Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 48


__ADS_3

[Chapter 48.]


[Duel.]


[Silahkan Dibaca.]


Padang rumput.


Kohta dan Greg saling memandang, kemudian keduanya mulai melesat maju bersama dengan cepat.


Wush Wush.


Dingggg.


Kedua pedang saling berbenturan. Kemudian, mereka saling dorong. Kohta merasakan kekuatan yang kuat.


Bughhh.


Kohta terbang ke belakang, dia kalah dalam dorong pedang. Kohta segera melakukan backflip untuk pendaratan.


Namun, saat mendarat. Dia merasakan sebuah bahaya di sebelah kanannya. Secara tidak sadar, Kohta menaruh pedangnya di sisi kanan.


Trinngggg.


“Oh, reflek yang bagus. Namun, kau masih lemah,” Greg berkata, kemudian menyerang Kohta kembali.


Kohta segera menangkis serangan tersebut, kedua pedang terus saling bertemu.


Ding Ding Ding Ding Ding.


Namun, terlihat Kohta selalu mundur saat saling berbenturan, kekuatan keduanya tidak imbang.


Dingggg.


Buggghhh.


Kohta diterbangkan kembali ke belakang, dia benar-benar kalah dalam kekuatan. Kemudian, dia melakukan pendaratan kembali.


Srrrrttttt.


Kohta memandang ke depan, terlihat Greg memposisikan pedangnya mengarah ke arah Kohta.


“Thousand Thunder,” ucap Greg, kemudian mengayunkan pedangnya ke arah Kohta dengan kuat.


“Sial,” ucap Kohta, kemudian segera mengeluarkan teknik miliknya.


“Langkah Mawar,” ucap Kohta, kemudian Kohta menghilang dari tempat, lalu muncul tak jauh dari Greg.


“Bilah Bunga,” ucap Kohta, lalu berbagai kelopak mawar beterbangan dan pergi menuju ke Greg dengan cepat.


Greg melihat hal tersebut, dia tersenyum dan mengayunkan pedangnya terus menerus ke depan.


Ting Ting Ting Ting Ting.


Greg menangkis seluruh kelopak tersebut dengan pedangnya, dia menangkis sangat cepat.


Kohta terkejut dengan hal tersebut, kemudian dia merasakan sesuatu mengarah ke dirinya dari belakang.


“12 Langkah,” Kohta menggunakan tekniknya dan menghilang dari tempat. Lalu, terlihat sebuah petir menyerang tepat di tempat Kohta berdiri sebelumnya.


Booommmm.


Wushhh.


Greg juga menghilang, Kohta terkejut melihat Greg sudah di depannya sambil mengayunkan pedangnya.


Ding Ding Ding Ding Ding.


Rina dan Tessa hanya melihat percikan pertempuran pedang antar pedang, mereka tidak bisa mengikuti kecepatan keduanya.


“Apakah Paman itu, menyamai kecepatan Kohta?” Tessa bertanya dengan khawatir. Rina mengangguk.

__ADS_1


“Itu benar,” kata Rina dengan penuh khawatir juga. Keduanya benar-benar khawatir dengan Kohta.


Kembali ke duel.


Dringggg.


Keduanya saling mundur setelah berbenturan pedang dengan keras tersebut.


Terlihat Kohta sedikit terengah-engah, keringat membasahi tubuhnya, sementara Greg masih bernafas normal.


Keduanya saling memandang dengan tajam, Kohta menstabilkan nafas miliknya, sementara Greg menunggu hal tersebut.


“Hmmm Huuffff,” Kohta menstabilkan nafas, kemudian dirinya menjadi sangat tenang dari biasanya.


Kohta memegang pedang bunga miliknya tersebut, kemudian dia mengalirkan Ken ke pedangnya.


Greg yang melihat itu tersenyum, dia mengalirkan Kin ke pedangnya. Membuat pedang miliknya menjadi bercahaya biru.


Kohta melesat terlebih dahulu ke arah Greg, sementara Greg melakukan posisi bertahan.


Booommmm.


Kedua pedang saling berbenturan, mengakibatkan gelombang kejut menyebar ke segala arah.


Keduanya menghilang kembali, dengan Kohta melapisi kakinya dengan Kin, sementara Greg masih sama, hanya dengan ikatan.


Boom Boom Boom Boom Boom.


Setiap percikan-percikan pedang, selalu menimbulkan gelombang kejut dan kawah di tempat tersebut.


Rina dan Tessa segera menggunakan pelindung transparan, mereka menyatukan pelindung mereka, agar lebih kuat.


Kohta dan Greg terus saling menebas menahan satu sama lain. Mereka berdua tersenyum dan menikmati duel mereka.


Boooommmm.


Keduanya muncul di tengah, pedang mereka saling berbenturan. Kemudian, Greg berkata dengan nada santai.


Kohta benar-benar terkejut dengan fakta tersebut, dia menatap ke arah Greg dengan tidak percaya.


