
[Chapter 13.]
[Entitas misterius.]
[Silahkan Dibaca.]
Kohta dan Rina masuk ke dalam Rumah berhantu tersebut. Mereka membuka gerbang, setelah itu mereka di terpa oleh Aura negatif yang besar.
Wushhhh.
Rina terlihat biasa saja, karena peringkatnya lebih tinggi dari Kohta. Sementara, Kohta sedikit terkejut dan segera menyesuaikan diri dan nafasnya di Aura yang besar tersebut.
“Apa kamu tidak apa-apa, Kohta?.” Ucap Rina dengan khawatir, sementara Kohta mengangguk dan menjawab.
“Aku tidak apa-apa, hanya saja Aura ini lebih kasar daripada tekanan Aura yang biasa aku rasakan.” Ucap Kohta, yang sudah mulai menyesuaikan diri dengan Aura kasar tersebut.
“Memang, serta Aura ini terlihat familiar. Sepertinya kita perlu menyelidiki.” Ucap Rina, dia tidak ingin apa yang jadi fikirannya terjadi.
‘Aura ini terlihat familiar dengan Iblis itu.’ Batin Rina, sementara Kohta melihat bahwa ada sesuatu yang difikirkan Rina. Namun, Kohta menggelengkan kepalanya.
‘Biarkan saja dulu, lebih baik fokus dengan Iblis yang berada disini.’ Batin Kohta, lalu mereka berdua kembali berjalan dan sampailah di halaman yang luas.
“Kita sudah sampai di halaman. Seharusnya, yang berada di kediaman itu keluar.” Ucap Kohta, sedangkan Rina dia benar-benar terkejut.
‘Tidak salah lagi, ini aura Iblis yang menyerang Ibukota dulu.’ Batin Rina, lalu mereka tetap melanjutkan perjalanan sampai sebuah suara muncul.
“Oh, ada tamu ternyata. Tidak, lebih tepatnya mangsa yang datang.” Ucap suara yang berasal dari langit. Rina dan Kohta memasang posisi waspada, mereka menatap ke arah langit.
Rina terkejut dan sedikit gemetar melihat asal suara tersebut. Sedangkan, Kohta tersenyum dan menatap tajam ke arah yang diatas tersebut.
Terlihat sebuah makhluk dengan dua tanduk di atas, memiliki sayap kelelawar, hidung dan telinga yang runcing, memiliki rambut panjang berwarna hitam.
“Siapa sangka, ada Iblis disini.” Ucap Kohta dengan lantang, sementara Iblis yang semula menatap ke arah Rina, karena energi melimpah, sekarang berubah arah ke Kohta.
“Hmm, hanya makhluk tanpa energi berani sekali berbicara.” Ucap Iblis tersebut dan turun tepat di hadapan Kohta dan Rina.
Jarak mereka terpaut 50M, Iblis menatap tajam ke arah Kohta. Lalu, dia menekan Kohta dengan Auranya.
Sedangkan, Kohta yang ditekan sedikit merasa berat. Namun, Notifikasi System muncul, yang membuatnya bisa menghilangkan rasa tekanan tersebut.
“Rina, kamu mundurlah. Kulihat kamu tidak siap untuk bertarung.” Ucap Kohta, sedangkan Rina yang sedikit terkejut tersadar, namun tangannya menjadi terlihat gemetar.
“Kohta apakah kamu akan melawan Iblis itu?.” Ucap Rina, sedangkan Kohta mengangguk. Sementara Iblis menyipitkan matanya karena mendengar nama yang familiar.
“Rina... Oh, kamu petualang yang itu. Pantas saja, aku merasa familiar dengan auramu. Jadi, bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seluruh desa.” Ucap Iblis itu, sedangkan Rina mengenang traumanya kembali.
Kohta dengan cepat tiba di belakang Rina dan memeluknya. Kemudian memukul tengkuk leher Rina, sembari berkata.
