
[Chapter 6.]
[Rezim Latihan.]
[Silahkan Dibaca.]
Pagi hari.
Kohta bangun, lalu duduk dan melihat bahwa Matahari belum bersinar. Kohta bingung, jam berapanya. Lalu, dia keluar dan menemukan Jam di dinding.
“Pukul 04.28. Tunggu, kenapa ini menjadi ada 13 titik. Biasanya kan hanya 12 titik.” Ucap Kohta, lalu pintu kamar Sean dan Elli terbuka.
“Oh, ternyata Kohta, Hoamm. Kenapa malam-malam berisik sendiri, ada yang terjadi kah?.” Ucap Sean, keluar dengan rasa mengantuk.
“Aku hanya bingung, hitungan waktu di Dunia ini.” Ucap Kohta sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.
Sedangkan, Sean membelalakan matanya. Lalu, dia ingin tertawa namun tubuhnya tidak bisa, karena dia begitu mengantuk.
“Ha Ha Ha hah.. Waktu di Dunia ini, 26 Jam 100 menit 120 detik. Sudahlah, aku tinggal tidur dulu.” Ucap Sean, kembali ke kamarnya dan menutup pintu kamar.
“Hah, 26 Jam?. Dunia ini benar-benar berbeda.” Ucap Kohta, lalu terdengar suara ******* di dalam kamar Sean dan Elli. Sedangkan Kohta mengedutkan bibirnya, dia pergi keluar dari Pondok.
“Huff, sial dia bilang tidur tapi melakukan permainan.” Ucap Kohta, lalu memandang ke arah langit yang begitu indah.
“2 Bulan, sepertinya melihat dari atas Pohon, bagus ini.” Ucap Kohta, lalu melompat ke cabang Pohon, kemudian melompat kembali dan sampai di puncak Pohon.
“Wow, sungguh indah. Dua bulan bersinar, di kelilingi oleh berbagai bintang. Entah kenapa, ada yan kurang menurutku.” Ucap Kohta, lalu dia ingat. Kemudian, menghela nafas.
“Kekurangan itu, kufikirkan saat aku sudah cukup kuat untuk bertahan di Dunia ini.” Ucap Kohta, lalu turun ke bawah. Kemudian, berkata.
“Clara, apakah di Shop ada kertas.”
[2x Kertas : 1 Perunggu.]
“Beli.”
Lalu, di depan Kohta muncul sebuah kertas. Kohta lupa dengan alat untuk menulisnya. Lalu membeli Pena dengan isi tidak pernah habis.
“Baiklah, mari kutulis Rezim pelatihan harian.” Ucap Kohta, kemudian mulai menulis. 100 Push Up, 100 Sit Up, 100 Pull Up, 10 KM lari, 1000 ayunan pedang.
“Baiklah, ini adalah Rezim latihan pagi. Clara apakah ada gelang pemberat?.”
__ADS_1
[Ada, Kohta.]
“Kalau begitu, beli 4 pasang seberat 5 Kg.” Ucap Kohta, lalu muncul Pemberat tersebut. Kohta segera memasang Gelang berat tersebut.
Lalu, Kohta memulai Rezim pelatihannya. Kohta memulai agak jauh dari Pondok. Lalu, dia melakukan Push Up terlebih dahulu.
“1..2..3..4..5..” Ucap Kohta menghitung Push Upnya. Kohta terus melakukan Push Up, walaupun nafasnya mulai memberat.
30 menit kemudian.
“95..96..97..98.99..100.” Ucap Kohta, keringat membasahi tubuhnya. Kohta, kemudian segera jatuh ke tanah.
Brukk.
“Hahh... Hahh. Hahhh, sungguh melelahkan.” Ucap Kohta, lalu mencoba untuk duduk dan bersandar di Pohon.
“Baru melakukan Push Up, tinggal Sit Up, Pull Up, Lari pagi, dan Ayunan pedang.” Ucap Kohta, lalu beristirahat terlebih dahulu.
5 menit kemudian, Kohta melanjutkan latihannya. Kohta mulai melakukan Sit Up 100x. Berbaring di tanah, kemudian mengangkat bagian atas.
3 Jam kemudian, di Pondok. Pagi hari menyinari Pondok tersebut, Elli terbangun terlebih dahulu. Dia duduk di samping tempat tidur, lalu berdiri dan keluar dari kamar.
Saat melewati kamar Kohta, tanpa sengaja Elli melihat bahwa Kohta tidak ada di kamarnya. Lalu, dia membuka sepenuhnya.
“Ada apa, Elli?. Kenapa kamu masuk ke dalam kamar Kohta?.” Ucap Sean, dari kamarnya. Sedangkan, Elli memandang Sean dan berkata.
