
[Chapter 67.]
[Berangkat] [End.]
[Silahkan Dibaca.]
Kota Sina.
Selepas perang terjadi, banyak warga mulai bekerja keras membangun perumahan di Kota Sina tersebut.
Mereka semua bergerak sangat cepat, mereka juga berterimakasih kepada Kohta, Rina, Tessa, dan Kansha, karena membantu melawan para lebah tersebut.
***
Dalam Tenda, terlihat Kohta tidur bersama Rina, Tessa, dan Kansha. Mereka tidur dengan damai, sampai akhirnya Kohta membuka bangun.
Kohta mengedipkan matanya, kemudian dia duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur tersebut.
Kohta kemudian menatap ke arah kanan dan kiri, disana terdapat Rina, Tessa, dan Kansha yang masih tertidur.
Selama 1 Minggu mereka berempat berada di Kota Sina, mereka menjaga agar tidak ada bangsawan serakah untuk menyerang mereka.
Namun, hanya terdapat para bandit yang mulai beraksi ingin menguasai Kota Sina, Kohta dan ketiga istrinya mulai membunuh mereka.
Para petualang berterimakasih, bahkan para warga juga berterimakasih, mereka benar-benar menganggap Kohta adalah Pahlawan.
Sekarang, satu Minggu sudah terlewati. Waktunya Kohta mulai bergerak pergi dari Kota Sina.
“Urhh,” Kohta mendengar suara erangan perempuan, dia melihat ke arah Rina yang perlahan mulai bangun.
“Hmm, sayang. Kau sudah bangun,” Rina bertanya sambil mengucek matanya dan meregangkan otot-otot tangannya.
“Ya, aku sudah bangun, bangunkan kedua saudarimu,” Kohta berkata sambil turun dari tempat tidur.
Kohta sudah turun dari tempat tidur, dia melihat ke arah Rina yang masih menatap ke arahnya dengan aneh.
Kohta tidak tahan, dia akhirnya mendekati Rina dan mencium dengan intens, membuat Rina terkejut dan mulai mengikuti.
Tak lama kemudian, keduanya selesai berciuman. Rina akhirnya sadar sepenuhnya, wajahnya sedikit memerah.
“Bagus, kau akhirnya bangun sepenuhnya, bangunkan Tessa dan Kansha, aku akan menyiapkan makanan dan kita hari ini akan pergi dari Kota Sina.”
Kohta mengungkapkan seluruhnya sambil berjalan keluar dari tenda, meninggalkan Rina yang masih sedikit terkejut, lalu dia membalas.
“Yah,” Rina kemudian mulai membangunkan Tessa dan Kansha, dia menggoyangkan tubuh keduanya sampai keduanya bangun.
***
Kohta sendiri sudah berada di luar, dia menatap ke arah bangunan-bangunan yang sudah terbuat ulang.
“Oh, Kohta akhirnya kau bangun,” ucap seorang laki-laki, bernama Gaia. Dia adalah seorang petualang dan adik dari Reyas, Guildmaster kota Sina.
“Yah, aku baru bangun, ini mau buat makanan,” ungkap Kohta, dia berjalan ke arah dapur yang berada di luar.
“Jadi, kau akan kemana?” tanya Kohta, dia tiba di dekat dapur tersebut, Gaia dengan santai menjawab.
“Aku akan pergi ke Guild, bagaimanapun kakakku belum sembuh,” jawab Gaia, kemudian dia menatap Kohta dan bertanya.
“Apakah hari ini?” Gaia bertanya dengan nada serius, Kohta yang sedang memasak mengangguk.
__ADS_1
Gaia yang melihat anggukan dari Kohta, dia menghela nafas. Kemudian, dia tersenyum dan berkata.
“Jaga dirimu, kau memang orang yang tidak bisa tenang di satu tempat kayaknya,” Gaia berkata sambil bercanda.
“Mau bagaimana lagi, impianku bukan di satu tempat, ada orang yang menungguku di atas,” ungkap Kohta.
Gaia tahu siapa yang menunggu Kohta, dia benar-benar salut bahwa Kohta bisa bertahan tanpa ada orang tua yang menemaninya.
Ya, orang dimaksud Kohta adalah Orang tuanya, kedua orang tua Kohta menunggu di Alam atas.
“Kalau begitu, aku akan menyebarkan berita bahwa hari ini adalah waktunya kau pergi,” Gaia berkata dengan tenang.
Kohta sebenarnya tidak ingin banyak yang mengetahui tentang keberangkatan miliknya, jadi dia berkata.
“Tidak perlu, aku tidak ingin terlalu mencolok dalam keberangkatanku nanti,” ungkap Kohta, Gaia mengangguk dan berkata.
“Kalau begitu, aku akan memberitahu beberapa orang Guild, sampai jumpa,” Gaia berkata sambil pergi menuju ke arah Guild.
Kohta tidak bisa berkata apa-apa melihat Gaia sudah pergi, dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan memasak.
Beberapa menit kemudian.
Rina, Tessa, dan Kansha keluar dari tenda, mereka mencium aroma masakan dari dapur, mereka duduk di tempat makan luar.
Kohta menyadari ketiganya, makanan dia bawa dengan nampan, dia berjalan ke arah ke tiga dan menaruh piring makan di depan para istrinya.
“Mari kita makan,” Kohta berkata sambil duduk di kursi yang masih kosong, ketiga istrinya mengangguk dan mereka mulai makan.
