Pendekar Pedang Dunia Lain

Pendekar Pedang Dunia Lain
Chapter 97


__ADS_3

[Chapter 97.]


[Pertempuran dengan Black Yeti.]


[Silahkan Dibaca.]


Timur Pegunungan Avrest, terlihat sosok besar hitam yang tak lain ialah Black Yeti tengah berdiri di hadapan sebuah gua. Dia mendengar suara langkah kaki dari dalam, langkah kaki tersebut tidak keras namun dapat terdengar sampai ke telinga Black Yeti.


Black Yeti mendengus, dia menunggu sosok pemilik langkah kaki tersebut keluar dari dalam gua. Dia menunggu dengan penuh amarah, karena seluruh anak buahnya di bunuh di tempat. Monster itu benar-benar geram, Aura membunuhnya keluar tanpa sadar.


***


Di sisi dalam gua, terlihat seorang pemuda berjalan dengan langkah santai. Namun, tatapan orang itu tajam dan serius, terlihat seperti akan menghadapi sesuatu hal yang berbahaya. Pemuda itu adalah Kohta.


Kohta merasakan aura membunuh Black Yeti, dia benar-benar terkejut dengan hal itu. Tubuhnya gemetar sambil memegang pedang di pinggangnya. Dia gemetar bukan karena ketakutan, melainkan gemetar karena semangatnya yang meletus seperti gunung berapi.


Kohta yang hampir sampai di ujung pintu gua, dia bisa melihat sepasang kaki berbulu hitam besar berada di depan. Pemuda itu menyeringai, kemudian mencabut pedangnya. Api hitam miliknya melapisi seluruh pedang dan membesar dengan cepat.


Black Yeti melihat sedikit siluet api hitam tersebut, kemudian dia merasakan ada serangan yang mengarah kepadanya dari gua di depan. Monster itu, kemudian melapisi tangannya dengan energi berwarna gelap.


“Datang,” ucap Black Yeti pelan, kemudian terlihat sebuah Proyektil tebasan api hitam meluncur ke arah dirinya. Monster itu menatap dingin, tangan kanannya mengarah ke depan. Proyektil tebasan tersebut tiba.


Booommm.


Ledakan terjadi, namun terlihat ledakan tersebut terjadi karena serangan Proyektil di hancurkan oleh tangan Black Yeti. Kemudian, Monster itu melihat sosok kecil berlari ke arahnya, dia mengerutkan keningnya melihat hal itu.


Wushhhhh.


Sosok kecil tersebut melesat ke arah Black Yeti. Melihat sosok tersebut, Black Yeti semakin mengerutkan keningnya. “Manusia?” Monster itu benar-benar sedikit terkejut melihat Manusia melesat ke arahnya.


Sosok kecil tersebut ialah Kohta. Dia melompat dan mulai mengayunkan pedangnya sambil berkata, “Hideoki Art....” Pedang Astra berkobar oleh api hitam, kemudian dengan cepat dia mengayunkan pedang ke arah Black Yeti, “Moon Slash.”

__ADS_1


Black Yeti melihat hal itu dengan cepat menyilangkan kedua tangannya ke depan. Dia merasakan sedikit berbahaya dari serangan tersebut. Pedang dengan cepat menebas ke arah depan dan mengenai tangan Monster itu.


Boommm.


Black Yeti mundur beberapa langkah karena dorongan dari serangan Kohta tersebut. Dia tidak menyangka bahwa Manusia tersebut dapat mendorongnya ke belakang. Tatapan Black Yeti menjadi serius ketika melihat Kohta yang terselimuti oleh api hitam.


“Aku tidak menyangka, ada manusia yang bisa mendorongku ke belakang.” Suara berat dari Black Yeti terdengar sampai telinga Kohta. Sementara itu, Kohta tersenyum dan berkata, “Itu hanya salam sebelum bertarung.”


Black Yeti mengerutkan keningnya, dia sudah mengalami banyak pertempuran di pegunungan Avrest. Setiap dia melihat manusia pasti akan diabaikan, karena mereka adalah makhluk terlemah. Namun, sekarang Monster itu melihat makhluk yang dianggap lemah berhasil mendorongnya.


“Ohh, kau menantangku kah?” Black Yeti tidak marah kembali. Dia memiliki otak yang hampir sama dengan manusia, dia memahami situasi anak buahnya. “Ya, aku menantangmu untuk bertarung.” Monster itu menyeringai ketika mendengar tantangan dari Kohta.


“Kalau begitu, ayo kita bertarung.” Black Yeti melapisi kedua tangannya dengan energi kegelapan. Kohta sendiri melapisi pedangnya dengan api hitam, perlahan-lahan api semakin membesar. Black Yeti mengayunkan salah satu tangannya, sedangkan Kohta memgayunkan pedangnya.


Boom Boom Boom Boom Boom.


