Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 43


__ADS_3

[Chapter 43.]


[Santai.]


[Silahkan Dibaca.]


Pagi hari.


Kohta terbangun di kamar miliknya, dia menatap ke samping kiri dan kanan.


Dia mendapati Rina dan Tessa tidur di sampingnya. Kohta memijat keningnya, kemudian membuka matanya dengan lebar.


“Clara, apakah aku tertidur?”


[Itu benar, Tuan. Anda tertidur, setelah menghilangkan simbol segel pada tubuh Ratu.]


“Huff, syukurlah kalau simbol sudah menghilang,” ucap Kohta, dia menghela nafas lega.


Rina dan Tessa perlahan-lahan terbangun, mereka berdua merasakan ada gerakan di tempat tidur.


“Oh, maaf membangunkan kalian berdua,” ucap Kohta, dia benar-benar merasa bersalah membuat keduanya terbangun.


Keduanya mengedipkan matanya, lalu segera memeluk Kohta dengan erat. Sementara Kohta, dia terkejut dengan tindakan keduanya.


Kohta sebagai Laki-laki, paham bahwa keduanya mengkhawatirkan dirinya. Dia bukan laki-laki bodoh, dan buta.


Kohta memeluk keduanya bersama dengan erat, dia juga mengelus punggung mereka agar segera tenang.


“Ayo kita mandi, kemudian makan,” ucap Kohta, diangguki keduanya. Lalu, mereka bertiga turun dari tempat tidur selepas pelukan.


Mereka bertiga pergi menuju ke kamar mandi bersama, Rina dan Tessa memerah namun mereka memberanikan diri.


Sementara Kohta, dia tidak peduli. Dia juga bukan orang bodoh yang harus malu, karena mandi bersama perempuan.


Beberapa menit kemudian.


Mereka selesai mandi dan sudah berpakaian dengan rapi, mereka keluar dari kamar dan Kohta sedikit terkejut.


“Apakah kita berada di Istana?” ucap Kohta, membuat Rina tersenyum, lalu Rina menjawab dengan senang.


“Ya, kita berada di Istana,” ucap Rina, sementara Kohta mengangguk mengerti.


“Nah, ayo kita pergi ke ruang makan,” ucap Rina, memeluk lengang kanan Kohta, sementara Tessa juga memeluk lengan kiri Kohta.


“Itu benar, ayo kita pergi,” ucap Tessa, entah bagaimana, dia menjadi lebih berani dari biasanya.


“Ayo,” ucap Kohta, berjalan menuju ke ruang makan dengan di dampingi dua perempuan di sampingnya.


Beberapa menit kemudian.


Mereka tiba di pintu masuk menuju ke ruang makan, Prajurit yang melihat ketiganya segera membuka pintu ruang makan.


“Oh, akhirnya kalian tiba,” ucap Grisela, lalu dia tersenyum lebar melihat Kohta di dampingi oleh dua perempuan.


“Ayo segera duduk,” ucap Grisela, kemudian ketiganya mengangguk dan duduk di kursi yang sudah disiapkan.

__ADS_1


“Apakah Raja belum pulih?” tanya Kohta, sementara Grisela menganggukkan kepalanya.


“Nanti kita bahas, mari makan dulu,” ucap Grisela, Kohta hanya bisa menurut.


Kemudian, Pelayan mulai menyiapkan makanan di piring ke empat orang tersebut.


Selepas itu, ke empat orang tersebut mulai makan bersama. Tanpa ada yang bicara dan hanya suara benturan sendok dan piring saja.


Beberapa menit kemudian.


Mereka berempat selesai makan, Kohta memandang ke arah Grisela, kemudian Grisela berkata.


“Raja belum pulih, entah bagaimana dia benar-benar memiliki luka dari Dragon itu,” ucap Grisela.


“Namun, nyawanya apakah terancam?” tanya Kohta, kemudian Grisela menggelengkan kepalanya dan berkata.


“Dia tidak akan mati, jika musuhnya tidak membunuhnya, kalau dia dibiarkan sekarat, dia akan dengan cepat pulih,” ucap Grisela.


“Oh, syukurlah. Lalu, kemana perginya Sean dan Elli?” tanya Kohta, kemudian Grisela menjawab.


“Keduanya pergi keluar Istana, mereka jalan-jalan di Ibukota, karena sebentar lagi, mereka akan pergi ke tempat keluarga Elli berada,” ucap Grisela.


“Kalau begitu, terimakasih atas jawaban dan makanannya,” ucap Kohta, sementara Grisela dengan cepat berkata.


“Tidak perlu, justru aku yang berterimakasih atas semua yang kau lakukan,” ucap Grisela, kemudian dia berdiri.


