
"Apa kita bisa pulang sekarang, Nyonya Shaka Abimana?" tanya Shaka sambil menautkan jemari tangannya ke milik Zahira.
"Tentu. Aku sudah merindukan apartemen kita, Ka. Dan juga merindukanmu." Perkataan Zahira yang terakhir tidak ia sampaikan pada Shaka sebab tak ingin dianggap wanita murahan karena mengatakan rasa rindu kepada seseorang terlebih dulu meski orang itu adalah suaminya sendiri.
Hati Shaka terasa sangat lega sekarang. Semua beban seakan terangkat dari bahu lelaki itu. Kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka akhirnya terselesaikan. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ini adalah terakhir kali mereka berselisih paham. Di kemudian hari, ia ingin lebih terbuka tentang apa pun kepada istrinya itu meski kenyataan itu pahit, tetapi setidaknya ia sudah berkata jujur.
Shaka berjalan di samping Zahira, ia terus merangkum jemari lentik nan lembut milik sang istri. Sesekali ia kecup punggung tangan gadis itu untuk mengungkapkan perasaannya meski pria itu tak menyadari jika sebenarnya rasa cinta di hati telah tumbuh dan bersemi sejak dulu.
Tak ada percakapan di antara mereka, hanya terdengar bunyi cicitan burung gereja yang bertengger di dahan pohon. Kendati begitu, hati sepasang suami istri itu terjalin semakin kuat.
"Dokter Rara, aku mencari--" Perkataan Dokter Nizam menggantung di udara kala melihat sosok pria berwajah khas Timur Tengah berdiri di samping tubuh Zahira. Ia semakin dibuat terkejut ketika genggaman tangan mereka saling tertaut satu sama lain.
Shaka menatap rekan sejawat Zahira dengan sorot yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Sebagai seorang lelaki, tentu ia bisa mengartikan tatapan seorang pria yang tengah jatuh hati kepada seorang gadis. Oleh karena itu, kini ia semakin waspada sebab tidak mau kalau sampai Zahira direbut oleh lelaki lain baginya sang istri adalah sesuatu yang sangat berharga di dunia ini melebihin apa pun.
Mengerti jika dokter Nizam menaruh hati kepada sang istri, Shaka menunjukan sifat kepemilikannya di hadapan rekan sejawat Zahira. "Sayang, kita pulang sekarang! Langit sudah semakin gelap, aku khawatir kita akan kemalaman kalau tidak secepatnya pergi dari sini."
Zahira yang berdiri di sebelah Shaka, membelalakan kedua matanya yang sipit. *Sayang? Sejak kapan dia memanggilku dengan sebutan i*tu?Tiba-tiba, wajah gadis cantik berkulit putih bersih tampak bersemu merah setelah menyadari perkataan Shaka. Ingin rasanya ia melompat tinggi sambil berteriak karena untuk pertama kalinya pria itu memanggilnya 'sayang' di hadapan orang lain.
Sialan! Kenapa Rara diam aja? Bikin tengsin nih, gerutu Shaka ketika Zahira tak merespon ucapannya. Akan amat memalukan sekali bagi lelaki itu kalau sampai Zahira tak membalas sebutan romantis yang susah payah ia ucapkan di bibir.
Butuh keberanian besar memanggil Zahira dengan panggilan 'sayang' di depan orang lain jadi jangan heran kalau Shaka akan merasa malu apabila sang istri tidak peka dengan perkataannya.
"Sayang, kok melamun sih." Akhirnya Shaka kembali memanggil Zahira dengan panggilan sama.
Bola mata indah Zahira mengerjap beberapa kali setelah sadar kalau saat ini Shaka sudah jengah berada dalam satu tempat dengan dokter Nizam. "Aah, ya. Tentu. Ayo, Mas, kita pulang sekarang."
Bodoh! Kenapa aku malah memanggil Shaka dengan sebutan Mas, kenapa enggak panggil namanya aja! Aargh ... bodoh! maki Zahira dalam hati. Entahlah, kenapa kata-kata itu malah meluncur di bibirnya yang ranum.