“Tidurlah, lupakan semua traumamu.” Ucap Kohta, lalu membaringkan tubuh Rina. Kemudian, Kohta berdiri dan berbalik menghadap ke Iblis.
“Sungguh Iblis tetap Iblis, dia akan melukai siapapun baik itu Perempuan ataupun Keluarganya.” Ucap Kohta, mengambil Haramaki Hitamnya, kemudian memasangkan ke keningnya.
__ADS_1
“Nah, bagaimana kalau kita segera bertarung, Iblis-san.” Ucap Kohta, sedangkan Iblis itu benar-benar marah, namun ekspresinya tetap tenang.
“Bocah, kamu tidak memiliki Energi dan ingin melawanku?. Semut ingin melawan Naga?.” Ucap Iblis tersebut, sedangkan Kohta tidak banyak bicara.
Kohta melesat ke arah Iblis tersebut, sedangkan Iblis mengayunkan tangannya. Muncullah sebuah proyektil bilah yang sedikit tebal.
“Semut berani melawan Naga.” Ucap Iblis tersebut sambil tersenyum mengejek. Kohta melihat proyektil bilah tersebut, dia tersenyum lalu berkata.
“Tebasan bulan.” Ucap Kohta, mencoba teknik dengan setengah kekuatan. Kohta pun mengayunkan pedangnya untuk menebas proyektil bilah tersebut.
Tringgg
Wushhhh.
Proyektil bilah menghilang tertebas oleh tebasan Kohta. Sementara, Iblis tersebut sedikit terkejut dan menatap Kohta yang berlari ke arahnya dengan tatapan tidak percaya.
“Kau beruntung, semut.” Ucap Iblis tersebut mengayunkan kembali dan menciptakan Proyektil bilah yang lebih besar dari Proyektil bilah sebelumnya.
Kohta melihat bahwa Proyektil bilah lebih besar daripada sebelumnya. Dia tersenyum dan menggunakan teknik yang sama.
“Tebasan Bulan.” Ucap Kohta, lalu mengayunkan dua Pedangnya ke arah proyektil bilah tersebut.
Tringggggg.
Keduanya saling menahan. Namun, Kohta hanya tinggal menambahkan kekuatan di tangannya.
Crashh Wushhh.
“Dasar semut, beraninya kau mela-“ Teriakan Iblis terhenti saat melihat Kohta menghilang dan muncul tepat di depannya.
“Original teknik - sebelas langkah.” Ucap Kohta menghilang dan muncul di depan Iblis. Kemudian berkata kembali.
“Teknik bulan lembut - Tebasan Bulan.” Ucap Kohta, menebas Iblis tersebut dengan cepat dan muncul di belakang Iblis tersebut.
Jrashhhhh.
“Arghhhhhh.” Teriak Iblis tersebut kesakitan. Lalu, dia segera menenangkan diri. Kohta, tidak membiarkan Iblis tenang begitu saja. Kohta menghilang dan muncul menebas kembali Iblis, selama sisa langkahnya.
“Arhhhhhh.” Teriak Iblis menerima semua tebasan yang dilakukan oleh Kohta. Iblis menatap Kohta dengan benci, lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah Kohta.
“Terima ini, semut rendahan. Sihir kegelapan - Mimpi.” Ucap Iblis tersebut, lalu muncul sebuah bola hitam kecil. Kemudian, melesat ke arah Kohta dengan cepat.
Kohta tidak bisa bereaksi, karena baru saja mendarat. Kohta terkena serangan tersebut. Kohta terdiam, dan melihat dirinya berada di sebuah kegelapan.
“Apa ini?.” Ucap Kohta, tidak ada yang menjawab. Lalu, Kohta melihat 3 pasang mata tertutup. Kemudian, melihat satu pasang mata perlahan terbuka.
Iris mata ungu cerah dengan pola yang sangat aneh, Kohta entah kenapa perasaannya menjadi takut serta akrab. Lalu, sebuah suara muncul di kepala Kohta.
