Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 20


__ADS_3

[Chapter 20.]


[Aura yang Kacau.]


[Silahkan Dibaca.]


Kohta melesat dengan cepat ke arah Babi Hutan tersebut, sementara Babi Hutan mengarahkan tanduknya ke arah Kohta.


“Seni Original, Tebasan dua arah.” Ucap Kohta, kemudian kedua pedang Kohta mengarah tepat ke Babi Hutan tersebut.


Dingggggg.


Tanduk dan dua pedang Kohta saling berbenturan, namun Kohta menguatkan pegangan tangan di gagang pedang tersebut.


Boommm.


Babi hutan terdorong beberapa langkah ke belakang, sedangkan Kohta turun ke bawah, lalu menatap ke Babi hutan dengan tajam.


Babi hutan meraung marah dan menatap tajam ke arah Kohta, kemudian mulutnya muncul percikan api, lalu memuntahkan api tersebut.


Kohta melihat hal tersebut terkejut, dengan cepat menangkis serangan Api tersebut. Namun, kekuatan api tersebut sangat kuat.


Kohta terdorong sangat jauh, kemudian Api tersebut menghilang. Menampakkan Kohta dengan baju yang terbakar.


“Uhuk Uhuk.” Ucap Kohta, lalu terlihat bahwa dia memiliki sedikit luka bakar. Dia benar-benar lengah sekejap, lalu Kohta melihat Babi Hutan berlari dengan cepat ke arah dirinya.


“Onkkkk.” Teriak Babi Hutan tersebut, tanduknya menunduk agar bagian ujung yang runcing sejajar dengan Kohta.


Sementara itu, Kohta menatap dan mengeluarkan nafas tenang. Dia memasuki alam pernapasan, Pedang bunga memunculkan bunga mawar, sementara pedang Serigala memunculkan sebuah siluet Serigala.


“Bilah bunga taring Serigala.” Ucap Kohta, kemudian Bunga mawar tersebut melesat ke arah Babi Hutan, lalu muncul sebuah siluet Serigala di Bunga mawar tersebut.


Bilah bunga bertemu dengan tanduk Babi Hutan.


Tringgg Tringgg.


Slashh Slashh Slashh.


Banyak bilah bunga mengenai berbagai tubuh Babi Hutan tersebut, namun terlihat kulit Babi Hutan hanya terdapat goresan saja, tanpa ada luka yang fatal.


Kohta melihat hal tersebut, sedikit terkejut. Lalu, memposisikan diri bertahan dari serangan Babi Hutan tersebut.


Dinggggg.


Jlebbbb.


Kohta tidak bisa menahan serbuan dari Babi Hutan tersebut. Alhasil tanduk Babi Hutan tersebut mengenai tepat tubuh Kohta.


Boommm.

__ADS_1


Kohta terbang dan menabrak sebuah pohon di belakangnya, Rina yang melihat hal tersebut terkejut dan khawatir.


“Kohtaaa.” Teriak Rina, namun sebelum Rina beranjak ke tempat Kohta. Terlihat bahwa Kohta masih berdiri dengan wajah tersenyumnya.


Darah di tubuhnya mengalir keluar, namun tidak deras. Kemudian, luka tersebut tertutup sendiri, darah pun berhenti keluar.


“Clara, apakah aku sudah menembus batas kembali.” Ucap kohta, sambil mengambil Haramaki hitam di tangannya.


[Kohta menembus kembali.]


[Tersisa 2 kali, setelah itu Kohta akan benar-benar bisa menyamai kekuatan di Dunia Deus ini.]


“Dua lagi kah, karena benar-benar belum bisa menyamai kekuatan dunia ini, seluruh informasi di status dan teknik berantakan.”


[Itu benar.]


Lalu, Kohta memasangkan Haramaki tersebut di kepalanya. Kemudian, tersenyum ke arah Babi Hutan dan berkata.


“Kalau begitu, baiklah. Mari kita mulai kembali, Babi Hutan.” Ucap Kohta, lalu Aura seorang Ksatria Pendekar Pedang muncul keluar.


Rina merasakan Aura Kohta berubah kembali. Dia bisa melihat siluet seorang Ksatria dengan wajah ditutupi oleh pelindung kepala, siluet tersebut juga mengeluarkan Aura berwarna ungu berapi-api.


“Entah kenapa, Aura Kohta selalu berubah. Sepertinya aku harus meminta Kakak untuk melatih Kohta soal Aura.” Ucap Rina, dia benar-benar peka terhadap Aura yang kacau.


Di sisi Kohta, dia melesat dengan cepat ke arah Babi Hutan. Sedangkan, Babi Hutan mengangkat kaki depannya ke atas.


Boooommmmm.


