Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 105


__ADS_3

[Chapter 105.]


[Keluar dari Pegunungan Avrest.]


[Silahkan Dibaca.]


Pegunungan Avrest Utara, tepat di depan sebuah jalan menuju ke arah dua gua yang memiliki sebuah tugu pusaran dan tugu es 8 lancip, terdapat sosok pemuda yang berdiri tepat di depan tiga monster yang sudah menjadi roh.


Ke-3 monster roh tersebut menundukan diri mereka serendah-rendahnya ketika berhadapan dengan sosok pemuda yang tak lain adalah Kohta.


“Salam Yang Mulia Raja.”


Suara ketegasan dan ketakutan terdengar oleh Kohta tersebut. Kohta sendiri terkejut ketika mendengar suara itu, dia menatap ke-3 monster roh itu dengan tatapan bingung. Hal itu, disadari oleh ke-3 monster roh.


“Raja, apakah anda tidak mengingat apapun?” Serigala emas akhirnya dapat menyusun kalimat miliknya agar tidak menyinggung Kohta sama sekali.


Mendengar pertanyaan itu, Kohta menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu, dirinya sebenarnya sangat penasaran, dia ingin mengetahui siapa dia sebenarnya.


Ke-3 monster roh saling memandang, mereka tidak menyangka bahwa Kohta akan kehilangan seluruh ingatan miliknya. Ke-3 monster roh itu menatap ke arah Kohta dan ingin memberitahukan identitas Kohta asli.


Namun, ketika ke-3 monster roh berbalik. Mereka segera di tatap oleh sesuatu yang berada didalam tubuh Kohta. Ke-3nya merinding dan keringat dingin menetes di seluruh tubuh ke-3nya.


Ke-4 perempuan yang berdiri di depan dua gua menatap hal itu dengan terkejut. Para perempuan itu terkejut ketika merasakan perasaan takut ke-3 monster roh milik mereka. Para perempuan itu adalah Rina, Eika, Kansha, dan Riana, mereka ber-4 adalah istri dari Kohta.


Aura Kohta keluar, kemudian 2 sosok orang keluar dari tubuh Kohta. Sosok pertama yaitu seorang pria tua dengan pakaian Samurai, orang itu adalah Oda Nobunaga. Sementara sosok satunya memakai armor berwarna emas dengan jubah bertulisan King Britania, sosok itu adalah Arthur Pendragon.


Aura kedua orang itu keluar membuat ke-3 monster roh tersungkur ke tanah. Ke-3 monster roh tidak bisa melakukan apa-apa ketika melihat orang itu. Ke-3 monster roh mengenali ke-2 orang itu.


“Oda, Arthur. Hilangkan Aura tekanan kalian!”


Kohta dengan tegas berkata membuat Oda dan Arthur menghilangkan tekanan tersebut. Oda menatap ke arah ke-3 monster roh tersebut dan berkata, “Jangan sampai kalian memberitahu identitasnya, dia masih lemah belum memiliki kualifikasi untuk bertarung di Dunia atas.”


Ke-3 monster roh akhirnya sadar, mereka terlalu terburu-buru. Raja yang mereka temui sekarang ini masih lemah dan tidak memiliki ingatan apapun tentang kejadian dulu. Jika Raja mengingat hal itu, akan membuat dirinya terbebani beribu-ribu tanggung jawab sebelum menjadi kuat.


“Baik, Raja Iblis dan Raja Alam Semesta.”


Kohta sendiri mengerti kenapa dirinya tidak diperbolehkan mengetahui identitas asli dirinya. Dia memandang ke arah Oda dan Arthur, dirinya benar-benar perlu untuk menjadi sangat kuat sampai akhirnya dapat mengetahui seluruh identitas miliknya.


[Clara akan selau membantu Tuan.]


Kohta tersenyum ketika mendengar suara dalam fikirannya tersebut. Lalu, dia melihat ke-3 monster roh kembali ke arah pemiliknya. Setelah itu, masuk ke dalam pemiliknya dan mulai memulihkan tenaga penuh mereka.


Eika yang berada di luar juga ikut masuk ke dalam tubuh Ibunya, dirinya sendiri juga termasuk monster roh.

__ADS_1


Kohta menatap ke arah ke-3 istrinya yang telah keluar dari gua tersebut. Dia tersenyum dan berjalan menghampiri ke-3nya. Kohta berjalan dengan ringan, dia sendiri tidak memakai pakaian apapun hanya memakai sebuah celana.


