Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 09


__ADS_3

[Chapter 9.]


[Duel.]


[Silahkan Dibaca.]


Ting.


Wusshh Tringg.


Kohta dan Theo melesat dan mengayunkan Pedang mereka. Lalu, bertabrakan satu sama lain.


Kohta sedikit kalah, karena kekuatan dari Theo lebih besar. Bayangkan seorang Master tingkat 10 melawan seorang Junior tingkat 8.


Kekuatan mereka jelas tidak imbang. Namun, Kohta tidak peduli. Melihat bahwa dirinya tidak bisa mengatasi kekuatan Theo.


Kohta mundur dan menghindar ke samping. Theo mengetahui hal tersebut, karena dimatanya Theo, Kohta bergerak lambat.


Kohta menggunakan instingnya, dia mengetahui akan ada serangan pedang dari depannya. Kohta segera menghindar kembali, namun Theo melayangkan Kakinya.


Brukkk.


Kohta terpental mundur sampai batas dari arena tersebut. Kohta terbaring di tanah, lalu berdiri kembali. Terlihat ada noda darah di sudut mulutnya.


“Benar-benar kekuatan yang mengerikan.” Ucap Kohta, lalu Theo melesat dengan cepat ke arah Kohta. Sementara Kohta melihat itu, dia mengeluarkan teknik.


“Original Teknik : Langkah sebelas.” Ucap Kohta, lalu Kohta menghilang dari tempat. Sementara, Theo terkejut. Kohta bisa mengimbangi kecepatan 10% kekuatannya.


Tringg Tringg Tringg Tringg Tringg.


Mereka terus saling menyerang. Banyak penonton kagum dengan pertarungan tersebut, terutama para Prajurit.


Sementara, di tempat duduk para Anggota Kerajaan mereka terkejut, melihat Kohta bisa mengimbangi kecepatan Theo.


“Sungguh, apakah anak itu masih Manusia. Dia bisa mengimbangi kecepatan dari Theo yang menekan kekuatannya sampai 10%.” Ucap Ratu Grisela. Sementara Sean dan Elli mengangguk.


“Tunggu, bu. Jadi Ayah menahan kekuatannya, sampai dia hanya menggunakan 10% kekuatannya?.” Ucap Sean, sementara Ibunya mengangguk.


“Ya, aku menyuruhnya begitu. Kalau tidak dia akan kuhukum.” Ucap Grisela dengan senyuman manisunya. Sean yang melihat itu, hanya bisa melihat senyuman Iblis.


Sean bergidik ngeri melihat hal tersebut. Lalu, dia fokus kembali ke Pertandingan. Sampai ada satu Perempuan yang berkata.


“Anak itu menarik, Kak.” Ucap Perempuan tersebut, yang memiliki setelan mewah dengan kacamata seperti kacamata orang profesional. Ditambah rambut panjang dan berwarna merah membuatnya tambah elegan.


“Rina, apa kamu tertarik dengannya?.” Ucap Grisela, melihat Perempuan di dekatnya. Perempuan tersebut, ialah Rina El Yunan, atau bisa dibilang Bibi dari Sean.


Rina tersebut, terus menatap ke arah Kohta yang bertarung dengan Theo. Lalu, saat mendapati pertanyaan dari Grisela, dia mengangguk.


“Aku sangat tertarik dengannya. Tapi, umur kita sangat jauh.” Ucap Rina tersebut, sedikit putus asa. Sementara Sean yang mendengar itu sedikit terkejut.


‘Apakah Bibi benar-benar tertarik dengan Kohta. Baru kali ini, aku bisa melihat Bibi benar-benar tertarik dengan Laki-laki.’ Batin Sean, kemudian melihat ke arah Kohta.


‘Sungguh beruntung kamu, Kohta. Bibiku yang beku, tertarik denganmu.’ Batin Sean, mengingat Umur Bibinya yang sudah 34 Tahun.


Di sisi Pertempuran.

__ADS_1


Kohta merasakan ada hal yang mengganggunya tiba-tiba. Namun, segera dihilangkan dan fokus kembali bertarung.


Tring Tring Tring Tring.


Kohta dan Theo mundur beberapa langkah, mereka saling menatap lalu tersenyum bersama. Theo berkata dengan nada senang.


“Nak, kau tahu pertarungan ini sangat seru. Apakah kau sudah selesai pemanasan.” Ucap Theo, yang mengejutkan para Penonton.


“Ya, begitulah Paman.” Ucap Kohta, kemudian memunculkan Pedang Serigalanya. Dua pedang sudah di pegang oleh Kohta.


“Oh, apakah dengan tambahnya Pedang akan membuatmu semakin kuat?.” Ucap Theo, sedikit heran. Apalagi Penonton, karena baru kali ini mereka melihat ada orang menggunakan dua pedang.


“Ya, Paman.” Ucap Kohta, lalu Notifikasi System muncul di depan Kohta, sedangkan Kohta melihat itu tersenyum.


