
[Chapter 22.]
[Pelatihan.]
[Silahkan Dibaca.]
Mereka keluar dari Mansion milik Ryuto, lalu mereka berjalan tepat di halaman luas di depan Manson tersebut.
Walaupun sedikit berdebu, Grisela dan Rina Menggunakan sihir air dan angin untuk membersihkan tempat untuk duduk mereka.
Sementara Kohta dan Theo, berada di tengah halaman tersebut. Kohta duduk dengan posisi lotus sementara Theo berdiri dan mulai menjelaskan pelatihan.
“Aura itu adalah semacam energi yang terdapat dalam diri kita. Ada 2 Aura mendasar, yaitu pertama Aura dasar yang dimiliki semua orang, kedua Aura ahli Pedang.” Ucap Theo.
“Bagi yang memiliki mana, mereka bisa memiliki dua Aura tersebut, berbeda dengan yang memiliki banyak mana.” Ucap Theo.
“Karena, yang memiliki banyak mana. Mereka tidak akan bisa fokus pada pertarungan pedang, mereka hanya ditakdirkan untuk menjadi seorang penyihir.” Ucap Theo.
“Namun, masalah itu terpecahkan oleh seorang pengelana. Baik yang memiliki mana bisa menjadi penyerang jarak jauh, sementara yang memiliki mana bisa bertarung jarak dekat.” Ucap Theo, kemudian melihat ke arah Kohta.
Theo tersenyum dan berfikir ‘Sepertinya anak ini benar-benar serius dengan Aura. Serta, dia ingin cepat-cepat bisa menguasainya.’
“Akan aku tunjukkan, Aura normal.” Ucap Theo, lalu muncul sesuatu yang menyelimuti tangan Theo, terlihat sesuatu yang menyelimuti memiliki warna merah.
“Aura normal, atau bisa disebut dengan Kin, ini memiliki kegunaan menaikkan efektivitas serangan dan pertahanan.” Ucap Theo, lalu berjalan ke arah batu yang terdapat di depannya.
Kemudian, Theo hanya mengayunkan tangannya pelan. Lalu menyentuh batu tersebut, seketika batu yang utuh meledak.
Boooommmm.
Kohta benar-benar terkejut, dia berfikir ‘Apakah Kin ini memiliki serangan dari dalam dan luar?.’
“Kin, ada 5 tingkatan. Tingkat pertama, penentuan Elemental serta penguatan fisik, tingkat kedua memiliki daya serang tambahan, yang ini aku kurang paham.” Ucap Theo.
“Tingkat ke 3, bisa menghancurkan apapun yang disentuh, tingkat keempat proyeksi kemampuan nyata, Tingkat ke 5 atau bisa puncak dari Kin, merusak musuh dan mengendalikan Aura musuh dengan tatapan.” Ucap Theo.
Sedangkan, Kohta benar-benar terkejut dengan tingkatan tersebut, lalu dia bertanya kepada Theo.
__ADS_1
“Paman, kamu berada di Tingkat berapa?.” Ucap Kohta, dia benar-benar penasaran dengan tingkat yang dimiliki oleh Theo.
“Aku berada di Tingkat 1. Kau tahu menaikkan level Kin itu tidak mudah.” Ucap Theo, sambil tersenyum. Sementara Kohta mengangguk paham.
“Oke, untuk Aura kedua namanya adalah Ken. Aku kurang paham, soal Aura ini. Tapi menurut para Ahli Pedang, Ken adalah Aura yang melebihi dari Kin, itu Saja.” Ucap Theo.
Theo benar-benar tidak tahu tentang Aura Ken, karena dia sendiri bukan Ahli Pedang melainkan Ahli Sihir.
“Lalu, untuk Aura ketiga. Itu adalah Aura yang langka dan tidak setiap orang memilikinya. Aura yang berasal dari pendahulu mereka, atau bisa disebut Kyuren.” Ucap Theo.
Kohta hanya mengangguk paham, dia benar-benar merasa tertarik dengan pengetahuan tersebut, lalu dia berfikir kembali, ‘Apakah di Dunia pejuang nanti, Aura akan sama dengan Qi? Atau berbeda lagi?.’
Kohta sedikit rumit dengan hal tersebut, namun dia segera mengabaikannya. Karena Kohta tahu, dia akan mengetahuinya sendiri saat sudah di Dunia tersebut.
“Karena, kamu sudah memahami teori tersebut. Aku akan mengajarimu Kin. Aura ini memiliki 3 tahap, Pembangkitan, Pengendalian, Penyempurnaan.” Ucap Theo.
