tersebut, dia akhirnya kembali ke wujud aslinya.
Siswa di sekitar dan siswa yang sedang mengobrol tadi terkejut, tubuh mereka gemetar hebat ketika melihat sosok itu. Salah satu ingin berteriak namun Kohta tiba di depan orang itu dan berkata dengan keras.
“Jangan ada yang berteriak, dengarkan aku sekarang. Aku bukan siswa Akademi ini tapi dengarkan perintahku untuk kali ini.”
Seluruh siswa gemetar mereka tidak bisa berteriak sekarang. Perkataan Kohta tersebut membuat semuanya langsung diam, mereka mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kohta.
“Pertama, aku ingin salah satu dari kalian pergilah ke ruang kepala sekolah. Lalu beberapa orang disini mulailah mencari guru. Sebagian mulailah mengungsikan warga Ibukota. Juga satu hal, aku percaya kalian karena kalian semua berasal dari Akademi Xenoa yang berarti kalian bisa melakukan apa yang kupinta tersebut.”
Seluruh siswa tertegun, orang asing mempercayai mereka, mereka adalah Xenoa. Seluruhnya menepuk pipi mereka dan sadar bahwa Siswa Akademi Xenoa bukanlah pengecut yang gemetar takut akan Iblis.
Kohta benar-benar sudah membangkitkan rasa percaya diri siswa tersebut, kemudian dia berkata dengan tegas. “Mari kita hancurkan Iblis yang sudah berani menyerang tempat ini.”
Seluruh siswa mengangguk, mereka memasang hormat bangsawan kepada Kohta, kemudian menjawab dengan tegas. “Siap, Tuan.”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thank you Minna-san.