
[Chapter 51.]
[Berangkat kembali.]
[Silahkan Dibaca.]
Padang rumput.
Rina dan Tessa memandang dengan ekspresi marah, walaupun begitu dia masih mempertahankan fikiran untuk dingin, tidak seperti saat awal tadi.
“Mari kita hukum,” ucap Rina, kemudian dia melesat maju dengan pedang es miliknya tersebut.
Tessa menghentakkan kakinya dan tanah mengunci kakinya tersebut. Pemimpin bandit tidak bisa lari, saat dirinya terkena kuncian.
“Sial,” umpat pemimpin bandit, kemudian dia menyatukan kedua tangannya dan berbagai tulang menusuk dirinya.
Rina tidak peduli, dia melesat dan menebas dengan cepat tubuh dari pemimpin bandit tersebut.
Slashhhh.
Jresssss.
“Arhhh,” teriak pemimpin bandit, kedua tangannya yang bersatu terlepas dan memegang rasa sakit di perutnya.
Dada yang tertebas dan darah keluar dari tempat tersebut, pemimpin bandit belum menyelesaikan skillnya, dia sudah tertebas terlebih dahulu, dia berjuang sambil meringis kesakitan.
Slash Slash.
Jressssss.
Rina tanpa ampun menebas kedua tangan pemimpin bandit, dia memotong kedua tangan pemimpin bandit dengan kejam.
“Ahhhhhh,” teriak pemimpin bandit, kemudian dia melihat kedua tangannya yang sekarang tergeletak di tanah.
‘Apa-apaan perempuan sadis ini,' ucap pemimpin bandit dalam hati, kemudian dia merasakan rasa sakit di perutnya kembali.
Tessa melesat dan memukul tepat si perut dari pemimpin bandit, dia memukul dengan kuat ke arah atas.
Booommmmm.
Pemimpin bandit terkejut, dia merasakan rasa sakit di kakinya, dia didorong ke atas, sementara kakinya di kunci di bawah.
Wushhhhh.
Pemimpin bandit terbang ke atas, namun kakinya benar penuh dengan koyakan kulit dan darah keluar deras.
Wush.
Tessa menghilang dari tempat dan muncul di atas pemimpin bandit yang sudah terbang pada ketinggian puncak.
Booooommmmm.
Tessa memukul perut pemimpin bandit dengan keras ke bawah. Kekuatan yang di gunakan lebih besar dari sebelumnya.
Wushhhh.
Pemimpin bandit tidak bisa mengeluarkan teriakan rasa sakit kembali, dia melesat turun dengan cepat.
Boooommmmm.
__ADS_1
Pemimpin bandit jatuh dengan sangat keras, tanah pun membentuk sebuah kawah yang besar dengan pusat pemimpin bandit tersebut.
Tap tap.
Rina dan Tessa kembali di tempat normal sebelumnya, mereka berdua kurang ahli dalam menyiksa.
Alhasil Tessa mengeluarkan pisau normal, lalu membidik tepat ke arah kepala pemimpin bandit, sebelum dilesatkan.
“Mati,” ucap Tessa, dengan cepat melempar belati menuju ke kepala pemimpin bandit tersebut.
Wushhh.
Jlebbbb
Belati melesat dan menusuk ke dalam kepala pemimpin bandit, Tessa merasakan vitalitas pemimpin bandit perlahan menghilang dan mati.
Rina dan Tessa berbalik dan menuju ke arah Kohta dan Greg yang sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan terkejut.
Kohta dengan cepat sadar dan tersenyum kepada Rina dan Tessa, dia memeluk keduanya untuk menstabilkan hati mereka.
Grep.
“Kerja bagus, kalian akan terbiasa dengan seperti ini nantinya, ingat jalan kita,” ucap Kohta.
Kohta menenangkan Rina dan Tessa yang sedang menghadapi pertama kali membunuh seseorang, walaupun Tessa yang membunuh terakhir, namun Rina juga merasakan sama.
Keduanya memeluk Kohta bersama, mereka memeluk tanpa ada suara apapun. Mereka benar-benar merasa aman dan damai.
“Istirahatlah, kalian berdua lelah dengan yang terjadi,” ucap Kohta, kemudian kedua istrinya mengangguk.
Kohta berbaring di padang rumput, Rina dan Tessa segera menaruh kepala mereka di dada Kohta.
