
[Chapter 106.]
[Santai di Dunia kecil.]
[Silahkan Dibaca.]
Dunia kecil, Kohta berjalan menuju ke arah tempat para istrinya berada. Dirinya dituntun oleh Kirana selaku kepala pelayan beserta sebagian pelayan. Kenapa sebagian pelayan? Silahkan di cek apa yang terjadi sebagiannya di chapter sebelumnya.
Kohta berjalan sambil menatap ke arah luar, dimana pohon sakura besar berdiri dengan indah. Bunga-bunga terjatuh dari pohonnya. Bunga yang memiliki warna merah muda mirip dengan sesuatu yang dimiliki oleh seluruh perempuan.
Bunga sakura turun dengan cara berkelompok diterpa angin yang kencang membuat aroma sakura menyebar ke segala ruangan. Aroma itu membuat Kohta merasa segar dan benar-benar rileks.
Kirana dan sebagian pelayan melirik ke arah Kohta, mereka tersenyum ketika melihat tuannya sangat santai. Namun, mereka juga memerah ketika melihat wajah dari tuannya, wajah yang sangat tampan menyegarkan mata mereka semua.
Kohta menyadari hal itu, dia tidak masalah akan hal itu. Namun, untuk melakukan hal lebih mungkin, mereka harus ijin ke tempat para istrinya. Bagaimanapun juga Kohta tidak bisa melukai hati para istrinya.
Kirana dan para pelayan sedikit ingin melakukan permainan dengan Kohta. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa melahirkan, hal itu membuat mereka awalnya di buang dan hidup di pinggir jalanan.
Ibu Kohta melihat hal itu, dirinya benar-benar merasa kasihan. Alhasil Kirana dan para pelayan di angkat menjadi pelayan. Namun, anehnya Ibu Kohta berkata bahwa mereka hanya akan menjadi pelayan putranya yang tinggal jauh di bawah.
Kirana dan para pelayan lainnya terkejut, apakah mereka akhirnya hanya menjadi pemuas putra tuannya. Namun, saat melihat putra tuannya secara langsung mereka tidak menemukan bahwa putranya tersebut bjat atau melakukan hal msum kepada mereka.
Hal itu menambah kesan baik bagi Kirana dan para pelayan. Hal itulah membuat Kirana dan para pelayan begitu senang akan kehadiran Kohta. Sampai akhirnya mereka sendirilah yang msum namun putra tuannya tidak memanfaatkan hal itu untuk kesenangannya.
Hal itu juga membuat Kirana dan para pelayan senang dan sedih, senang karena mereka tidak akan dihukum hal yang tidak diinginkan oleh mereka. Sedih karena mereka ingin dihukum agar dekat dengan Kohta.
***
Kohta, Kirana dan para pelayan akhirnya tiba di tempat para istri Kohta berada. Kirana dan para pelayan menunjukkan ruang tempat beristirahat para istri Kohta. “Ini adalah ruangannya, Tuan.”
Kohta mengangguk dan berjalan ke arah pintu, sementara Kirana dan para pelayan akan pergi menuju ke tugasnya masing-masing. Namun, sebelum mereka pergi, Kohta berkata sambil tersenyum misterius. “Jika kalian tidak kuat menahan, beritahukan kepada istriku nantinya.”
Kirana dan para pelayan tertegun, wajah mereka langsung memerah penuh, asap keluar dari atas kepalanya. Kohta tersenyum melihat hal itu dan masuk ke dalam ruangan, akan tetapi saat tiba di ruangan Kohta mendapatkan aura tekanan yang besar.
Rina, Tessa, Kansha, dan Riana menatap Kohta dengan tatapan datar dan dingin. Mereka sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Kohta kepada para pelayannya.
Kohta melihat hal itu, dia hanya bergerak maju dan menatap santai kepada ke-4 istrinya tersebut. Dia tidak akan dengan istrinya, bagaimanapun dirinya adalah suami mereka dan dia memang tidak merasakan akan kesalahannya.
Para istri Kohta melihat suaminya mendekat, mereka entah kenapa terluka. Namun, mereka melihat Kohta menghilang dan muncul tepat di depan mereka. Ke-4 nya merasa ditarik dan merasakan kehangatan sebuah pelukan.
“Aku tidak tahu apa yang membuat kalian marah, aku minta maaf.”
