Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 110


__ADS_3

[Chapter 110.]


[Persiapan.]


[Silahkan Dibaca.]


Akademia Xenoa, kepala sekolah dan Kohta saling menatap. Kepala sekolah benar-benar terkejut akan sesuatu yang akan dilakukan oleh Kohta. Dirinya tidak menyangka bahwa ada guru yang sebenarnya Iblis.


“Kau yakin?” Kepala sekolah memastikan kembali, dirinya sedikit ragu dengan keputusan dari Kohta. Sementara Kohta sendiri mengangguk dan berjalan menuju ke arah pintu ruang guru. Dirinya memegang gagang pintu dan tatapannya menjadi tajam.


“Anda lihat saja sendiri.” Kohta berkata sambil membuka pintu tersebut, seluruh guru yang berada di dalam ruangan menatap ke arah pintu. Mereka melihat Kohta menatap ke arah salah satu guru yang memiliki rambut emas panjang dan berantakan.


Tatapannya mengunci guru tersebut. Sementara itu, guru lain hening, tidak ada yang berbicara sama sekali. Mereka bingung dan heran dengan Kohta. Sampai akhirnya salah satu guru perempuan bertanya, “Kamu bukankah yang tadi? Juga kenapa kamu berada disini?”


Kohta tidak menjawab, dirinya berjalan menuju ke arah guru berambut emas tersebut. Dirinya dengan cepat mengayunkan pedangnya ke arah guru tersebut membuat seluruh guru terkejut. Guru berambut emas merespon tanpa sadar.


Sayap biru miliknya keluar, akan tetapi tebasan pedang tersebut melintas mengenai pipi guru tersebut. Darah biru keluar dari pipi, membuat seluruh guru lebih terkejut akan hal itu, dengan cepat mereka semua berdiri dan menatap serius. “Milan, kau ternyata Iblis.”


Guru yang berambut emas tersebut terkejut dengan serangan Kohta. Namun, identitasnya sekarang diketahui, guru emas yang bernama Milan tersebut mengangkat sudut mulutnya. “Heh, akhirnya aku ketahuan. Nak, kau benar-benar sumber masalah bagiku.”


Kohta tidak merespon, dirinya menghunus pedang ke samping tatapannya terhadap Iblis tersebut tajam, dia benar-benar memasuki mode pertempuran sekarang. Milan melihat hal itu tertawa dan berkata dengan marah, “Yahahaahaha, kau mengganggu seluruh rencanaku dengan Boru, Nak. Apakah kau tahu Konsekuensinya? Kau harus mati, Nak.”


Milan mengayunkan tangannya yang terlihat kuku miliknya memanjang. Kohta melihat itu mengerutkan keningnya, dia menstabilkan nafasnya sampai akhirnya dia melihat sekitar benar-benar lambat. Kohta dengan tenang menggunakan kemampuan pertamanya.


“Hideoki Art, Moon Slash.”


Slashhhhh.

__ADS_1


Milan terkejut ketika melihat Kohta tidak ada di depannya, dirinya lebih terkejut ketika merasakan rasa sakit berasal dari tubuhnya. Dia menatap ke arah tubuhnya dan melihat ada garis vertikal lurus seperti membelah dirinya.


Para guru syok, kepala sekolah masuk ke dalam dan melihat Milan tertebas tengah. Darah biru menyembur keluar dari tubuh Milan. Kohta yang berada di belakang Milan menatap ke arah Milan dengan dingin. “Kau meremehkan musuhmu, terima sendiri akibatnya karena telah meremehkan musuh.”


Brukkk.


Milan jatuh, tepat Kohta selesai berbicara. Ruangan itu hening, mereka benar-benar terkejut ketika melihat hal itu. Banyak dari mereka tahu kekuatan asli Milan, akan tetapi dikalahkan seorang pemuda yang hanya menggunakan pedang.


“Jadi, Milan kah Iblisnya?” kepala sekolah datang, pikiran para guru benar-benar terkejut sekarang. Mereka dibuat terkejut terus dengan kejadian hari ini. Kepala sekolah menatap ke arah Milan, beruntung dirinya belum menaikkan pangkat Milan.


“Kalian semua, aku ada tugas. Mulailah menyebar ke seluruh Ibukota, karena nanti malam Ibukota diserang oleh para Iblis.” Para guru terkejut, mereka dengan cepat menjadi serius sekarang. Seluruhnya menundukkan kepalanya.


“Baik, Kepala Sekolah.” Seluruh guru dengan cepat bergerak. Mereka benar-benar tidak menyangka akan ada keadaan darurat seperti ini. Kohta memasukkan pedangnya kembali, dirinya menatap ke arah kepala sekolah.


“Aku akan pergi ke ruang Rina, Tessa, Kansha, dan Riana berada. Aku perlu menyembunyikan mereka.” Kohta berjalan tanpa berbalik dirinya meninggalkan kepala sekolah yang juga menatap ke arah perginya Kohta.


“Pemuda yang benar-benar aktif.” Kepala sekolah tersenyum, kemudian dirinya menghilang dari ruang guru tersebut. Kohta sendiri sudah tahu akan kemampuan kepala sekolah. Maka dari itu dia tidak masalah kepala sekolah tertinggal di belakang.


