Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 102


__ADS_3

[Chapter 102.]


[Identitas Kansha.]


[Silahkan Dibaca.]


Pegunungan Avrest Utara.


Kansha dan Riana berjalan masuk ke dalam gua yang memiliki tugu pusaran. Mereka berdua percaya kepada suaminya bahwa akan ada sesuatu yang membuat keduanya meningkat. Keduanya berjalan dan melihat ada sebuah pembatas.


Pembatas itu terdapat dua sisi, sisi yang mereka injak terdapat salju sementara sisi depannya lantai batu zaman dahulu. Di tengah sisi terdapat garis berwarna hitam yang membuat sebuah dinding tak kasat mata. Namun, bagi kedua perempuan itu dinding itu terlihat sangat jelas.


“Kak, apakah kita masuk?” Kansha bertanya kepada saudarinya atau kakaknya.


“Ya, entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang menarik di balik pelindung ini. Sesuatu yang menarikku untuk masuk ke dalamnya.” Riana menjawab dengan perasaan tertarik.


Kansha mengangguk setuju. Dia juga merasakan hal itu, sesuatu menarik dirinya untuk masuk ke dalam penghalang tersebut. Keduanya berpegangan tangan dan memasuki penghalang tersebut. Riak air terlihat ketika keduanya masuk ke dalam ke penghalang tersebut.


***


Sisi balik penghalang.


Kasha dan Riana berhasil masuk ke dalam penghalang. Keduanya menatap ke belakang, tapi hal yang dilihat hanya sebuah tembok yang memiliki pola seperti pintu. Lalu, Kansha memasukkan tangannya dan terlihat muncul riak di tembok tersebut.


“Sepertinya tembok ini hanya sebuah pajangan agar pintu keluar masuk tidak terlihat saja.” Kansha mengungkapkan hal itu dan menarik tangannya kembali.


“Itu benar, coba Kita tandai lokasi ini dengan energi Kin milik Kita.” Kansha mengangguk mendengar ucapan dari Riana, kemudian keduanya menempelkan tangan ke dinding dan menyalurkan energi Kin ke tembok.


Apa yang keduanya lakukan adalah membuat sebuah telapak jejak Energi Kin agar tidak kehilangan arah nantinya. Kansha dan Riana menatap ke arah lorong di depannya. Mereka berdua berjalan maju ke dalam lorong tersebut.


Kansha dan Riana terus berjalan sampai akhirnya tiba di jalan bercabang dua. Di tembok terlihat terdapat sebuah tanda yang aneh. Keduanya saling memandang dan mengangkat bahunya bersama, keduanya benar-benar tidak memahami arti tanda tersebut.


Terlihat lambang yang menunjuk ke arah kiri adalah sebuah pusaran namun warna pusaran itu adalah kuning mirip dengan tembok. Sementara lambang yang menunjuk ke arah kanan adalah pusaran berwarna hijau. Kedua lambang itu terdapat tulisan di atasnya.

__ADS_1


LoB untuk nama yang mengarah sisi kiri. Sementara yang sisi kanan adalah TBoW. Kedua perempuan itu bingung namun dengan cepat mereka berdua memilih. Kansha memilih ke arah kanan sedangkan Riana ke arah kiri.


***


Kansha berjalan dengan penuh waspada, bagaimanapun juga dia tidak bisa sesantai sebelumnya. Dia berjalan sampai akhirnya tembok berubah warna menjadi hijau. Hal itu membuat Kansha terkejut namun segera menenangkan dirinya.


Kansha berjalan terus dan tidak mengendurkan kewaspadaan miliknya. Sampai akhirnya, perempuan itu tiba diujung lorong tembok berwarna hijau tersebut. Kansha memasuki sebuah ruangan yang luas dan memiliki warna hijau.


Namun, perhatian Kansha berhenti ke arah sosok Monster yang tertidur di depannya. Kansha menjadi waspada penuh, kedua belati miliknya keluar. Merasakan ada sebuah keberadaan Monster itu membuka matanya.


“Master, akhirnya anda datang kesini.” Monster itu berkata dengan suara yang ringan.


Kansha terkejut mendengar hal itu, dia bingung dengan sebutan ‘Master’ tersebut. Monster itu berdiri dan terlihat sosok Monster itu sepenuhnya. Sosok Elang dengan rambut panjang berwarna merah mencuat ke belakang.


[Eagle Flaming Wind.]


[Tingkat : ????.]


Elang itu menatap ke arah Kansha yang bingung, monster itu tersenyum tipis. Kansha yang melihat itu menyipitkan matanya dan berkata dengan nada penasaran. “Apa maksudmu dengan menyebutku Master?”


