Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 107


__ADS_3

[Chapter 107.]


[Pertarungan di jalan.]


[Silahkan Dibaca.]


Jalan menuju ke arah Ibukota Arslan, terlihat angin berhembus menggerakkan berbagai dedaunan dalam berbagai pohon. Burung-burung terbang dengan indah disertai kicauan yang merdu. Mereka terbang ketika angin lembut datang.


Sosok pemuda dengan pakaian Kimono Hitam dan Merah sedang berjalan menuju ke arah Ibukota Arslan. Pemuda itu berjalan dengan tenang sambil menyandar tangan kiri miliknya pada dua buah pedang yang berada di pinggangnya.


Pemuda itu menikmati perjalanannya, suasana yang sejuk membuatnya benar-benar nyaman. Mirip dengan suatu tempat yang dia miliki namun jauh dari tempatnya berada sekarang. Pemuda itu adalah Kohta Hideoki.


Kohta berjalan dengan santai, bahkan angin tidak mampu mendorong dirinya untuk mempercepat dirinya. Kemudian, Kohta mendengar suara kuda dari belakangnya. Dengan ringan Kohta melompat ke samping.


“Reflek yang bagus, Nak.”


Kohta mendengar suara itu dan menatap ke arah seekor kuda yang berlari dengan cepat. Kuda itu terlihat dinaiki oleh seorang pria yang memakai pakaian besi dengan pelindung kepala besi dengan aksesori rambut biru.


Pria itu tersenyum ketika melihat Kohta, dia ingin berhenti namun sesuatu hal menghalangi dirinya untuk berhenti dari kecepatannya. Kohta melihat bahwa Pria itu akan berhenti namun dia juga melihat bahwa Pria itu haru buru-buru menuju ke Ibukota.


“Nak, semoga kita bertemu di Ibukota.”


Kohta mendengar itu tidak menjawab, dirinya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian berbagai kuda terdengar namun arah dari suara itu adalah Hutan yang sebelumnya berada di persimpangan. Kohta berhenti berjalan dan menatap ke arah asal suara tersebut.


Terlihat sosok rombongan prajurit berkuda di tengah rombongan terdapat sebuah kereta dengan motif Bintang. Kohta sedikit terkejut dan mengabaikan rombongan tersebut. Dia melanjutkan perjalanannya menuju ke Ibukota Arslan.


Prajurit melewati Kohta yang berjalan di pinggiran. Orang yang berada di dalam Kereta, sedikit terkejut ketika melihat Kohta. Dia merasa bahwa Kohta adalah orang yang belum pernah dia temui. Entah kenapa dirinya tertarik terhadap Kohta tersebut.


“Menarik, siapa laki-laki itu?”


Suara dingin namun lembut terdengar. Pemilik suara itu adalah seorang perempuan namun sosoknya belum benar-benar terlihat. Kohta merasakan tatapan hal itu, dia mengabaikannya dan hanya berjalan santai sambil menatap rombongan tersebut.


Namun, perasaan santai dan damai Kohta terganggu ketika sosok perempuan melompat dari dalam kereta melalui atap kereta. Sosok itu berada di puncak ketinggiannya, tatapannya tertuju ke arah Kohta.


Para prajurit yang mengawal perempuan itu terkejut, mereka berhenti ketika melihat perempuan yang dikawalnya melompat ke atas. Para prajurit segera menatap apa yang perempuan itu tengah lakukan di atas.


Kohta merasakan bahwa perempuan itu akan menyerangnya. Dengan sigap dia memegang salah satu pedangnya yaitu Arsta. Kemudian perempuan itu melesat dengan cepat ke arah Kohta.


“Twilight Stars.”


Siluet dua bintang muncul di belakang perempuan tersebut. Kohta sendiri mengeluarkan pedangnya dan memposisikan dirinya mirip seorang samurai. Katana berada di atas dan lurus ke depan berada di sebalah kanan Kohta.


“Moon Slash.”


Siluet bulan terlihat muncul di belakang Kohta. Perempuan itu menaikkan sudut mulutnya, kemudian keduanya bertemu dan saling berbenturan serangan satu sama lain.


Ledakan benturan kedua serangan tersebut benar-benar kuat. Gelombang kejut menyerbu ke arah rombongan para prajurit. Angin itu sangat kuat bahkan mereka segera merapalkan sihir kuning untuk membuat pelindung.


Kohta berada di belakang perempuan itu, begitu juga sebaliknya. Keduanya berbalik dan saling menatap satu sama lain. Kohta menguatkan pedangnya dengan Api sementara perempuan itu menguatkan pedangnya dengan petir.

__ADS_1


“Mari mulai, duel kita.”


