Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
The Scream In The Morning


__ADS_3

Makan malam pun dilalui sepasang pengantin baru dalam keheningan, hanya terdengar denting sendok garpu beradu dengan piring saja. Shaka begitu lahap menikmati masakan kesukaannya yang dibuat oleh sang istri sedangkan Zahira terlihat murung dan tak bergairah. Meskipun begitu, ia tetap menghabiskan makanan yang telah dimasak olehnya.


"Ra, aku perhatikan sejak tadi kamu diam saja. Memangnya kamu ada masalah apa? Ceritakan segala keluh kesahmu kepadaku, siapa tahu aku bisa membantu," kata Shaka disela kegiatannya menyantap makanan di atas meja.


"Tidak ada," jawab Zahira singkat. Gadis itu memerlukan waktu untuk dapat mengobati hatinya yang telah disakiti Shaka.


"Kalau tidak ada, lalu kenapa diam saja. Apa aku ada berbuat salah hingga mendiamkanku?" desak Shaka, terus mencoba mencari tahu penyebab Zahira terdiam.


Zahira meraih segelas air putih yang ada di atas meja, kemudian meneguknya hingga tak bersisa. "Aku hanya terlalu lelah dan ingin istirahat," sangkal gadis itu. Tidak ingin Shaka tahu bahwa sebenarnya dia kecewa dan terluka atas sikap sang suami. Biarlah ia menyimpan dan memendam sendiri rasa sakit itu tanpa harus memberitahu siapa pun termasuk lelaki yang dicintainya.


Makan malam berlalu begitu saja. Setelah Shaka menghabiskan semua makanan, Zahira mencuci piring kotor serta membersihkan dapur dibantu oleh sang suami. Selama belum ada asisten rumah tangga maka urusan pekerjaan rumah akan dipikul bersama-sama.


Namun, tidakah Shaka sadar bahwa keberadaannya di ruangan itu malah semakin membuat hati Zahira tercabik-cabik bagai ditusuk oleh sebilah pisau tajau menusuk hingga ke tulang sumsum. Sakit hati dan kecewa terus bersemayam di dalam dada. Rasanya tidak mudah bagi gadis itu menjalani biduk rumah tangga seperti ini. Akan tetapi, ia tak bisa mundur dan menyerah begitu saja sebab nasi sudah menjadi bubur. Penolakan Shaka diawal merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh gadis itu jika ia bersedia menjadi pengantin pengganti untuk sahabatnya.

__ADS_1


***


Zahira terbangun dari tidurnya yang panjang saat seruan azan berkumandang. Bulu matanya yang lentik bergerak perlahan, disusul kelopak mata yang perlahan-lahan terbuka. Pertama kali yang dirasakan oleh gadis itu saat membuka mata adalah kepalanya terasa begitu sakit akibat semalaman menangisi nasibnya yang tidak beruntung.


"Aargh! Kepalaku sakit sekali. Ini semua pasti karena semalam terlalu hanyut dalam kesedihan hingga aku tak bisa mengendalikan diri, terus menangis setelah mendapat penolakan dari Shaka." Memberikan pijatan lembut pada pelipis serta area sekitar kepala, berharap dengan begitu rasa sakit yang dirasa segera menghilang.


Zahira melirik jam dinding yang berada di atas nakas. Jarum pendek pada jam dinding pun menunjukan pukul lima pagi. "Sebaiknya aku membersihkan diri. Setelah itu barulah menyiapkan sarapan untuk Shaka. Jangan sampai dia berangkat kerja tanpa sarapan terlebih dulu."


Sama seperti hari sebelumnya, Zahira menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Meskipun ditolak secara mentah-mentah oleh Shaka, tapi dia tetap menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, melayani suami tanpa mengeluh sedikit pun.


"Mungkin Shaka masih tidur. Lebih baik aku kembali lagi nanti." Baru saja Zahira hendak melangkahkan kaki menuju dapur, tatapan gadis itu melihat pintu kamar Shaka sedikit terbuka. Akhirnya ia pun memberanikan diri mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar. Namun, sayangnya, Shaka tak ada di dalam kamar.


"Shaka? Shaka?" Suara gadis itu terdengar lembut bagai alunan melodi indah. Di saat berhentinya suara si gadis, terdengarlah gemericik suara kran air di kamar mandi. "Ehm ... pasti dia sedang mandi. Pantas saja saat kupanggil tidak menyahut."

__ADS_1


Tak ingin membuang waktu terlalu banyak, Zahira bergegas menuju lemari pakaian. Memilih kemeja serta setelan jas terbaik dari sekian banyaknya koleksi yang ada di dalam lemari. Kemeja panjang warna hitam lengkap dengan blazer, dasi serta celana bahan warna abu-abu sengaja dokter cantik pilih untuk dikenakan sang suami. Tidak lupa, ia pun memilihkan sepatu warna hitam untuk melengkapi penampilan suami tercinta.


"Selesai!" seru Zahira dengan tersenyum simpul. Merasa puas akhirnya bisa menyiapkan pakaian kerja untuk Shaka. "Semoga saja dia menyukai pilihanku."


Zahira hendak meninggalkan kamar utama di unit apartemen itu, tapi saat membalikan badan, di saat itu juga Shaka baru saja keluar dari kamar mandi. Tatapan mata gadis itu jatuh pada tetesan air di leher suaminya, meluncur melewati otot dada yang kencang kemudian menghilang di balik handuk yang menutupi bagian pinggang ke bawah.


Keduanya saling memandang satu sama lain. Kemudian ....


"Aaa!" teriak Zahira dan Shaka hampir bersamaan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2