Beberapa menit kemudian.
Mereka selesai makan, lalu bersantai sebentar di tempat makan tersebut, Kohta berkata dengan nada serius dan tenang.
“Selepas ini kita akan pergi ke Negeri Elf,” Kohta berkata sambil menatap ke arah Kansha yang menunduk.
“Ya, bukankah kita sudah mendiskusikan kemarin malam? Tenanglah, kita akan melihat keadaan Negaramu dan membalas dendam.”
Kansha yang mendengar tersebut, dia menatap ke arah Kohta dan mengangguk, matanya menunjukkan kebencian.
“Ya, kita harus balas dendam,” ungkap Kansha, dia terlihat ingin menangis, begitu juga Tessa. Kohta mendekati keduanya dan memeluknya.
“Aku akan berkemas, kau tenangkan keduanya,” bisik Rina pergi menuju ke arah tenda milik mereka.
Kohta yang mendengar bisikan dari Rina, dia mengangguk. Kemudian, mulai menenangkan kedua Elf tersebut.
Sementara itu, Rina berkemas seluruh pakaian miliknya, dan para saudarinya, dia tersenyum dan mengangguk saat selesai mengemas seluruh barang.
“Yosh, semuanya beres,” Rina kemudian akan keluar dari tenda, namun dia melihat sesuatu yang berkilau di tanah.
Rina penasaran dan mengambil benda tersebut, dia mengambilnya dan ternyata itu adalah liontin.
Rina kemudian membuka isi dari liontin tersebut, dia melihat foto dua anak bersama dengan kedua orang tuanya.
Rina merasa aneh dengan foto tersebut, dia tidak tahu mengapa ada perasaan aneh dalam dirinya.
Tik tik.
“Eh,” Rina terkejut, dia tanpa sadar mengeluarkan air mata. Dia tidak tahu kenapa foto tersebut begitu menyentuh.
Rina kemudian merasakan sesuatu dalam ingatan miliknya, berbagai orang memanggil namanya.
__ADS_1
‘Rina, Rina, Rina,' terdengar suara dalam fikirannya, dia benar-benar merasa bingung, dia bertanya terus menerus.
‘Siapa, siapa kau, muncullah,' ungkap Rina dalam hati, kemudian dia mendengar suara kembali.
‘Tolong hiduplah, Rina,' suara tersebut lirih, membuat Rina menjadi lebih menangis. Suara wanita tersebut, entah kenapa membuat dirinya merasa sakit dalam hatinya.
Tap.
“Rina,” Rina terkejut kemudian segera tersadar, lalu dia menatap ke arah orang yang menepuknya tak lain ialah, Kohta.
“Kau ke-“ belum sempat Kohta menyelesaikan ucapannya, dia segera di peluk erat oleh Rina, Kohta merasakan ada yang salah, dia membalas pelukan tersebut.
Keduanya saling berpelukan, Rina menangis di dalam pelukan Kohta, entah kenapa dia bingung kenapa menangis sangat keras, dalam hatinya ada satu nama yang membekas.
‘Ibu.’
Nama tersebutlah yang membekas dalam fikiran Rina, dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya kepada keluarganya asli.
Kohta menemani Rina sampai akhirnya dia kelelahan, Kohta tidak ingin bertanya, dia memilih berkata dengan lembut.
“Bagaimana kalau kita tunda dulu, sampai kau benar-benar baikan?” Kohta menawarkan hal tersebut, namun Rina menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu, kita harus segera pergi menuju ke Negara Elf,” ungkap Rina, dia benar-benar tidak ingin dirinya menghambat kembali.
“Kau yakin?” tanya Kohta, dia perlu memastikan keadaan Rina, bagaimanapun juga dia adalah Istrinya.
Rina mengangguk, Tessa dan Kansha mendekat ke arah Rina dan memeluknya, keduanya berkata.
“Jika kau ada masalah, kami siap membantu,” ungkap keduanya, bagaimanapun ketiga orang tersebut benar-benar terlihat akrab dan senang satu sama lain.
Kohta memeluk ketiganya secara bersamaan dan berkata, “Ingat aku juga ada disini, apapun yang terjadi, aku akan melindungi kalian.”
Ke empat orang tersebut saling berpelukan, lebih tepatnya tiga perempuan merasakan nyaman dan aman dalam pelukan satu laki-laki.
Beberapa menit kemudian.
Mereka berempat selesai berpelukan, mereka berjalan keluar dan segera pergi menuju ke gerbang kota.
Di sana, mereka melihat berbagai orang sedang mengantarkan mereka berempat pergi dari kota Sina.
“Hati-hati kalian, Terimakasih atas segalanya,” teriak para orang Guild bahkan para warga yang berada disana.
Kohta, Rina, Tessa, dan Kansha tersenyum melihat hal tersebut, mereka berbalik dan menuju ke arah Selatan, tujuan adalah Negeri Elf.
[Arc 3 : Selesai.]
***
Di sebuah Negara berbagai pohon-pohon rindang, di bumbung oleh berbagai kebakaran di mana-mana.
Berdiri seorang laki-laki dengan ciri khas Elf dan dia menyeringai, kemudian berkata dengan nada menyeramkan.
“Khekhekhekhe, matilah kalian para Elf,”
[Arc 4 : Elf Cry.]
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.