Ke-3 istri Kohta melihat suaminya datang, mereka sangat senang. Namun, ke-3nya memerah ketika melihat tubuh bagian atas Kohta yang begitu panas dan menggoda. Ke-3 istri Kohta berjalan ke arah Kohta sambil memerah.


Kohta dan ke-3 istrinya akhirnya bertemu dan saling berhadapan satu sama lain. Dengan cepat Kohta memeluk ketiganya membuat ke-3 istrinya tenggelam dalam dda bidang Kohta.


Ke-3 istri Kohta dapat merasakan kehangatan dan tubuh Kohta yang begitu kekar dan berotot. Kohta sendiri mencium kening ke-3 istrinya tersebut. Pasangan itu menikmati momen bersama terlebih dahulu.


Kohta melepaskan pelukannya dan berkata, “Kalian kembalilah ke dalam, juga tunggu Tessa dan kita akan makan bersama. Aku akan berjalan kembali untuk keluar dari pegunungan Avrest ini.”


Ke-3 istri Kohta tidak masalah, mereka mengangguk dengan senang, lalu masuk ke dalam Dunia kecil Kohta. Sementara itu, Kohta menatap ke arah gua, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan tempat gua tersebut.


“Nak, aku minta maaf karena harus merahasiakan tentangmu,” ucap Oda dari dalam tubuh Kohta.


Mendengar permintaan maaf dari Oda, Kohta menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Aku tahu itu adalah hal yang terbaik untukku, Pak tua. Bagaimanapun juga, aku berterimakasih kepadamu.”


Oda mengangkat sudut mulutnya, Kohta tetaplah Kohta. Apapun rahasia tentang dirinya, dia tidak peduli. Hal terpenting baginya adalah menjadi kuat, sangat kuat sampai akhirnya berdiri di puncak kekuatan.


Kohta berjalan dengan ringan, dia mulai menyusuri kembali jalan. Tujuan kali ini selanjutnya adalah keluar dari pegunungan Avrest. Dirinya berjalan mengikuti arahan dari Oda dan Arthur, bagaimanapun juga Kohta belum bisa membaca arah ketika di tempat yang begitu membingungkan.


Hujan salju, tumpukan salju, es, mereka mencair ketika Kohta melewatinya.


***


Beberapa hari kemudian, Kohta melihat sebuah tempat yang terlihat seperti gua. Lalu, di depan gua terdapat sebuah tanda yang memiliki tulisan ‘Ibukota Arslan.’


Api menyala lurus di tanah, Kohta dapat melihat bahwa itu adalah terowongan yang sangat panjang. Dirinya sedikit terkejut ketika melihat betapa panjangnya terowongan tersebut.


Kohta tidak menunggu lama, dirinya segera bergerak maju menyusuri jalan terowongan tersebut. Kohta berjalan dengan tenang, karena dia sama sekali tidak merasakan ada kehadiran monster apapun.


“Sepertinya benar-benar jarang ada orang yang mau melewati tempat ini. Pasti ada jalan lain yang lebih aman dibandingkan jalan ini.” Kohta menebak dengan asal, akan tetapi dia yakin bahwa tebakannya benar.


***


Beberapa jam kemudian, Kohta melihat ujung dari terowongan tersebut, dia bisa melihat bahwa ujung terowongan sangat bercahaya yang artinya masih pagi di luar sana.


Kohta merasakan pijakan miliknya berbeda dari sebelumnya, hal itu membuatnya penasaran. Dia menatap ke bawah dan melihat bahwa jalannya sudah bukan es maupun salju kembali, melainkan itu adalah sebuah bebatuan yang halus.


Tiba di ujung terowongan, Kohta keluar dan menutup matanya karena sinar matahari baru saja mengenai dirinya. Perlahan-lahan Kohta membuka matanya dan melihat jalan yang sisinya terdapat rumput hijau.


Kohta melihat ke arah sekelilingnya, pepohonan rindang terlihat di berbagai tempat, di ujung jalan terlihat berpisah menjadi dua. Satu menuju ke arah sebuah hutan yang terlihat hijau, semakin ke dalam dilihatnya semakin tidak ada cahaya sama sekali.


Sementara itu, jalan satunya terlihat mengarah ke suatu tempat, Kohta dapat melihat ada sebuah tembok tinggi dan sebuah perkotaan. Letak tempat itu sedikit jauh dari tempat Kohta berdiri. Tempat itu adalah Ibukota Arslan.

