
Usai sarapan, Shaka menepati janjinya mengajak Zahira berkeliling melihat lingkungan kampus tempatnya mengemban ilmu selama empat tahun lamanya. Ia menjadikan University of Sydney sebagai pilihannya sebab kampus tersebut adalah universitas tertua di Australia dan juga berada di urutan kedua terbesar di negeri Kangguru. Selain itu seluruh materi perkuliahan diajarkan langsung oleh pendidik hukum terkenal, peneliti terkenal dunia dan praktisi erhormat serta cendekiawan dan pemimpin inernasional terkemuka dibidang peradilan dan pemerintahan. Jadi itulah kenapa Shaka memilih melanjutkan studi-nya di Universitas of Sydney, bukan yang lain.
"Ra, sebentar lagi kita masuk ke kampus aku tempat ngambil jurusan hukum," bisik Shaka di telinga Zahira. Sepasang suami istri itu berjalan bergandengan tangan memasuki gerbang kampus.
Mata Zahira berbinar saat kaki jenjang itu memasuki sebuah bangunan megah seperti kastil. Di sebelah kanan dan kiri terdapat hamparan rerumpunan luas berwarna hijau yang sedap dipandang meski bangunan tua, tetapi tak terlihat angker malah terkesan klasik.
"Wah, tempatnya luas sekali, Ka. Aku bisa nyasar nih kalau ke sini sendirian," kata Zahira setengah berkelakar. Ia ingin menjadikan setiap moment kebersamaan mereka tidak terkesan canggung ataupun terasa hambar karena keduanya saling membungkam mulut rapat-rapat.
Shaka terkekeh pelan. Ia semakin mengeratkan genggaman tangan seakan takut Zahira betulan tersasar dan ia harus kehilangan sang istri untuk kedua kali. "Aku enggak bakal biarkan kamu kesasar, Ra. Aku ... akan tetap menemanimu ke mana pun kamu pergi."
Zahira tak banyak berkata, gadis itu hanya tersenyum dan kembali menikmati pemandangan yang ada.
"Nah, Ra, kalau di sana adalah halaman yang biasa aku dan teman-temanku jadikan sebagai tempat ngongkrong sambil membahas tugas kuliah," papar Shaka menjelaskan secara detail krpada gadis cantik di sebelahnya. Tak bosan ia terus menjelaskan setiap tempat yang biasa dikunjungi saat lelaki itu masih tercatat sebagai mahasiswa hukum.
"Oh ya, Ka, perpustakaannya di mana? Kok dari tadi aku enggak lihat ruangan bertuliskan 'library'," tanya Zahira sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru.
"Ada di sebelah kiri, tapi sebaiknya kita enggak usah mampir deh takut kamu kecapekan. Lebih baik sekarang aku ajak kamu melihat spot indah di kampus ini yang biasa dijadikan tempat bersantai para mahasiswa Usyd," ujar Shaka. Menurut lelaki itu untuk apa melihat-lihat perpustakaan toh niatan mereka ke sini untuk berjalan-jalan bukan membaca buku apalagi diskusi tentang mata kuliah. Ia hanya ingin bersenang-senang tanpa melihat tumpukan buku tebal dengan lembar halaman beratus-ratus.
Kini Shaka dan Zahira duduk di sebuah bangku di taman belakang kampus. Tempat itu cukup bersih, udara segar tak ada polusi dan pemandangannya pun indah sekali.
Shaka menyodorkan air mineral yang ia beli di café tadi kepada Zahira. "Minumlah, kamu pasti haus." Tanpa basa basi, Zahira segera menerima botol minum yang telah lebih dulu dibuka segelnya oleh sang suami.
Shaka hanya tersenyum saat melihat Zahira begitu dengan rakus menegak air mineral dalam botol tersebut. Terlihat jelas jika gadis itu kehausan. Sambil beristirahat mereka kembali bercengkrama, membahas apa saja yang sekiranya patut untuk dibicarakan.
Namun, tiba-tiba seseorang datang menghampiri keduanya. "Shaka Abimana!" seru lelaki asing itu.
Shaka menoleh ke sumber suara. Senyuman lebar terlukis jelas di sudut bibir saat ia kembali bertemu dengan Justin, teman sekelasnya dulu. "Hei, Justin, apa kabar? Oh astaga, lama tidak bertemu," sapanya ramah. Sang pengacara memeluk teman dekatnya itu sambil menepuk punggung pelan. Dua tahun tak bertemu membuat pria itu begitu merindukan teman sekelas sekaligus room mate-nya selama tinggal di asrama.
__ADS_1
Zahira mengamati keduanya. Sepertinya Justin merupakan orang terdekat bagi Shaka setelah Nicholas hingga sang suami tanpa segan-segan menerima jabatan tangan kemudian memeluk pria itu. Sikap Shaka pun terlihat begitu ramah jika dibandingkan berinteraksi dengan orang lain.
"Kabarku sangat baik sekali. Aku tak menduga jika kamu benar-benar akan mengunjungi kampus ini lagi setelah dua tahun lulus kuliah."
Shaka tertawa renyah. "Aku bukanlah tipe lelaki pembohong yang suka ingkar janji."
