Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Hari Pertama Menjadi Seorang Istri


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Zahira sudah ada di dapur. Tak membutuhkan bantuan orang lain guna mengantarkannya ke dapur sebab dia sudah tak asing lagi dengan bagunan mewah tersebut. Sejak usia empat tahu, dia serta kedua kakak laki-lakinya sering bermain dan menginap di rumah tersebut sehingga gadis cantik bermata sipit bisa dengan mudah mengetahui di mana posisi dapur berada. kehadiran gadis itu di dapur membuat para asisten rumah tangga yang terdiri dari dua orang wanita setengah baya membulatkan mata sempurna.


"Mbak Zahira tidak usah repot-repot. Sini, biar kami saja yang masak. Bibik takut kalau ketahuan Bu Rini. Beliau pasti marah karena kami membiarkan Mbak Zahira masak." Bik Ijah mencoba mengingatkan menantu bungsu majikannya.


"Iih ... Bibik. Repot bagaimana sih! Ini adalah pekerjaan mudah yang sering aku lakukan saat berada di Jepang. Tinggal jauh dari kedua orang tua membuatku harus bisa hidup mandiri dan tak lagi ketergantungan kepada orang lain. Lagipula, hanya memasak nasi goreng seafood lengkap dengan telur mata sapi tak membuatku kecapekan kok, Bik. Aku yakin, Mama Rini tidak mungkin marah karena melihat menantunya berada di dapur." Zahira terkekeh pelan sambil terus menuangkan bumbu masakan ke dalam sebuah wajah berukuran cukup besar.


Tangan Zahira bergerak dengan cekatan mengolah masakan. Bik Ijah dan Mbak Sar yang melihat kepiawaian gadis itu menjadi kagum, tak menduga kalau Zahira si anak manja telah tumbuh menjadi gadis mandiri dan tak segan berada di dapur bersama mereka. Padahal, status sosial gadis itu dengan para ART sangat jauh bagaikan bumi dan langit tetapi dokter cantik berhidung mancung tampak tak segan berada satu atap dengan para asisten rumah tangga.


"Bik Ijah, bisa tolong buatkan minuman hangat untuk Papa dan Mama? Biar pekerjaan ini segera beres dan kita semua bisa sarapan bersama," pinta Zahira dengan sopan. Tak lupa, seulas senyuman manis dia berikan kepada kedua asisten rumah tangga.


Tanpa diminta untuk kedua kali, bik Ijah dan mbak Sar bergegas membuatkan kopi dan teh hangat kesukaan mertua Zahira, sedangkan gadis itu kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Setelah hampir satu jam lamanya berkutat dengan pekerjaannya sebagai seorang istri sekaligus menantu di keluarga itu, akhirnya Zahira selesai membuatkan sarapan untuk semua orang. Gadis itu meletakkan menu sarapan di atas meja makan. Nasi goreng seafood lengkap dengan telur mata sapi, tomat dan mentimun iris telah tersedia dan siap disantap. Kepulan asap putih menguar ke udara, seakan mereka sedang melambaikan tangan ke arah siapa saja yang melihatnya untuk segera dinikmati.


Tepat setelah semua masakan terhidang di atas meja makan, sepasang suami istri paruh baya melangkah masuk ke dalam ruang makan disusul Shaka yang mengekori mereka di belakang.


"Ehm ... sepertinya menu sarapan kita pagi ini sangat spesial ya, Pa. Lihat, ada udang, sosis, bakso dan telur mata sapi juga. Aromanya pun lezat sekali. Pasti rasanya sangat enak," puji Rini seraya menghirup aroma masakan buatan menantu tersayang. Lantas, wanita itu duduk di sebelah Rio dan kembali berkata, "Mama sudah tidak sabar menyantap semua hidangan ini."


"Kamu benar sekali, Ma. Papa pun ingin segera menyantapnya." Rio menyodorkan piring kosong di hadapan Rini. "Tuangkan nasi goreng itu untukku, Ma. Tambahin sedikit dari porsi biasanya."


Melihat kedua mertuanya begitu antusias membuat wajah Zahira berseri. Wajah sumringah dengan senyuman manis terlukis di sudut bibir. "Terima kasih atas pujian Papa dan Mama. Aku jadi merasa tersanjung mendengarnya."

__ADS_1


Rini melirik ke arah Shaka yang masih bergeming di tempat. Sedari tadi sang anak terus bungkam seakan enggan ikut terlibat dalam percakapan. "Nak, siapkan kursi di sebelahmu untuk Zahira. Mulai pagi ini kita akan sarapan bersama sebagai satu keluarga."


Shaka menghela napas panjang, kemudian bangkit dari kursi dan menarik keluar sebuah kursi kosong di sebelahnya hingga terdengar bunyi berdenyit menggema memenuhi penjuru ruangan. "Duduklah, Ra. Kita akan mulai sarapan bersama."


"Iya, Ka." Zahira mengangguk patuh merespon perkataan Shaka. Untuk pertama kalinya Zahira duduk di sebelah Shaka sebagai istri dari pria itu, sedangkan Rini duduk di seberang Shaka dan Rio duduk di kursi tengah sebagai kepala keluarga.