Perempuan itu melesat selepas mengucapkan kata duel. Kohta melihat hal itu dengan cepat dia juga melesat ke arah perempuan itu. Keduanya tiba dan saling mengayunkan pedangnya bersama.


Kohta mengayunkan pedangnya ke kaki perempuan itu, sedangkan perempuan mengayunkan pedangnya ke kepala Kohta. Keduanya menghindari serangan yang dilancarkan mereka. Kemudian, Kohta merasakan bahaya dari atas.


Dengan cepat Kohta melakukan berguling ke samping dan melihat pedang yang terselimuti petir menghantam dengan keras ke tanah. Kohta mengayunkan pedangnya dan terciptalah dua tebasan pedang yang melesat menuju ke perempuan tersebut.


Perempuan merasakan hal itu dengan cepat menghindari serangan dan menghancurkan serangan tersebut. Namun, hal selanjutnya membuat dirinya terkejut ketika melihat tepat di depannya Kohta memegang pedang miliknya yang keluar api besar.


“Kau lengah, Flaming Full Moon.”


Seketika Kohta berada di belakang perempuan itu, dia memasukkan pedangnya ke sarung pedang. Namun, ketika pedang masuk sepenuhnya perempuan itu terduduk dan terbaring pingsan di tempat.


Kohta tidak menggunakan bilah pedang melainkan dia menggunakan bilah terbalik agar tidak membunuh perempuan itu. Bagaimanapun juga teknik yang dia gunakan sebelumnya benar-benar sangat kuat.


Para prajurit terkejut melihat pertempuran sengit tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa perempuan itu kalah dengan Kohta. Kemudian terlihat Kohta menggendong perempuan itu ala pengantin.


Kohta dapat melihat bahwa perempuan yang dia gendong sangat cantik. Mirip dengan para istrinya yang berada di dunia kecil. Kohta tersenyum dan berjalan menuju ke arah rombongan para prajurit tersebut.


Para prajurit yang terkejut segera sadar dan mengambil posisi untuk berperang. Kohta yang melihat hal itu dengan cepat berteriak, “Buka jalan dan biarkan dia berisitirahat di Kereta.”


Para prajurit mendengar teriakan tersebut, dengan cepat mereka membuka jalan menuju ke kereta. Kohta melihat itu mengangguk puas dengan kinerja para prajurit. Kohta berjalan dn dan naik ke dalam kereta, dirinya meletakkan perempuan itu di kursi dalam kereta.


Di saat Kohta akan keluar, kereta dengan cepat bergerak membuat Kohta terkejut dan terduduk di kursi yang berada di sisi depan kursi yang digunakan perempuan itu tidur. Kohta dengan cepat sadar, dia ingin protes namun tidak jadi.


“Yah, biarkan saja lah, terpenting sampai di tempat.”


Perlahan-lahan Kohta menutup matanya. Dia benar-benar kelelahan selepas pertempuran tersebut. Hembusan angin benar-benar membuat dirinya dengan cepat tertidur.


***


Kohta tiba-tiba merasa ada yang mengganggu tidurnya. Dia perlahan-lahan membuka matanya dan melihat ada seorang perempuan yang menyentuh pipinya berkali-kali.


“Aku sudah bangun, juga kau siapa?”


Kohta menatap ke arah perempuan itu, dia tidak mengingat pernah bertemu dengan perempuan di depannya. Perempuan berambut emas dengan pakaian khas bangsawan, perempuan itu cantik dan tubuhnya sudah tumbuh.


Kohta sendiri melihat ke sekelilingnya dan dia masih berada di kereta, kemudian menatap tempat perempuan sebelumnya berbaring namun dia tidak menemukan sama sekali.


“Apakah kau mencari guru Akasia Arhart?”


Kohta menatap perempuan berambut emas tersebut, dia memiringkan kepalanya dan bertanya balik. “Apakah perempuan dengan rambut Silver itu, bernama Akasia?”


Mendengar gurunya di sebut dengan lancang perempuan berambut emas itu ingin mengeluarkan pedang dari sarung pedangnya. Namun, Kohta dengan cepat menekan gagang pedang perempuan tersebut.


“Perempuan yang agresif. Beritahu aku, sekarang berada dimana?”


Perempuan berambut emas terkejut dengan kecepatan tangan dan ketajaman tatapan Kohta. Dirinya benar-benar merasa takut ketika melihat tatapan dari Kohta. Tangan yang memegang pedang perlahan terlepas dan menatap Kohta dengan takut.

__ADS_1


“Kamu sekarang berada di dalam Akademi Xenoa.”


Kohta mengangguk dan melepaskan perempuan itu, kemudian dia mengulurkan tangannya dan berkata, “Maaf menakutimu, tapi itu perlu karena aku tidak tahu siapapun disini. Juga bisakah aku bertemu dengan seorang Elf disini?”


