Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 89


__ADS_3

[Chapter 89.]


[Mulai berpetualang.]


[Silahkan Dibaca.]


Dunia jiwa Kohta.


“Nama saya adalah Kirana, Tuan,” Kepala pelayan tersebut memperkenalkan dirinya. Kohta mengangguk sambil tersenyum, kemudian mereka semua masuk ke dalam kediaman.


***


Para pelayan mulai menyiapkan makanan di Meja, mereka menghidangkan tepat di meja makan. Kohta dan para istrinya duduk di kursi dekat meja makan. Kelima orang tersebut memandang ke arah makanan di meja, lalu Kirana berkata.


“Silahkan dinikmati, Tuan dan Nyonya,” Kirana berkata dengan senyum miliknya. Kohta sendiri menatap ke arah kursi yang masih ada di meja tersebut. Dia juga melihat para pelayan berdiri di dekat tembok.


Kohta mengerutkan keningnya, keempat istrinya mengetahui hal tersebut. Kirana yang melihat Kohta dan istrinya tidak mengambil makanan sama sekali, dia panik. Lalu, Kirana dengan gugup bertanya.


“Apakah makanan yang disediakan tidak sesuai dengan anda, Tuan, Nyonya?” Kirana benar-benar merasa khawatir akan hal tersebut. Kohta menatap ke arah Kirana, kemudian para pelayannya yang gemetar. Kohta kemudian bertanya dengan nada bingung.


“Kenapa kalian tidak duduk di kursi yang masih ada?” tanya Kohta, dia benar-benar tidak suka melihat hal tersebut. Kirana dan para pelayan tertegun dengan hal tersebut. Mereka linglung dan segera sadar, Kirana dengan cepat menjawab.


“Itu...kami adalah pelayan, Tuan. Jadi, tidak sep-“ Kirana belum menyelesaikan jawabannya. Kohta sudah memotongnya dengan tegas. Dia paling tidak suka dengan perbedaan antara tinggi maupun rendah.


“Siapa yang bilang begitu, kalian duduklah. Ini tempatku, bukan tempat orang lain. Kalian juga keluargaku, aku tidak ingin ada perbedaan seperti itu, di kediamanku.”


Kirana dan para pelayan tertegun, para istri Kohta tersenyum. Kirana dan pelayan lainnya tidak menyangka bahwa Tuan mereka akan berbeda dengan yang lainnya. Kemudian, Tessa berkata dengan lembut.


“Benar, apa yang dikatakan, Tuan kalian. Tidak ada perbedaan disini, yang ada hanya keluarga disini.”


Mereka menunduk dan mengangguk dengan patuh, lalu mereka mengambil tempat duduk di satu meja dengan Kohta dan para istrinya. Kirana dan para pelayan sedikit senang dengan Tuan dan Nyonya seperti Kohta dan istrinya. Dalam hati mereka.


‘Tuan dan Nyonya berbeda dari lainnya.’


Kohta menatap ke arah istrinya dan para pelayannya. Dia tidak bisa tidak tersenyum melihat hal tersebut. Lalu, Kohta berkata dengan senang.


“Baiklah mari kita makan.”


***

__ADS_1


Selepas mereka selesai makan. Ryuto dan istrinya berjalan-jalan melihat isi dari rumah di Dunia jiwa tersebut. Mereka berjalan dengan santai dan menikmati pemandangan luar.


“Ini adalah tempat yang cocok, kami benar-benar merasa nyaman dan damai disini, Sayang,” Rina berkata dengan nada senang. Tessa, Kansha, dan Riana mengangguk. Mereka juga merasakan hal yang sama dengan Rina.


“Yah, kita perlu berterimakasih kepada Ibu,” ucap Kohta. Keempat istrinya mengangguk mengerti. Bagaimanapun tanpa Ibu Kohta, mereka tidak akan mendapatkan tempat seperti ini.


***


Ryuto dan para istrinya tiba di sebuah pohon Sakura besar dekat dengan danau. Mereka ber-5 duduk disana, memandang ke arah danau. Kelimanya menikmati pemandangan tersebut.


Di saat mereka menikmati keindahan danau, tanpa sadar ke-5 nya tertidur di bawah pohon Sakura tersebut. Mereka tidur dengan damai dan senang, itu adalah tidur yang sangat nyaman bagi mereka. Kirana memandang ke-5 orang tersebut dengan senang.


“Tuan besar, Nyonya besar, Putra anda benar-benar sesuai dengan apa yang kalian ucapkan.”


***


Hari-hari mereka di Dunia Jiwa seperti biasa, makan, berlatih, bersantai, dan tidur. Riana sekarang juga sudah hamil seperti ketiga saudari yang lain. Dengan begitu, waktunya Kohta berangkat.