Sementara itu, Shaka hanya mengulum bibir agar tawanya tidak pecah. Panggilan 'mas' yang terucap di bibir Zahira begitu menggelitik perut, tetapi juga membawa tubuhnya melayang ke atas awang. Hati berbunga-bunga laksana bunga bermekaran di musim semi. Ah ... sungguh romantis sekali pasangan muda itu. Saling mencintai, tapi terlalu gengsi untuk mengungkapkan.
Shaka berdehem guna mengendalikan debaran jantung tak beraturan saat mendengar perkataan istrinya. "Dokter Nizam, terima kasih sudah mengantar istri saya," ujar pria itu dengan menekankan kata 'istri' seraya melangkah maju ke depan, meraih hand bag yang tergeletak di atas bangku taman sebelah tubuh dokter Nizam.
__ADS_1
Dokter Nizam tersenyum masam. "Nope, Pak Shaka. Saya merasa bahagia karena telah membantu Dokter Zahira."
Pastilah bahagia. Lah wong kamu bisa berduaan dengan istriku. *Dasar kutukupret!
Mencari kesempatan dalam kesempitan, menggunakan masalah rumah tangga untuk mendekati istriku*!
Dokter Nizam menatap Zahira dengan tatapan sendu. Wajahnya berubah mendung bagaikan langit yang diselimuti awan kelabu. Ia tak menduga kalau Shaka akan secepat ini menemukan mereka. Padahal, ia masih ingin mengajak Zahira pergi makan ke suatu tempat cozy dengan konsep restoran outdoor yang tengah booming di sosial media.
"Dokter Nizam, aku secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepadamu dan maaf kalau merepotkan." Kali ini Zahira membuka suara, menyampaikan ucapan terima kasih dan permintaan maaf sebagai bentuk sopan santun kepada orang yang telah menolongnya.
"Tidak masalah, Dokter Zahira." Hanya kalimat itulah yang mampu dokter Nizam katakan. Dada pria itu terus bergemuruh hebat tatkala netra melihat betapa eratnya genggaman tangan Shaka menggenggam jemari lentik nan halus di depannya.
"Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Shaka karena tak mau berlama-lama menatap wajah dokter Nizam yang sedari tadi mencuri pandang ke arah istrinya.
Zahira menganggukan kepala sebagai jawaban. "Dokter Nizam, kami duluan. Mari!" kata gadis itu sebelum meninggalkan taman.
Dokter Nizam terpaku di tempat, menatap punggung Zahira hingga mengilang dari pandangan. Lantas, ia menoleh ke samping di mana tadi Zahira duduk. Ada rasa sedih, kecewa dan sakit hati saat melihat gadis pujaan hati pergi bersama lelaki lain dan meninggalkannya sendirian di tempat yang sunyi.
"Shaka, kamu mau bawa aku ke mana?" Kening Zahira berkerut saat menyadari jalanan di depan sana bukanlah jalanan menuju apartemen mereka. Seharusnya setelah lampu merah, Shaka melajukan kendaraan itu berbelok ke kanan bukan malah ke kiri.
Shaka melirik sekilas ke arah Zahira, sebelah tangan kiri ia ulurkan untuk menyentuh puncak kepala istrinya. "Aku akan mengajakmu jalan-jalan sore, makan malam di luar dan setelah itu barulah pulang ke apartemen kita."
"Hah? M-makan malam di luar?" Lagi dan lagi, Shaka membuat Zahira terkejut setengah malam.
Belum usai keterkejutannya karena tadi secara mendadak Shaka memanggilnya 'sayang' dan kini pria itu kembali membuat jantung Zahira berdenyut lebih kencang dari biasanya saking kencangnya bahkan nyaris meledak.
Shaka kembali melirik ke arah Zahira saat menyadari gadis itu bergeming. "Ada apa, Ra? Kamu enggak mau makan malam denganku?"
