
[Chapter 52.]
[Kota Sina.]
[Silahkan Dibaca.]
Kota Sina.
Sebuah Kota dimana memiliki lingkungan yang sangat damai dan hidup. Kota tersebut terdapat sebuah tembok besar yang mengelilingi kota.
Kota Sina memiliki arti lain, yaitu Kota lebah. Kota dimana banyak rumah yang akan terdapat sarang lebah.
Sarang lebah hanya berukuran setinggi pintu masuk rumah normal, dengan ciri-ciri memiliki tempat sendiri menghasilkan madu.
Lebah akan datang dari hutan, ada dua jenis lebah madu di Kota tersebut, di antara lain ialah, Lebah normal dan Lebah Spesial.
Lebah normal, lebah tersebut akan selalu datang setiap hari, mengambil tempat dan membuat madu di sarang.
Sementara Lebah Spesial, lebah tersebut akan datang di saat Musim lebah, musim tersebut akan terjadi setiap setahun sekali.
Lebah Spesial, sedikit berbahaya. Jika seseorang mengganggu lebah tersebut, nyawa akan jadi taruhannya.
Lebah tersebut menghasilkan sebuah Madu langka, madu yang sangat diinginkan seluruh wilayah.
Madu Vera.
Madu yang bisa membuat seseorang mengalami kebangkitan sebuah elemen.
Banyak wilayah yang ingin menguasai Kota Sina, karena Madu Vera tersebut. Namun, semuanya binasa seketika.
Mereka yang memiliki sifat serakah akan mati secara mendadak, tanpa tahu penyebab kematiannya.
Gerbang Kota Sina
Terlihat di gerbang terdapat berbagai orang, bahkan ada kereta-kereta karavan atau pedagang yang menunggu giliran untuk masuk.
Di salah satu para antrian tersebut terdapat tiga orang yang sedang mengantri dengan santai.
Tiga orang tersebut ialah, Kohta, Rina, dan Tessa. Mereka menunggu dengan tenang dan memandang sekitar mereka.
“Lokasi Kota ini benar-benar menarik,” ucap Kohta, dia melihat sebuah tanah penuh dengan rumput pendek.
Rumput tersebut terlihat pemisah antara gerbang maupun tembok kota dengan sebuah Hutan yang besar.
“Ya, dengan rumput tersebut. Orang yang berada di atas tembok, akan bisa mengenai musuh dengan mudah,” ucap Rina.
“Hmm, kau benar. Tapi beda lainnya jika musuh menyerang melalui udara,” ucap Kohta, diangguki oleh Rina.
Kemudian, mereka mendengar panggilan dari penjaga gerbang kota tersebut.
“Selanjutnya, kalian bertiga,” ucap Penjaga gerbang dengan tegas, kemudian Kohta, Rina, dan Tessa berjalan ke arah tempat tersebut.
__ADS_1
“Hijau, berarti kalian aman. Apakah ada kartu identitas?x” tanya penjaga gerbang kepada ketiga orang tersebut.
Kohta, Rina, dan Tessa mengeluarkan sebuah kartu milik mereka, itu adalah kartu identitas petualang.
“Oh, petualang. Baiklah, kalian silahkan masuk,” ucap penjaga gerbang, kemudian Kohta dan kedua istrinya masuk ke kota.
Dalam kota, Kohta dan kedua istrinya menatap ke sekeliling. Kohta memiliki wajah kagum yang hebat, sementara kedua istrinya terkesan biasa.
“Bagaimana bisa itu sarang lebah setinggi ini,” ucap Kohta, dia benar-benar terkejut melihat sarang lebih yang tinggi seperti pintu rumah.
“Eh, bukankah itu hal normal,” ucap Rina, dengan wajah polosnya. Sementara Kohta, mengerutkan keningnya, namun hanya mengangguk.
“Ini masih ukuran normal, Sayang,” ucap Tessa, Kohta bingung lalu bertanya kepada kedua istrinya.
“Lalu, ukuran besar sarang lebah berapa?” tanya Kohta, kemudian kedua istrinya menunjuk ke arah tembok kota.
“Setembok itu, dikatakan sedang. Ada yang lebih tinggi sebenarnya, namun itu hanya dimiliki Ratu Lebah,” ucap Rina.
“Itu benar,” ucap Tessa, sambil menganggukkan kepalanya. Kohta sendiri terkejut dengan informasi tersebut.
‘Tinggi tembok kota itu sudah sangat tinggi dan itu masih ukuran sedang dari sarang lebah,' batin Kohta.
Dia akhirnya menerima fakta tersebut, walaupun aslinya dia belum bisa menerima hal tersebut.