“Belum saatnya, kamu membangunkan kami, Nak. Kembalilah ke dalam kesadaranmu, Semut yang melawanmu sudah kubunuh.” Ucap suara tersebut.
Sebelum Kohta menjawab. Dia lalu merasa tubuhnya kembali ke tempatnya. Lalu, dia membuka mata dan melihat Rina menangis.
__ADS_1
“Maaf, Kohta. Aku sungguh tidak berguna Hiks Hiks.” Ucap Rina sembari menangis. Lalu berkata kembali.
“Apanya Hunter tingkat A, aku ini sungguh payah. Membuat diriku tak berdaya hanya karena trauma, hiks hiks.” Ucap Rina, menumpahkan seluruh penyesalan.
“Ri-Rina.” Ucap Kohta pelan, sambil mengangkat tangannya ke pipi Rina dan menghilangkan air mata yang keluar tersebut.
Rina terkejut dan membuka matanya kembali, dia melihat Kohta yang tersenyum di hadapannya. Rina segera memeluknya dan berkata.
“Maafkan aku.” Ucap Rina sambil menangis, sedangkan Kohta hanya menepuk punggung Rina. Lalu, berkata.
“Bantu aku, untuk duduk.” Ucap Kohta, lalu Rina segera melepaskan pelukannya dan membantu Kohta untuk duduk.
“Jadi, bagaimana dengan Iblis itu?.” Ucap Kohta melihat tidak ada bekas Iblis dan hanya ada bekas tebasan dan retakan dimana-mana.
“Kau sudah memusnahkannya, apakah kamu lupa?.” Ucap Rina dengan heran, sedangkan Kohta berfikir dan menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak ingat, seingatku aku terkena serangan, la-“ Ucap Kohta terpotong karena mengingat ucapan suara yang dia dengar.
‘Clara, apakah kamu tahu suara siapa tadi?.’
[Kohta, akhirnya kamu kembali. Tubuhmu dikendalikan oleh seorang entitas yang kuat. Clara sendiri, tidak bisa menjangkaunya.]
‘Clara, tidak bisa menjangkaunya.’ Batin Kohta, dia benar-benar terkejut mendengar ucapan dari Clara. Lalu, menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan fikiran tentang hal ini.
“Kohta, apa yang kamu fikirkan?.” Ucap Rina, melihat Kohta melamun. Sedangkan, Kohta yang mendengar pertanyaan Rina, dia tersenyum dan menjawab.
“Hanya berfikir, bagaimana caranya agar Rina tidak menangis di lain hari.” Ucap Kohta menggoda Rina, sementara Rina memerah dan berkata.
“Kohta bodoh.” Ucap Rina pelan, keduanya tersenyum dan saling mendekatkan satu sama lain.
Di alam lain.
“Siapa yang mengendalikan Kohta, tadi?.” Ucap seorang Pria yang tak lain adalah Ayah Kohta sendiri.
“Apakah yang mengendalikan Kohta tadi, bisa membahayakan Kohta sayang?.” Ucap Ibu Kohta dengan khawatir.
“Aku tidak tahu, aku berfikir yang mengendalikan Kohta adalah entitas yang lebih tinggi dari kita, sayang. Kita tidak bisa apa-apa, soal ini. Mungkin takdir Putra kita satu ini, melebihi dari takdir kita.” Ucap Ayah Kohta, sambil melihat kembali wujud Kohta yang lain.
Terlihat Kohta memiliki rambut panjang berwarna hitam, lalu iris matanya berubah menjadi ungu, baju kimono berubah menjadi armor hitam dengan cahaya ungu, wajahnya terlihat ada tatto seperti jalar.
Tatto tersebut menjalar dari kening melewati mata dan turun menuju ke leher. Sikap yang ditunjukkan Kohta tersebut dingin dan begitu mendominasi.
Iblis yang melawan tersebut seketika tunduk, dan berkata dengan takut. Namun, suara tidak akan muncul, karena Kohta memasang pelindung suara.
“Siapa sebenarnya entitas ini?.”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, dan Vote.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thanks you Minna-san.