Ke-4 perempuan merasa sesak ketika mendengar suara Kohta yang berat. Mereka memeluk Kohta namun bingung mereka harus marah atau tidak. Sebenarnya, mereka hanya ingin berpura-pura marah namun kenapa menjadi dramatis seperti ini.
Kohta memeluk ke-4 nya semakin erat, dia merasakan sensasi lembut di dda miliknya, dia tahu itu pasti buah milik istrinya. Entah kenapa, dirinya merasa panas sekarang. Alhasil Kohta memutuskan hubungan dengan Alam bawah sadar agar tidak dilihat oleh Oda dan Arthur.
__ADS_1
Dengan cepat Kohta mencium Rina dengan panas. Hal itu, membuat Rina terkejut dan perlahan larut. Kohta juga mencium Tessa, Kansha, dan Riana. Lalu, Kohta membaringkan ke-4 istrinya di tempat tidur.
‘Apakah bayi akan aman, Clara?’
[Bayi akan aman, Tuan. Anda tidak perlu khawatir karena saya sudah melindungi bayi tersebut dengan kemampuan baru anda.]
Kohta mengabaikan terlebih dahulu kemampuan barunya, sekarang fokusnya hanya kepada istrinya dan mengisyaratkan bahwa akan aman. Alhasil pasangan itu melakukan Pertempuran di tempat tidur.
Beberapa jam kemudian, Istrinya ingin berhenti namun Kohta semakin liar. Hal itu membuat mereka pasrah dan tak sadarkan diri, mereka membiarkan Kohta melakukan apapun yang dia inginkan selama mereka pingsan.
Kohta melihat istrinya semua pingsan, dirinya tersenyum dan membersihkan kekacauan di ruangan itu. Bagaimanapun juga, permainan mereka benar-benar intens dan mereka bermain di setiap sudut ruangan itu.
Kohta selesai membersihkan ruangan, dia juga membersihkan para istrinya. Kohta sebenarnya belum puas namun dia tidak ingin memaksa istrinya yang pingsan untuk melakukan permainan kembali.
Kohta segera duduk di tengah ruangan dengan posisi lotus. Dia merasakan seluruh energi masuk ke dalam tubuhnya, bahkan Qi bulan juga masuk. Kohta sedikit terkejut ketika merasakan wadah Qi bulan meningkat tajam.
Kohta tidak peduli dan hanya fokus mengisi energi saja, dia akan mencari tahu apa penyebab dari meningkatnya Qi bulan tersebut.
Sementara itu, semenjak permainan Kohta dan para istrinya. Kirana dan seluruh pelayan benar-benar menjadi memuncak, mereka memainkan area mereka di depan pintu kamar istirahat Kohta dan para istrinya.
Setelah Kirana dan para pelayan sedikit puas, mereka segera membersihkan kekacauan di luar agar tidak diketahui tuan mereka. Bagaimanapun juga pelayan tidak seharusnya melakukan tidak senonoh melihat tuan dan istrinya bermain.
Kirana dan para pelayan lainnya segera pergi ke masing-masing pekerjaan mereka. Kirana memerintahkan para pelayan untuk membuat berbagai makanan agar tenaga tuan dan istrinya kembali pulih.
***
Ke-4 istrinya menatap ke arah Kohta, mereka masih merasakan rasa sakit namun itu seperti rasa sakit saat mereka akan pingsan. Ke-4nya yakin bahwa suaminya tidak melanjutkannya kembali ketika mereka pingsan.
“Sayang, apakah kau tidak melanjutkan permainan disaat kita tidur?”
“Apakah yang dikatakan, saudari Rina benar, sayang?”
Kedua pertanyaan tersebut membuat Kohta menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak, selepas aku melihat kalian pingsan. Aku membersihkan ruangan dan mengisi energi Qi milikku.”
Ke-4 istrinya terkejut akan hal itu, mereka entah kenapa merasa bersalah. Mereka tahu bahwa suaminya benar-benar belum puas kemarin dan mereka yakin bahwa suaminya menekan keinginannya ketika melihat mereka yang pingsan.
Kohta melihat ke-4 istrinya muram, dia paling tidak suka akan hal itu. Kohta menghilang dan muncul di depan ke-4 istrinya tersebut. Lalu memeluknya dan menenangkan ke-4 istrinya tersebut. Dia tidak berkata apapun biarkan pelukan yang mewakili perkataannya.
***
Para istri Kohta sudah tenang, mereka sekarang paham bahwa hanya ber-4 saja tidak cukup. Alhasil mereka akan mendiskusikannya ketika Kohta mulai perjalanan kembali, juga Kohta diijinkan untuk menambah namun untuk urusan para maid agar mereka saja yang mengurus.
