
[Chapter 49.]
[Bandit Tulang.]
[Silahkan Dibaca.]
Padang rumput.
Kohta, Rina, Tessa, dan Greg mendengar suara dari sebuah kegelapan malam di hutan. Mereka menyipitkan matanya.
Rina dan Tessa khawatir dengan Kohta, mereka melihat Kohta terbaring dikeliling oleh tulang yang membentuk sebuah sangkar.
Tap tap tap.
Berbagai langkah kaki terdengar. Kemudian, mereka melihat ada beberapa orang yang terlihat garang.
“Bandit Tulang,” ucap Greg, dia menatap ke arah para Bandit tersebut. Lalu, terfokus ke arah orang yang memiliki postur tubuh kurus.
Namun, Greg tahu bahwa orang kurus tersebut, menyimpan otot yang terbentuk di tubuhnya, kekuatan yang dimiliki bukan main.
Tapi, Greg hanya menggelengkan kepalanya, kekuatan memang tidak main, jika melawan orang biasa, namun yang mereka hadapi adalah dirinya.
“Lepaskan, Kohta,” Rina berkata dengan dingin, sementara pemimpin Bandit dan beberapa bandit terkekeh.
“Hehehe, apa lepaskan? Telanjang lah, aku akan melepaskannya,” ucap pemimpin Bandit tersebut.
Rina dan Tessa yang mendengar hal tersebut, wajahnya menghitam. Mereka benar-benar merasa marah.
Aura milik keduanya keluar menyerbu ke arah para bandit dan pemimpinnya tersebut.
Pemimpin dan para Bandit tersentak dan mengeluarkan keringat dingin, namun Pemimpin bandit dengan berani berteriak.
“Jika kalian bergerak, orang yang berbaring itu akan kubunuh dengan tulangku,” teriak Pemimpin bandit tersebut.
Rina dan Tessa dalam sekejap menghilangkan aura tersebut, mereka mulai merasa jelek mendengar hal tersebut.
Greg disisi lain, menatap hal tersebut dan bergumam pelan, “Mereka memanfaatkan situasi dan menggunakan bocah itu sebagai Sandera.”
Sementara itu, Kohta yang mendengar hal tersebut, wajahnya menjadi gelap. Dia benar-benar merasa marah.
‘Bocah, sepertinya mereka benar-benar meremehkanmu,' ucap Oda dalam tubuh Kohta tersebut.
‘Pak tua, apakah kau ada cara agar kekuatanku cepat pulih,' ucap Kohta, membuat Oda menatapnya dengan aneh.
‘Bukankah kau memiliki Artefak, kenapa kau menjadi bodoh?’ ucap Oda, membuat Kohta benar-benar merasa bodoh.
‘Kau benar, kenapa aku bisa bodoh, ada Clara yang bisa membantuku,' ucap Kohta, dia benar-benar menghina dirinya sendiri.
[Clara benar-benar dilupakan.]
‘Ahhh, maaf Clara. Aku benar-benar tidak ingin menggunakanmu, jika hanya keadaan normal,'
[....]
‘Huff, baiklah. Clara apakah ada cara menyembuhkan diriku dengan cepat,'
[Pil Penyembuh tingkat menengah.]
__ADS_1
‘Beli 5,'
[Selesai.]
[Sisa Poin : 50.000.]
‘Gunakan 1 pil kepadaku segera, Clara,'
[Baik, Tuan.]
Di sisi lain.
Rina dan Tessa benar-benar tidak punya pilihan lain, namun mereka tidak melakukan apapun.
“Ayo cepat buka pakaian kalian, hahahaha,” ucap Pemimpin Bandit tertawa gila, sementara para Bandit memandang Rina dan Tessa dengan tatapan mesum.
Rina mengepalkan tangannya, dirinya menahan amarahnya, Tessa juga sama halnya dengan Rina, dia juga marah.
“Apa yang kalian tunggu, apa perlu aku bunuh dia dulu,” teriak pemimpin bandit tersebut, sambil menaikkan tangannya.
“Berhenti, akan kulakukan,” teriak Rina, kemudian dengan berat hati. Tangannya menuju ke arah bajunya.
Saat fokus mereka menatap Rina, mereka tidak menyadari Tessa memfokuskan sesuatu di tanah.
Kemudian, Tessa tersenyum membuat Rina terkikik melihat hal tersebut, sedangkan para bandit dan pemimpinnya heran dan marah.
“Kenapa kalian tertawa dan tersenyum,” teriak pemimpin bandit tersebut dengan marah, dia tidak ingin seseorang tertawa di hadapannya.
Boom Boom Boom Boom.
