Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Jatuh Cinta Membuat Segalanya Indah


__ADS_3

Shaka tertegun saat melihat sebuah kue ulang tahun berbentuk silinder berada di atas meja kerjanya. Tulisan HBD (Happy Birthday) dan dua buah lilin angka 25 melambangkan usia Shaka saat ini tampak begitu menggugah selesar. Lelaki itu yakin kalau Ziva memesan kue ulang tahun itu di toko kue langganaan mereka.


Di saat Shaka tengah terpaku dan membisu, Ziva justru menyalakan dua batang lilin kecil di atas kue. Kemudian berkata, "Ayo, make a wish dulu, Pak Shaka, sebelum tiup lilinya."


Suara manja yang dibuat mendayu-dayu membuat Shaka tersadar seketika. Alih-alih membuat permohonan, lelaki itu mendorong kue ulang tahun tersebut hingga sedikit menjauh darinya.


"Saya enggak butuh kue ulang tahun darimu, Nona Ziva. Jadi, sebaiknya Anda bawa saja kue itu karena saya enggak terbiasa makan makanan dari orang asing," ujar Shaka ketus.


Andai saja kue ulang tahun itu adalah pemberian Zahira, sudah bisa dipastikan Shaka akan segera merebut kue itu dari jangkauan perempuan di hadapannya. Tampilan kue serta rasanya yang lezat membuat siapa saja ingin mencicipi kue tersebut. Namun sayang, perempuan itu bukanlah wanita yang dipersuntingnya dua bulan lalu. Tapi sudahlah, Shaka tidak ingin berandai-andai. Toh kalau mau, ia bisa membeli aneka ragam kue di toko yang sama dengan uangnya sendiri.


Mendapat respon tak terduga membuat Ziva cukup terkejut saat mendengar jawaban Shaka. "Hah? M-maksudnya, Pak Shaka, minta saya bawa pulang kue ini. Begitu?" tanyanya tergagap.


"Betul! Saya khawatir kamu menaruh sesuatu di makanan itu. Ya maklum saja, zaman sekarang banyak orang jahat yang menghalalkan segala macam cara untuk mendapat apa yang diinginkan. Meskipun dengan cara kotor sekalipun, mereka enggak akan peduli asalkan tujuannya tercapai," ucap Shaka dengan nada menyindir. Menatap sinis pada sosok perempuan yang telah dipacarinya selama enam tahun lamanya.


Kedua tangan Ziva mengepal sempurna. "Jangan sembarangan ngomong! Kalau enggak ada buktinya, itu sama aja dengan kamu memfitnahku, Shaka!" seru wanita itu dengan meninggikan nada suara. Saking tingginya, jendela di ruangan serta beberapa hiasan yang ditempel di dinding bergoyang dengan sendirinya.


Alih-alih merasa bersalah, Shaka justru tersenyum smirk. "Terserah, Nona Ziva mau bicara apa pun, saya enggak peduli!" ucapnya dingin. Lalu, ia bangkit dari kursi kebanggaannya dan berjalan mendekati daun pintu. "Silakan Anda keluar dari sini!" Daun pintu berwarna coklat telah terbuka lebar.


"Tapi ... aku. Ehm ... maksudnya saya--"


"Silakan tinggalkan ruangan ini, Nona Ziva!" Shaka menghunuskan tatapan tajam pada perempuan yang masih bergeming di tempat.

__ADS_1


Akibat suara teriakan menggelegar bagaikan gemuruh petir di siang hari, mau tidak David segera bertindak sebelum terjadi hal buruk menimpa Ziva. Ia tahu pasti seseorang akan melakukan perbuatan konyol hingga tanpa sadar telah melukai orang lain apabila dikuasai emosi yang mengebu-gebu.


"Ayo kita keluar, Nona Ziva," ajak David tatkala ia telah berada di samping mantan kekasih atasannya. "Jangan sampai melewati batas kesabaran Pak Shaka, jika tidak mau beliau berubah menjadi singa jantan!"


Tanpa memberi kesempatan pada Ziva, David telah lebih dulu meraih pergelangan tangan wanita cantik bertubuh semampai dan membawanya keluar dari ruangan. Lelaki itu sampai melupakan kue ulang tahun yang tergeletak di atas meja kerja atasannya saking ketakutan sang bos berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan.