Pukulan terus-menerus mengarah ke Kohta, sedangkan Kohta sendiri menahan dengan pedang miliknya. Keduanya bertarung dengan sengit, setiap satu tarikan nafas ledakan yang menghasilkan kawah terjadi.


Boom Boom Boom Boom Boom.


Boooommmmm.


Pegunungan Avrest Timur benar-benar bergetar hebat. Monster di sekitar pegunungan tersebut terkejut dengan getaran itu. Mereka dengan cepat berlari pergi dari pegunungan Avrest sebelah timur tersebut.


Medan Pertempuran penuh dengan salju bertebaran naik. Terlihat di tengah-tengah hamparan bidang pegunungan Avrest Timur terdapat sebuah kawah yang sangat besar dari kawah di tempat lainnya.


Di sisi kiri ujung kawah terlihat ada sosok pemuda sedang menstabilkan nafasnya, pemuda itu ialah Kohta. Dia menstabilkan nafasnya ketika melakukan pertempuran intens, kemudian dia menatap ke arah lurus tepat di depannya.


Sementara itu, di sisi kanan ujung kawah terlihat sosok besar dengan bulu berwarna hitam berkibar. Sosok itu adalah Black Yeti, monster itu terlihat baik-baik saja dan nafasnya masih teratur. Monster itu juga menatap ke arah lurus di depannya, dia menatap ke arah Kohta yang menstabilkan nafasnya.


“Sepertinya kau sudah kelelahan.” Suara Black Yeti pelan, namun terdengar oleh Kohta yang berada di seberang. Kohta tersenyum, mendengar hal itu. “Kata siapa? Aku masih belum kelelahan. Pertempuran tadi hanya pemanasan bagiku.”

__ADS_1


Black Yeti sedikit tertarik ketika mendengar balasan dari Kohta. “Manusia yang menarik,” ucap Black Yeti pelan. Kemudian, lingkaran sihir merah muncul di kepalan tangan monster itu. Kohta melihat hal itu, dia menjadi lebih serius.


“Sepertinya mulai babak kedua.” Kohta memposisikan pedangnya di depan, kemudian Api biru muncul perlahan-lahan. Kohta tersenyum dan berkata, “Pinjam kekuatanmu, partner.” Arsta bersinar diikuti oleh api biru yang semakin membesar.


Wushhhhhhh.


Lingkaran sihir merah menghilang, tangan milik Black Yeti menjadi lebih hitam. Monster itu, memandang ke depan, lalu berkata, “Terima ini.” Tangan terlentang lurus ke depan, kemudian cahaya hitam muncul.


“Datanglah,” ucap Kohta, sambil mengangkat pedang miliknya. Seketika cahaya hitam membesar dan melesat lurus ke arah Kohta. Sementara itu, Kohta mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah depan. Kohta mencoba untuk menebas serangan tersebut.


Boooommmmmmmm.


Ledakan besar terjadi kembali. Pegunungan Avrest Timur benar-benar bergetar hebat, salju yang berada di atas pegunungan mulai menurun ke bawah. Semakin lama salju semakin membesar dan cepat, longsor salju tersebut terus terjun entah menuju sisi hamparan maupun sisi luar hamparan.


Beruntung para Monster sudah pergi dari tempat tersebut. Jika tidak, mereka akan tertimbun oleh longsor salju tersebut. Sementara itu di dalam hamparan, Salju mulai mengisi kawah-kawah bekas pertempuran.


Di hamparan tersebut terlihat Black Yeti memandang ke depan. Dimana seorang Pemuda yang tengah berdiri dengan pakaian hancur, hanya tersisa bawahan saja. Otot-otot yang kuat terlihat di sekitar tubuhnya terdapat darah dimana-mana.


“Hah....Hah.....Hah..Aku tidak menyangka, kekuatan itu begitu besar. Apakah ini batasanku?” pemuda itu berkata sambil terengah-engah, dia masih sadar dan hanya terluka sedikit. Pemuda itu ialah Kohta, dia berdiri dimana di sekitar tanah dia berpijak hilang digantikan oleh salju.


Perlahan-lahan pandangan Kohta kabur. Namun, dalam sekejap tubuhnya bersinar berwarna emas kehijauan. Oda yang berada di alam jiwa tersenyum melihat hal itu, dia tidak menyangka akan ada orang yang sepertinya yaitu menjadi pengasuh.


“Mari kita bertukar tempat, tekadmu dan pertarunganmu sangat bagus. Namun, kau kelelahan jadi beristirahatlah. Biarkan aku yang melawan monster itu.”


Kohta mendengar suara tersebut, dia tanpa sadar mengikutinya dan menutup matanya. Tubuhnya sendiri terus bercahaya, lalu rambut miliknya memanjang dan berubah warna menjadi emas. Pedang Arsta seketika menghilang dan terganti oleh pedang yang sama sekali tidak terlihat.


“Nah, mari kita mulai.”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.


__ADS_2