Langkah tersebut, membuat Kohta juga ikut berdiri, Rina dan Tessa juga ikut berdiri. Lalu, Grisela berjalan dan tepat berhenti di depan Kohta.


“Terimakasih telah menyelamatkan nyawa Suamiku dan nyawa ku. Kami berdua benar-benar sangat berterimakasih,” ucap Grisela.


Kohta, Rina, dan Tessa sedikit terkejut, Kohta dengan cepat menerima ucapan terimakasih tersebut.


“Baik, tapi sebelum itu angkat wajahmu, Ratu,” ucap Kohta, membuat Grisela menegakkan kembali kepalanya.


“Terimakasih, lalu apa rencana kalian selanjutnya?” tanya Grisela memandang ke arah Kohta, Rina, dan Tessa.


“Selepas ini, kami akan ke Ibukota untuk mempersiapkan berbagai hal. Menunggu, Raja bangun, lalu memulai petualangan,” ucap Kohta.


Sementara Rina dan Tessa tersenyum dan mengangguk, menyetujui ucapan dari Kohta.


“Huff, baiklah. Sebenarnya, aku ingin kalian tinggal dengan damai disini,” ucap Grisela, sambil menghela nafas.


“Baiklah, apakah kalian ingin ditemani beberapa prajurit?” tanya Grisela, sementara Kohta menggelengkan kepalanya.


“Tidak perlu, Ratu,” ucap Kohta, lalu Grisela mendekat ke arah Kohta dan mengarahkan jari telunjuknya ke mulut Kohta.


“Jangan panggil aku Ratu, K-a-k-a-k oke,” ucap Grisela, sambil mengeja kata Kakak.


Kohta mengangguk setuju, membuat Grisela tersenyum. Kemudian, dia berkata.


“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke ruang Raja terlebih dahulu,” ucap Grisela, dia pergi terlebih dahulu.


“Baik, kak,” ucap Kohta, Rina, dan Tessa. Mendengar suara Kakak dari Kohta, membuat Grisela terkikik.


Grisela berjalan pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan ketiga orang tersebut.

__ADS_1


“Baiklah, kita juga pergi,” ucap Kohta, kemudian kedua tangannya di pegang oleh masing-masing perempuannya.


Ketiga orang tersebut berjalan keluar dari ruang makan dan pergi keluar dari Istana Kerajaan Yunan.


Di tempat lain.


Sebuah hutan yang sangat lebat, terdapat 9 orang yang sedang berjalan menuju ke barat.


Mereka semua memiliki ciri khas yang sama yaitu memakai Jubah hitam dengan sebuah simbol dua tangan dan satu mata.


“Master, apakah ada sesuatu di Kota Sina?” tanya salah satu orang yang berjubah hitam tersebut.


“Musim Lebah,” ucap Orang berjubah hitam di depan mereka semua, dia menatap ke arah depan.


(kita sebut dia Master terlebih dahulu.)


“Musim lebah, lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya orang berjubah hitam tersebut.


“Ketua berkata, gunakan Musim Lebah untuk menghancurkan Kota Sina,” ucap Master tersebut.


Ke 8 orang tersebut mengangguk mengerti, lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju ke barat.


Di tempat Kohta.


‘Bencana, benar-benar mengerikan,' batin Kohta, dia melihat ke arah kedua perempuannya.


‘Perempuan ditambah dengan belanja, sama dengan bencana bagi laki-laki,' batin Kohta.


Terlihat Kohta sekarang membawa banyak barang-barang yang dibeli oleh Rina dan Tessa.


Barang yang sangat banyak membuat Kohta benar-benar bingung cara membawanya, dia lupa membawa cincin penyimpanan.


“Oh ya, penyimpanan,” ucap Kohta, kemudian memasukkan seluruh barang ke dalam penyimpanan sistem.


“Fyuh, akhirnya,” ucap Kohta, lalu melihat ke arah Rina dan Tessa yang masih membeli beberapa barang lagi.


Kohta hanya mengikuti dan membayar biaya belanjaan mereka berdua, lalu Kohta berkata kepada keduanya.


“Bukankah ini sudah banyak?” tanya Kohta, dia benar-benar terkejut melihat banyak barang di penyimpanan miliknya.


“Belum,” teriak kedua perempuan tersebut, kemudian Rina berkata dengan nada serius.


“Itu hanya sebagian kecil, belum toko sana dan sana, Tessa ayo kita pergi ke sana,” ucap Rina, menarik Tessa pergi menuju ke toko.


Sementara itu, Kohta hanya menghela nafas tak berdaya, lalu dia mengikuti keduanya sampai dia melihat sebuah toko yang menarik.


‘Toko Pedang Shery,'


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2