Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 24


__ADS_3

[Chapter 24.]


[Pedang Tresta.]


[Silahkan Dibaca.]


Kota Arta.


Sebuah kota yang berada di perbatasan Kerajaan Yunan dan Kerajaan Elman. Kota ini memiliki banyak hal, mulai dari Budak, Senjata, Item, Obat, dll.


Kota ini bersih, semua penduduk yang tinggal di tempat tersebut makmur dan damai. Namun, di Kota itu adalah sarang bagi Manusia yang memiliki kekuatan seperti Monster.


Serta jangan pernah meremehkan Kota tersebut. Karena semua penduduk disana, lebih kuat dan terendah hanya Master tingkat 1.


Semua orang di kota, memiliki pedoman. ‘Jika kamu datang baik-baik, kami akan menerimamu dengan baik, namun jika kamu datang dengan niat buruk, kami siap melayanimu bertarung.’


Di gerbang Kota Arta, kereta kerajaan Yunan yang dipakai oleh Kohta dan Rina, berhenti tepat di gerbang tersebut.


“Apakah Raja sedang berkunjung kemari?.” Ucap warga yang melihat Kereta Kerajaan. Penjaga yang melihat kereta Kerajaan segera menghampiri.


Rina yang melihat Penjaga datang, dia menunggu penjaga tersebut tiba. Saat penjaga tiba, dia melihat Rina dan menunduk.


“Salam Tuan Putri.” Ucap Penjaga tersebut, sementara Rina tersenyum dan menjawab dengan nada tenang.


“Penjaga, aku ingin menitipkan Kereta disini, selama aku berkeliling nanti.” Ucap Rina, sedangkan Penjaga membungkuk dan berkata.


“Serahkan padaku, Tuan Putri. Tapi, apakah anda perlu penjagaan?.” Ucap Penjaga, sementara Rina yang turun dari kereta, menjawab.


“Tidak perlu, aku berkeliling dengan Suamiku.” Ucap Rina, turun dan disusul oleh Kohta. Penjaga yang mendengar dan melihat ada Kohta, dia terkejut dan menunduk.


“Kalau begitu, saya akan jaga kereta anda, Nyonya.” Ucap Penjaga, dia mengubah panggilan dari Tuan Putri menjadi Nyonya, karena Rina sudah menikah.


“Terimakasih, Penjaga.” Ucap Rina, kemudian berjalan masuk ke dalam Kota Arta bersama dengan Kohta.


Mereka berdua masuk, lalu melihat ke arah sekitar. Kohta sedikit terkejut, apa yang dibilang oleh Rina itu adalah kebenaran.


‘Kota ini, sungguh kuat. Tapi, mereka tetap patuh kepada Kerajaan, padahal mereka bisa saja menghancurkan kerajaan.’ Batin Kohta, sementara Rina menikmati suasana Kota tersebut.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan dan melihat sekitar, sampai akhirnya berhenti di sebuah Toko dengan label Pedang, Kohta berhenti dan melihat toko tersebut, Rina yang melihat Kohta terdiam, dia tersenyum.


“Bagaimana kalau kita masuk?.” Ucap Rina dengan lembut. Kohta yang mendengar ucapan Rina, dia tersenyum senang dan mengangguk.


“Ayo kita masuk.” Ucap Kohta, memegang tangan Rina, yang dimana membuat Rina terkejut dan memerah.


Mereka berdua masuk ke dalam. Mereka terpana dengan banyak pedang di toko tersebut. Kohta, melihat-lihat pedang yang berada di dalam toko tersebut.


“Selamat datang, ada yang bisa kubantu?.” Ucap seorang Pria dengan otot yang kekar, tubuh yang besar. Dia berkata dengan sangat ramah, karena paham Pelanggan adalah Raja.


“Aku ingin melihat-lihat sebentar.” Ucap Kohta dengan senyum ramahnya. Pria tersebut mengangguk, lalu Kohta dan Rina melihat-lihat pedang di toko tersebut.


‘Hmm, semuanya biasa. Apakah tidak ada Senjata yang bag-‘ Batin Kohta, terpotong oleh sebuah Aura yang familiar.


“Aura ini....” Ucap Kohta berjalan ke arah tempat Aura tersebut berasal. Rina mengikuti Kohta, namun perlahan-lahan dia merasakan Aura yang dirasakan oleh Kohta.


“Aku sarankan, jangan mendekati pedang itu, Nak.” Ucap suara di belakang Kohta dan Rina. Sementara itu, keduanya terkejut dan berbalik.


“Memangnya kenapa dengan pedang itu?.” Ucap Rina, dia benar-benar penasaran. Namun, bukan Pria tersebut yang menjawab, melainkan Kohta.


