
[Chapter 31.]
[Perang 1.]
[Silahkan Dibaca.]
Kohta menatap ke arah para Monster Big dan Huge, yang bergerak ke arahnya. Lalu, dia melesat ke arah mereka.
Wushhh.
Kohta melapisi kedua pedangnya dengan Kin. Lalu, mulai menebas ke arah monster Big, Rubah api.
Sementara itu, monster rubah api tersebut menyadari serangan dari Kohta, mereka berusaha menahan.
Namun, sebelum mereka berubah menjadi mode menahan. Mereka tertebas dengan cepat.
Slashhh.
Kohta menumbang 5 rubah api dengan cepat. Lalu, dengan cepat beralih ke rubah api lainnya.
Namun, saat Kohta menatap ke arah rubah api lainnya, serangkaian bola api mulai melaju menuju ke arah Kohta.
Wush Wush Wush Wush Wush.
Kohta dengan cepat bereaksi, dia menghindari semua bola api tersebut, lalu melaju ke arah rubah api.
Boom Boom Boom Boom Boom.
Bola api menabrak tanah, mengakibatkan berbagai ledakan di belakang Kohta.
Sementara itu, Kohta melesat dan akhirnya tiba di depan rubah api tersebut, dia mulai menebas mereka.
Slasshh.
Kohta menebas lima rubah api, namun satu dari mereka berhasil menghindar, lalu menyerang dengan cakar api.
Dingg.
Cakar api tertahan oleh pedang Kohta. Rubah api mengayunkan cakar satunya. Namun, Kohta dengan cepat menebas leher rubah api.
Slash.
Kohta memandang kembali ke arah para rubah api yang marah, mereka semua bergabung dan menjadi monster rubah api yang besar.
“Oh, mereka bisa bergabung?” ucap Kohta, dia melihat itu terkejut, lalu menyeringai dengan hebat.
“Kalau begitu, ayo bertarung,” ucap Kohta, lalu dia melesat dengan cepat ke arah rubah api yang sudah besar tersebut.
Roarrrr.
Rubah api tersebut mengayunkan cakarnya yang besar ke arah Kohta. Sementara, Kohta menghindari dengan mudah.
“12 langkah,” ucap Kohta, kemudian dia menghilang dan muncul tepat di salah satu kaki rubah api tersebut.
“Tebas,” ucap Kohta, lalu dengan cepat menebas kaki rubah api tersebut.
Slash Slash Slash Slash Slash.
“6...” ucap Kohta, menghilang saat sebuah serangan kaki rubah api lainnya mengarah ke dirinya.
__ADS_1
Boommm.
Kaki rubah api mengenai tanah, sedangkan Kohta sudah muncul tepat di wajah rubah api, dia mengayunkan pedang tepat mata rubah api tersebut.
Slash Slash Slash Slash Slash.
“12....” ucap Kohta, saat melihat bahwa rubah api akan berteriak kesakitan. Dia menghilang dan muncul 100M dari rubah api.
Roarrrrrrr.
“Hah Hufffff,” ucap Kohta, dia benar-benar sedikit lelah, nafasnya benar-benar terkejut saat berusaha muncul 100M.
Bayangkan, dia harus menahan nafas selama dia berlari cepat 100M. Itu akan benar-benar membuat pernafasan benar-benar tersiksa.
Setelah memenangkan dirinya, dia mendapati sebuah bahaya tepat di depannya. Kohta tanpa sadar menyilangkan kedua pedangnya untuk menahan bahaya tersebut.
Banggg.
Kohta terpental ke belakang, dia benar-benar terkejut, lalu berputar dan mendarat dengan tepat.
Akhirnya, Kohta melihat siapa yang menerbangkan dirinya. Terlihat monster berwajah babi dan tubuh yang besar.
Babi tersebut terlihat berdiri dan memliki tinggi setengah dari dinding pertahanan kerajaan Yunan.
Babi tersebut ialah orc, dia ternyata memukul Kohta dengan sebuah pemukul kayu yang besar.
“Oh, Orc kah?” ucap Kohta, dengan ekspresi penuh dengan semangat pertarungan. Sementara itu, Orc menjawab.
“Manusia lemah, lawanmu adalah aku,” ucap Orc, sementara Kohta sedikit terkejut. Lalu, dia menutup matanya.
“Babi yang akan mati lebih baik diam,” ucap Kohta, membuka matanya dan melesat ke arah Orc.
