
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya Shaka tiba di tujuan dengan selamat tanpa kendala apa pun. Lelaki itu memarkirkan kendaraan roda empat miliknya di parkiran, kemudian mengayunkan kaki menuju pintu masuk restoran.
Tatkala sepatu kulit brand terkenal menginjak lantai restoran, seorang pelayan pria menyambut hangat kedatangan Shaka.
"Selamat malam, Pak Shaka. Silakan masuk, Nyonya Zahira sudah menunggu di dalam."
Pelayan pria berpakaian rapih sudah diberitahu lebih dulu oleh sang manager bahwa akan ada pelanggan bernama Shaka Abimana yang akan merayakan ulang tahun di restoran tersebut. Zahira pun telah memberikan foto agar pelayan itu tidak salah mengenali orang. Jadi jangan heran kalau saat ini pelayan itu dapat mengetahui jika di depannya adalah tamu yang ditunggu-tunggu sejak tadi.
Shaka tersenyum ramah saat mendengar nama istrinya disebut. Nama yang selama dua bulan belakangan ini menemaninya di saat suka maupun duka, tempatnya berbagi cerita dan juga suka cita.
Tanpa banyak berkata, Shaka melangkah ke dalam restoran bintang lima mengikuti pelayan berseragam hitam dan putih.
Sementara itu, Rini dan Rio mengintip dari balik pot bunga yang menjulang tinggi ke atas. Suasana temaram dan hening membuat Shaka tak menyadari jika sang mama tengah memantau anak bungsunya itu.
Tadi siang saat jam istirahat, Zahira memberitahu jika ia ingin mengadakan acara makan malam untuk merayakan ulang tahun Shaka yang ke-25 tahun. Dokter cantik berkulit putih bersih bagaikan susu turut mengundang mertua serta kedua orang tuanya agar acara mereka semakin meriah. Selain itu, ia pun ingin mengumumkan berita kehamilannya pada Rini, Rio serta ayah dan bundanya. Ia yakin berita ini akan membuat semua orang bahagia.
"Ma, itu Shaka udah datang. Ayo, kita kumpul di dalam. Siapa tahu Rara butuh bantuan," saran Rio pada istrinya.
__ADS_1
Sepasang suami istri yang sudah memasuki kepala lima hendak beranjak dari persembunyian. Akan tetapi, kehadiran sosok perempuan berpenampilan seksi menghentikan langkah mereka.
"Mau ngapain Nenek Lampir itu di sini?" cicit Rini. Lantas, ia menoleh ke samping sambil menghunuskan tatapan tajam pada suami tercinta. "Papa ngasih tahu, Ziva, kalau kita mengadakan acara makan malam bersama di sini?"
Dengan gerakan cepat Rio melambaikan tangan ke depan. "Enggak, Ma! Papa enggak ngasih tahu siapa pun tentang rencana Rara malam ini. Sungguh! Papa berani sumpah atas nama makam mendiang kedua orang tuaku." Tampak lelaki itu ketakutan setengah mati saat ekor mata Rini menatap tajam kepadanya.
Entah kenapa, semakin bertambahnya usia, Rio jadi semakin takut membuat kesalahan sekecil apa pun di depan Rini. Lelaki itu takut jika perempuan yang telah memberinya tiga orang anak pergi dan meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Rio bisa saja mencari pengganti Rini kalau dia mau. Toh dari segi penampilan dia masih terlihat keren meski usia sudah tak lagi muda. Kekayaannya pun melimpah ruah, mampu menarik perhatian kaum Hawa dari semua usia. Namun, apakah para wanita di luaran sana benar-benar tulus mencintainya tanpa memandang tampang dan harta kekayaan yang dimilikinya?
"Lantas, kenapa Nenek Lampir itu mengikuti Shaka ke sini? Enggak mungkin, 'kan, tiba-tiba aja dia datang ke sini tanpa diberitahu orang lain."
Rio menggendikan bahunya sambil berkata, "Papa enggak tahu. Mungkin aja Ziva membuntuti anak kita saat masih di kantor. Tadi siang Papa dengar dari David kalau dia datang ke kantor sambil membawa kue ulang tahun. Namun, dia diusir oleh Shaka."
"Bisa jadi karena Ziva enggak terima diperlakukan kasar, dia mencari celah agar bisa berduaan dengan anak kita. Eeh ... malah mendapati mobil Shaka mengarah ke restoran ini. Kita tahu sendiri bagaimana sifat wanita licik itu," sambung Rio menyampaikan pendapatnya di hadapan Rini. Tidak terima jika disebut bersengkongkol dengan wanita licik macam Ziva.
Tampak Rini manggut-manggut membenarkan perkataan sang suami. "Bisa jadi," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Loh, Mama mau ke mana?" tanya Rio saat melihat Rini melenggang begitu saja, meninggalkan dirinya.
"Mama mau buat perhitungan dulu sama perempuan itu. Enak aja dia tiba-tiba datang ke sini tanpa diundang siapa pun. Mama enggak mau kehadirannya malah merusak suasana pesta yang udah disiapkan susah payah oleh menantu kesayanganku." Tanpa memberi kesempatan pada Rio, Rini sudah berjalan setengah berlari menghampiri Ziva.
Kali ini Rini tidak akan tinggal diam, membiarkan Ziva seenaknya saja melukai perasaan Zahira untuk kesekian kali. Ia sudah berjanji pada sahabat dan dirinya sendiri akan menyingkirkan orang ketiga yang berniat merusak pernikahan Shaka dan menantu kesayangannya, Zahira. Apa pun akan ia lakukan demi keutuhan rumah tangga anak bungsunya itu.
"Aku harus menyusul Rini. Jangan sampai dia lepas kendali dan justru menyusahkan dirinya sendiri." Lantas, Rio bergegas mengekori Rini di belakang.
Rini mendekati Ziva dengan emosi meledak-ledak. Dada kembang kempis, deru napas pun memburu. Tatapan mata tajam seakan hendak merekam mangsanya.
"Ziva. Siapa yang mengundangmu datang ke sini, heh?" seru Rini sembari berkacak pinggang. Ibu tiga orang anak berubah menjadi naga betina yang siap menyemburkan apinya.
.
.
.
__ADS_1