Gelombang kejut menyebar ke segala arah. Terlihat Kohta berdiri dengan senyum diwajahnya sementara Babi hutan terdorong mundur sedikit jauh dari tempat semula.


Kohta memandang ke arah Babi Hutan dengan sengit, begitu juga sebaliknya. Lalu, Kohta mulai menenangkan dan menstabilkan nafasnya kembali.


Kemudian Kohta mengembalikan kedua pedangnya pada sarung pedang masing-masing. Lalu, menarik nafas panjang, lalu mengeluarkan secara perlahan.


Babi Hutan meraung dengan marah, dengan cepat berdiri. Lalu, mulai bersiap-siap untuk menyerbu dengan cepat ke arah Kohta.


Sementara itu, Kohta merasakan perasaan baru. Dia bisa merasakan setiap gerakan bunga di berbagai tempat, lalu pedang Bunga bersinar dengan terang.


Babi Hutan dengan cepat melesat ke arah Kohta, tanduk yang dia miliki sejajar dengan Kohta, lalu tanduk tersebut berubah warna menjadi merah.


Kohta tetap tenang, karena semua yang dia lihat sekarang lambat, seluruhnya hitam putih kecuali bunga yang berada di sekelilingnya.


Kohta membuka matanya dan melihat Babi Hutan melesat ke arahnya dengan cepat, namun dalam pandangannya itu lambat. Dia pun berkata dengan pelan.


“Seni Bunga : Tebasan Bunga bermekaran.” Ucap Kohta pelan, seketika seluruh Bunga yang berada di tempat tersebut bertebaran di mana-mana.


Babi Hutan sudah tepat di depannya, Kohta secara tiba-tiba berada di belakang Babi Hutan tersebut. Kemudian, Kohta menyarungkan pedangnya sepenuhnya.


Klik.

__ADS_1


Jresssss.


Babi Hutan tersebut tertebas tepat di tengah, tanduk yang dia miliki pecah semuanya. Lalu, mata milik Babi Hutan tersebut sepenuhnya menjadi Putih.


Brukkk.


Babi Hutan terjatuh dan mati di tempat, Kohta terduduk dan bernafas dengan berat. Rina dengan cepat menuju ke arah Kohta.


“Hah Hah Hah, sungguh berat.” Ucap Kohta, lalu melepaskan Haramaki hitamnya. Rina pun sampai di dekat Kohta dan berkata dengan khawatir.


“Apakah kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan luka di tubuhmu tadi?.” Ucap Rina, dengan cepat bertanya dan memeriksa tubuh Kohta.


“Huffff Hahhh, aku tidak apa-apa, Sayang. Luka tadi sudah tertutup.” Ucap Kohta sambil tersenyum, dia akhirnya bertarung tanpa pingsan.


“Syukurlah, tapi kamu hebat. Akhirnya kamu tidak pingsan seperti biasanya.” Ucap Rina, duduk di dekat Kohta.


“Ya, ini adalah prestasi baru. Serta, sisanya kuserahkan kepadamu.” Ucap Kohta, sedangkan Rina mengangguk. Lalu, dia berdiri dan berjalan ke arah Babi Hutan.


Kemudian, memasukkan Babi Hutan ke Cincin yang diberikan Guild. Lalu, kristal di kartu mereka berubah menjadi merah.


Setelah itu, Rina menatap ke arah Kohta. Kemudian, Rina berkata dengan senang.


“Selesai, ayo kita pulang.” Ucap Rina, sementara Kohta mengangguk. Lalu, berdiri dan berjalan menghampiri Rina.


“Baiklah, ayo.” Ucap Kohta, lalu keduanya keluar dari hutan tersebut. Saat mereka melewati domba bertanduk, mereka menyimpan domba tersebut.


Setelah itu, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ke kerajaan kembali dengan tenang dan damai.


Namun, di tengah perjalanan mereka. Muncul sebuah serangan lemparan pisau ke arah mereka. Kohta menangkis seluruh pisau tersebut.


Ding Ding Ding Ding.


“Keluarlah, aku sudah tahu kalian mengikuti kami daritadi.” Ucap Kohta, dengan ekspresi marahnya. Sementara Rina, dia juga marah.


Lalu, muncul 5 orang dengan jubah berwarna hitam. Lalu, salah satu dari mereka berkata dengan nada sombong.


“Oh, menarik kau mengetahui kami. Kalau begitu, matilah dan serahkan Rina kepada kami.” Ucap orang tersebut.


Kohta mendengar itu, apakah hanya diam saja?. Jawabannya adalah Tidak. Dia menatap marah ke arah ke 5 orang tersebut, lalu mengayunkan pedangnya dengan cepat.


“Matilah, kalian.”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2