Greg melihat hal tersebut tersenyum, dia berbalik dan berjalan menuju ke tempat duduk yang sudah ada.
“Masa muda benar-benar menyenangkan,” ucap Greg pelan, dia duduk dan memandang ke arah langit.
Pagi hari.
Padang rumput.
Kohta terbangun, dia mengedipkan matanya dan duduk di tempat. Dia melihat ke arah kanan dan kiri.
“Oh, kau sudah bangun akhirnya, sayang,” ucap suara di belakangnya yang tak lain ialah Rina.
Kohta berbalik dan melihat ke arah Rina, kemudian mengangguk. Lalu, melihat bahwa Tessa memasak makanan.
“Jadi, apakah kalian sudah baikan?” tanya Kohta, sementara Rina tersenyum dan mengangguk dengan senang.
“Ya, kami sudah baikan, itu juga berkatmu, sayang,” ucap Rina, kemudian mendekat ke arah Kohta.
Cup.
“Itu adalah hadiah awal dariku, hadiah utamanya nanti saat sampai di Kota Sina,” ucap Rina.
Tessa yang selesai memasak melihat pemandangan tersebut, dia pun tersenyum dan menghampiri keduanya.
Tiba di dekat Kohta, dia juga mencium pipi yang belum di cium oleh Rina.
Cup.
__ADS_1
(Note : Pipi kanan di cium oleh Rina dan Pipi kiri di cium oleh Tessa.)
“Aku juga, hadiah utama akan kuberikan saat kita tiba di Kota Sina,” ucap Tessa, keduanya menatap Kohta dengan tersenyum.
Sementara itu, Kohta tertegun namun segera sadar dan membalas senyuman tersebut, lalu dia mendekat ke arah kedua istrinya.
Grepp.
Cup Cup.
Kohta memeluk mereka berdua dan mencium kening keduanya dan memeluk mereka lebih erat.
“Kalian berdua akan kujaga sampai kapanpun,” ucap Kohta, membuat kedua istrinya menjadi lebih nyaman.
“Un, kami juga akan melindungi satu sama lain,” ucap keduanya, dia membalas pelukan Kohta.
Setelah itu, Kohta melepas pelukannya. Mereka bertiga berjalan bersama menuju ke arah tempat makan yang sudah ada Greg disana.
Greg memandang ketiganya dengan senyuman penuh arti, Tessa mengambil makanan dan menaruhnya ke arah empat piring.
Lalu, keempat piring sudah terisi makanan. Keempat orang tersebut mengambil piring masing-masing.
“Selamat makan,” ucap mereka berempat, kemudian mulai makan makanan yang berada di piring masing-masing.
Beberapa menit kemudian.
Selesai makan, mereka berempat mulai membersihkan peralatan dan perlengkapan yang mereka gunakan di tempat.
Selepas itu, mereka berjalan ke arah kereta mereka, Rina dan Tessa masuk ke dalam kereta, sementara Kohta dan Greg berada di tempat duduk kusir.
“Baiklah, mari kita berangkat menuju ke kota Sina,” ucap Greg, menarik kuda agar bergerak.
Kuda pun berjalan, tujuan mereka ialah Kota Sina. Mereka bergerak dengan cepat agar bisa segera sampai di kota Sina sore nanti.
Di sisi lain.
Di hutan dekat dengan Kota Sina, terdapat 9 orang berjubah hitam dengan pola dua tangan dan satu mata.
“Master, Iblis itu terlihat begitu antusias soal menghancurkan kota Sina,” ucap orang berjubah hitam 1.
“Dia mirip ketua, sama-sama membenci manusia,” ucap Master mereka. Kemudian terlihat di pinggang master mereka terdapat satu lebah.
“Dengan lebah penghancur ini, lebah madu akan menjadi agresif,” ucap Master mereka dengan tatapan datar.
“Ayo percepat, sepertinya besok adalah hari mulainya musim lebah,” ucap Master mereka tersebut.
Kedelapan orang berjubah mengangguk, kemudian mereka semua berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya.
Kemudian, terlihat wajah Master mereka berubah. Namun, itu hanya sepersekian detik.
Wajah yang menyeramkan dan sebuah seringaian terlihat, kemudian wajahnya kembali normal.
‘Khekhekhekhe, dengan ini Manusia satu kota akan musnah'
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thanks you Minna-san.