Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 47


__ADS_3

[Chapter 47.]


[Tantangan.]


[Silahkan Dibaca.]


Hutan.


Terdapat sebuah gerobak yang dimana terdapat dua perempuan di dalam, sementara di tempat pengemudi satu pria tua satu pemuda.


“Sepertinya kita akan berhenti di depan,” ucap Pria tua tersebut, sementara Pemuda menjawab dengan santai.


“Ya, tidak masalah. Hari juga sudah mulai malam,” ucap pemuda tersebut, yang tak lain ialah Kohta.


Kemudian, kereta pun berhenti di sebuah padang rumput yang luas, sebuah lingkungan yang cocok untuk berkemah.


Dua perempuan keluar dari kereta, saat kereta sudah berhenti. Mereka menatap ke arah Kohta.


“Kita akan menyiapkan makanan,” ucap salah satu perempuan yang terlihat lebih dewasa dari Kohta, yaitu istri pertama Kohta, Rina.


“Kohta, kumpulkan beberapa ranting pohon, untuk membuat Api,” ucap perempuan elf, yang tak lain ialah, Tessa.


Kohta mengangguk, lalu berjalan di sebuah pohon. Kohta mengeluarkan pedang Serigala miliknya.


Slash.


Pohon terpotong dan tumbang, Kohta kemudian menebas menjadi tempat duduk dari pohon tersebut.


“Baiklah, kayu dan tempat duduk sudah siap,” Kohta berkata sambil menatap ke arah kedua istrinya yang menghela nafas.


“Kalau begitu, waktunya kita membuat makanan,” Rina berkata, kemudian dia mengeluarkan peralatan makan.


Tessa mengangguk dan mulai membantu Rina memasak. Sementara pria tua tersebut, turun dari tempatnya.


Lalu, dia berjalan duduk di tempat duduk sebelah Kohta. Kemudian, dia mengeluarkan rokok miliknya.


“Sungguh indah, tempat ini,” ucap Pria tua tersebut, dia menikmati hembusan angin yang lewat ke arahnya.


“Oh, jelas. Apakah disini, biasa ada bandit?” Kohta bertanya kepada Pria tua tersebut, kemudian Pria tua menjawab.


“Kadang-kadang, mereka akan melihat keadaan disini, apakah ada orang. Jika ada, mereka akan keluar,” pria tua tersebut menjawab sambil menghirup rokoknya.


“Hufff, Bandit apa biasanya yang berada disini?” Kohta bertanya, dia benar-benar penasaran.


“Mungkin Bandit Tulang, Bandit Darah, Bandit Kapak, banyak hal. Namun, wilayah ini biasanya di jaga, oleh Bandit Tulang,” jelas pria tua tersebut.


“Oh, Bandit Tulang. Apakah mereka memiliki sesuatu seperti Tulang untuk menyerang,” Kohta berkata sambil menatap ke arah langit.


“Kau benar, Ketua mereka ahli dalam mengendalikan tulang, apalagi menciptakan tulang,” ungkap pria tua tersebut.


Kohta sedikit terkejut, namun dia tersenyum mendengar hal tersebut. Dia ingin bertarung dengan ketua bandit tersebut.

__ADS_1


“Kau ingin bertarung kah?” pria tua tersebut bertanya, matanya melirik ke arah Kohta, kemudian kembali fokus ke depan.


“Ya, jika mereka keluar,” ungkap Kohta dengan jujur dan semangat, pria tua tersebut melirik Kohta dengan satu mata, lalu dia tertawa.


“Hahahaha, kau benar-benar menarik, bocah,” pria tua tersebut tertawa, karena ucapan dari Kohta.


“Nah, bocah. Bagaimana kalau selepas makan, kita bertarung terlebih dahulu?” pria tua tersebut menantang Kohta.


Sementara itu, Kohta terkejut dengan hal tersebut. Dia pun bertanya dengan nada sedikit khawatir.


“Apakah kau tidak apa-apa?” Kohta bertanya, membuat pria tua tersebut mengerutkan keningnya.


“Apa maksud ucapanmu, Bocah?” pria tua tersebut, dia merasa diremehkan oleh Kohta.


“Kalau kau merasa khawatir, lebih baik buang jauh-jauh hal tersebut dan khawatirkan dirimu dulu,” ucap pria tua tersebut.


Kohta sedikit tertegun, lalu suara dari dalam fikirannya muncul, suara tersebut tak lain tak bukan milik, Oda.


‘Jangan meremehkan, pria tua itu,' ucap Oda, membuat Kohta benar-benar terkejut, dia kemudian tersenyum.


