
[Chapter 53.]
[Malam yang indah.]
[Silahkan Dibaca.]
[18+.]
Pagi hari.
Kohta terbangun dari tidurnya, dia melihat ke arah Rina dan Tessa, dia tidak bisa tidak merasa lucu kepada mereka.
Kohta mengingat kejadian kemarin, hal tersebut benar-benar membekas di otak miliknya.
Flashback.
Kohta yang duduk di Bak mandi dengan di apit dua perempuan tanpa pakaian apapun, tidak bisa menahan dirinya.
Secara naluri, bagian bawahnya sudah berdiri sejak tadi, kedua perempuan tersebut menundukkan kepalanya dan memerah.
Kohta menghela nafas dan menstabilkan emosinya, kemudian dia berdiri dan keluar dari bak mandi.
Byuuur.
Kohta keluar dari bak mandi, hal tersebut membuat kedua perempuan tersebut merasa bersalah.
“Kohta, kau mau kemana?” Rina bertanya dengan penasaran, dalam hatinya dia menyesal.
“Hm, aku mau membersihkan punggung,” ucap Kohta, dia duduk di kursi pendek, lalu mengambil sesuatu untuk membersihkan belakangnya.
Rina dan Tessa saling memandang, wajah mereka tidak memerah melainkan wajah bersalah.
Byur Byur.
Rina dan Tessa keluar dari bak mandi dan memeluk Kohta, Rina memeluk dari depan Tessa dari belakang.
Grepp.
“Hei, kenapa dengan kalian?” tanya Kohta, dia berpura-pura terkejut dan bertanya, padahal aslinya dia tahu perasaan keduanya.
“Maaf,” ucap keduanya, membuat Kohta menaikkan alisnya, kemudian terlihat Rina mulai bergerak di bagian depan Kohta.
Sementara Tessa mulai menggunakan kedua buahnya, keduanya menggunakan buah mereka untuk menggosok tubuh Kohta.
Sementara itu, Kohta sudah tidak bisa menahan perasaan liarnya, dia dengan cepat menarik kepala Rina.
Kohta memasukkan barangnya ke dalam Rina, mereka melakukan hal tersebut di dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian.
Mereka sudah dikuasai hawa napsu, mereka berjalan bersama menuju ke arah tempat tidur.
Namun, sebelum mereka melanjutkan kembali. Suara yang membuat kedua istri Kohta malu terdengar.
Kruuukkkk.
“Hihihi, sepertinya kalian lapar,” ucap Kohta, kemudian dia mencium kening kedua istrinya dan mulai berpakaian.
__ADS_1
Namun, Kohta dihentikan oleh Rina dan ditarik ke dalam tempat tidur. Tessa pun ikut, menarik Kohta.
“Kalian yakin?” tanya Kohta, keduanya mengangguk. Tanpa fikir panjang, Kohta dengan cepat mulai bermain.
Flashback end.
Kohta melihat kedua istrinya akan bangun, dia menunggu sampai akhirnya kedua istrinya membuka matanya.
“Pagi,” ucap Kohta, keduanya menatap ke arah Kohta, sebuah ingatan tentang malam panas mereka muncul.
“P-pagi, S-sayang,” ucap keduanya dengan gugup dan wajah mereka memerah malu. Mereka benar-benar ingat betapa liarnya mereka.
Namun, saat mereka akan turun dari tempat tidur. Mereka berdua merasakan rasa sakit di area mereka.
“Kalian tetaplah disini, aku akan membuatkan makanan untuk kalian,” ucap Kohta, kemudian dia turun dari tempat tidur.
Kohta benar-benar paham, pertama kali mereka pasti menyakitkan. Lalu, sebagai Suami yang baik adalah membuat makanan.
Kedua istrinya tersenyum senang mendengar ucapan dari Kohta. Mereka diam disana sambil berbicara di antara mereka.
Kohta sendiri berada di dapur, dia menyiapkan makanan yang tidak ada di dunia yang dia tempati.
Dia juga memberikan sebuah pil penyembuhan di makanan tersebut, agar kedua istrinya bisa segera bergerak bebas.
Beberapa menit kemudian.
Makanan sudah siap, Kohta berjalan ke arah kedua istrinya dengan sebuah nampan 2 piring makanan.
“Ayo makan,” ucap Kohta, dia benar-benar perhatian, menyuapi mereka masing-masing.
Selesai mandi, mereka memakai pakaian santai, namun tetap terlihat pakaian mewah seperti bangsawan.
Mereka bertiga keluar dari kamar, lalu mereka turun ke bawah dan berjalan keluar dari penginapan.
Di jalan.