“Pedang itu terkutuk.” Ucap Kohta dengan serius, Rina terkejut mendengar hal tersebut, begitupun Pria tersebut.


Rina terkejut dengan informasi tersebut, dia berbalik dan melihat ke arah Pedang tersebut. Dia bisa merasakan Aura yang mirip dengan Iblis.


“Itu benar, Aura ini mirip Iblis, Aura haus darah.” Ucap Rina dengan serius. Lalu, dia berkata kepada Pria tersebut.


“Lalu, kenapa kamu menjual Pedang terkutuk tersebut?.” Ucap Rina, sedangkan Pria tersebut menjawab.


“Aku tidak menjualnya, hanya aku menunggu Pedang itu jatuh ke tangan orang yang benar-benar memahami Pedang tersebut, serta seharusnya kau tahu sejarah Pedang Tresta bukan?.” Ucap Pria tersebut.


Rina kemudian mencoba menggali fikirannya kembali, dia juga menatap ke arah tempat berdirinya Kohta. Rina terkejut, melihat Kohta tidak di tempat, lalu melihat ke arah suara yang dia dengar.


“Pemilik, aku menyukai pedang ini.” Ucap Kohta memegang Pedang Tresta tersebut sambil tersenyum menyeringai.


“Nak, bukankah sud-“ ucap Pria tersebut terpotong saat melihat siluet seseorang yang memakai sebuah kain di Kepala dan berkibar belakang, siluet tersebut juga memakai sebuah jubah hitam.


Pria tersebut terkejut, saat melihat siluet itu tersenyum ke arahnya. Senyuman tersebut berubah menjadi senyuman milik Kohta.

__ADS_1


‘Aura itu, anak ini..’ Batin Pria tersebut, kemudian tersenyum lebar dan berkata dengan senang.


“Pedang itu mengakuimu, Nak.” Ucap Pria tersebut. Sementara Rina, dia terkejut mendengar ucapan Pria tersebut. Kohta mengambil pedang tersebut, lalu meletakkan di pinggangnya.


“Apakah tidak masalah, aku memiliknya tanpa membayar?.” Ucap Kohta, sementara Pria tersebut mengangguk, lalu berkata.


“Tidak masalah, namun sebelum itu beritahu nama lengkapmu, Nak.” Ucap Pria tersebut, sedangkan Kohta tersenyum dan menjawab dengan jujur.


“Kohta Hideoki.” Ucap Kohta, Pria tersebut mengangguk. Kemudian, melihat bahwa tidak ada yang menarik lagi Kohta dan Rina keluar dari Toko tersebut.


“Silahkan berkunjung kapanpun, serta Namaku Surth, hanya pemilik Toko Pedang di Kota Arta.” Ucap Pria tersebut, Surht.


“Baiklah, Paman Surht kami pergi.” Ucap Kohta, lalu berjalan pergi meninggalkan Toko Pedang tersebut bersama dengan Rina.


Surht terus memandangi punggung Kohta sampai menghilang, kemudian sudut mulutnya terangkat dan bergumam.


“Pedang milikmu, benar-benar jatuh kepada keturunanmu, Kawan.” Gumam Surht, kemudian berbalik masuk kembali ke ruangannya.


Di sisi Kohta, dia benar-benar merasa senang, mendapatkan Pedang baru yang kuat. Sedangkan Rina, dia sedikit curiga dan bertanya ke Kohta.


“Menurutmu, Paman Surht tersebut bukankah sedikit mencurigakan?.” Ucap Rina, dia benar-benar curiga. Mendengar ucapan Rina, Kohta tersenyum lebar.


“Jangan terlalu difikirkan, Paman itu orang yang baik. Aku bisa merasakannya.” Ucap Kohta, sementara Rina menatap ke arah Kohta, lalu dia mengangguk karena dia juga merasakan hal yang sama.


‘Itu benar, auranya sudah membuktikan bahwa Pria itu bukan orang yang jahat.’ Batin Rina, lalu senyum di wajahnya terukir.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke pasar budak. Mereka berjalan sambil memandangi sekitar mereka.


Tak lama kemudian, mereka sampai di pasar budak. Kohta dan Rina berjalan dan melihat-lihat budak, sampai akhirnya jatuh di sebuah Rumah yang bertulisan ‘Pelelangan Budak.’


Keduanya saling memandang dan mengangguk. Lalu, mereka berdua masuk ke dalam Pelelangan Budak tersebut.


Di tempat Pelelangan, tanpa mereka sadari, benang takdir antara Kohta dengan seseorang akan terbentuk.


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.


__ADS_2