Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 38


__ADS_3

[Chapter 38.]


[Perang 8.]


[Silahkan Dibaca.]


Gerbang kerajaan Yunan.


“Kohta / Tuan,” ucap Rina / Tessa, kemudian serangan milik Kohta, melesat dengan cepat ke arah Magma tersebut.


Sringgg.


Magma terbelah menjadi dua, kemudian terbelah menjadi kecil-kecil. Kohta tersenyum dan berkata.


“Maaf aku telat, Tessa,” ucap Kohta, kemudian dia memandang ke arah Dragon dengan sangat tajam.


“Tak apa, Tuan,” ucap Tessa, dengan menatap dengan tangisan bahagia, Kohta melihat hal tersebut menepuk kepalanya.


“Jangan menangis lagi, kembalilah bersama dengan Rina dan yang lainnya,” ucap Kohta, kemudian dia berjalan ke arah Dragon yang sudah berada di tanah.


“Ohh, kau muncul bocah, apakah kau kira, kau sudah kuat melawanku yang sudah berubah,” ucap Dragon dengan nada mengejek.


Kohta menatap dengan tajam, dia berjalan dengan santai, angin menerpa Kimononya, membuat kimono tersebut berkibar.


“Kau sudah selesai bicara, Kadal?” ucap Kohta dengan santai, sementara Dragon menatap Kohta dengan geram dan marah.


“Beraninya kau, Makhluk hina sepertimu, mengejek diriku,” raung marah Dragon, namun Kohta sangat tenang.


Kohta benar-benar sudah masuk ke dalam mode pendekar pedang, seluruh suara yang dia dengar biasa, lingkungan berubah menjadi lambat.


“Seni bulan - Langkah bulan,” Kohta pun dengan cepat menghilang dari tempat. Dragon terkejut, karena tidak bisa merasakan hawa Kohta sepenuhnya.


Dragon merasakan nyawanya benar-benar terancam, dia merasakan sesuatu bahaya di bawahnya.


Dragon menatap ke arah bawah, dia melihat Kohta yang mengarahkan pedangnya ke Dragon.


“Tebasan,” ucap Kohta, dengan cepat menusuk perut dari Dragon. Pedangnya masuk menembus perut Dragon.


Jlebbbb.


“Rahhhh,” teriak Dragon kesakitan. Dia benar-benar tertusuk dan terkejut, dia terkejut karena tubuhnya tidak mungkin bisa tertusuk.


“Kau tau, kau melapisi tubuhmu dengan Magma, membuat tubuhmu muda ditembus,” ucap Kohta.


Slashhh.


Kohta dengan santai mengayunkan pedangnya dari dalam Dragon. Kohta benar-benar terlihat seperti memotong daging.


“Matilah kau,” raung Dragon dengan cepat mengayunkan kakinya, ke arah Kohta.


Melihat serangan tersebut, Kohta menghilang kembali dengan Langkah bulan miliknya.


Wushhh.


Kaki menerpa angin, Dragon meraung marah dan menatap ke arah tempat Kohta yang muncul kembali.


Dragon mengeluarkan dua bola Magma ke arah Kohta dengan cepat, Kohta melihat hal tersebut dengan cepat menahannya.


Tringggg.


Lelehan dari Magma, mengenai lengan Kohta. Namun, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Kohta.


Dia menebas kedua serangan tersebut, lalu dia mengerutkan keningnya, lalu bergumam dengan pelan.


“Serangannya tambah cepat,” gumam Kohta, lalu dia menatap ke arah Dragon dengan tajam.

__ADS_1


Kohta melihat sesuatu yang bersinar di perut Dragon tersebut, dia menatap serius melihat hal tersebut.


‘Clara, apakah kau tahu Itu apa?’


[Kristal Rune Naga.]


[Sebuah Kristal, dimana menjadi batasan dari Naga tersebut, setiap Naga memiliki Kristal Rune Naga.]


[Kristal Rune Naga, dapat digunakan seorang manusia, untuk menjadi Dragon Warrior.]


[Dragon..... Terkunci.]


‘Baiklah, terimakasih Clara,' batin Kohta, dia akhirnya paham, bagaimana serangan Naga menjadi lebih cepat.


“Sepertinya aku harus bertindak dengan cepat,” ucap Kohta, kemudian dia melesat maju ke arah Dragon.


Lalu, dengan cepat Kohta melesat ke arah perut Dragon. Dia mengarah ke Kristal milik Dragon tersebut.


Dragon menatap Kohta dengan marah, dia mengayunkan tangannya ke arah Kohta dengan cepat.


Wushhh.


Kohta merasakan sebuah bahaya dari samping, Kohta dengan cepat mengayunkan pedangnya dengan cepat.


Dinggg.


Cakar dan pedang saling berbenturan, kemudian kedua mundur. Namun, Kohta dengan cepat melesat kembali ke arah Dragon.


