
[Chapter 32.]
[Perang 2.]
[Silahkan Dibaca.]
Gerbang kerajaan Yunan.
Sean melompat dari dinding pertahanan kerajaan Yunan.
Dia mengeluarkan pedang miliknya yang berwarna merah seperti api menyala.
Booom.
Sean mendarat dengan keras di tanah, mengakibatkan tanah yang dia pijak rusak.
Sean memandang ke arah depan, lalu dengan cepat melesat ke arah para monster goblin es.
Goblin es menyadari Sean yang akan menyerang mereka, sehingga mereka melemparkan tombak es ke arah Sean.
Wush Wush Wush Wush Wush.
Sean tersenyum melihat hal tersebut, dia sudah diajari Theo soal Kin, jadi dia mulai berlatih terus-menerus.
Dia bertekad, bisa melindungi kerajaan Yunan tanpa adanya Kohta, entah kenapa Kohta adalah target untuk pencapaian miliknya.
Mengayunkan pedangnya, Kin merah menyelimuti pedang tersebut. Elemen api menyebar dengan cepat di pedang.
Wushhh.
Sekali ayunan, seluruh tombak yang melayang ke arahnya menguap, goblin es terus membuat tombak es dan terus melemparkan ke arah Sean.
Bushhhhh.
Tombak lagi-lagi menguap. Asap banyak bertebaran di mana-mana, menjadi kabut yang tebal.
Namun, Sean dapat melihat karena dia melapisi matanya dengan Kin, dia bisa merasakan kehidupan di depannya dan bentuk kehidupan tersebut.
Sean tiba di depan goblin es, lalu dia mengayunkan pedangnya.
Slashhh.
“Arkkkkk,” teriak para goblin es, terbakar oleh api. Sean tidak menebas kepalanya langsung, melainkan menebas perut mereka.
Sean selalu bersemangat saat melihat musuhnya mati terbakar oleh serangan miliknya.
Slash Slash Slash Slash Slash.
Lima goblin es berteriak kesakitan, karena terbakar. Lalu, mereka mati dengan menjadi abu.
Sean terus bergerak ke goblin es yang lainnya. Namun, dia merasakan sesuatu datang ke arahnya dengan cepat.
Sean segera berhenti dan melihat apa itu, Sean melihat tombak Es besar ke arahnya. Dia sangat senang dengan hal tersebut.
“Ini menarik,” ucap Sean, kemudian membuat kobaran api di pedangnya menjadi lebih besar.
Bushhhhhh.
“Ayo kita lihat siapa yang menang, Gelombang Api,” ucap Sean, lalu mengayunkan pedangnya ke atas.
Singgggg.
Proyektil tebasan api besar, mengenai tombak besar.
Booommm.
Keduanya sama-sama kuat, namun perlahan-lahan terlihat, Api menelan tombak es tersebut dengan mudah.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, Sean menyeringai dengan lebar. Lalu, dia mulai melesat ke arah goblin es.
Wushhhh.
Sean melesat ke arah goblin es, namun apakah goblin es diam saja, jawabannya tidak. Mereka semua melompat-lompat, lalu sesuatu di tanah bergetar.
Drrrr.
Boom Boom Boom Boom Boom.
Muncullah sebuah es yang mirip seperti juri, namun panjang dan tajam. Sean yang melihat itu berhenti sebentar.
Lalu, dia dengan senang mengayunkan pedangnya secara vertikal, serta cepat.
Slashhhhh.
Tanah yang dilewati tebasan tersebut, terbakar. Hanya menyisakan tanah berwarna hitam lurus, dengan ujung berwarna putih beku.
Sean kembali melesat dengan cepat, lalu tiba di depan goblin es, saat melihat mereka membuat tombak.
Goblin es mengayunkan tombak es ke arah Sean, sementara Sean dengan mudah menghindari tombak es dan menebas Goblin es.
Slash.
Sean menghindar, entah menunduk setengah, menyamping, melompat.
Slash.
Selesai menghindari dia akan menebas mereka dengan santai.
Slash Slash Slash Slash.
Namun, saat akan menebas kembali sebuah tombak es raksasa menyerang ke arah dirinya.
Sean menahan dengan pedang apinya, namun dia terkeju bahwa tombak tidak meleleh, dia terpental dan terbang ke belakang.
Boommmm.
