Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Jangan Banyak Makan Durian, Nanti Gumoh!


__ADS_3

"Aku pulang!" ucap Shaka saat ia tiba di apartemen. Namun, tak ada satu orang pun menyahuti perkataannya.


Kedua alis mengerut petanda bingung. Tumben sekali, Zahira tidak menyambut kedatanganku. Biasanya dia akan berdiri di ujung sana sambil tersenyum hangat kepadaku. Apa mungkin dia masih di rumah sakit? batin Shaka.


Tubuh letih akibat seharian bekerja ditambah harus menyelesaikan segala urusan pekerjaan sebelum waktu cuti tiba membuat Shaka mau tidak mau pulang terlambat dari biasanya. Oleh karena itu, ia tidak bisa menjemput istrinya di rumah sakit. Jadi jangan heran jika saat ini ia sedikit kebingungan mencari keberadaan Zahira.


Berjalan menyusuri lorong kecil menuju ruang tamu, Shaka berniat membelokan tubuh ke salah satu kamar yang ada di ujung ruangan tapi ia mendengar suara berisik di dapur. Merasa penasaran, ia pun memutuskan berjalan ke arah dapur. Senyuman merekah di sudut bibir saat melihat Zahira tengah menggerakan tubuh seirama dengan musik yang tengah diputar.


"Straight to ya dome like woah, woah, woah."


"Straight to ya dome like ah, ah, ah."


(Pink Venom by Blackpink)


Zahira begitu menikmati alunan suara merdu dari salah satu girl band asal negeri Korea Selatan. Tubuhnya pun ikutan bergoyang ke sana kemari dengan begitu luwesnya.


Shaka terpaku beberapa saat di tempat, kelopak mata tak berkedip sedikit pun saat di depan mata ia melihat jelas istrinya menari sambil terus menyiapkan hidangan makan malam untuk mereka semua.


Setiap kali tubuh seksi Zahira bergerak di saat itulah jakun sang lelaki bergerak, menelan saliva dengan susah payah. Kenapa akhir-akhir ini penampilan Zahira begitu seksi dan menggoda? Lantas, pandangan lelaki itu mulai turun ke arah bagian bokong sang istri. Dan--"


"Den Shaka udah pulang?" ucap Budhe Erna dari arah belakang. Suara wanita itu seketika membuyarkan lamunan Shaka yang sempat melayang beberapa saat.


Shaka terlonjak kaget bahkan nyaris menjatuhkan tas kerja miliknya ke lantai. Jantung pria itu langsung berdetak tak beraturan, wajah memerah disertai aliran tubuh yang mulai terasa panas dimulai dari daun telinga dan menjalar ke mana-mana.


Shiit! Apa yang kamu lakukan Shaka? Hampir saja kamu biarkan pikiran kotormu itu menguasai isi kepala, rutuk Shaka dalam hati.


Rona kemerahan di wajah Shaka tampak begitu kontras dengan warna kulitnya hingga membuat budhe Erna tampak begitu mencemaskan anak dari majikannya. "Den Shaka demam? Mau Budhe buatkan wedang?" tanya wanita itu cemas.


Si pemilik paras rupawan mengangguk, kemudian menggeleng dan mengangguk lagi dengan cepat. Entahlah kenapa pikiran lelaki itu jadi kosong setelah kedapatan memandangi sosok perempuan di depan sana tanpa mengedipkan mata.


"Aden betulan sakit? Kalau begitu Budhe akan siapkan obat untuk Aden." Tanpa basa basi Budhe Erna bergegas berjalan menuju dapur.


Mendengar suara ribut-ribut di ambang pintu, Zahira yang sudah selesai berjoget ria dan telah menata hidangan di meja makan mengalihkan pandangan lurus ke depan sana. Alangkah terkejutnya dia saat melihat Shaka yang mematung dengan sorot mata tak terbaca.

__ADS_1


"Budhe, ada apa? Shaka kenapa?" tanya Zahira penasaran. Asisten rumah tangga paruh baya itu mulai mengusap jahe yang ia ambil dari wadah di sebelah kompor.


Budhe Erna menoleh sekilas, kemudian kembali menyibukan diri. "Den Shaka sakit, Mbak. Tampaknya sedang demam."


Tanpa membuang waktu Zahira berlari menghampiri sang suami. Ia sedikit berjinjit, lalu mengulurkan tangan ke depan menyentuh kening suaminya. "Ehm ... suhu tubuhmu normal, tapi kenapa wajahmu memerah?"


"Apa?" Shaka mengerjap, menggerakan kelopak mata beberapa kali. Dia berada dalam jarak yang terlalu dekat dengan Zahira. Saking dekatnya hingga ia dapat merasakan embusan napas panas menerpa wajahnya yang semakin memerah.


Zahira memandangi iris coklat milik suaminya. "Aku tanya kenapa wajahmu memerah? Kamu sedang tidak enak badan?"


Shaka menggeleng. "Enggak. Aku ... baik-baik saja." Ia turunkan tangan Zahira yang masih menempel di kening. "Aku enggak sakit, mungkin Budhe hanya salah paham saja."


Tampak Zahira manggut-manggut. "Ya sudah, kalau kamu emang enggak sakit. Sebaiknya kamu mandi dulu sana, setelah itu makan malam bersama. Aku buatkan makanan kesukaanmu dan hidangan penutup yang bisa kita nikmati bersama."