“Jadi begitu,” ucap Kohta, dia menatap ke arah rumah-rumah di kota Sina tersebut. Entah bagaimana, dia benar-benar menikmati suasana ramai kota Sina.
Rina dan Tessa juga berjalan, mereka memeluk lengan Kohta. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah bangunan bertulisan, Inn.
Mereka bertiga masuk ke dalam, lalu berjalan ke arah Resepsionis yang berdiri di tempatnya.
Mereka bertiga memesan kamar di penginapan tersebut, kemudian mereka berjalan ke arah kamar mereka.
Mereka bertiga masuk ke dalam kamar tersebut, lalu ketiganya duduk di tepi tempat tidur.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Kohta, melihat Rina dan Tessa memerah di pipi mereka.
‘Pipi memerah dan wajahnya juga ikut merah, bukan demam. Oh, hadiah mereka,' batin Kohta, dia menyadari hal tersebut.
Kohta tersenyum dan berjalan ke arah kamar mandi, membuat Rina dan Tessa menatap ke arah Kohta.
“Aku akan mandi dulu,” ucap Kohta, membuat Rina dan Tessa mengangguk tanpa sadar, kemudian saat Kohta masuk ke kamar mandi.
Keduanya saling memandang, mereka menatap ke arah kamar mandi, lalu Rina bertanya ke Tessa.
“Bukankah, dia barusan mengkode kita untuk ikut mandi?” Rina bertanya kepada Tessa, kemudian Tessa menjawab.
“Kau benar, kelihatan sangat. Dia memberi kita kode untuk ikut,” ucap Tessa, kemudian keduanya saling memandang dan mengangguk.
Keduanya melepaskan pakaian mereka dan masuk ke dalam kamar mandi tersebut, mereka memerah malu, namun tetap bertindak.
Di sisi Kohta.
__ADS_1
Beberapa menit sebelumnya.
Kohta masuk ke dalam kamar mandi. Dia berjalan dan masuk ke bak mandi selepas melepaskan pakaiannya.
“Kau seperti memikirkan sesuatu, Nak,” ucap Oda, kemudian Kohta menatapnya dan berkata.
“Nah, apakah di kota ini ada rahasia besar?” tanya Kohta, membuat Oda tersenyum dan berkata.
“Entah, kau carilah sendiri. Aku akan kembali dan nikmati hari ini,” ucap Oda menghilang masuk ke dalam tubuh Kohta.
Kohta menghela nafas panjang, melihat Oda yang masuk ke dalam tubuhnya tanpa memberi petunjuk.
‘Nikmati hari ini?’ batin Kohta, muncul tanda tanya saat mendengar kalimat tersebut, Kohta menggelengkan kepalanya.
‘Clara, apakah ada cara agar aku menjadi lebih kuat?’
[Banyak Tuan, tapi sistem sarankan untuk menaikkan sistem.]
‘Apakah akan ada hal menarik nanti?’
[Sangat menarik, Tuan.]
‘Baiklah, tapi tunggu nanti dulu,' ucap Kohta, kemudian dia mendengar suara pintu masuk kamar mandi terbuka.
Ceklek.
Kohta segera menatap ke arah pintu, dia terkejut melihat dua perempuan yang sangat cantik tanpa memakai apapun.
“Kenapa kalian tidak memakai apapun?” tanya Kohta, dia benar-benar terkejut dengan perkembangan tersebut.
Kohta mengira mereka hanya akan tidur biasa begitu, lalu Rina menjawab dengan malu-malu.
“Kami ingin mandi bersama,” ucap Rina, dengan suara yang menggemaskan dan malu-malu, bahkan Tessa menunjukkan sisi imutnya.
“Baiklah, masuklah,” ucap Kohta, dia menghela nafas, namun entah kapan dia akan menjadi serigala lapar tiba-tiba.
Mereka bertiga pernah mandi bersama, namun hari ini berbeda, karena bak mandi tersebut sedikit kecil dan mungkin cukup untuk bertiga, walaupun sedikit sempit.
Mereka berdua masuk ke dalam bak mandi, Kohta melebarkan tangannya, Rina dan Tessa paham dan duduk di pelukan Kohta.
Kohta bisa merasakan sensasi lembut tubuh kedua istrinya, tanpa sadar barangnya mulai menegak.
Keduanya melihat hal tersebut hanya berkata satu hal ‘Besar,' ucap mereka dalam hati, berbeda dengan Kohta, dia berfikir.
‘Sepertinya ujian kehidupan dimulai,'
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thanks you Minna-san.