“Baiklah, aku terima,” Kohta menerima tantangan pria tua tersebut, kemudian mereka berdua mendengar suara Rina.


“Kohta, Paman Greg, segera kesini,” ucap Rina, sementara Kohta terkejut dan memandang ke arah pria tua yang menatapnya dengan senyuman lebar.


Pria tua tersebut berjalan menuju ke arah Rina, sementara Kohta mengikuti di belakangnya sambil berfikir.


‘Paman Greg?, Kapan Rina berkenalan dengan pria tua itu?’ batin Kohta, dia benar-benar bingung dengan kejadian tersebut.


“Kau mengenalnya, Rina?” Kohta bertanya, dia benar-benar penasaran. Rina mengangguk sebagai jawaban.


“Ya, aku kenal Paman Greg, dia adalah pemilik dari Pandai Besi di desa Rash,” ucap Rina, kemudian dia melanjutkan.


“Walaupun dia seorang Pandai Besi, dia memiliki dua profesi,” ucap Rina, kemudian pria tua atau bisa di sebut Paman Greg berkata.


“Haha, mari makan saja dulu,” Greg berkata, dia mengalihkan ke makanan yang sudah tiba di depannya.


Rina sadar, kemudian dia mulai membagi makanan tersebut. Selepas di bagi, mereka berkata bersama.


“Selamat makan,” mereka berkata secara bersama, lalu dengan senang memakan makanan tersebut.


Beberapa menit kemudian.


Selesai makan, Rina dan Tessa mengeluarkan Slime untuk membersihkan piring kotor tersebut.


Kohta benar-benar terkejut, melihat hal tersebut. Kemudian, Greg berdiri dan berjalan ke arah padang rumput.


Namun, sebelum sampai di Padang rumput, Greg berbalik dan matanya tertuju ke Kohta yang masih terkejut.


“Ayo bocah,” ucap Greg, membuat Kohta sadar. Sementara Rina dan Tessa bingung dengan hal tersebut.


“Benar, aku datang,” Kohta berkata sambil berdiri dan berjalan ke arah Greg, sementara kedua perempuan mengikutinya.

__ADS_1


Tiba di padang rumput.


Greg berdiri di sisi kanan, sementara Kohta berdiri di sisi kiri. Rina yang melihat hal tersebut, akhirnya sadar.


“Apakah mereka akan bertarung, jika iya. Kohta dalam kesulitan,” ucap Rina, membuat Tessa mengerutkan keningnya.


“Memangnya kenapa, Saudari?” tanya Tessa, dia penasaran dengan ucapan dari Rina tersebut.


Di sisi Kohta.


Kohta mengeluarkan pedang miliknya, yaitu pedang Mawar. Kemudian memandang ke arah Greg.


“Dia kuat,” ucap Kohta, menyadari sesuatu saat dia fokus menatap ke arah Greg, dia samar-samar melihat sesuatu mengalir di seluruh tubuhnya.


Di sisi Greg.


Greg mengeluarkan pedang miliknya, pedang yang memiliki motif Naga dengan warna biru dan terlihat motif petir di gagang pedang.


Saat pedang di cabut dari sarungnya, Greg dan pedang segera di aliri oleh petir berwarna biru.


Bzzzt Bzzt.


Sisi duel.


Kohta terkejut dengan hal tersebut, dia benar-benar baru pertama kali melihat hal tersebut.


“Bagaimana bisa pedang seperti itu?” ucap Kohta, dia bingung dengan hal tersebut, kemudian Kohta mendengar suara Clara.


[Resonasi pedang dan pengguna atau bisa disebut Ikatan.]


“Jadi begitu, berarti Paman Greg ini kuat,” ucap Kohta, lalu memasang kuda-kuda miliknya.


Greg juga memasang kuda-kuda miliknya, tatapannya tajam dan serius, berbeda dari tatapan seorang pria tua biasa.


Di sisi Rina dan Tessa.


“Apa, apakah kau benar dengan perkataanmu, Saudari?” tanya Tessa, sedangkan Rina menganggukan kepalanya.


“Bahkan Raja Yunan tidak bisa mengalahkan Paman itu,” ucap Tessa, memandang ke arah lapangan.


“Kau benar, walaupun begitu dia tidak sombong,” ucap Rina, kemudian dia melanjutkan.


“Nama lengkapnya,” ucap Rina, dia menjeda sebentar ucapannya. Kemudian dia melanjutkan ucapannya dan diiringi angin yang bergerak cepat.


“Greg Nicolas, Mantan Komandan terkuat Kerajaan Yunan,”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thanks you Minna-san.


__ADS_2