‘1%, sebesar itu,' batin Kohta, kemudian dia menatap ke arah Greg dengan serius.


Greg melihat Kohta tambah serius, dia tersenyum dan mulai mengalirkan Kinnya kembali.


“Baiklah, akan kunaikkan menjadi 2%,” ucap Greg, kemudian aliran listrik yang menyelimuti tubuhnya menjadi lebih besar.


Bzzzzttttt.


Ctar Ctar Ctar.


Tanah di bawah Greg hancur, rumput yang semula hijau, menghilang tanpa sisa apapun.


Kohta yang melihat hal tersebut, mulai mengeluarkan pedang serigala miliknya. Dia memegang dua pedang sekarang.


“Ronde 3 mulai,” ucap Greg, kemudian Kohta dengan cepat mengalirkan Kin dalam jumlah besar ke seluruh tubuhnya dan pedangnya.


Wush Wush.


Boooommmmmm.


Gelombang kejut menyebar dengan sangat besar, kawah yang dihasilkan oleh benturan ketiga pedang tersebut, menjadi lebih besar.


Boom Boom Boom Boom Boom.


Setiap jejak, rumput menghilang. Kawah berada dimana-mana, duel yang terjadi menjadi lebih intens.


“Bukankah kita harusnya menghentikan ini,” Tessa berkata dengan khawatir, melihat betapa intensnya duel Kohta dan Greg.


“Tapi, kita tidak bisa masuk ke sana,” Rina berkata sambil menunjuk ke arah langit yang gelap.


Tessa mengikuti arah tangan Rina menunjuk, dia mendapati seluruh Awan gelap yang berkumpul di atas duel tersebut.

__ADS_1


“Bukankah cuacanya cerah malam ini?” tanya Tessa dengan wajah yang terkejut, Rina pun berkata.


“Duel mereka mengakibatkan awan gelap berkumpul,” ucap Rina, membuat Tessa paham.


Mereka berdua kembali fokus ke duel, walaupun hanya bisa melihat percikan benturan pedang antar pedang saja.


Di sisi pertempuran.


Boommm.


“Thunder Slash,” Greg menggunakan teknik miliknya, dia memunculkan berbagai proyektil tebasan petir ke arah Kohta.


“Seni Bunga - Bilah Bunga,” Kohta menggunakan tekniknya, kemudian berbagai mawar muncul di bawahnya.


Kelopak bunga mawar menjadi lebih banyak, dari kelopak bunga awalnya. Kemudian, Kelopak melesat ke arah Greg dengan cepat.


Boom Boom Boom Boom Boom.


Kelopak berbenturan dengan proyektil tebasan tersebut, ledakan terjadi di mana-mana.


Setelah ledakan berakhir, Kohta dan Greg melesat maju ke depan, Kohta dengan cepat menggunakan tekniknya.


“Seni Bunga - Tebasan Mawar,” Kohta memusatkan Kin dan Ken di kedua pedangnya.


Kelopak Mawar melapisi kedua pedangnya dan membuat warna pedang berwarna merah seperti mawar.


“Thunder Runner,” Greg mengeluarkan teknik miliknya, dia memposisikan pedangnya lurus ke arah Kohta.


Petir terpusat di ujung pedang, kemudian kecepatan Greg dalam melesat menjadi lebih cepat.


Triiiiinnnnnngggggggg.


Keduanya muncul dan saling membelakangi satu sama lain, benturan keduanya tidak menghasilkan gelombang kejut tiba-tiba.


Namun, sesuatu yang mengerikan terjadi di langit, terlihat awan hitam terpotong-potong.


Ctar Ctar Ctar Ctar Ctar.


Petir di awan gelap tersebut terus menyambar ke bawah. Hujan deras turun dan membasahi kedua petarung tersebut.


Krakkk pyarrr.


Kedua pedang yang digunakan oleh Kohta pecah tidak tersisa, kemudian dia terduduk dengan satu kaki menopang dirinya.


Sementara Greg, berdiri tegak dan memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedang.


Hujan pun berhenti, awan hitam menghilang seketika. Greg pun berbalik dan tersenyum sambil berkata.


“Kau hebat, Nak. Menahan seranganku tersebut,” Greg berkata dengan tulus, dia benar-benar memuji Kohta.


Bruuukkkk.


“Hah Hah Hah, jantungku benar-benar seakan meledak,” ucap Kohta, berbaring di padang rumput tersebut.


“Kohtaa,” kedua istrinya berteriak dan menghampiri Kohta yang terbaring di padang rumput.


Kohta menatap ke arah kedua istrinya yang berlari ke arahnya dengan cepat, dia hanya tersenyum.


Boom Boom Boom Boom Boom.


Namun, sebelum mereka mendekat sebuah tulang muncul di tanah dan mengelilingi Kohta yang berbaring.


Kemudian, terdengar suara orang berkata sambil tertawa dengan gila.


“Hahaha, akhirnya kalian selesai, waktunya kami beraksi,”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thanks you Minna-san.


__ADS_2