Aah ... tampaknya pengacara muda itu lupa jika ia pernah berbohong sekali kepada Zahira saat menemui mantan tunangannya dulu.
"Justin, kenalkan, ini istriku namanya Zahira. Kami baru menikah satu bulan yang lalu." Shaka mulai mengenalkan sang istri kepada teman dekatnya itu.
Justin mengulurkan tangan ke hadapan Zahira, tapi dengan gerakan cepat Shaka menerima uluran tangan pria itu. "Namanya Najma Zahira, dia istriku."
Sontak kelakukan Shaka yang terkesan aneh membuat tawa Justin pecah detik itu juga. "Come on, Man! Aku tidak mungkin merebut dia dari sisimu," kelakar pria keturunan asli Eropa. Tahu betul jika saat ini Shaka tengah dilanda rasa cemburu dan takut kehilangan Zahira.
Dokter cantik berambut panjang terpaku di tempat melihat sikap Shaka yang terkesan over protective bahkan untuk menerima jabatan tangan lelaki lain saja tidak boleh.
Merasa namanya dipanggil, gadis itu pun mengangguk dan berjalan mendekati mereka.
"Kenalkan, ini Li Wei, dia kekasihku," jelas Justin kepada Shaka dan Zahira.
"Hai, aku Li Wei," sapa pemilik mata sipit dan berwajah oriental.
"Aku Shaka Abimana dan wanita di sebelahku adalah Zahira. Istriku."
Zahira tersenyum ramah saat melihat ada gadis lain di tengah-tengah mereka. Berpikir pasti Shaka tidak keberatan jika dirinya menjabat tangan Li Wei. "Hai, aku Zahira. Senang bertemu denganmu."
"Ka, kalau tidak salah istrimu ini pernah kuliah di Jepang, betul?" kata Justin sesaat setelah mereka duduk bersama di bangku panjang menghadap air mancur.
__ADS_1
Shaka menganggukan kepala. "Benar. Dia enam tahun kuliah di sana mengambil jurusan kedokteran."
"Waah! Jadi, istrimu seorang dokter? Hebat sekali kamu, Ka. Dokter dan pengacara bersatu. Aku yakin jika kalian punya anak, keturunan kalian akan terlahir menjadi anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Dan bukan hanya itu saja, tapi juga anak jenius yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata," seru Justin. Menoleh dan mencium punggung tangan kekasih tercinta dengan penuh kelembutan. "Benar begitu, Baby? Kita pun sebentar lagi akan mempunyai anak-anak lucu, perpaduan wajah Eropa dan Cina, pasti sangat menggemaskan."
Li Wei tersimpu malu. Senyum bermekaran di wajahnya yang cantik jelita. Justin tetap memperlakukannya istimewa meski kini tubuhnya banyak mengalami perubahan akibat napsu makan bertambah.
Shaka mengerutkan kedua alis, perkataan Justin terdengar begitu ambigu. "Tunggu, jangan bilang jika saat ini kekasihmu sedang mengandung," ulik sang pengacara meluruskan dugaannya.
"Tepat sekali! Aku baru saja mengantarkan kekasihku ke dokter dan katanya saat ini usia kandungan Li Wei memasuki minggu ke-8. Sebentar lagi aku akan menjadi ayah dan kamu, Shaka, akan menjadi paman bagi anakku. Hebat, 'kan, aku?" katanya seraya menaik turunkan kedua alis seakan ingin menunjukan bahwa ia lebih unggul dalam urusan ranjang dibanding Shaka.
"Terlalu bangga akan diri sendiri!" gerutu Shaka sambil mendengkus kesal. Bagaimana tidak kesal, di saat ia susah payah menahan gelora hasrat yang dipendam selama ini, Justin malah dengan bangga pamer di hadapannya dan mengatakan bahwa teman sekelasnya itu berhasil membuat adonan bersama Li Wei meski mereka belum terikat tali pernikahan. Sementara dia dan Zahira, telah menikah selama satu bulan, tapi belum pernah belah durian.
Justin tertawa. "Tentu saja bangga. Itu artinya aku lelaki perkasa yang mampu menghamili kekasihku."
Wajah Zahira semakin merah padam mendengar percakapan kedua lelaki itu. Entah kenapa ia sedikit risih saat ada dua orang lelaki membahas sesuatu yang menurutnya begitu intim, tapi mungkin bagi sebagian orang biasa-biasa saja.
Ekspresi wajah Zahira tertangkap ekor mata Li Wei. Ia sadar bahwa istri dari teman kekasihnya itu risih dengan percakapan antara kedua lelaki tampan itu.
Lantas, Li Wei berinisiatif mengajak Zahira meninggalkan dua lelaki tampan yang sudah lama tak berjumpa. "Zahira, kita duduk di sana saja. Aku ingin lebih mengenalmu. Siapa tahu kita bisa menjadi teman dekat."
Zahira melirik ke arah Shaka, seakan meminta izin kepada lelaki itu. Sang pengacara menganggukan kepala sebagai jawaban. Lantas, dua wanita cantik bermata sipit dan sama-sama pernah kuliah di Jepang meninggalkan kedua lelaki itu.
.
.
.
__ADS_1