
[Chapter 42.]
[Simbol.]
[Silahkan Dibaca.]
Ruang Singgasana.
Kohta dan Rina menghampiri Grisela yang terbaring di tempat tersebut. Mereka melihat, tubuh Grisela memiliki semacam simbol-simbol.
‘Oho, benar-benar menarik. Mereka menggunakan segel untuk menarik sesuatu,' ucap Oda dalam diri Kohta.
‘Pak Tua, apakah kau tahu tentang hal ini?’ ucap Kohta dengan penuh khawatir, Oda kemudian berkata.
‘Itu segel pemisah Roh, tapi ini segel terburuk,' ucap Oda, membuat Kohta terkejut. Lalu, dengan cepat bertanya.
‘Apakah kau bisa menghilangkan hal tersebut, Pak Tua?’ ucap Kohta, kemudian Oda menjawab dengan santai.
‘Mudah, aku sudah mengirim informasi ke dalam Artefak mu, aku akan tidur dulu,' ucap Oda.
‘Terimakasih, Pak Tua,' ucap Kohta dalam hati, kemudian dia menatap ke arah Grisela. Lalu, sebuah suara muncul.
[Memasukkan data Asing.]
[1%...3%....50%....100%.]
[Pengetahuan simbol ditambahkan.]
[Apakah Tuan ingin mengintegrasikan pengetahuan Simbol 1.]
[ Ya / Tidak.]
‘Ya,'
[Mengintegrasikan.]
Kohta merasakan berbagai informasi terkait dengan simbol masuk ke dalam fikirannya. Kohta mencerna dengan cepat agar tidak menimbulkan rasa sakit berlebihan.
Rina menatap ke arah Grisela dengan penuh khawatir, dia tidak melihat ke arah Kohta yang sedang menahan rasa sakit.
“Kak, bangun kak,” ucap Rina, dengan penuh khawatir. Kemudian, Rina melihat tulisan-tulisan aneh di tubuh Grisela.
“Tulisan apa ini?” ucap Rina penuh dengan penasaran, lalu dia mendengar jawaban dari Kohta yang berada di sampingnya.
“Ini adalah Simbol,” ucap Kohta, kemudian dia memperhatikan tulisan tersebut. Dia benar-benar paham dengan Simbol tersebut.
“Simbol?” ucap Rina, dia benar-benar merasa penasaran, lalu dia menatap ke arah Kohta.
Namun, saat melihat Kohta yang serius, Rina mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.
“Rina, ini akan kuurus,” ucap Kohta, sedangkan Rina mengangguk dengan patuh, dia bersyukur bahwa Suaminya bisa mengatasinya.
Kohta mulai melihat tulisan tersebut, dia benar-benar berekspresi aneh dan mengerutkan keningnya.
“Simbol yang sangat buruk,” ucap Kohta, kemudian dia membuat berbagai tulisan di dekat Grisela.
__ADS_1
Tulisan yang sangat banyak, bahkan Rina sendiri bingung saat melihat tulisan-tulisan tersebut.
Beberapa menit kemudian.
Kohta selesai menulis tulisan tersebut, kemudian dia menghela nafas lega dan berkata dengan tangan menekan satu simbol.
“Lepas,” ucap Kohta, kemudian tulisan yang dibuat oleh Kohta bercahaya. Lalu, dengan cepat bergerak menuju ke Grisela.
Sringgg.
Tubuh Grisela bercahaya kembali, kemudian perlahan-lahan Simbol yang mengekang Grisela memudar.
Wushhh.
Terlihat tubuh Grisela yang kembali menjadi merah, suhu tubuhnya mulai menghangat. Kemudian, terlihat matanya berkedip-kedip.
“Uhnn,” ucap Grisela mencoba untuk duduk, dia melihat area sekitar, Grisela mengerutkan keningnya.
Namun, sebelum berkata apapun Rina menerjangnya dan memeluk Grisela dengan erat.
“Kakak,” teriak Rina, dengan cepat memeluk Grisela, sambil menangis bahagia. Kohta yang melihat itu terduduk dan terbaring.
“Hah Hah Hah, butuh energi banyak ternyata,” ucap Kohta, dia merasakan Kin, Ken miliknya terkuras hampir habis.
[Tuan, simbol itu bukan hal mudah. Energi yang dikonsumsi besar, maka dari itu beberapa orang pasti akan melakukannya bersama.]
‘Jadi begitu,' batin Kohta, kemudian dia berbaring telentang di ruang singgasana tersebut.
Rina melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Kohta untuk berterimakasih, namun dia melihat Kohta terbaring.
“Biarkan dia istirahat, dia pasti sangat lelah,” ucap Grisela, kemudian dia entah kenapa merasa sedikit dingin.