[Pra-Seni Pedang Rose digabungkan dengan Seni Pedang Lembut.]


[Penggabungan selesai.]


[Seni Pedang Mawar Bulan (12/100).] (Guys, lebih enak inggrisnya Rose Moon, atau tetap gitu.)


[Teknik.]


[Langkah Bulan (0/100).]


[Bilah Mawar (0/100).]


[Tarian Bulan (40/100).]


[Langkah Anggun (0/100).]


[Tebasan Bulan (0/100).]


[Kohta, karena kamu membuat gabungan Seni. Kamu mendapatkan satu tiket peningkatan Teknik.]


[Selamat, Kohta mendapatkan Tiket Peningkatan Teknik.]


‘Kalau begitu, tingkatkan Bilah Mawar.’


[Peningkatan Selesai.]


Seketika, Kohta merasakan berbagai Informasi masuk ke dalam otaknya. Dia tidak mengerang kesakitan karena tidak ada rasa sakit sama sekali.


“Kenapa tidak sakit?.”


[Karena, Kohta sudah bertambah kuat.]


Kohta tersenyum dalam hati mendengar ucapan dari Clara. Lalu, dia kembali ke kesadarannya. Kohta menatap ke arah Theo.


“Baiklah, mari kita mulai Paman.” Ucap Kohta, sementara Theo mengangguk. Lalu, Kohta mengayunkan kedua pedangnya.


“Bilah Mawar.” Ucap Kohta, lalu muncul banyak mawar di tebasan dari Kohta. Sementara, Theo mengerutkan keningnya, dia bingung namun tetap waspada.


Bunga Mawar tersebut melesat ke arah Theo dengan cepat. Para Penonton tersebut, sedikit terkejut dengan Bunga yang muncul.


Tring Tring Tring Tring Tring Ding.

__ADS_1


‘Ini bukan Mawar biasa. Mawar ini seperti pedang.’ Batin Theo, dia terus menangkis berbagai Mawar yang menyerangnya.


Namun, dia tetap tidak bisa mengimbangi banyaknya Mawar yang datang ke arahnya. Berbagai mawar mengenai tubuhnya.


Srat Srat Srat Tring Tring.


Penonton terkejut dengan hal terjadi di Pertempuran. Theo sedikit merasa sedikit pusing, lalu matanya sedikit buram.


Theo akhirnya menggunakan 20% kekuatannya. Lalu, dia kembali ke kesadarannya. Mata yang buram kembali seperti biasanya, kecepatannya juga meningkat.


Tring Tring Tring Tring Tring Tring Tring.


Grisela dan Rina sedikit terkejut melihat Theo terpojok dan akhirnya menggunakan 20% kekuatannya. Sean dan Elli juga terkejut.


Dingg.


Serangan mawar terakhir berhasil ditangkis oleh Theo. Lalu, Theo melihat bahwa Kohta melesat ke arahnya dengan wajah serius.


“Menarik, ayo kita gunakan serangan terakhir kita, Nak.” Teriak Theo, sementara Kohta mengangguk tersenyum.


Theo pun memfokuskan Energi misterius di Pedangnya. Lalu, mengangkat Pedang dengan kedua tangannya. Kohta tiba tepat 10 M dari Theo.


“Tebasan Naga.” Ucap Theo, lalu muncul siluet Naga merah di belakang Theo. Siluet itu hanya sebentar. Sementara Kohta mengucapkan Tekniknya.


“Original Teknik – Tebasan 6 Tangan Ashura.” Ucap Kohta, lalu muncul siluet Ungu hitam dengan 6 tangan. Grisela dan Rina yang melihat itu, segera berdiri dan berteriak.


“Aktifkan Barrier.” Teriak keduanya. Lalu, Arena pertandingan terlapasi dengan perlindungan tipis.


Lalu, dalam Area.


Terlihat tebasan enam tangan Ashura bertemu dengan tebasan Naga Api. Api dan kegelapan bertemu.


Boooommmmm


Krakkkk Ctarrrr.


Barrier yang terpasang hancur berkeping-keping, karena Barrier yang diciptakan tipis. Lalu, Angin besar menerpa seluruh penonton, baik itu anggota Kerajaan, maupun Prajurit.


Wussshhhh.


Asap bertebaran di dalam arena. Lalu perlahan menghilang dan memunculkan dua siluet orang yang dalam posisi mereka masing-masing.


Lalu, tak lama kemudian salah satu Siluet jatuh, diikuti Siluet lainnya. Semuanya terkejut melihat hal tersebut.


Asap pun hilang, terlihat bahwa Kohta tak sadarkan diri ditempat , sementara Theo mendapatkan luka enam tebasan di perutnya, namun itu tidak dalam.


Mereka berdua terbaring satu sadar, satu tidak.


“Ini..”


[To be Continued.]


Info : ketrampilan kuubah jadi Seni.


Silahkan Like, Comment, Share, dan Vote.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.


__ADS_2