Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 69


__ADS_3

[Chapter 69.]


[Informasi Tingkat terbaru.]


[Silahkan Dibaca.]


Hutan.


Kohta, Rina, Tessa, dan Kansha sudah bersiap-siap dan mulai melanjutkan perjalanan menuju ke Negara Elf.


Mereka berjalan tenang sekarang, tidak terlalu terburu-buru. Sebelumnya mereka terburu-buru karena Tessa dan Kansha khawatir.


Namun, sekarang dia menghilangkan rasa khawatir mereka dan hanya berdoa untuk keselamatan Elf lainnya.


Hal tersebut, bukanlah fikiran buruk. Bagaimanapun apakah harus mereka berdua yang harus menanggung seluruh nyawa Elf.


Mereka mulai mengembangkan sikap sedikit tidak perlu, bukan karena ingin, tapi karena pengalaman mereka.


Kohta dan ketiga istrinya berhenti di tempat persimpangan tiga jalur yang menuju ke tempat tujuan mereka yaitu Negara Elf.


“Jalur ini adalah jalur rawa hitam, kita abaikan jalur berbahaya ini,” ungkap Kansha menunjuk ke arah jalur yang terlihat gelap.


Kansha kemudian menunjuk jalur tengah dan berkata, “Jalur depan adalah jalur tempat sarang Monster, ini juga tidak kusarankan, rata-rata monster disana memiliki level Huge, Titan.”


Kohta kemudian mengangguk dan melihat Kansha menunjuk ke arah jalur, dimana tempat tersebut terlihat seperti reruntuhan.


“Kita akan ambil jalan ini, walaupun terlihat membingungkan tapi jalan ini adalah jalan terbaik, aku memiliki petanya,” Kansha berkata sambil mengeluarkan peta.


“Kalau begitu, ayo kita pilih jalur reruntuhan ini,” Kohta berjalan terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh ketiga istrinya.


Mereka memasuki jalur Reruntuhan tersebut, mereka melewati tanda jalur yang menunjukan bahwa sudah memasuki area Reruntuhan.


*


Reruntuhan Kota Kuno Artes.


Kohta, Rina, Tessa, dan Kansha berjalan melewati reruntuhan, mereka mengikuti arah yang di tunjukan oleh peta milik Kansha.


“Benar-benar mirip seperti labirin,” Kohta menatap ke arah bentuk reruntuhan tersebut, dia benar-benar merasa tertarik dengan reruntuhan Artes.


“Ya, dulu Kota kuno Artes mendapatkan julukan Kota kuno Labirin, karena pintu masuknya harus menghafal setiap belokan dari Kota tersebut.”


“Hal tersebut juga membuat para penyerang Kota ini berfikir dua kali, bukan hanya labirin saja, namun ada hal lain yang membuat mereka berfikir kembali.”


Kansha menceritakan kota tersebut, dia benar-benar suka jika sudah bersangkutan dengan sejarah-sejarah.


“Di kota ini ada Chimera, Monster legenda dengan tingkat Titan puncak, mungkin kalau masih hidup sampai sekarang, Chimera bisa naik ke level Beast.”


Kohta terkejut mendengar hal tersebut, dia tidak menyangka bahwa ada monster tinggi disini.


‘Aku sedikit bingung dengan tingkat lagi, nah Clara apakah tingkat sebelumnya benar?’


[Maaf, Tuan. Informasi tentang tingkat dunia ini sebelumnya belum sepenuhnya benar.]


‘Pantas, aku merasa ada kejanggalan dalam aku naik, bisakah kau tunjukkan tingkat kekuatan Dunia ini.’


[Bisa, Tuan. Ini adalah tingkat dunia asli Dunia ini.]


[Alam Deus.]


[Tingkat kekuatan.]


[Junior tahap awal bintang 1-3.]


[Junior tahap menengah bintang 1-3.]

__ADS_1


[Junior tahap tinggi bintang 1-3.]


[Junior tahap puncak.]


[Senior tahap awal bintang 1-3.]


[Senior tahap menengah bintang 1-3.]


[Senior tahap tinggi bintang 1-3.]


[Senior tahap puncak.]


[Master tahap awal bintang 1-3.]


[Master tahap menengah bintang 1-3.]


[Master tahap tinggi bintang 1-3.]


[Master tahap puncak.]


[Grandmaster tahap awal bintang 1-3.]


[Grandmaster tahap menengah bintang 1-3.]


[Grandmaster tahap tinggi bintang 1-3.]


[Grandmaster tahap puncak.]


[Tingkat Monster.]


[Normal tahap awal.]


[Normal tahap menengah.]


[Normal tahap tinggi.]


[Big tahap awal.]


[Big tahap menengah.]


[Big tahap tinggi.]


[Big tahap puncak.]