Shaka berdehem guna mencoba mengendalikan degup jantung yang sedari tadi semakin kencang berdetak. Tentu saja ia tidak ingin kalau sampai Zahira mendengar bahwa posisi mereka yang terlalu intim menimbulkan sesuatu aneh di diri sang pengacara. "Baiklah. Ra, aku minta kamu siapkan pakaian untukku. Aku sering lupa membawa pakaian ganti setiap kali sudah masuk kamar mandi."


Zahira terkekeh pelan mendengar permintaan Shaka. "Iya, nanti aku siapkan."


Makan malam pun berjalan khidmat. Baik Shaka maupun Zahira tampak begitu menikmati hidangan di atas meja makan. Saat ini hanya ada mereka berdua di ruangan itu sebab budhe Erna sedang sibuk menyetrika pakaian di ruang laundry.


"Bagaimana pekerjaanmu di kantor, lancar?" Zahira memulai percakapan di antara mereka.


Shaka mengangguk sambil terus menyuapkan makanan ke dalam mulut. "Alhamdulillah lancar. Sedikit demi sedikit pekerjaanku mulai rampung karena itulah aku pulang terlambat dan enggak bisa jemput kamu seperti biasa. Maaf, ya?"


Zahira tersenyum tipis. "Enggak perlu minta maaf, toh kamu memang betulan sibuk. Lagi pula, aku bisa nyetir sendiri meski kamu enggak bisa jemput."


"Oh ya, Ka, aku tadi siang udah bilang sama Ayah tentang rencana kita bulan madu," kata Zahira sesaat setelah suasana kembali hening.


"Lalu?"


"Ayah memberikan izin padaku," jawab si cantik jelita singkat. "Kata Ayah, kamu jangan terlalu banyak makan duren nanti gumoh!"


Sontak Shaka tersedak makanan yang baru saja melewati tenggorokannya. Ia tak menyangka jika ayah mertuanya yang terkesan dingin, tegas dan jarang banyak bicara mampu memberikan nasihat secara tersirat kepada istrinya. Sebagai lelaki dewasa yang normal tentu saja ia tahu makna dibalik kata makan duren jadi ketika mendengar Zahira mengatakan hal tersebut ia cukup terkejut hingga tersedak oleh makanannya sendiri.

__ADS_1


"Loh, Shaka, kamu kenapa?" Dengan gerakan cepat, Zahira segera menuangkan air ke dalam gelas, kemudian menyodorkan ke hadapan Shaka.


Tanpa menunggu lama, Shaka meraih gelas tersebut dan menegaknya hingga tersisa setengahnya. Astaga, kenapa Ayah mertuaku berkata begitu? Apa beliau sadar bahwa ucapannya barusan menimbulkan pikiran aneh yang sempat muncul dalam benakku beberapa waktu lalu? Aargh! jerit lelaki itu dalam hati.


Setelah dirasa tenang, barulah Shaka berkata, "Ehm ... Ayah betulan ngomong gitu ke kamu?" tanyanya penuh selidik. Mata lelaki itu memicing tajam ke arah istrinya.


"Betul. Masa sih aku bohong."


"Kamu tahu artinya apa?" Shaka kembali mengajukan pertanyaan konyol kepada sang istri. Ia sedikit penasaran apakah gadis di sebelahnya itu tahu maksud duren yang dimaksud oleh Rayyan.


Sambil mengangguk Zahira menjawab, "Makan duren ya makan buah duren, 'kan? Duren itu adalah salah satu buah-buahan yang aromanya nikmat dan rasanya lezat. Namun, bila terlalu banyak mengkonsumsinya dapat menyebabkan masalah yang berhubungan dengan usus seperti kembung, perut bergas bahkan bisa sembelit," jawab gadis itu polos. Jawaban itulah membuat bola mata Shaka terbelalak sempurna.


Oh Tuhan, bagaimana bisa gadis pintar seperti istriku tidak tahu makna kiasan itu? Murid berprestasi saat masih sekolah, kuliah di Jepang pula, tapi kenapa hal begitu aja enggak ngerti.


Pantas saja Ghani, Zavier dan Ayah Rayyan begitu menjaganya karena rupanya dia begitu polos hingga tak menutup kemungkinan bisa menjadi sasaran empuk lelaki berengsek untuk membohonginya.


Acara makan malam telah usai, kini pasangan suami istri itu telah berada di kamar masing-masing. Shaka telah meminta Zahira untuk tidur satu kamar dengannya, tetapi ia masih belum mau berada dalam ruangan yang sama dengan sang suami. Bukannya tidak mau tidur bersebelahan, melihat wajah tampan suami tercinta setiap kali bangun tidur merupakan impian terbesar bagi Zahira. Hanya saja ia takut khilaf dan malah melakukan hal bodoh yang akan membuatnya malu seumur hidup.


Zahira baru saja selesai mengenakan hand body dan krim malam. Ia hendak membaringkan tubuh ke kasur, tapi sebuah pesan singkat masuk dan mengalihkan perhatian gadis itu.


"Nomor siapa ini? Kok tidak ada nama pengirimnya," gumam gadis itu. Kedua alis tertaut satu sama lain.


Timbul rasa penasaran dalam diri gadis itu, ia pun membuka pesan tersebut. ["Besok, temui aku di café Senja pukul dua belas siang"]


Makin penasaranlah Zahira saat si pengirim pesan memintanya bertemu di sebuah café padahal ia sama sekali tak tahu siapakah gerangan si empunya nomor tersebut.


Lantas, Zahira membuka foto profil nomor tersebut, ketika ia sudah membukanya alangkah terkejutnya gadis itu melihat foto yang terpampang di sana. "Ziva?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2