Perempuan itu menatap dengan Kohta terkejut. Dengan cepat dia menjadi waspada walaupun dia sedikit takut dengan Kohta. Bagaimanapun informasi terkait Elf yang berada di Akademi itu hanya beberapa saja yang mengetahuinya.


“Hahh, aku ingin bertemu dengannya. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya, bagaimanapun juga ini penting.”


Perempuan itu tetap tidak menjawab, Kohta tidak peduli dan keluar dari kereta. Namun ketika dia keluar beberapa siswa mengacungkan senjata mereka ke arah Kohta. Perempuan berambut emas itu juga mengacungkan pedangnya dengan berani.


“Jangan sampai biarkan dia ka-“ Perempuan itu belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Dirinya segera merasakan tatapan horor dari Kohta. Bahkan siswa yang mengepungnya juga melihat hal itu. Mereka semua menegang ketakutan ketika merasakan tatapan tersebut.


“Nah, apakah ini sambutan dari Akademi kalian? Aku datang secara baik-baik, akan tetapi inikah balasannya.”


Suhu ruangan tersebut naik, para siswa sudah gemetar ketakutan. Mereka mundur beberapa langkah. Suhu terus naik, api emas keluar dan menyelimuti Kohta. Dia mengayunkan tangannya seketika pedang Arsta muncul di tangannya.


“Tunggu, apa yang terjadi disini!”


Sebelum Kohta melayangkan serangannya, sebuah suara tersebut terdengar. Suhu segera menurun, aura mengerikan Kohta juga perlahan menghilang namun tetap ada di sekelilingnya. Para siswa yang mengepung terduduk lemas di tanah.


Kohta mendengar suara langkah kaki cepat, itu bukan satu melainkan ada 10 langkah kaki. Kemudian terlihat beberapa orang yang memakai seragam seperti guru. Mereka menatap sekeliling tempat dan tatapan mereka tertuju ke arah Kohta.


“Nak, aku tidak tahu kau siapa? Namun kenapa kau menyerang, para siswa ini?”


Kohta memandang ke arah para guru itu, akan tetapi dia menatap ke arah guru yang memiliki paras cantik. Namun, guru itu terlihat menyembunyikan identitas aslinya. Kohta tersenyum dan berkata dengan jelas. “Aku ingin berbicara pribadi dengan Guru cantik disana, terkait putrinya.”


Kohta langsung mengungkapkan tujuannya. Dia tidak perlu bertele-tele, bagaimanapun juga itu hal yang diajarkan kakeknya kepada dirinya.


Para guru memandang ke arah guru yang memiliki paras cantik dengan rambut panjang berwarna pirang, tubuhnya benar-benar sangat matang. Guru itu menatap ke arah Kohta dengan terkejut, dia bertanya-tanya bagaimana bisa orang didepannya mengetahui tentang putrinya.


“Nak, ikut kami. Kita perlu mengetahui siapa kau sebenarnya, juga kenapa kau tiba-tiba menyerang para siswa itu?”


Kohta memandang ke arah Guru yang juga cantik, rambut emasnya mirip dengan perempuan sebelumnya. Kohta yakin bahwa Guru tersebut Ibu dari perempuan berambut emas. “Aku tidak bisa berlama-lama, guru cantik. Ada hal yang lebih penting dibandingkan mengobrol.”


Guru itu tertegun dirinya dibilang cantik, dia tidak tahu kenapa senang dengan pujian tersebut. Namun, dia langsung tersadar dan berkata dengan nada lembut agar tidak salah paham. “Nak, jika kau berada di Ibukota Arslan, kau harus memiliki identitas. Kami akan memberimu beberapa pertanyaan agar dapat memastikan kau bukan orang jahat.”


Kohta tidak menjawab, dirinya melirik ke arah Guru cantik yang menyembunyikan identitas dirinya. Kohta menghela nafas dan berkata dengan nada ringang.


“Baiklah, aku akan ikut dengan kalian. Juga untuk para siswa ini, ajari mereka cara menghormati seseorang. Jangan seenaknya mengacungkan sebuah senjata hanya karena lawan bicara adalah orang asing.”


Guru berambut emas menganguk, dia paham maksud dari Kohta. Guru itu mengangguk paham, kemudian berbalik dan berjalan pergi. Kohta mengikuti mereka dari belakang dan di belakang Kohta adalah siswa yang sebelumnya mengepung dirinya.


Mereka berjalan keluar dari bangunan tersebut.


[To be Continued.]


Note : Pertarungannya seperti itu sekarang guys.


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.


__ADS_2