
Acara tasyakuran 4 bulanan berjalan lancar. Banyak tetangga serta rekan kerja Zahira maupun Shaka turut hadir memberikan do'a terbaik bagi ibu dan janin dalam kandungan. Selama prosesi berlangsung, Shaka tidak pernah melepaskan perhatiannya dari sosok perempuan yang kini tengah mengandung calon anak kembarnya.
"Kamu capek, Sayang? Sini biar aku pijitin," ujar Shaka setelah acara selesai digelar. Sepasang suami istri duduk berduaan di ruang keluarga sementara yang lain tengah sibuk membereskan segala sesuatu yang tadi digunakan selama acara berlangsung.
Zahira yang memang merasa tubuhnya sangat letih segera membalikan badan membelakangi Shaka. "Aduh, enak sekali pijatan kamu, Sayang. Enggak nyangka deh selain pintar mendebat orang saat di ruang sidang, ternyata kamu juga pintar memijat seseorang. Aku beruntung sekali punya suami seperti kamu. Paket komplit." Ia terkekeh sembari merem melek, menikmati pelayanan yang diberikan sang suami.
Shaka ikut terkekeh pelan. Lantas, ia pun menimpali perkataan Zahira. "Aduh, si Neng pintar sekali memujinya. Abang jadi besar kepala nih. Grogi euy dipuji wanita cantik mirip Bidadari."
Seketika wajah Zahira merah merona. Semburat merah muda terpancar di wajahnya yang cantik jelita. Malu-malu wanita itu menjawab, "Iih ... kamu lebay deh. Masa iya aku disamakan dengan Bidadari. Jika kamu membandingkan aku dengan Bidadari maka perbedaannya jauh sekali, Sayang, antara langit dan bumi."
Kegiatan Shaka terhenti saat mendengar jawaban istrinya. Perlahan, ia membalikan badan Zahira hingga posisi mereka saling berhadapan. "Jangan insecure, Sayang! Kamu itu memang betulan cantik seperti Bidadari yang turun dari Khayangan. Hati kamu bersih bagaikan kapas, sikap pun baik dan ramah terhadap siapa pun. Walaupun kedua orang tuamu adalah orang terpandang di rumah sakit, mempunyai kekuasaan tinggi di banding yang lain, tapi kamu enggak pernah sekalipun menyombongkan diri di hadapan semua orang. Kamu selalu menghormati mereka dan karena sikap itulah yang membuatku jatuh cinta padamu."
"Jadi, jangan pernah merasa minder, ya?" sambung Shaka.
Zahira memandang suaminya dengan perasaan campur aduk. Hati menghangat saat mendengar ucapan bernada pujian terucap di bibir sang suami. Setiap kalimat itu mampu menggetarkan jiwa.
Dengan sangat pelan, Zahira mengalungkan tangan di leher Shaka dan mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki itu. Tatkala posisi mereka semakin dekat, bibir ranum bagaikan buah ceri mendarat sempurna di bibir Shaka. Ciuman itu diberikan sebagai ucapan terima kasih Zahira kepada suami tercinta.
"Terim kasih, Sayang, karena kamu selalu men-support-ku dalam keadaan apa pun. I love you."
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, sepasang mata sipit memandang ke arah mereka. "Dasar anak muda, dimabuk cinta sampai enggak sadar jika saat ini ada di tempat umum. Beruntungnya hanya aku yang memergoki mereka, jika seandainya Ayah, bisa kena sidang."
__ADS_1
Tidak ingin mengganggu suasana romantis antara Zahira dan Shaka, Zavier memutuskan kembali ke depan, membantu orang tuanya dan Rini yang masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Ra, boleh enggak kalau aku pegang perut kamu?" tanya Hanna tanpa melepaskan tatapan mata dari perut Zahira yang mulai membuncit. Kehamilan kembar membuat perut Zahira semakin membesar jika dibandingkan dengan kehamilan tunggal.
"Tentu aja boleh. Sini, Han!" Zahira menepuk sebelah kursinya yang kosong. Kebetulan saat itu hanya Zahira dan Hanna saja di ruangan tersebut. Shaka, Rini, Zavier beserta kedua orang tua Zahira sedang bercengkrama di ruang tamu.
"Serius, Ra?" Hanna kembali bertanya, memastikan jika ia tidak salah mendengar.
"Serius dong. Aku enggak mungkin bohong sama bestie super baik seperti kamu. Udah sini, sebelum Shaka datang. Kalau dia datang belum tentu kamu dikasih izin mengusap perutku."
