
[Chapter 41.]
[Konspirasi.]
[Silahkan Dibaca.]
Pengadilan kerajaan.
Terlihat beberapa orang petinggi duduk dan menatap ke arah Kohta yang sedang berdiri di tengah.
Mereka semua menyeringai melihat hal tersebut. Tanpa mereka sadari, hari ini adalah hari akhir mereka semua.
“Kohta, kau terdakwa karena berkolusi dengan Iblis dan Monster,” ucap Hakim memandang ke arah Kohta dengan serius.
Lalu, salah satu bangsawan yang memiliki tubuh gemuk berkata dengan nada mengejek ke arah Kohta.
“Dia pantas di hukum mati, keberadaannya membuat kerajaan Yunan terancam,” ucap orang gemuk tersebut.
Rina yang mendengar hal tersebut, menatap tajam ke arah Bangsawan gemuk tersebut.
Rina dan Tessa juga mendapati bahwa seluruh Bangsawan di tempat Pengadilan, bekerja sama untuk menumbangkan Raja sekarang.
Langkah yang pertama adalah menghilangkan Kohta, karena menurut mereka Kohta adalah orang yang berbahaya.
Sementara itu, Kohta menunduk dan menutup matanya. Dia tidak peduli dan malas menatap ke arah Hakim.
‘Hahaha, Nak. Bagaimana tanggapanmu?’ ucap Oda dalam diri Kohta. Sedangkan Kohta tersenyum dan menjawab dengan ringan.
‘Bukankah, kau sudah tahu, Pak Tua,' ucap Kohta kepada Oda yang berada dalam dirinya.
‘Kau benar-benar menarik, Nak,' ucap Oda, dia akan melihat kejadian selanjutnya dari pengadilan tersebut.
“Kohta, kau sangat lancang terhadap Hakim yang sudah berbicara kepadamu,” teriak seorang Bangsawan dengan ekspresi marah.
Semuanya menatap ke arah Kohta dengan jijik dan mengejek, namun ucapan mereka dibangkum oleh Kohta.
“Oh, kau ingin jawabanku, lalu aku bertanya. Apakah kalian melakukan ini, atas perintah Raja atau Ratu?” ucap Kohta.
“Keduanya sedang terluka, jadi kami mengambil alih untuk menghukummu,” teriak bangsawan lain dengan nada tinggi.
Rina dan Tessa ingin angkat bicara, namun mereka diam membeku saat merasakan sesuatu dalam diri Kohta.
Begitu juga para Bangsawan dan ketiga Hakim. Salah satu Bangsawan segera memerintahkan pasukan.
“Segera aktifkan sihir itu, kepung dia beserta kedua orang itu,” teriak Bangsawan tersebut, sambil menunjuk ke arah Rina dan Tessa.
“Kau tahu, Pedangku sungguh haus akan darah,” ucap Kohta, dia memasukkan borgol ke dalam penyimpanan.
Melihat Borgol menghilang, para Bangsawan terkejut, kemudian Kohta mengeluarkan sebuah pedang yang memancarkan haus darah yang hebat.
“Kalian semua adalah orang yang tidak pantas hidup,” ucap Kohta, kemudian dia menghilang dari tempat.
Slashhhh.
“1 dari 30 Bangsawan, tumbang,” ucap Kohta, semuanya melebarkan matanya saat melihat hal tersebut.
Wushhh.
Slashhhh.
__ADS_1
“2,” ucap Kohta, lalu menghilang kembali. Para Bangsawan terkejut dengan hal tersebut, mereka bersiap-siap.
Slashh.
“3,” ucap Kohta, dia mulai menghilang dan menebas leher mereka. Kepala mereka lepas dari tubuh.
Bruk Bruk Bruk Bruk.
“Beraninya ka-“ ucap Bangsawan lain, namun belum selesai berkata, dia sudah mati di tempat.
Beberapa menit kemudian.
Kohta sudah selesai membantai Para Bangsawan, dia menyisakan 2 orang yang sudah terluka parah.
Kohta menyisakan seorang yang berhubungan dengan Gereja dan seorang laki-laki yang terduduk dengan lemah.
“Katakan, siapa yang berada di balik ini, semua?” ucap Kohta, mengarahkan pedangnya ke leher orang tersebut.
“Apa yang kau maksud?” ucap orang yang terluka parah, Kohta menyipitkan matanya dan mulai menyusuk jantung orang tersebut.
Jlebbbb.
“Kalau tidak berguna, mati saja,” ucap Kohta, kemudian dia bangun dan menatap ke arah orang berjubah seperti pendeta gereja.
“Jangan mendekat, kau iblis,” ucap pendeta tersebut, Kohta menatap ke arahnya dengan seringai yang hebat.