Grisela menatap ke arah dirinya sendiri, terlihat Grisela tanpa busana apapun, hanya selembar kain menutupi tubuhnya.
“Kyaaa,” teriak Grisela, mengejutkan Rina. Kemudian pintu terbuka dengan lebar dan terlihat lah, Sean, Elli, dan Tessa.
“Ib-“ teriak Sean, namun segera Grisela menyerangnya dengan bola air.
“Pergi,” teriak Grisela, menembak Bola air ke arah Sean dengan cepat. Sean terkejut dan terlempar.
Booommm.
“Rina, berikan baju apapun kepadaku,” ucap Grisela, sementara Rina terkejut dan segera mengeluarkan baju.
Grisela dengan cepat memakai seluruh baju yang di berikan oleh Rina, kemudian dia akhirnya selesai berpakaian.
“Fyuhhh, akhirnya aku memakai pakaian juga,” ucap Grisela, kemudian dia menatap ke arah Rina sambil tersenyum.
“Terimakasih, Rina,” ucap Grisela, sedangkan Rina mrngangguk dan dia baru tahu bahwa Grisela tadi masih telanjang.
Grisela kemudian menatap ke arah Kohta yang masih tidur di lantai, dia benar-benar merasa senang dan perlu berterimakasih kepada Kohta.
“Elli, Tessa, Rina, bawa Kohta ke kamarnya. Dia terlihat sangat lelah,” ucap Grisela, kemudian ketiganya mengangguk.
Setelah itu, Grisela menatap ke arah Sean yang masuk sambil memegang kepalanya, Grisela benar-benar harus meminta maaf kepada putranya tersebut.
__ADS_1
“Maaf, Nak. Tadi Ibu masih belum memakai apapun,” ucap Grisela, sementara Sean mengangguk tak masalah.
“Tak apa, Bu. Itu tidak masalah,” ucap Sean, kemudian dia melanjutkan dengan wajah serius.
“Bu, ada masalah yang lebih besar sekarang, para Bangsawan tadi mengadili Kohta,” ucap Sean.
Namun, terhenti saat niat membunuh yang besar keluar dari tubuh Grisela. Dia menatap ke arah Sean, dan berkata.
“Beritau aku, siapa yang ingin mengadili, Kohta,” ucap Grisela, namun Sean tersenyum kecut.
“Beberapa bangsawan tingkat tinggi, namun Kohta membunuh mereka semua,” ucap Sean, sementara Grisela menghilangkan niat membunuhnya.
“Interogasi keluarga mereka, jika mereka melawan bunuh di tempat,” ucap Grisela dengan tegas.
Sean mengangguk, lalu dia keluar dengan cepat menemui beberapa pasukan kerajaan.
Sementara itu, Grisela berjalan keluar menuju ke tempat Suaminya di rawat. Dia benar-benar harus melaporkan masalah tersebut.
‘Aku benar-benar harus berterimakasih kepada Kohta, bukan hanya menyembuhkan ku, dia juga menghilangkan benalu kerajaan,' batin Grisela.
Dia benar-benar terkesan dengan cara Kohta menyelesaikan hal tersebut, dia berfikir bahwa Kohta mengikuti hukum rimba.
‘Siapa yang kuat dialah yang berkuasa, siapa yang lemah akan ditindas.’
Di sisi lain.
Di sebuah lapangan yang luas, terdapat seseorang yang memakai jubah hitam dengan lambang tangan dan mata satu.
“Bagaimana bisa hilang?” ucap orang tersebut, dia melihat ke arah tangannya yang memiliki simbol, namun perlahan menghilang.
“Arrrrrhhh, bagaimana bisa menghilang. Simbol itu bukanlah hal yang mudah untuk dihilangkan,” teriak orang tersebut.
Ke 7 orang lainnya hanya diam, mereka juga terkejut dengan kejadian tersebut. Mereka tidak menyangka simbol mereka dihancurkan oleh seseorang.
Tap tap tap.
Terdengar suara langkah kaki menuju ke arah mereka berdelapan. Ke 8 orang tersebut berbalik ke arah suara langkah kaki tersebut.
“Master,” ke 8 orang tersebut berkata bersama, orang yang di sebut Master tersebut membuka tudungnya.
Terlihat manusia yang memiliki tato garis dari mata kiri, menuju ke leher dan berputar di tubuhnya.
Rambut berwarna silver panjang, iris mata berwarna merah cerah, tatapan matanya sangat tajam.
Tubuh orang tersebut sangat besar dan kekar, kemudian di tangannya terlihat ada sebuah tato dengan huruf, SIN.
“Abaikan orang itu, Ketua meminta kita menyerang Kota Sina.”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.
__ADS_1