Setelah kepergian Ziva, Shaka terduduk di sofa. Ekor matanya mengarah pada sebuah kue ulang tahun yang lilinya masih menyala.


Karena tidak ingin terjadi salah paham antara dirinya dan Zahira, Shaka mengetikan sebuah pesan kepada David.


[Setelah selesai mengantar Nona Ziva, kembalilah ke ruanganku. Bawa pergi kue ini. Terserah mau kamu apakan, aku enggak peduli!]


***


"Pak Shaka udah mau pulang?" tanya David saat melihat atasannya baru saja keluar ruangan.


Penampilan Shaka terlihat keren dengan kaos warna putih yang dilapisi blazer abu-abu serta tatanan rambut yang disisir rapih membuat si bungsu dari tiga bersaudara tampak begitu gagah. Sore ini suami Zahira tampil begitu berbeda dari biasanya.


"Iya. Saya ada janji makan malam dengan istri jadi pulang lebih awal."


Shaka melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukan pukul enam petang. Akan tetapi, asisten dan timnya masih berkutat dengan pekerjaan. "Sebaiknya kalian pulang dan beristirahat. Urusan pekerjaan bisa diselesaikan besok. Kasihan, istri, suami dan anak-anak kalian menunggu di rumah. Jangan sampai karena sibuk bekerja, kalian tak mempunyai waktu untuk keluarga. Bagaimanapun, keluarga adalah priotitas utama kalian. Mengerti?"

__ADS_1


"Mengerti, Pak!" sahut David dan tim-nya Shaka hampir bersamaan.


"Ya udah, kalau gitu aku duluan. Selamat malam semua." Lantas, Shaka kembali berjalan menuju lift yang akan membawanya ke parkiran basemen.


Shaka melajukan mobilnya menuju salah satu restoran terkenal dan mewah yang ada di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah restoran yang sering ia datangi bersama kedua orang tua, Indah dan Bagus serta keluarga dari pihak sang istri. Sepanjang jalan, tak henti-hentinya ia menyunggingkan seulas senyuman di sudut bibir membayangkan hadiah apa yang akan diberikan oleh istri tercinta. Bagaimana tidak, kini ia dapat merayakan kembali ulang tahunnya setelah enam tahun berpisah dengan istri tercinta.


[Sayang, kalau udah sampai di restoran, kamu langsung masuk aja ke dalam. Akan ada seorang pelayan yang mengantarkanmu ke ruangan.]


"Aah ... kenapa jantungku berdetak kencang begini sih? Padahal hanya ingin makan malam biasa, tapi rasanya seperti mau kencan untuk pertama kali dengan seseorang." Tangan kanan Shaka menyentuh posisi jantungnya berada sedangkan sebelah lagi fokus memainkan stir mobil. "Ternyata benar kata orang kalau jatuh cinta membuat segalanya terasa indah. Andai aja aku menyadari perasaanku kepada Zahira lebih awal mungkin kami enggak perlu terpisah selama enam tahun."


"Percuma aja menyesal toh nasi udah jadi bubur. Tapi setidaknya aku punya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Di kesempatan kali ini, aku enggak boleh menyia-nyiakan Zahira apalagi sampai melukai istriku. Dia udah banyak menderita selama ini karena kebodohanku. Jadi, aku enggak boleh memberikan kesedihan lagi kepadanya."


Lantas, Shaka segera mengetikan pesan balasan pada istri tercinta.[Oke, Sayang. Aku udah dalam perjalanan. Sekitar pukul tujuh tepat tiba di sana. Tunggu aku, ya, Sayang. Love you.] Pesan itu diakhiri sebuah emot ciuman.


Shaka menginjak pedal gas, menaikan kecepatan laju kendaraan agar segera tiba di tujuan. Lelaki itu sudah tidak sabar ingin menghabiskan waktu berduaan dengan perempuan yang begitu ia cintai.


Tanpa disadari oleh Shaka, rupanya ada satu unit mobil mengikuti di belakang. "Mau ke mana dia? Kenapa tergesa-gesa sekali?" ucap seseorang yang tengah duduk di balik kemudi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2