__ADS_1


“Akhirnya aku tiba di luar, juga Ibukota itu sudah terlihat.” Kohta akan melangkah menuju ke Ibukota, akan tetapi dia mendengar suara istrinya memanggil dirinya.


“Sayang, Tessa telah selesai melakukan penyerapan.” Kohta yang mendengar itu, segera berhenti dan tersenyum senang. Dirinya dengan cepat menghilang dari tempat dan pergi menuju ke Dunia kecil miliknya.


***


Dunia kecil Kohta, terlihat sebuah hamparan rumput yang terdapat sebuah rumah bergaya jepang. Di belakang rumah itu terdapat sebuah pohon besar sakura, di sebelah pohon sakura terdapat sebuah danau kecil yang menambah keindahan dan kenyamanan tempat tersebut.


Sedikit jauh dari rumah tersebut, terdapat sebuah gunung yang di dalamnya lahar tenang berada, di tengah lahar terdapat dua bunga yang memiliki warna yang berbeda. Satu bunga berwarna merah dan satu lagi berwarna hitam putih.


Di depan rumah, Kohta seketika muncul secara tiba-tiba. Dia melihat ke sekeliling tempat dan merasakan ada energi baru. Namun energi tersebut sangat akrab dengan dirinya.


Kohta menghilangkan fikiran itu terlebih dahulu, fokusnya sekarang adalah Tessa, istrinya yang selesai melakukan penyerapan. Di saat Kohta akan berjalan masuk, pintu terbuka dan menampilkan beberapa pelayan dengan seorang kepala pelayan yang tak lain ialah Kirana.


“Selamat datang Tuan Muda.”


Suara halus dari para pelayan dan kepala pelayan benar-benar dapat memabukkan seorang laki-laki. Kohta tersenyum dan berkata, “Terimakasih, jadi dimana istriku berada sekarang?”


Kirana menegakkan tubuhnya, Kohta sendiri lupa tidak memakai pakaian alhasil, Kirana melihat tubuh sempurna Kohta. Dia tersipu dan segera menjawab, “I-itu, pa-para istri anda berada di dalam, Tuan.”


Kohta sedikit mengerutkan keningnya ketika mendengar suara Kirana yang aneh, dia menatap Kirana dan melihat bahwa pipi Kirana memerah. Kohta menatap dirinya sendiri dan tersenyum tak berdaya, ternyata dirinya tidak memakai pakaian apapun.


Dengan lambaian tangan, dia sudah memakai pakaian Kimono berwarna hitam dengan tambahan warna merah. Kohta menatap Kirana dan berkata, “Maaf, aku tidak memakai pakaian tadi. Bagaimanapun juga aku sudah hangat tanpa pakaian.”


Kohta meminta maaf kepada Kirana dan para pelayan. Para pelayan juga menatap tubuh Kohta tadi, membuat mereka semua memerah bukan pipi saja, bahkan ada beberapa pelayan yang terlihat sebuah cairan mengalir dari kakinya.


“Tidak perlu meminta maaf, Tuan. Justru kami yang harusnya minta maaf, bagaimanapun juga kami menatap tubuh anda tanpa persetujuan dari anda, hal itu akan menjadi lancang bagi seorang pelayan.”


Kohta mendekat ke arah Kirana. Sementara Kirana, dirinya merasa bahwa akan dihukum oleh Kohta, dia menerima apapun hukumannya. Namun, hal yang dimaksudkan hukuman tidak datang melainkan dia merasakan tangan hangat mengusap kepalanya yang membuat dia nyaman.


“Jangan menganggap dirimu rendah. Kita sama-sama keluarga, jadi tidak ada kasta Tuan dan pelayan.” Kohta berkata dengan nada lembut namun serius.


Kirana dan para pelayan mengangguk, Kohta menghentikan elusannya dan berkata, “Baguslah, Pimpin aku menuju ke arah tempat para istriku berada.”


Kirana dan para pelayan mengangguk dengan semangat. Namun, pelayan ijin ke kamar mandi terlebih dahulu. Kohta mengijinkannya dan berkata, “Jika tidak kuat, bilang oke?”


Apa maksud perkataan Kohta, itu hanya beberapa orang yang paham. Kirana dan para pelayan lainnya memerah mendengar itu, mereka mengantarkan Kohta menuju ke arah tempat para istrinya sambil berfantasi bermain dengan liar.


[To be Continued.]


Note : Jika panjang, maaf.


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.


__ADS_2