Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Proses Kelahiran si Kembar


__ADS_3

Saat ini Zahira sedang ditangani dokter Niken di ruang tindakan sementara Shaka menunggu di depan ruangan tersebut dengan harap-harap cemas. Pasalnya usia kandungan Zahira baru memasuki minggu ke-32 dan masih tersisa sekitar 5 mingguan lagi agar genap 37 minggu.


Ya Tuhan, selamatkan istri dan anak-anakku. Semoga tidak terjadi hal buruk menimpa mereka. Usai merapalkan do'a, kelopak mata Shaka terbuka, kedua tangan yang tertaut saling meremas satu sama lain guna mengurai perasaan tak menentu di dalam diri pria itu.


Sementara itu, Rayyan baru saja selesai melakukan tindakan operasi pada pasien dengan diagnosa tumor otak. Setelah membaca pesan yang dikirimkan Arumi, pria itu bergegas menemui sang istri di ruangan.


"Babe!" Suara bariton Rayyan sukses membuat Arumi yang sedang duduk di kursi kebanggaan suaminya menoleh ke sumber suara.


Arumi bangkit dari kursi dan berjalan mendekati suami tercinta. "Honey, untung aja kamu datang. Ayok kita segera temui Shaka, aku khawatir terjadi hal buruk menimpa Rara. Usia kandungannya belum genap 32 minggu, tapi dia udah mulas."


Rayyan merangkum jemari lentik istrinya, lalu mereka berjalan tergesa-gesa menuju ruang tindakan. Sepanjang jalan keduanya tak menghiraukan sapaan dari para pekerja rumah sakit sebab saat ini di kepala mereka hanya ada nama Zahira seorang. Pasangan suami istri yang telah memasuki usia senja begitu mencemaskan keadaan putri tercinta.


"Shaka?" Mendengar namanya dipanggil, Shaka pun menoleh dan bergegas bangkit dari kursi, menyambut kedatangan ayah dan ibu mertuanya.


"Ayah, Bunda. Rara ... dia-"


"Ada apa dengan anak saya? Kamu pasti menindas Rara untuk terus menuntaskan hawa napsumu itu, 'kan? Mentang-mentang cara itu dianjurkan dokter untuk mempermudah proses persalinan, kamu justru memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!" sembur Rayyan dengan bola mata memerah.


Dengan satu gerakan, Rayyan mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan Shaka, menariknya dengan kasar hingga posisi pria itu berada persisi di hadapan ayah empat orang anak. Kedua tubuh tinggi menjulang saling berhadapan, mata saling menatap satu sama lain.


"Ayah ... a-aku enggak apa-apain, Rara. Sungguh!" Shaka menyahut dengan suara terbata. Sumpah demi apa pun, saat ini ia ketakutan setengah mata melihat ayah mertuanya itu. Wajah Rayyan begitu menakutkan. Shaka dapat melihat jelas rahang ayah mertuanya yang mengeras dan tatapan tajam bagaikan mata pisau yang sangat tajam. Baru melihatnya saja sudah membuat buku kudu meremang seketika.


"Jangan mencoba membohongi saya! Kamu itu anak baru kemarin sore, jadi jangan harap bisa mengelabuiku!" Rayyan semakin mengeratkan cengkeram hingga membuat Shaka terbatuk karena merasa kerah kemejanya mencekik leher.


"Mas Rayyan, hentikan! Kamu bisa membunuh menantu kita!" seru Arumi seraya menarik tangan suaminya yang sedang mencengkeram erat kerah pakaian Shaka. "Kalau dia mati, putrimu akan menjadi janda dan kedua cucunya lahir tanpa pernah tahu wajah Papanya. Kamu mau Rara membencimu karena telah merampas kebahagiaannya, hem?"

__ADS_1


Teriakan itu sangat ampuh menghentikan kegilaan Rayyan. Sejak dulu pria itu memang terkenal akan tempramental tinggi hingga membuatnya terkadang jadi hilang kendali, terlebih menyangkut istri dan anak perempuannya. Pria berdarah Tionghoa dari sang mama berubah menjadi naga jantan pemarah yang siap menyemburkan apinya.


Cengkeraman Rayyan mengendur dan perlahan terlepas. Shaka memanfaatkan momen itu untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin. Nyaris saja ia meninggal di tangan ayah mertuanya sendiri.


Setelah merasa pasokan oksigen di dalam paru-paru tercukupi, Shaka berkata, "Ayah, Bunda, demi Tuhan, aku sama sekali enggak menindas Rara. Kalian pasti tahu bagaimana tulus dan besarnya cintaku kepada Rara."


"Tadi aku mengajak Rara melihat rumah yang kuhadiahkan khusus sebagai kado ulang tahunnya. Namun, ketika kami sedang istirahat sambil mengobrol, tiba-tiba aja Rara mengeluh kalau perutnya sakit lalu aku membantu dia bangkit dan bergegas membawanya ke rumah sakit meski awalnya aku cukup terkejut melihat Rara kesakitan." Shaka mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada mereka sebelum Rara dilarikan ke rumah sakit. Ia tidak mau dituduh pria yang tak mampu menahan hasrat saat bersama istrinya.