Pemimpin bandit mendengar suara tersebut, dia segera menatap ke belakang. Dia terkejut melihat pasukannya tenggelam ke bawah.
Pemimpin bandit yang mendengar itu, marah. Namun, dengan cepat dia tertawa dengan keras.
“Hahahaha, kau kira aku peduli, bunuh saja. Tapi, aku akan membunuh orang itu,” pemimpin bandit tertawa gila.
Rina dan Tessa yang sebelumnya sudah merasa senang, berubah menjadi jelek dan marah.
Greg hanya menatap datar, kemudian dia menatap ke arah Kohta, lalu menyeringai dengan tajam.
“Hoho, tenaganya sudah pulih,” Greg berkata saat Kohta berbaring dengan santai. Namun, Auranya terlihat masih keluar banyak.
Di sisi Kohta.
Kohta merasakan energi menyebar dengan cepat ke segala tubuhnya, dia mengalami hal tersebut sejak Rina dan Tessa mulai merencanakan serangan.
[Penyerapan selesai.]
Kohta pun memejamkan matanya dan menghirup nafas dengan cepat, lalu fikiran dan hatinya menjadi lebih tenang.
Slashhhh.
Boooommmmm.
Rina, Tessa, dan Pemimpin Bandit menatap ke arah ledakan tersebut. Mereka melihat bahwa asal ledakan berasal dari tempat Kohta.
“Kohta,” teriak Rina dan Tessa, keduanya khawatir akan terjadi apa-apa kepada Kohta.
__ADS_1
“Hanya sebuah tulang rapuh, sudah berani melawanku,” ucap suara tersebut, kemudian debu yang menghalangi penglihatan mereka menghilang.
Wushhhh.
Angin berlalu dengan kencang, kemudian terlihat sosok orang duduk lotus.
Pakaian yang sosok tersebut pakai berkibar, pedang berdiri dengan tangan memegangnya, mata sosok tersebut bersinar.
Sosok tersebut ialah Kohta, dia memakai Kimono hitam dan putih, dengan sebuah pedang berwarna hitam, pedang tersebut tak lain ialah pedang Iblis.
“Bagaimana bisa?” pemimpin bandit berkata sambil menatap tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Rina dan Tessa senang melihat hal tersebut, mereka ingin menghampiri. Namun, mereka urungkan niat tersebut.
“Sebaiknya kita hajar orang itu,” Rina berkata dengan tangan mengeluarkan pedang berwarna biru miliknya.
“Kau benar,” ucap Tessa dengan nada dinginnya, kemudian mengulurkan tangannya dan tangannya berubah menjadi keras.
Pemimpin bandit melihat hal tersebut, dengan cepat dia menatap ke arah Rina dan Tessa dan mengulurkan tangan kedepan.
“Ba*ingan, terima ini,” raung Pemimpin bandit, kemudian tanah bergetar dan memunculkan tulang dari tanah.
Tulang tersebut membentuk sosok monster yang aneh, Greg melihat hal tersebut dia menyipitkan matanya.
“Mammoth Skeleton,” gumam Greg, dia tahu jenis makhluk tersebut, namun dia tidak ikut campur, karena dia ingin melihat cara Rina, Tessa, dan Kohta mengatasi.
“Hahahaha, kalian akan mati dengan karyaku ini,” tawa pemimpin bandit tersebut, sementara Rina dan Tessa menatap dengan dingin.
“Hanya tulang saja, apa bagusnya,” ucap Rina, kemudian suhu di sekitar miliknya turun saat Rina mencabut pedangnya.
Greg melihat terkejut, namun dia menemukan bahwa itu bukan seperti miliknya, yang berarti bahwa Rina memakai hal lain.
“Kekuatan itu hampir mirip dengan ikatan pedang, namun kekuatan itu terlalu liar,” gumam Greg.
Di sisi Kohta
“Sepertinya aku tidak perlu ikut campur dengan pertarungan mereka,” ucap Kohta, dia tersenyum tak berdaya melihat kedua istrinya marah.
Di sisi pertempuran.
Rina dan Tessa menatap ke arah Mammoth tulang dengan tatapan dingin dan marah. Aura kedua perempuan tersebut keluar.
Wushhhhhh.
Pemimpin bandit tersentak ngeri melihat Aura Rina dan Tessa kembali. Dia benar-benar ketakutan sekarang.
“Mammoth, bunuh mereka berdua,” teriak takut pemimpin bandit tersebut. Mammoth pun menatap ke arah Rina dan Tessa.
Sementara Rina dan Tessa, mulai menatap tajam dan senjata mereka mulai dilapisi mana, lalu keduanya berkata bersama.
“Mari kita mulai,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thanks you Minna-san.