Kohta mendekat dengan santai dan tiba tepat di depan pendeta tersebut, Kohta kemudian bertanya.
“Kau yang meracuni tubuh Grisela kan, atau bisa di bilang, kau meracuni seorang Ratu,” ucap Kohta.
“Kau memfitnah ku,” raung Pendeta tersebut, namun sebuah pedang menebas tangan kiri pendeta tersebut.
Slashhh.
“Kau Ib-“ ucap Pendeta, namun terhenti saat merasakan rasa sakit di tangan kanannya. Dia menatap ke arah tangan kanan.
Slashhh.
Plukkk.
“Ahhhhh,” teriak Pendeta tersebut, dia benar-benar tersiksa oleh Kohta, lalu dia berkata dengan jujur tanpa sadar.
“Ya, ya. Aku yang meracuni J*lang itu, melihat dia yang perlahan melemah, aku mengambil kesempatan untuk meracu-“ ucap Pendeta terhenti.
Jlebbbb.
“Agh,” ucap Pendeta terkejut, melihat sebuah pedang menusuk dari belakang lehernya dan tembus sampai di depan.
“Baj*ngan sepertimu, pantas untuk mati di tempat,” ucap Rina, dia benar-benar marah mendengar ucapan Pendeta tersebut.
Brukk.
Seluruh bangsawan yang berada di Pengadilan tidak ada yang selamat, para pasukan kerajaan melihat hal tersebut, mereka diam.
“Kalian menyingkir, segera siapkan kereta kuda menuju ke istana,” teriak Kohta, membuat mereka takut.
“Baik,” teriak mereka, dengan cepat menyiapkan kuda dan kereta untuk menuju ke istana.
Namun, mereka tidak mengetahui bahwa. Kohta hanya mengalihkan perhatian.
__ADS_1
Wush Wush Wush.
Tap tap tap.
Terlihat Kohta, Rina, dan Tessa melesat dengan cepat ke arah Istana. Mereka melesat dengan melewati atap-atap rumah.
Tak butuh waktu lama, ketiganya tiba di istana. Mereka tiba di dekat gerbang dan melihat ke istana.
“Sean dan Elli, sepertinya di kurung. Aku akan pergi membebaskan mereka,” ucap Rina, namun dihentikan Tessa.
“Nyonya, mereka berdua serahkan padaku,” ucap Tessa, sementara Rina yang mau berangkat berhenti.
“Baiklah,” ucap Rina, kemudian Tessa menghilang dari tempat. Rina memandang Kohta yang terfokus di sebuah ruangan.
“Kita harus cepat,” ucap Kohta, sedangkan Rina merasakan firasat yang tidak enak dengan ucapan Kohta.
Keduanya dengan cepat melesat masuk ke dalam istana yang sepi tanpa ada seseorang pun.
Aula singgasana.
Terlihat 8 orang dengan pakaian jubah hitam, dan sebuah simbol dua tangan dan satu mata di jubah tersebut.
Mereka ber 8 sedang melakukan sebuah ritual. Dimana Grisela sang ratu berada di tengah sebuah lingkaran sihir berwarna merah.
Ke 8 orang tersebut terus merapalkan mantra, membuat Grisela yang di tanah merasakan rasa sakit.
Kemudian, saat lingkaran sihir mulai bercahaya, Kohta dan Rina tiba di tempat tersebut.
“Kakak / Ratu,” teriak keduanya, sementara ke8 orang yang selesai merapalkan mantra sihir berbalik menatap ke arah keduanya.
“Kalian terlambat, hahahaha,” teriak salah satu dari delapan orang berjubah hitam tersebut.
Kohta dan Rina entah kenapa merasa marah, dia melihat semacam simbol dan huruf membungkus tubuh Grisela.
Perlahan Grisela terangkat dan terbang dalam tidurnya, Kohta dan Rina sedikit khawatir dengan hal tersebut.
[Tuan, biarkan terlebih dahulu Grisela, lebih baik bunuh ke 8 orang tersebut.]
Kohta mengangguk paham, dia dengan cepat melesat maju ke arah 8 orang yang memakai jubah hitam tersebut.
Rina menatap ke arah Kohta yang melesat ke arah 8 orang tersebut, dia juga ikut melesat maju.
“Maaf, tapi kami akan pergi,” ucap salah satu dari ke 8 orang tersebut, kemudian muncul sihir teleportasi di depan mereka masing-masing.
Sringggg.
Brukkk.
Grisela terjatuh ke tanah, Rina dengan cepat menuju ke arah Grisela yang terbaring di tanah.
Kohta yang melihat bahwa musuhnya sudah kabur menjadi kesal, dia dengan cepat menuju ke arah Grisela.
“Aku harus menyelamatkan nyawanya,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thanks you Minna-san.