Wushhhh.
Sean menatap ke arah depan, lalu dia menaikkan alisnya saat melihat sebuah bayangan besar.
Asap yang menutupi, di terpa oleh angin. Kemudian, nampaklah seekor Goblin besar.
Sean tersenyum, kemudian berkata, “Akhirnya,monster Huge muncul.”
Sean melesat kembali ke arah goblin es yang sudah bergabung menjadi satu.
Goblin es melihat Sean maju, dia langsung mengayunkan tombaknya ke arah Sean.
Sean mengayunkan pedangnya yang sudah terselimuti oleh Kin merah dan elemen api.
Booommm.
Kedua serangan saling imbang, kemudian mereka saling tukar dan senjata mereka terus bertabrakan.
Boom Boom Boom Boom Boom Boom.
Boommm.
Keduanya mundur saat serangan terakhir, Goblin es memutar tongkatnya.
Kemudian, sebuah pusaran es lurus menuju ke arah Sean.
Wrushhhhh.
Sean melihat serangan itu, mengeluarkan lebih banyak Kin ke arah pedangnya, lalu api semakin berkobar dan membesar.
__ADS_1
Sean mengayunkan pedangnya berkali-kali ke arah depan, kemudian muncul proyektil api, lalu semakin membesar dan semakin kuat.
“Terima ini, Fire burst,” ucap Sean, meluncurkan proyektil api besar tersebut ke arah pusaran es.
Bushhhhhhh.
Boooommmmm.
Asap bertebaran, lalu angin pertarungan meniup asap tersebut untuk menghilang.
Beberapa saat kemudian, asap menghilang dan terlihat terdapat pembatas, yang terbuat antara api dan es.
Sisi Sean, terlihat api dimana-mana, tanah menjadi hitam, sementara di sisi goblin es, semuanya menjadi es, bahkan kerikil berubah menjadi duri es.
Semua prajurit tercengang dengan fenomena perang tersebut, mereka bisa merasakan panas dan dingin secara bersamaan.
Para prajurit tanpa sadar meneguk ludah mereka, saat melihat hal tersebut.
Di sisi Sean.
Dia sudah stabil dan tenang, dia menatap ke arah Goblin es, dia tidak bisa tidak senang.
“Karena kau, begitu kuat. Maka aku akan menggunakan kekuatan baruku,” ucap Sean.
Kemudian memegang gagang pedang serta ujung pedang. Lalu, Sean menutup matanya.
Theo yang berada di dinding, hanya bisa tersenyum melihat putranya menggunakan kemampuan barunya.
Beberapa detik kemudian, udara di sekitar Sean berubah, radius puluhan meter, udara menjadi naik.
Lalu, muncul api di pedangnya dan mengalir ke arah Sean. Kemudian, menyelimuti seluruh tubuhnya.
Bushh.
Api menghilang dan menampilkan, Sean memakai pakaian zirah merah. Dengan kristal hijau di depan.
Sepasang sayap berada di belakangnya, kemudian penutup kepala memiliki runcing ke bawah.
Lalu, tanduk di penutup kepala mengarah kedepan, kemudian Sean membuka matanya, lalu terlihat bahwa iris matanya berubah menjadi merah menyala.
Pedang yang dia pakai terlihat menyatu dengan tangan kanannya, lalu terlihat bilahnya menjadi hijau transparan.
Kemampuan baru Sean adalah perubahan Dragon Fury. Seluruh Stat dan apinya akan menyamai naga api sesungguhnya.
Para prajurit melihat itu benar-benar terpana, monster yang melihat itu, mulai waspada. Sementara itu, Goblin es hanya menatap biasa dan arogan.
Sean tersenyum melihat Goblin es yang masih sombong, lalu Sean meluruskan pedangnya ke samping.
Bushhhh.
Api muncul dan menyelimuti pedang tersebut, namun perlahan api menyusut dan melingkari ujung dari pedang.
“Terima ini, Fire Dragon,” ucap Sean, lalu mengayunkan pedangnya dengan keras.
Slashhhh.
Proyektil tebasan api yang lebih besar dari ganas, meluncur ke arah Goblin es tersebut.
Sementara itu, Goblin es melesat dan mengayunkan tombaknya ke arah poyektil tersebut.
Kedua serangan bertemu satu sama lain kembali.
Booommmmmm.
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.