“Hallo, sayang.” Kohta menyapa dengan lembut, kelima perempuan menatap ke arah Kohta. Mereka sudah merasakan ada orang yang datang ketika pintu dibuka. Di saat mengetahui bahwa itu adalah Kohta, mereka menatap ke arahnya dengan senyuman indah.


“Sayang, apakah ada sesuatu?” Rina pertama kali yang membalas, dirinya menjawab sambil bertanya. Keempat perempuan lainnya, juga penasaran akan jawaban dari pertanyaan Rina tersebut. Mereka menyapa balik dulu, baru Kohta menatap ke arah keempat istrinya dengan serius.


“Selepas ini, kalian akan pergi ke Dunia kecil. Ada penyerangan di Ibukota hari ini.” Kohta menjelaskan akan penyerangan tersebut. Kelima perempuan terkejut, mereka tidak menyangka akan hal tersebut.


“Apakah kau yakin, sayang?” Kiana bertanya dengan serius, sementara Kohta terkejut ketika dipanggil begitu. Dirinya menatap ke arah istrinya terlebih dahulu. Merasakan tatapan Kohta keempatnya tersenyum lembut dan mengangguk.


“Jadi, kau akhirnya memilih ikut. Kalau begitu selamat datang di Keluarga Hideoki.” Kohta menyambut Kiana masuk ke dalam Haremnya. Apa yang dia impikan akhirnya tercapai, di haremnya sekarang ada Mlf. Dia sudah mendapatkan Kakak, Tante, Ibu, dan anak.

__ADS_1


Kohta tersenyum senang. Dia membayangkan banyak fantasi sekarang, entah apa yang kurang tapi dia tidak ingin banyak istri, hanya cukup enam saja. Kiana yang disambut, dirinya menjadi senang dan berkata dengan sedikit menggoda, “~Ara, apakah sungguh senangnya kau sama wanita tua sepertiku?”


Kohta keluar dari fantasinya, dia menatap Kiana dengan lembut. Dalam pikirannya, apakah ada Wanita tua yang masih mulus sepertimu? Kohta menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Kau cantik.”


Dua kata tersebut membuat Kiana senang. Dia memang senang dipuji banyak anak-anak akan tetapi tatapan mereka penuh akan nfsu. Dirinya benci akan tatapan itu, alhasil dia sendirian selepas kepergian suaminya.


“Untuk pertanyaan pertama, ya. Hari ini, Ibukota diserang tepat malam ini.” Kohta berkata dengan nada serius. Romansanya berhenti, situasinya sekarang adalah serius. Kohta memandang ke arah Kiana, kemudian menatap ke arah keempat istrinya.


“Kalian pergilah menuju ke Dunia kecil. Ini perintah dari Suamimu.” Kelimanya terkejut, akan tetapi mereka patuh. Bukan karena mereka takut akan perintah melainkan agar mereka yang hamil tidak mengganggu Kohta dan yang lainnya.


“Tunggu dulu, bisakah aku berada disini membantu seluruhnya?” Kohta menatap ke arah Kiana. Dirinya menganalisa seluruh tubuh Kiana dengan serius. Kiana sedikit malu ketika dilihat intens oleh Kohta. Baru kali ini dia malu akan dilihat oleh orang, pasti dirinya akan marah kepada orang yang melihatnya secara intens.


“Aku menolak, kau benar-benar menurun. Lebih baik pergilah ke Dunia kecil, untuk masalah saudarimu yang berada di sini, akan kujaga mereka.” Kohta berkata dengan terus terang. Kiana menunduk, apa yang diucapkan Kohta adalah kebenaran. Kiana meremas pakaiannya dan menatap ke arah Kohta.


“Kalau begitu, tolong jaga mereka.” Kiana menitikkan air mata, dia benar-benar tidak berguna sekarang. Kohta melihat hal itu, sedikit sakit. Namun, dia paham mana yang terbaik bagi Kiana. Kohta berjalan ke arah Kiana dan mengusap menghilangkan air mata, kemudian mencium bibirnya.


Kiana terkejut, akan tetapi ciuman Kohta benar-benar meluluhkan. Kiana dengan cepat mengikuti alur ciuman tersebut, sampai akhirnya keduanya melepaskan ciuman. “Tetaplah disana, aku akan menjaga seluruhnya.”


Kiana mengangguk, kemudian keempat istri Kohta datang dan mereka saling berciuman dengan intens. Selesai sesi tersebut, seluruh istri Kohta menghilang, tepat sebuah ledakan terjadi di gerbang Kota. Kohta dengan cepat menatap di balik jendela yang tak lain gerbang Ibukota Arslan.


“Sudah dimulai ternyata.” Kohta tersenyum menyeringai, Haori hitam miliknya terpasang di kening miliknya. Kedua matanya menyala, siluet kobaran api menyala tepat di sudut mata Kohta. Dirinya menatap depan dengan tajam dan serius.


“Mari kita berperang.”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.


__ADS_2