Tangan kanan Zahira melambaik ke depan. "Tidak! Ehm ... maksudku bukannya tidak mau, Ka, aku mau kok kamu ajak makan malam di luar." Kepala gadis itu tertunduk malu. Rasanya wajah gadis itu kembali memerah bagaikan kepiting rebus saat ini.
Terdengar helaan napas lega bersumber dari Shaka. "Kupikir kamu enggan menghabiskan waktu denganku karena aku pernah menyakitimu."
__ADS_1
Zahira membalas perkataan Shaka lewat senyuman manis yang membuat siapa pun tergila-gila dibuatnya. "Kamu suamiku, tidak ada alasan bagiku untuk menolak ajakanmu. Tidak hanya makan malam, kamu ajak aku ke mana saja, aku pasti ikut. Kita akan melangkah bersama menyusuri jalanan di depan sana tanpa meninggalkan satu sama lain."
Meleleh sudah hati Shaka saat ini. Untaian kata itu terdengar begitu tulus berasal dari lubuk hati yang terdalam. Tanpa bisa dikendalikan, sebelah tangan kiri Shaka membawa kepala Zahira untuk bersandar di pundaknya. "Aku pun tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Apa pun keadaanmu, kita tetap bersama-sama."
Cukup lama Zahira menyenderkan kepala di pundak Shaka, hingga suatu kesadaran muncul ke permukaan. "Shaka? Kamu tahu aku ada di sana dari mana?" tanyanya penuh selidik.
"Dih ... kepo!" Alih-alih menjawab pertanyaan Zahira, Shaka malah berniat menggoda sang istri. Wajah gadis di sebelahnya akan terlihat begitu menggemaskan bila sedang dijailin.
"Iih ... Shaka, jawab dong. Kamu tahu aku ada di sana dari mana," rengek Zahira seperti anak kecil.
"Ehm ... kasih tahu enggak ya?" goda Shaka seraya mengetuk-ngetukan jari telunjuk di dagu.
Sikap Shaka yang terkesan ingin bermain-main membuat Zahira lelah. "Ya sudah kalau kamu enggak mau jawab, aku enggak mau ngomong sama kamu." Zahira pura-pura merajuk. Ia memalingkan wajah ke samping kiri dengan wajah cemberut.
Aah ... kenapa dia semakin menggemaskan kalau sedang merajuk gini sih. Bibirnya semakin menggoda iman dan ingin aku cicipi lagi.
Tampaknya Shaka semakin kecanduan akan manisnya madu yang bersumber dari bibir ranum Zahira.
Shaka menarik kembali tubuh Zahira hingga pundak gadis itu menyentuh pundak sang lelaki. "Baiklah, akan aku katakan." Tangan sebelah kiri Shaka mengucap lembut puncak kepala Zahira. "Karena aku tahu kebiasaanmu sejak dulu, kamu pasti mengunjungi taman setiap kali suasana hatimu sedang tak baik. Kebetulan taman itu merupakan tempat biasa kita nongkrong dulu bersama kedua kakak kembarmu, Ghani dan Zavier. Jadi, aku coba datang ke sana dan terbukti kamu sedang melamun sendirian di depan air mancur."
Zahira mendongakan kepala, menatap iris coklat Shaka. Tak percaya jika pria itu masih mengingat kebiasaan kecil dirinya padahal mereka sempat terpisah selama enam tahun lamanya.
"Lain kali, enggak boleh kabur-kaburan lagi ya? Aku capek Ra harus nyari kamu," ucap Shaka setengah berkelakar.
Dokter cantik menggigit bibirnya kuat-kuat sambil mengangguk. "Iya, ini terakhir kalinya aku kabur dari apartemen kita."
"Bagus. Mulai sekarang jika ada masalah yang mengganjal di hati harus secepatnya dibicarakan. Mengerti?" Zahira hanya menganggukan kepala sebagai jawabannya.
.
.
__ADS_1
.