"Lalu, kenapa dia bisa sampai melahirkan sebelum waktunya?"


"B-bisa jadi karena Rara mengandung bayi kembar. Bukan begitu, Bun?" Shaka melirik ke arah Arumi, mencari bantuan mertuanya itu. Wanita di sebelah menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Yang dikatakan menantunya benar, Mas. Kamu itu dokter seharusnya lebih mengerti daripada Shaka." Arumi membela Shaka di depan suaminya. "Ada beberapa faktor yang menyebabkan bayi lahir prematur seperti mengkonsumsi alkohol, merokok, kelebihan ataupun kekurangan berat badan, mengandung bayi kembar serta jarak kehamilan yang terlalu dekat. Jika menelisik lebih lanjut, beberapa faktor yang kusebutkan hanya faktor kehamilan kembar saja yang membuat cucu kita lahir prematur."


Rayyan terdiam. Pria itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Maafkan Ayah, Ayah hanya kalut dan tidak dapat berpikir jernih." Timbul penyesalan dalam diri pria itu karena bertindak bodoh dengan menyudutkan menantu sekaligus anak dari sahabatnya.


Dengan sedikit ragu Shaka tersenyum. "Enggak masalah, Yah, aku bisa maklum."


Keheningan pun kembali tercipta, di antara Shaka dan kedua mertuanyan tidak ada satu pun yang bersuara. Mereka berdo'a, memohon pertolongan pada Sang Maha Kuasa.


"Kenapa lama sekali? Sebenarnya apa yang dilakukan Dokter Niken di dalam sana? Andai aku tahu akan selama ini, aku pasti memaksa masuk ke dalam untuk menemani Rara melahirkan." Shaka mondar mandir di depan ruang tindakan. Dari dalam sana terdengar jeritan kesakitan dan suara lantang dokter Niken, memberi instruksi pada pasiennya.


Arumi yang duduk tidak jauh dari Shaka lantas dengan segera mendekati menantunya lalu menyentuh bahu pria itu. "Perbanyak do'a dan memohon kelancaran pada Rara. Bunda yakin, segalanya akan berjalan lancar sesuai dengan harapan kita semua."


Dari dalam ruang tindakan, tampak Zahira sedang berjuang sekuat tenaga demi melahirkan kedua buah cintanya bersama suami tercinta. Butiran keringat sebesar biji jagung membasahi kening dan leher wanita itu.

__ADS_1


"Aargh! Dok, sakit!" ucap Zahira lirih sembari meremas sprei putih sekuat tenaga.


Saat Zahira dipindahkan ke ruang tindakan, ia ingin sekali Shaka masuk dan menemaninya melahirkan buah cinta mereka. Namun, ia berubah pikiran saat melihat betapa pucatnya wajah Shaka. Wanita itu khawatir, kehadiran Shaka di ruangan justru membuat semua orang heboh dan menghambat kinerja dokter Niken serta para perawat.


"Sabar, Dokter Zahira. Sedikit lagi Dokter akan melihat wajah si sulung. Tuh kepalanya udah mulai kelihatan." Dokter Niken memberi semangat kepada Zahira untuk terus mengedan, mengeluarkan bayi dalam kandungan sang pasien. "Yuk kita tarik napas lalu embuskan."


Zahira mengikuti instruksi yang diberikan dokter Niken dengan patuh. Meskipun sesekali terdengar rintihan kesakitan dibalut rasa bahagia karena sebentar lagi bertemu kedua anak-anaknya.


"Nah bagus. Coba diulangi lagi. Tarik napas dalam, tahan dan dorong yang kuat."


Zahira menarik napas, lalu mendorong sekuat tenaga. Detik itu juga terdengar suara tangisan bayi memenuhi penjuru ruangan.


"Alhamdulillah," ucap Dokter Niken dan beberapa perawat yang tertugas. Lantas salah satu dari mereka dengan sigap membawa tubuh mungil, berkulit putih dan berjenis kelamin laki-laki dalam dekapan. Kemudian membungkusnya menggunakan sehelai kain yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


Zahira tak dapat membendung air matanya mendegar suara tangisan itu. Rasanya letih yang ia rasakan, perjuangannya mengandung selama 8 bulan akhirnya terbayarkan sudah. Walaupun terlahir belum genap di usia 9 bulan, tapi ia amat bersyukur karena anak pertama mereka lahir dengan selamat.


Tak berselang lama, rasa mulas dan nyeri pada bagian perut kembali Zahira rasakan, menandakan si bungsu ingin menyusul sang kakak agar dapat bertemu dengan mama dan papanya di dunia ini.


"Dokter Zahira, siap bertempur untuk kedua kali?" canda Dokter Niken, disertai senyuman manis di sudut bibirnya.


Walaupun tubuh masih terasa letih, tapi ia mencoba mengulum senyuman saat mendengar perkataan dokter Niken. "Siap, Dok."


Dokter Niken melakukan peregangan sesaat sebelum membantu Zahira melahirkan anak kedua. "Baiklah. Lakukan sesuai instruksi yang saya berikan."


...***...

__ADS_1


__ADS_2