“Aku akan berpetualang kembali, jika ada sesuatu bilang saja dengan telepati,” keempat istrinya mengangguk. Mereka paham akan hal tersebut, juga mereka bisa melihat petualangan Suaminya. Keempatnya tidak merasa seperti ditinggalkan, melainkan mereka merasa seperti satu dengan Kohta.


Semuanya siap, Kohta mendekat ke arah empat istrinya. Dia mencium mereka dengan mesra, keempat istrinya menyukai hal tersebut. Selepas berciuman, Kohta berkata.


“Hati-hati, sayang.”


Kohta mengangguk dan mulai menghilang dari Dunia jiwa. Para istrinya berbalik dan masuk ke dalam rumah. Mereka juga didampingi para pelayan, agar membuat mereka lebih aman.


***


Desa dekat Frozen Mountain.


Kohta seketika muncul di tempat, dia menatap ke kanan dan kiri. Dia menemukan bahwa tidak ada siapapun sama sekali, Kohta menghela nafas lega. Kemudian dia menatap ke arah sebuah gunung yang berwarna putih tersebut.


“Apakah itu, Frozen Mountain?” Kohta bertanya pada dirinya sendiri. Dia tersenyum dan mulai berjalan ke arah pegunungan putih tersebut.


Kohta berjalan dengan pelan, karena salju yang menumpuk di bawah kakinya. Dia juga ingin menikmati suasana salju, di Dunia berbeda. Kohta kemudian tiba di sebuah tanda yang terdapat nama.


{Frozen Mountain : Avrest.}


“Apakah Frozen Mountain adalah jenis, bukan nama?” Kohta benar-benar terkejut melihat tanda tersebut. Dia tidak menyangka bahwa ada gunung yang sama dengan yang ada di depannya tersebut.

__ADS_1


‘Hal-hal pegunungan seperti di depanmu, Itu masih hal kecil, Kohta.’


Sebuah suara muncul dalam diri Kohta. Suara tersebut tidak asing bagi Kohta, karena suara tersebut ialah suara yang dia nantikan. Suara tersebut adalah suara Oda yang berada di dalam Kohta.


“Kau sudah bangun, Pak Tua?” tanya Kohta sambil tersenyum senang. Oda yang berada di dalam tubuh Kohta juga tersenyum. Lalu, dia berkata dengan nada ringan.


“Yah, aku tidak menyangka, kau mendapatkan hadiah yang menarik,” Oda berkata dengan sedikit terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Kohta mendapatkan Dunia Jiwa tersebut. Dia mengerti bahwa Kohta ialah anak berkah Pencipta.


“Gunung itu, masih kecil dibandingkan Dunia kedua, nak,” ungkap Oda, apa yang dia ucapkan adalah kebenaran. Frozen Mountain di depannya yang terlihat seperti gunung Everest di Dunia Kohta sebelumnya, hanyalah gunung kecil.


Kohta mengangguk, dia juga merasakan bahwa Gunung Everest di Dunia sebelumnya hanya Gunung kecil. Namun, Gunung tersebut benar-benar sulit ditaklukan oleh manusia disana. Kohta masih ingat berita tentang Everest yang menewaskan banyak orang.


Kembali ke sekarang, Kohta tiba di pintu masuk menuju ke gunung Avrest tersebut. Dia melihat sebuah gerbang tanpa pintu, dengan warna putih dan sebuah plakat bertulisan.


{Avrest Mountain}


Di balik gerbang tersebut, terlihat jalan menuju ke atas, jalan yang terlihat penuh dengan salju. Jalan yang terdapat badai salju yang menerpa. Jalan dengan sedikit penerangan.


Kohta melihat ke depan dengan penuh semangat. Dia akhirnya tiba untuk menjelajahi Gunung tersebut. Kohta benar-benar senang melihat Gunung Avrest tersebut.


Oda melihat Kohta senang, dia tersenyum. Lalu dia juga melihat ke arah gunung Avrest tersebut. Oda merasakan hal yang lain, yang membuat sudut mulutnya semakin naik.


“Aku tidak menyangka, Gunung ini akan menarik.”


***


Wushhhhhhhhh.


Dalam gunung Avrest, terdapat sebuah Gua dengan dua pilar yang memiliki Simbol es. Di dalam Gua tersebut terdapat sosok besar yang sedang tidur. Namun, sosok tersebut perlahan membuka matanya. Dia merasakan fluktasi yang familiar, sosok tersebut kemudian berkata.


“Akhirnya dia datang.”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2