Tangan Hanna terulur ke depan. Dengan sangat lembut mengusap kedua bayi kembar dalam kandungan Zahira. "Halo, Sayang, ini Aunty Hanna. Kalian berdua baik-baik, ya di sana. Aunty tunggu kalian lahir ke dunia ini."
Hanna mengusap lembut kedua calon anak Zahira. Tanpa terasa buliran air mata jatuh membasahi wajahnya yang cantik jelita. Perempuan cantik dalam balutan kaftan warna abu-abu yang dipadu dengan jilbab warna senada motif bunga-bunga begitu bahagia, tetapi juga sedih dalam waktu bersamaan.
Bagaimana tidak sedih, harapannya untuk menikah di usia dua puluh lima tahun belum terlaksana padahal ia sudah mendambakan hidup berumah tangga dengan suami tercinta. Sialnya, sosok suami yang ia impikan dapat membina rumah tangga bersama dengannya ternyata mencintai wanita lain. Hal itu membuat dada Hanna terasa sesak bagai dihimpit bongkahan batu besar.
Zahira yang peka akan perasaan Hanna hanya dapat menghela napas kasar. Tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu sahabatnya itu.
"Hanna, apa enggak sebaiknya kamu coba membuka hatimu untuk lelaki lain daripada terus terjebak dalam masa lalu? Jujur, aku ikutan sedih melihat kamu begini." Zahira berkata dengan bola mata yang mulai berkaca-kaca. Selain merasa sedih, ia pun merasa bersalah sebab dirinya yang menjadi sumber kesedihan Hanna. Andai saja dirinya tidak ada mungkin Hanna dan Nizam bisa membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius lagi.
__ADS_1
Hanna memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya menjawab perkataan Zahira. "Aku udah mencobanya, Ra, tapi enggak bisa. Bayangan wajah Dokter Nizam selalu menari indah di pelupuk mataku. Senyumannya yang manis dan suaranya yang lembut terus terngiang di telingaku."
"Di saat aku ingin menjauh kenapa dia justru mendekat. Aku ingin melupakannya, tapi seolah semesta enggan apabila diriku melupakan lelaki sialan itu. Aku capek, Ra, capek." Ruangan yang semula sepi kini terdengar suara isak tangis bersumber dari Hanna. Wanita itu tidak sanggup lagi memendam perasaannya. Ia membutuhkan bahu seseorang untuk menjadi sandaran.
Zahira mendekap tubuh Hanna, sesekali mengusap punggung sang sahabat. "Sudahlah, jangan menangis lagi! Aku yakin suatu saat nanti akan ada seseorang yang datang mrnghampirimu, menyatakan cinta dan memintamu menjadi istrinya."
Masih dalam dekapan Zahira, Hanna berkata, "Tapi aku cuma ingin Dokter Nizam yang jadi pendampingku, enggak mau yang lain."
Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Zahira. Hanna tipe wanita keras kepala agak sulit membujuk sahabatnya itu.
"Iya, aku tahu. Namun, bagaimana jika seandainya kalian berdua memang tak jodoh? Kamu terus terjebak di jurangan yang sama sedangkan dia mencoba mengobati luka di hatinya dengan cara mencari cinta yang lain. Bukankah itu sama saja seperti kamu menyia-nyiakan hidup untuk sesuatu yang enggak pasti?"
Zahira melepaskan pelukannya, ia pandangi kelopak mata indah Hanna dengan seksama. "Kalau menurutku sebaiknya bukalah hatimu untuk pria lain. Mulailah melirik pria lain yang ada di sekitarmu. Banyak kok pria single di rumah sakit yang penampilannya lebih keren, baik dan tampan daripada Dokter Nizam. Atau ... kalau kamu mau, bisa pilih salah satu dari Kakak kembarku kebetulan mereka masih jomblo. Bagaimana, mau enggak?" tanyanya sembari menaik turunkan kedua alis.
Tangan Hanna terangkat ke atas, mengusut sisa cairan di sudut mata. "Ck, promosi terselubung." Wanita itu berdecak kesal. "Kedua Kakakmu emang tampan dan sesuai kriteria perempuan zaman sekarang, tapi hatiku udah terlanjur dimiliki Dokter Nizam. Sulit berpaling ke lain hati."
Zahira membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Kalau begitu, berdo'a aja semoga Tuhan membalikan hati lelaki itu dan malah jatuh cinta padamu. Namun, jika ternyata selamanya dia enggak cinta sama kamu, lupakan dan carilah lelaki lain."
Hanna hanya terdiam mendengar nasihat Zahira sambil meresapi setiap kalimat dari bibir sahabatnya.
...***...
__ADS_1