"Ya sudah, sebaiknya kita makan sekarang selagi masakan masih hangat. Kalau sudah dingin tidak enak disantap," ujar Rini yang mengajak semua orang untuk sarapan.


Semua orang yang ada di sana menganggukan kepala setuju akan apa yang dikatakan oleh Rini. Lantas, Zahira menuangkan nasi goreng serta lauk pauk untuk sang suami, setelah itu barulah menuangkan makanan untuknya. Setiap gerak gerik gadis itu tak luput dari pandangan sepasang suami istri paruh baya.


Aku berharap ini merupakan langkah awal yang baik bagi anak dan menantuku dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Semoga saja jodoh mereka panjang dan tidak ada gelombang badai yang membuat kapal Shaka karam saat sedang berlayar. Rasanya aku tidak sanggup mendongakan kepala di hadapan Arumi dan Rayyan kalau sampai rumah tangga mereka hancur akibat kebodohan anak bungsuku. Aku benar-benar tidak sanggup, Tuhan. Rini berkata dalam hati, menyampaikan isi hatinya tanpa ingin diketahui oleh siapa pun.


Kegundahan Rini tertangkap oleh ekor mata Rio. Seakan mengetahui gejolak dalam dada sang istri, dia mengulurkan tangan sebelah kiri untuk menangkup jemari tangan Rini yang berada di atas meja makan. Kedua insan itu saling memandang satu sama lain. Pengacara kondang yang merupakan sahabat dari ayah Zahira tersenyum seakan memberitahu bahwa semua akan baik-baik saja.


Hingga akhirnya suara Shaka memecah kesunyian. "Pa, Ma. Aku baru saja mendapat kabar kalau apartemen yang kubeli telah siap dihuni. Jadi, kemungkinan siang ini aku dan Zahira akan pindah dari sini. Namun, sebelum itu aku akan mengajak Zahira ke rumah Bunda Arumi terlebih dulu, membawa barang-barang Zahira. Setelah itu, barulah kami melanjutkan perjalanan."


Keputusan Shaka untuk pindah segera ke apartemen cukup mengejutkan Rini dan juga Rio. Bagaimanapun, sahabat Arumi masih belum yakin kalau anak bungsunya akan bisa dengan mudah menerima Zahira menjadi bagian dalam hidup pria itu. Takut kalau Shaka akan bertindak khilaf dan malah melukai perasaan menantu kesayangannya.


"Kenapa tidak menunggu satu hingga dua bulan lagi, Ka? Rumah ini cukup luas kalau hanya ditinggali oleh Mama dan Papa. Sekalipun Indah dan Bagus mengunjungi kami, rumah ini masih bisa menampung kalian berdua," ujar Rini mengemukakan pendapatnya.


"Aku ingin menjalani hidupan rumah tangga hanya berdua dengan Zahira tanpa ada campur tangan dari siapa pun, Ma. Kalau kami tetap tinggal di sini maka selamanya aku dan Rara tidak bisa mandiri, menentukan keputusan kami sendiri. Aku ... tidak mau itu semua terjadi." Shaka mengembuskan napas panjang, kemudian menatap Zahira yang masih menyuapkan makanan ke dalam mulut. "Lagi pula, aku sudah memberitahu Rara kalau kami akan segera pindah dan dia pun setuju dengan keputusanku. Bukan begitu, Ra?"

__ADS_1


Zahira mendongakan kepala, lalu menjawab, "Benar, Pa, Ma. Aku akan menerima apa pun yang menurut Shaka baik bagi kami."


"Tapi--"


Belum selesai Rini mengucapkan kalimatnya, suara bariton Rio menggema hingga membuat wanita paruh baya terhenti.


"Kami akan selalu mendukung keputusan kalian. Nanti Papa akan mencarikan seorang asisten rumah tangga untuk meringankan pekerjaan rumah tangga Zahira," ucap Rio tegas.


"Terima kasih, Pa, Ma. Aku akan mengatur waktu untuk menginap di sini dan rumah Bunda Arumi agar kalian berdua tidak merasa kesepian. Jadi, baik Mama maupun Bunda Arumi tidak merasa iri sebab kami bisa mengunjungi kalian secara bergantian."


"Kalian atur saja bagaimana baiknya," ucap Rio seraya menatap pengantin baru secara bergantian. Ada rasa bangga sebab kini Shaka sudah mulai dewasa menyikapi masalah yang kemungkinan terjadi dalam rumah tangga mereka. "Ka, tolong jaga Zahira dengan baik. Mulai hari ini dia adalah tanggung jawabmu. Bahagiakan dia dan jangan pernah menyakitinya! Ingat itu, Nak."


Shaka menganggukan kepala, sedangkan Rini tampak mengusap ujung matanya yang berair.


.


.


.


Halo semua, author mau mempromosikan kembali karya milik temen nich. Yuk buruan dikepoin segera!

__ADS_1



__ADS_2