Kohta tiba di depan Dragon, dia mengayunkan pedangnya ke arah Dragon yang belum sepenuhnya pulih.


Slashhhh.


Rawrrrrr.


Deggg.


Suara detak jantung terdengar, Kohta merasakan bahaya, dia segera mundur ke belakang.


Wushhh.


Kohta sudah berada jauh dari Dragon, dia melihat Dragon berubah. Kohta menyipitkan matanya.


“Apakah ini akhir perubahannya, saat Kristal seluruhnya hancur?” ucap Kohta, dia benar-benar merasa sedikit merasakan bahaya.


Terlihat Dragon membesar, cakarnya menjadi satu dan lebih tajam, taringnya menjadi lebih panjang dan tajam.


Sayap yang sebelumnya besar menjadi lebih lebar kembali, setiap ujung dari Sayap, mengeluarkan sisik yang berwarna merah keemasan.


Seluruh sisiknya juga berubah warna, dari merah menjadi merah keemasan, lalu terlihat semacam asap hitam keluar dari otak Dragon.


Krahhhh.


“Makhluk rendahan, kuakui kekuatanmu karena sudah membuatku mengeluarkan transformasi terakhir,” ucap Dragon.


“Namun, kau akan mati setelah ini,” ucap Dragon, kemudian melesat dengan cepat ke arah Kohta.


Melihat Dragon melesat, Kohta menstabilkan nafasnya, kemudian melesat ke arah Dragon.


“Muncullah Rose,” ucap Kohta, kemudian muncul pedang memiliki motif bunga mawar. Kohta mengambil kedua pedangnya dan meluruskan ke bbawah


Dragon dan Kohta, tiba di tengah. Mereka berdua saling memandang, kemudian mengayunkan serangan bersama.


Tring Tring Tring Tring Tring Tring.


Keduanya saling meluncurkan serangan dan berbenturan satu sama lain, namun terlihat Kohta lebih tertekan dari sebelumnya.

__ADS_1


Dingggg.


Kohta terpental mundur ke belakang dengan menggeser kakinya, sementara Dragon tetap berdiri kokoh di tempat sebelumnya.


Kohta menatap ke arah Dragon, namun yang dia lihat kosong. Kemudian, dia melihat ada bayangan di samping kirinya.


“Kau lambat,” ucap Dragon, dengan cepat menampar Kohta dengan ekor miliknya.


Boommm.


Wushhh.


Kohta terbang menuju ke arah hutan, lalu dia menabrak berbagai pohon yang dilewatinya. Sampai akhirnya, berhenti di batu besar.


Boommm.


Krakkk.


“Ughhh,” ucap Kohta, kemudian membuka matanya dan melihat ke arah depan. Dia melihat, sebuah cahaya berwarna merah.


“Sial,” ucap Kohta, dia benar-benar merasa bahaya mendekat, dengan cepat keluar dari batu.


Namun, cahaya merah tersebut semakin terang dan terdengar suara dari Dragon.


“Final Lava,” ucap Dragon, kemudian meluncurkan serangan lurus ke depan mengarah ke Kohta.


Rina melihat hal tersebut tidak bisa tidak tenang, dengan cepat membuat sebuah dinding es untuk menghalangi serangan tersebut.


“Ice Wall,” ucap Rina dengan lantang, kemudian muncul sebuah dinding es yang lebih besar dari dinding milik Tessa sebelumnya.


Boommm.


Namun, dinding tersebut percuma, karena sifat alami sebuah elemen, es akan kalah dengan api, apalagi dengan Lava.


“Kohta,” teriak Rina, terduduk lemas di tanah, air mata keluar membasahi pipinya melihat serangan lava masih terus mengarah ke Kohta.


Booommmm.


Lava pun meledak di tempat Kohta sebelumnya, Rina merasakan gejolak di dalam hati dan jantungnya.


“Kohta,” lirih Rina, kemudian mata yang semula normal, berubah menjadi biru dengan lambang aneh.


Kemudian, dua sayap biru muncul di belakang Rina, lalu es merambat menyebar ke segala arah dengan pusat Rina.


“Manusia ini.....” ucap Dragon menyipitkan matanya, dia menemukan sesuatu hal yang membuat dirinya marah.


Rina yang terduduk, perlahan jatuh ke bawah. Namun, saat akan menyentuh tanah, sebuah tangan hitam keluar dari tanah dan menyangga Rina.


“Naga rendahan sepertimu berani membangunkan Raja ini,” ucap suara tersebut, berasal dari hutan, tempat Kohta sebelumnya.


Dragon segera merasakan bahaya, dia melihat ke arah tempat Kohta, terlihat Kohta yang berbeda.


Aura mengerikan menyerbu ke arah Dragon, jubah berwarna hitam berkibar dengan hebatnya, armor berwarna gelap melindungi tubuh dan kepala Kohta.


Kohta yang semula menunduk, dia mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah Dragon.


“Terimalah Konsekuensi dari Raja ini.”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2