“Kamu sudah melewati tahap Pembangkitan, sekarang kita akan berlatih Pengendalian.” Ucap Theo, kemudian mengambil ranting yang berada di tanah.
“Pegang ini, lalu rasakan Aura di tubuhmu dan masukkan ke arah ranting tersebut.” Ucap Theo, sementara Kohta mengangguk.
Kemudian, menerima ranting yang diberikan oleh Theo. Lalu, Kohta memejamkan matanya dan merasakan Auranya yang berkumpul di pusat perutnya.
“Kau harus benar-benar bisa membuat ranting pohon tidak hancur dan tidak patah saat menyayat pohon.” Ucap Theo. Lalu dia terus memantau perkembangan dari Kohta.
Sementara itu, Kohta terus melakukan hal yang sama. Mengalirkan Aura menuju ke tangannya dan memasukkan ke Ranting.
Namun, selalu saja ranting akan pecah. Kohta mulai menyelidiki, kenapa tiba-tiba Aura menjadi kuat seketika.
Tak lama kemudian, akhirnya dia menyadari kesalahannya. Ternyata dia tidak mengedarkan ke dalam organ yang lainnya, agar membuat Aura tidak menguat secara tiba-tiba.
Kohta pun mulai melakukan ujicoba tersebut, Theo yang melihat perkembangan Kohta dia mengangguk puas.
Lalu, ranting yang dipegang oleh Kohta mulai terlapisi oleh Aura Kin. Kohta membuka matanya dan melihat bahwa Aura berwarna Hijau melapisi ranting tersebut.
“Tidak buruk, Elemen yang kamu miliki Angin.” Ucap Theo, namun Kohta mengerutkan keningnya dan berkata dalam hati.
‘Bukankah, aku memiliki elemen kegelapan saja?.’
__ADS_1
[Menjawab, elemen Angin adalah hal yang Kohta sendiri dapatkan, sementara kegelapan adalah pemberian dari System.]
‘Jadi begitu.’ Ucap Kohta dalam hati, dia akhirnya paham. Bahwa kekuatan dirinya sendiri dan pemberian dari System berbeda.
“Coba kau gores ke pohon tersebut, apakah ranting yang kau pegang akan patah atau tidak.” Ucap Theo, sedangkan Kohta mengangguk.
Lalu, dia berjalan ke arah pohon. Sampai di dekat pohon, dia mengayunkan ranting miliknya. Namun hal berikutnya membuatnya sedikit terkejut.
Krak.
Ranting tersebut patah, namun terdapat goresan di pohon. Kohta benar-benar bingung, dia yakin bahwa sudah melapisi ranting tersebut.
“Kau, awal sudah benar. Tapi, kau harus berfikir kenapa Kin bisa menghilang seketika.” Ucap Theo, lalu pergi meninggalkan Kohta yang merenung.
[Kohta, di saat kamu mengayunkan rantingnya, kamu harus menjaga Kin yang berada di ranting tersebut.]
Kohta yang mendengar ucapan Clara, seketika merenung dan tak lama kemudian, matanya menjadi cerah.
“Itu benar, menjaga Kin dengan sisa Kin yang ada.” Ucap Kohta, namun saat akan melanjutkan. Dia terjatuh dan terduduk tanpa tenaga.
“Eh, kenapa dengan tubuhku?.” Ucap Kohta dia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi kepada dirinya.
[Kohta berlebihan, apalagi Kohta belum benar-benar menyentuh Dunia Deus. Kohta kurang 1x penembusan dan akan benar-benar memiliki kekuatan Dunia Deus sendiri.]
“Oh, jadi begitu. Baiklah, aku akan istirahat sebentar.” Ucap Kohta, lalu Theo, Grisela, dan Rina mendatanginya.
“Nak, kau lanjutkan latihanmu. Aku dan Istriku akan kembali ke Istana sekarang, karena hari sudah sore.” Ucap Theo, sementara Kohta berkata.
“Terimakasih, Paman.” Ucap Kohta, sedangkan Theo melambaikan tangannya dan pergi dari tempat tersebut, sambil berkata.
“Jangan terlalu difikirkan, aku melatihmu karena kamu Suami dari Rina.” Ucap Theo, lalu perlahan menghilang dari kediaman Kohta.
“Jadi, ayo kita masuk.” Ucap Rina, membantu Kohta berdiri dan berjalan masuk ke dalam Mansion milik mereka.
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.