“Nah, sayang. Apakah kita perlu rumah?” tanya Rina, membuat Kohta menatapnya dengan tatapan bingung.
“Sebenarnya aku juga berfikir seperti itu, namun aku tidak tahu apakah disini ada rumah yang dijual?” tanya Kohta.
Rina yang mendengar hal tersebut, tersenyum lebar. Kemudian, dia berjalan terlebih dahulu dan berhenti di depan Kohta.
“Aku tahu lokasinya,” ucap Rina, sementara Kohta menatapnya dan mengangguk setuju, kemudian dia melihat ke arah Tessa.
“Ada apa, Tessa?” tanya Kohta, membuat Tessa sadar dalam keadaan linglungnya, dia menatap ke arah Kohta dan menggelengkan kepalanya.
“Tak apa, hanya saja aku mendengar suara tapi aku tidak tahu suara siapa itu,” ucap Tessa, membuat Kohta mengerutkan keningnya.
Rina juga menatap Tessa dengan aneh, kemudian dia mengerutkan keningnya kemudian Rina berkata.
“Apakah itu semacam sesuatu hal?” tanya Rina, dia benar-benar bingung apa yang terjadi dengan Tessa.
“Kita bahas nanti, Tessa berada di dekat kami,” ucap Kohta, dia memegang tangan Tessa, begitu juga Rina.
Tessa tersenyum senang melihat keduanya khawatir akan keadaan dirinya. Tessa menuruti keduanya dan berfikir.
‘Suara siapa tadi, kenapa suara tersebut aneh?’ batin Tessa, dia menggelengkan kepalanya mencoba untuk melupakan sejenak.
__ADS_1
Sementara itu, Oda yang berada di dalam jiwa Kohta, menatap dalam ke arah Tessa dan Rina, dia benar-benar menemukan sesuatu yang menarik.
“Kedua perempuan ini, benar-benar menarik,” gumam Oda, kemudian dia mengambil sake miliknya dan meminum sake tersebut.
Sisi Kohta.
Kohta, Rina, dan Tessa berjalan melihat-lihat rumah yang di jual, mereka melihat rumah mana yang cocok.
“Cari sebuah Mansion yang besar saja,” ucap Kohta, dia tidak masalah dengan koin. Rina mengangguk dan mereka mulai mencari kembali.
Beberapa menit kemudian.
Mereka pun tiba di sebuah Mansion besar, di sana terdapat 5 sarang lebah. Namun, Mansion tersebut benar-benar terlantar.
“Apakah ini Mansion yang di bicarakan penjual tadi?” tanya Kohta, sementara Rina menjawab sambil mengangguk.
“Itu benar, Mansion ini. Baguslah kalau besar,” ucap Rina, membuat Kohta mengangguk, kemudian mereka bertiga masuk ke dalam.
Namun, sebelum mereka masuk. Mereka merasakan sesuatu mendekat ke arah mereka bertiga.
Wushhh.
Tessa yang berada di tengah Kohta dan Rina, mengeratkan genggaman tangannya, dia berkata.
“Datang,” ucap Tessa tanpa sadar, Kohta dan Rina mulai bersiap dan melindungi Tessa satu sama lain.
“Arah ma- sepertinya sudah datang,” ucap Kohta, kemudian muncul berbagai orang dengan jubah abu-abu.
Wush Wush Wush Wush Wush.
Tap tap tap tap tap.
Para orang yang berjubah abu-abu muncul dan mengelilingi mereka bertiga, kemudian salah satu dari orang berjubah berteriak.
“Serahkan perempuan yang berada di tengah kalian, makhluk rendahan,” teriak orang berjubah abu-abu tersebut.
Kohta mengerutkan keningnya, dia merasa di remehkan. Lalu, sosok orang berjubah hijau muncul di hadapan Kohta dan kedua istrinya.
“Langkahi dulu aku, sebelum membawa adikku,” ucap orang berjubah hijau tersebut, dengan tangan memegang pedang di pinggangnya.
Para orang berjubah abu-abu terkejut melihat orang tersebut, kemudian salah satu dari para jubah abu-abu, tertawa pelan dan berjalan masuk.
“Hahahaha, kau ternyata masih hidup, putri Tessa. Juga, akhirnya kau keluar juga, Kansha,” ucap orang berjubah abu-abu sambil menjilat bibirnya.
Kansha memandang ke arah orang berjubah abu-abu dan memandang tajam ke arah orang yang baru saja berkata.
Kansha memandang dengan penuh benci dan amarah, dia berkata dengan marah.
“Kurht, beraninya kau mengkhianati Raja,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.
__ADS_1