“Langkah mawar,” ucap Kohta, lalu di bawah kakinya muncul berbagai mawar. Kemudian, dia menghilang dan muncul tepat di depan pemukul tersebut.
“Tebasan mawar,” teriak Kohta, mengayunkan kedua pedangnya ke arah pemukul tersebut. Kin dan Ken bersatu dan melapisi pedang.
Booommmmmm.
Kedua senjata bertemu, percikan listrik muncul. Lalu, Orc sedikit terpental ke belakang.
Sementara itu, Kohta melompat serta berputar, lalu mendarat dan mulai melesat dengan teknik.
“12 langkah,” ucap Kohta, kemudian dia menghilang dan muncul tepat di perut dari Orc.
“Tebasan 8 langkah,” teriak Kohta, dia menggabungkan langkah dan tebasan.
Slash Slash Slash Slash Slash Slash Slash Slash.
Roarrrrr.
“Sialan kau, Manusia,” teriak Orc, lalu dia membuang pemukul ke arah Kohta. Sementara Kohta, menghilang dan muncul tak jauh dari Orc.
Booommm.
Pemukul jatuh ke tanah dan menimbulkan lubang yang besar. Kohta yang sudah muncul kembali, disambut oleh sebuah serangan dari samping.
Wushhh.
Kohta menghilang kembali, namun setiap dia muncul selalu ada serangan dari sampingnya.
__ADS_1
“12..” ucap Kohta, lalu muncul di depan Orc yang siap menghunuskan Kapak yang berada di tangannya.
“Mati, kau,” teriak Orc dengan keras. Namun, Kohta tersenyum. Lalu dia mengayunkan kedua pedangnya ke arah kapak tersebut.
Boooommmm.
Kedua senjata bertemu, Kohta melapisi pedangnya dengan Ken, di kedua pedangnya tersebut.
Sementara itu, Kapak Orc tidak tergores sama sekali, Kohta menatap itu sedikit tertarik. Lalu, dia mendarat ke tanah.
Kapak Orc menyerang ke arah Kohta. Sementara Kohta, selalu menahannya dengan kekuatan Ken miliknya.
Boom Boom Boom Boom Boom.
Berbagai tempat di medan hancur oleh mereka berdua, prajurit dan monster memandang pertarungan tersebut.
Namun, mereka segera bertarung kembali, prajurit semakin menjadi semangat saat melihat pertarungan Kohta.
Di sisi Kohta.
Orc akhirnya berhenti menyerang, dia terlihat sedikit kelelahan. Sementara Kohta, masih belum lelah.
Kohta tersenyum dan melapisi pedangnya dengan Ken dan memadatkan Ken tersebut, sehingga pedang terlihat berwarna hitam keunguan.
“Akan ku akhiri,” ucap Kohta, kemudian dia menggunakan teknik.
“Seni bunga - langkah mawar,”
Berbagai kelopak bunga mawar berada di bawah kaki Kohta, kelopak semakin lebat. Lalu, Kohta menghilang dari tempat.
“Seni bunga - Tebasan Mawar,” ucap Kohta dengan tegas, kemudian dia muncul di belakang Orc berdiri.
Detik berikutnya, banyak kelopak mawar, membentuk garis lurus tepat di tubuh dari Orc.
Jresssss.
Kaki kanan dan kiri, kemudian naik ke atas tubuh, lalu leher dan kepala. Tebasan tersebur membentuk garis vertikal dan banyak mawar yang bertebaran di sana.
Kohta melesat kembali ke arah para monster sambil tersenyum dengan senang. Lalu, Orc yang mati tumbang ke bawah.
Brukkkkkkkk.
Sensasi medan menjadi lebih panas bagi para prajurit, mereka dengan senang dan semangat menebas berbagai monster di depan mereka.
Sementara itu, Sean yang berdiri di dinding kerajaan Yunan, menatap hal tersebut dengan senyuman hebat.
Dia benar-benar merasa ingin ikut dalam pertarungan tersebut, Sean kemudian memandang ke arah Theo.
Sementara itu, Theo yang memandang hal tersebut tersenyum, lalu merasakan tatapan dari Sean yang membara, dia hanya bisa mengangguk.
Sean senang, lalu dia memandang ke arah medan perang. Kemudian, melompat ke bawah dan berkata dengan semangat.
“Waktunya giliranku,"
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thanks you Minna-san.