Kansha mengerutkan keningnya, dia tidak pernah mengingat bertemu Elang dengan bentuk dan ciri seperti yang berada di depannya. Perempuan itu menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk mengingat Elang tersebut, akan tetapi ketika dia mengingat lebih jauh kepalanya akan langsung pusing.


“Arhhh, aku benar-benar tidak ingat pernah bertemu denganmu. Kemungkinan Kau salah orang,” ucap Kansha dengan tenang.


Elang tersebut tidak membalas, membuat Kansha menjadi waspada kembali. Kemudian, Monster itu bergerak ke arah kanan membuat Kansha sedikit bingung. Namun, dia segera paham ketika melihat sebuah bola besar berwarna hijau tepat di belakang tempat Elang sebelumnya berada.


“Cobalah sentuh Bola itu, Master. Nanti Kau akan mengingat tentang Dirimu yang asli.” Elang tersebut berkata dengan tenang, dia sebenarnya ingin sedikit menjahili Masternya namun ketika melihat Master mengandung, monster itu tidak ingin kandungan Masternya bermasalah nantinya.


Kansha mengendurkan kewaspadaannya sedikit, lalu dia berjalan dengan santai ke arah Bola Besar berwarna hijau tersebut. Tiba di dekat bola itu, Kansha dengan cepat meletakkan ke bola tersebut. Seketika cahaya berwarna hijau muncul dan menyelimuti Kansha.


***


Kansha terkejut ketika berpindah tempat. Namun, hal aneh yang dia rasakan adalah bahwa dia sangat ringan. Kansha segera menemukan jawabannya yaitu dirinya tidak memiliki raga sama sekali hanya sosok jiwa saja.

__ADS_1


“Apakah aku tertipu?” Kansha merasa dirinya tertipu, akan tetapi hal itu dia tepis ketika dirinya melihat tempatnya berubah menjadi medan perang.


Kansha terkejut akan hal itu, dia lebih terkejut kembali ketika melihat dirinya berada di antara para orang-orang yang memakai jubah berwarna hijau muda. Lalu, Kansha melihat ke arah sisi lain yang terdapat berbagai monster dengan ukuran melebihi dari pegunungan Avrest.


“Tunggu, in- Arhhhhh.” Kansha belum sempat menyelesaikan kata-katanya, dia merasakan rasa sakit di kepalanya.


Berbagai ingatan tentang dirinya muncul. Kansha mengetahui identitas dirinya sebagai seorang perempuan yang menyandang gelar Guru Assasin Terkuat. Karena gelar itu, para Monster merasa terancam.


Kansha menatap ke medan perang dan melihat dirinya yang berdiri di antara para mayat rekan-rekannya. Dia sendiri sudah membunuh banyak monster di depannya, mengakibatkan perempuan itu kelelahan.


Kansha melihat dirinya yang tengah memandang sosok monster yang sangat besar dan tinggi. Dia juga mendapatkan informasi bahwa para monster dikendalikan oleh seseorang. Kansha menatap ke dirinya yang mulai merapalkan sebuah mantra kuno.


“Mari kita bereinkarnasi bersama, Ernast.” Kansha mendengar teriakan dirinya, lalu Elang yang dia temui mengangguk dan keduanya mulai melaju ke depan dan berakhir mati di hadapan seseorang berjubah hitam.


Kansha juga mendapatkan informasi yang kabur, dia benar-benar tidak mengingat penuh dengan informasi tersebut. Informasi itu adalah ‘Menemukan seorang putra mahkota kerajaan.... Agar dapat membalaskan dendam kepada pengendali monster.’


***


Kansha kembali ke dalam kesadaran miliknya. Dia mendapatkan informasi dan ingatan tentang dirinya tersebut. Perempuan itu kemudian menatap ke arah Elang yang menatapnya dengan penuh khawatir.


“Aku kembali, Ernast.” Kansha berkata dengan nada rindu kepada Elangnya tersebut.


Ernast yang mendengar ucapan dari Kansha, dia tersenyum senang dan mengepakkan sayapnya. Monster itu juga rindu kepada Kansha, bagaimanapun juga mereka berdua adalah partner sejati.


Kansha kemudian menatap ke arah sebuah peti kecil berwarna hijau. Dia tersenyum dan berjalan ke arah peti kecil tersebut. Perempuan itu memegang peti dengan penuh nostalgia.


"Twin Blade Of Wind, akhirnya kita bertemu kembali."


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thank you Minna-san.


__ADS_2