[Huge tahap awal.]


[Huge tahap menengah.]


[Huge tahap tinggi.]


[Huge tahap puncak.]


[Titan tahap awal.]


[Titan tahap menengah.]


[Titan tahap tinggi.]


[Titan tahap puncak.]


[Beast tahap awal.]


[Beast tahap menengah.]


[Beast tahap tinggi.]

__ADS_1


[Beast tahap puncak.]


[Legend.]


Kohta menatap hal tersebut, dia akhirnya tahu penyebab dia mengalami kemacetan dalam kenaikan miliknya.


‘Jadi aku berada Senior tahap puncak, kukira Master tingkat 1,' Kohta akhirnya memahami, bahwa dirinya belum benar-benar naik ke Alam Master.


Kohta kemudian mengikuti Rina, Tessa, dan Kansha yang berbicara dan berjalan menyusuri jalan labirin.


Rina benar-benar terlihat antusias, entah kenapa atau perasaan saja, Kohta merasa bahwa Rina sangat ceria.


‘Mungkin dia sudah lepas dari bayangan kemarin,' ungkap Kohta dalam hati, arti dari bayangan adalah sisi lain atau fikiran buruk yang timbul.


Mereka menyusuri, sampai akhirnya Tessa dan Kansha berhenti secara mendadak, membuat Kohta dan Rina juga ikut berhenti.


“Ada apa?” tanya Kohta, dia segera memasang ekspresi serius sambil mengeluarkan pedang Arshed miliknya.


Melihat Kohta bersiap-siap, Rina juga mulai bersiap-siap, dia juga mengeluarkan pedang miliknya.


“Ada orang di jalan itu,” Kansha menunjuk ke arah jalan yang berbeda dari jalan yang akan mereka lalui.


“Berapa?” tanya Kohta, dia juga menggunakan persepsi miliknya, namun belum bisa mencapai tempat orang yang dimaksud Kansha.


“9 orang, aku bisa merasakannya,” Tessa berkata sambil menajamkan persepsi miliknya, bukan karena dia ahli, melainkan dia juga memiliki elemen tanah, membuat persepsi menjadi lebih luas.


“Kita selidiki?” Kansha memandang ke arah Kohta, sementara Kohta berfikir apakah perlu untuk menyelidiki.


“Oke, tapi kita harus bersama, mereka ada 9 kita ada 4, kita kalah jumlah, juga kita belum tahu apakah mereka kuat atau tidak.”


Kohta berkata dengan serius, ketiga istrinya mengangguk. Mereka berempat kemudian berjalan ke arah jalan tersebut.


Mereka bergerak perlahan-lahan, sambil menghilangkan hawa keberadaan mereka, mereka mendekat dan semakin jelas suara seseorang berbicara.


“Kita akan mengambil harta disini, sebelum kita menuju ke Negara Elf,” ucap suara yang mereka berempat dengar.


Keempatnya akhirnya bisa melihat sembilan orang tersebut, mereka memiliki jubah hitam dengan simbol dua tangan dan satu mata.


Kohta, Rina, Tessa dan Kansha terkejut melihat hal tersebut, mereka lagi-lagi terkejut mendengar pertanyaan dari salah satu mereka.


“Master, bukankah Negara Elf sudah hancur?” tanya orang berjubah2 dengan nada datar dan seriusnya.


“Kau benar, aku tidak menyangka orang itu mudah dimanfaatkan, khaha,” ungkap orang yang disebut Master tersebut.


Tessa dan Kansha yang mendengar itu gemetar, ucapan Negeri Elf di hancurkan membuat mereka menjadi kosong.


Kohta segera memeluk keduanya dan berbisik sesuatu yang membuat keduanya melebarkan matanya dan mengangguk.


“Ingat, kita perlu konfirmasi dulu, walaupun Negeri Elf hancur pasti para Elf sudah pergi, kita jangan ambil satupun kata-kata mereka dalam hati.”


Kohta berbisik kepada keduanya, dia benar-benar sudah menenangkan keduanya, kemudian Kohta berkata dengan pelan.


“Kita pergi,” Kohta membiarkan Rina, Tessa, dan Kansha terlebih dahulu, kemudian dia akan mengikuti dari belakang.


“Wah Wah Wah, aku tidak menyangka ada yang mengikuti kami,” ucap sebuah suara yang membuat Kohta dan ketiga istrinya berhenti.


Mereka menatap ke arah atas dan melihat seorang Perempuan dengan jubah hitam berkibar, mata berwarna ungu menatap ke arah Kohta dan ketiga istrinya.


Rantai milik perempuan tersebut keluar, rantai berwarna biru laut dengan jumlah rantai ada 10 berayun di belakang perempuan tersebut.


“Siapa kalian?”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.


__ADS_2