Kohta setuju saja, bagaimanapun juga dirinya tidak dirugikan. Terlebih dirinya akhirnya paham manfaat melakukan permainan. Qi bulan dalam dirinya naik drastis karena permainan tersebut, dia yakin akan hal itu, karena sejak keluar dari pegunungan Avrest Qi Bulan tetap sama.
Namun, ketika selesai melakukan permainan, Qi bulan miliknya meningkat drastis. Kohta memberitahu para istrinya dan mereka senang akan hal itu.
__ADS_1
Sekarang, Kohta dan ke-4 istrinya keluar dari ruangan tujuan mereka adalah ruang makan, selepas melakukan permainan mereka merasa benar-benar lapar. Kirana melihat Kohta dan istrinya, dia terkejut dan memerah.
“Selamat pagi Tuan dan Nyonya.”
Kohta dan para istrinya melihat Kirana, mereka tersenyum dan mengangguk. Kohta dan istrinya tahu bahwa seluruh pelayan dan Kirana menyaksikan permainan mereka dan ikut dalam bermain namun mereka bermain dengan jari mereka sendiri.
Kirana mengantarkan Kohta dan ke-4 istrinya ke ruang makan. Selepas menghidangkan makanan di depan Kohta dan ke-4 istrinya. Kirana dan para pelayan segera mengambil duduk dan mengambil makanan juga.
Kohta tersenyum senang ketika Kirana dan para pelayannya langsung mengambil tempat duduk tanpa perlu dirinya meminta. Kohta kemudian melihat bahwa semuanya sudah siap, Kohta mengangguk dan berkata, “Ayo makan.”
Dengan lembut mereka mengambil sendok, lalu perlahan-lahan mereka makan. Tidak ada suara sama sekali kecuali, hembusan angin dari luar dan tabrakan sendok dan piring. Hal itu karena pelajaran yang harus dimiliki seluruh orang, tidak boleh berbicara ketika makan.
***
Kohta tinggal di Dunia kecil hanya 4 hari. Hari-hari Kohta di Dunia kecil hanya melakukan meditasi, bermain dengan para istri, tidur, dan makan. Namun, ada perubahan ketika di hari ke 3, yaitu para pelayan dan Kirana juga ikut melayani Kohta.
Hal itu diijinkan oleh ke-4 istri Kohta, para pelayan dan Kirana senang akan hal itu. Mereka akan bermain ketika Kohta ingin melakukannya. Jika, Kohta tidak ingin mereka tidak bisa memaksa, hanya yang boleh memaksa adalah ke-4 istri Kohta.
Walaupun terlihat tidak adil, itu bukan masalah. Karena Kohta yang menurut mereka baik sebenarnya adalah Serigala yang lapar. Dia akan terus ingin melakukan ketika sudah diberikan lampu hijau oleh para istrinya.
Hal itu, bukan membuat ke-4 istrinya marah atau tidak senang, justru sebaliknya. Mereka senang ketika merasakan keinginan untuk mengalahkan Kohta tersebut. Mereka juga senang, bahwa mereka dapat puas dengan Kohta.
***
Hari ini adalah dimana Kohta akan pergi dari Dunia kecil. Dia akan sering datang untuk bermai- mengunjungi istrinya.
Kohta menatap ke arah para istrinya, dia mencium kening satu persatu dan tak lupa untuk menjadi nakal dengan meremas buah istrinya. Para pelayan dan Kirana juga mendapatkan hal sama, Kohta adil dan tidak membedakan siapapun.
“Baiklah, aku berangkat.”
“Hati-hati di jalan, Sayang / Tuan.”
Kohta mengangguk dan menghilang dari Dunia kecil miliknya. Para istri Kohta menatap ke arah Kirana dan para pelayan. “Karena kalian akan mengikuti Kohta, maka kalian juga ikut dalam berlatih.”
Kirana dan para pelayan mengangguk dengan senang, mereka benar-benar menghormati istri Kohta tersebut, karena para istri Kohta sangat baik kepada mereka.
***
Depan Gua menuju ke Pegunungan Avrest, Kohta muncul secara tiba-tiba. Dirinya tersenyum senang dan sekarang tatapannya tertuju ke arah kota yang tidak jauh darinya, Kota itu adalah Ibukota Arslan.
“Mari melanjutkan perjalanan.”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.