“Sean, kemana Kohta?. Dia tidak ada di kamarnya.” Ucap Elli, sedangkan Sean mengerutkan keningnya dan berjalan ke arah Elli.
Sean yang sudah sampai di dekat Elli, segera melihat ke dalam dan benar bahwa Kohta tidak ada di kamar.
“Kemana perginya, Kohta?.” Ucap Sean, lalu berfikir dan akhirnya dia ingat dengan semalam. Lalu dia memandang ke Elli dan berkata.
“Malam itu, aku bertemu dengannya. Dia memandang jam, apa mungkin setelah itu dia keluar.” Ucap Sean dengan jelas. Sebelum, Elli menjawab. Ada suara pintu terbuka, Sean dan Elli memandang ke arah pintu. Mereka menemukan kohta basah dengan keringat dan terlihat kelelahan.
“Kohta, darimana saia kamu?.” Ucap Sean. Sedangkan Kohta hanya menjawab dengan singkat dan jelas.
“Aku berlatih.” Ucap Kohta dengan lelah. Sedangkan Sean dan Elli sedikit menaikkan alisnya. Lalu, Sean berkata.
“Kau berlatih malam-malam?.” Ucap Sean, sedangkan Kohta mengangguk dan menjawab.
“Bukankah, Jam 4 sudah pagi.” Ucap Kohta, sedangkan Sean dan Elli menghela nafas. Elli pun berkata.
__ADS_1
“Benar juga, namun itu masih malam, anggapan kami. Ya sudahlah, kamu segera mandi. Aku akan memasak. Serta, jangan khawatir dengan kami. Hanya dengan Sihir air kami sudah bersih.” Ucap Elli, sedangkan Kohta mengangguk.
“Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu.” Ucap Kohta, berjalan menuju ke belakang untuk pergi ke kamar mandi. Lalu, Elli pergi ke dapur, Sean duduk di ruang Makan.
Beberapa menit kemudian, Kohta keluar dari kamar mandi. Lalu, berjalan ke arah ruang makan.
Sean melihat bahwa Kohta sudah mandi dan berjalan ke arah ruang makan. Sean lalu berkata kepada Kohta.
“Apa yang akan kau lakukan di Kerajaan nanti?.” Ucap Sean, sedangkan Kohta menjawab pertanyaan dari Sean.
“Mencari tempat tinggal dan mungkin gabung Guild petualangan jika ada.” Ucap Kohta. Sedangkan, Sean mengangguk. Lalu, Sean berkata kembali.
“Kita nanti akan pergi ke Kerajaan Yunan. Disana adalah kota yang bagus, serta Lokasinya bersih.” Ucap Sean seperti mempromosikan Kerajaan.
“Yunan?. Hmm, apakah disana ada Perpustakaan Publik?.” Ucap Kohta, sedangkan Sean mengangguk.
“Disana ada Perpustakaan dan Guild juga ada.”Ucap Sean, lalu Kohta menganggukan kepalanya.
“Apakah pasar budak juga ada?.” Ucap Kohta, sedangkan Sean menggelengkan kepalanya dan berkata.
“Di Kerajaan Yunan tidak diperizinkan memperjualbelikan Budak. Kalau mau budak, bisa beli di kota sebelahnya.” Ucap Sean, lalu Kohta mengangguk paham.
Tak lama kemudian, Elli datang dengan nampan berisi 3 piring yang ada makanan. Elli kemudian menghidangkan makanan tersebut kepada Sean dan Kohta.
“Ayo makan.” Ucap Elli, lalu mereka bertiga makan makanan tersebut. Mereka makan tanpa ada yang berbicara.
Selesai makan. Sean melihat bahwa Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Lalu, terdengar suara kuda berhenti di depan.
“Mereka sudah tiba.” Ucap Sean, sedangkan Kohta bingung. Lalu, Sean dan Elli keluar pondok diikuti oleh Kohta.
Saat Kohta, sampai di luar. Dia melihat sebuah Kereta di tarik oleh Kuda. Prajurit berbaris dengan rapi, lalu saat Prajurit melihat Sean dan Elli, mereka segera memberi hormat.
“Salam Pangeran dan Putri.” Ucap Para Prajurit, sedangkan Kohta bingung. Lalu, memandang ke arah Sean dan Elli.
‘Jadi mereka berdua adalah Pangeran dan Putri.’
[To be Continued.]
Info : Kalau semisal seperti kaya dipercepat. Itu memang iya sih, ntar pelannya di Kerajaan.
Silahkan Like, Comment, Share, dan Vote.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.