Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Dokter Tampan


__ADS_3

"Loh, kok kamu yang nyiapin makanan sih. Memangnya Budhe Erna ke mana?" tanya Shaka saat dia baru saja selesai berolahraga di sasana kebugaran yang disediakan bagi para penghuni apartemen. Pria tampan nan rupawan itu menatap sosok perempuan cantik yang sedang sibuk memasak. Pandangan mata beralih pada beberapa piring makanan di atas meja makan. Semua hidangan di atas meja tampak begitu menggugah selera.


Hari ini Zahira memasak makanan rumahan seperti oseng kacang panjang dicampur tempe, tahu dan tempe mendoan, ayam tepung crispy serta ikan nila goreng. Semua menu itu dimasak sendiri oleh dokter cantik. Jemari tangan gadis itu tak hanya piawai mengobati pasien tetapi juga piawai saat menggunakan peralatan dapur.


Zahira melirik sebal ke arah suaminya. "Aku minta Budhe belanja ke pasar, membeli sayuran dan bumbu-bumbu dapur. Mau pergi ke supermarket jam segini belum buka. Jadi, akhirnya aku minta Budhe pergi saja ke pasar toh sayuran di sana tidak kalah segarnya dari yang dijual di supermarket. Malah, kita bisa membantu pedagang kecil agar bisa hidup sejahtera," kata gadis itu.


Tampak Shaka manggut-manggut mendengarkan dengan seksama. Jiwa sosial Zahira memang sudah terlihat sejak mereka masih kecil. Mungkin karena itulah banyak kaum Adam yang menyukai gadis itu namun tidak ada satu orang pun menarik perhatian sebab hati Zahira telah tertambat kepada seseorang.


"Perlu kubantu?" tawar Shaka saat melihat Zahira sedikit kerepotan menyiapkan piring bersih untuk menuangkan lauk lain sebagai pelengkap.


Zahira menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Lebih baik kamu mandi saja, Ka. Kalau kamu bersikeras membantuku, yang ada semua makanan ini aromanya akan berubah menjadi aroma tubuhmu yang bau asam." Bibir mengerucut ke depan karena kesal akan sikap Shaka barusan. Bisa-bisanya menawarkan diri di saat peluh masih bercucuran di tubuh kekar nan atletis itu.


Shaka terkekeh pelan melihat tingkah istrinya. "Baiklah. Baiklah. Aku akan segera mandi sekarang."


Sekitar dua puluh menit kemudian, akhirnya Shaka keluar dari kamar. Mengenakan kemeja lengan panjang digulung sampai batas siku warna abu-abu dipadu dengan celana bahan warna hitam menjadikan pria itu begitu gagah dan memesona.


Hari ini Shaka akan pergi ke firma hukum sebab ada rapat penting bersama sang papa. Setelah rapat selesai, dia pulang kembali ke rumah sambil membawa pekerjaan yang sempat terbengkalai selama beberapa hari.


Mengayunkan kaki menuju ruang tamu. "Ra, kamu mau ke mana kok jam segini sudah rapi?" tanya Shaka. Kening pria itu mengerut mendapati sang istri telah mengenakan blouse cream dipadu rok span di bawah lutut warna putih dengan rambut cempol ala wanita Korea hingga memperlihatkan leher jenjang nan mulus.


Dengan nada dingin Zahira menjawab, "Hari ini aku mulai bekerja lagi. Maaf, aku enggak sempat ngasih tahu kamu." Gadis itu membenarkan posisi hand bag miliknya dan berjalan meninggalkan Shaka yang masih bergeming di tempat.


"Kamu enggak sarapan dulu, Ra? Nanti masuk angin loh!" seru Shaka saat melihat Zahira hendak meninggalkan unit apartemen.


Dokter cantik bermata sipit menghentikan langkah, lalu membalikan badan secara perlahan. "Aku sudah sarapan tadi. Kamu makan saja sendirian. Semua hidangan telah tersedia di meja makan." Tanpa memberikan kesempatan kepada Shaka, dia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

__ADS_1


Shaka memandangi Zahira dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak semalam, gadis itu terkesan menghindarinya. Jika biasanya mereka menghabiskan waktu dengan makan bersama, kali ini berbeda. Moment penting untuk saling bertukar cerita satu sama lain tak lagi terjadi di antara mereka sejak kejadian beberapa hari lalu.


Sang pengacara menghela napas panjang sampai akhirnya dia duduk di kursi makan dan mulai mengambil nasi. "Ternyata makan sendirian itu enggak enak. Berasa kayak bujangan lagi," gumam pria itu lirih.


***


Setelah beristirahat selama kurang lebih satu minggu, akhirnya Zahira memutuskan kembali bekerja. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan dalam waktu dekat terlebih seminar nasional yang diadakan di rumah sakit peninggalan Mei Ling tinggal lima hari lagi sehingga memaksanya untuk menyelesaikan tugas tersebut sebelum acara di mulai.


Saat sedang berjalan menuju poli umum, dia melewati sebuah meja perawat yang kebetulan saat itu ada beberapa dokter dan perawat sedang berbincang. Mereka hendak ganti shift dan suasana pun cukup sepi sehingga bisa lebih santai seperti itu.


Sebagai putri dari pemilik rumah sakit, tentu saja Zahira tidak mau dianggap sombong dan angkuh. Akhirnya dia mulai menyapa mereka. "Selamat pagi semuanya."


"Selamat pagi," jawab mereka hampir bersamaan.


"Iya nih. Kebetulan hari ini saya mulai bertugas di bangsal Teratai, Sus. Katanya di bangsal Teratai butuh banyak dokter sehingga Dokter Rahman meminta saya dipindahkan ke bangsal tersebut," jawab Zahira ramah.


"Wah ... berarti bareng Dokter tampan dong," celetuk salah satu perawat wanita.


Zahira mengerutkan kedua alis, mencoba mengingat siapa dokter tampan yang dimaksud. Seingatnya ketika Rayyan mengadakan pertemuan di aula dalam rangka memperkenalkan gadis itu untuk pertama kali di depan seluruh pegawai rumah sakit tidak mendengar ada dokter koas ataupun dokter baru bertugas di rumah sakit milik mendiang Mei Ling. Jadi dia sedikit kebingungan sebab tidak tahu siapa orang yang dimaksud oleh mereka.


Seorang perawat berkacamata menepuk pundak rekan kerjanya. "Hush! Dokter Zahira, 'kan, enggak tahu siapa itu Dokter tampan. Beberapa hari ini Dokter Zahira istirahat di rumah jadi enggak akan tahu siapa itu Dokter tampan."


Raut wajah penuh penyesalan terlukis di wajah perawat wanita berambut sebahu. "Maafkan saya, Dokter. Saya ... enggak tahu kalau Dokter sakit."


Zahira tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Enggak apa-apa." Gadis itu melirik arloji di pergelangan tangan. Kurang dari lima menit lagi shift pagi segera dimulai. "Sudah mau jam tujuh nih. Saya permisi dulu. Mari semua!"

__ADS_1


"Silakan, Dok!" sahut mereka hampir bersamaan.


Sepanjang jalan menuju bangsal Teratai, senyuman hangat terus mengembang di sudut bibir Zahira. Menyapa dan bertegur sapa sudah menjadi kebiasaan gadis itu saat tanpa sengaja bertemu dengan rekan sejawatnya. Meskipun anak pemilik rumah sakit tetapi si cantik jelita tak pernah menganggap derajat dirinya lebih tinggi dibanding siapa pun sebab semua kekayaan itu bukan miliknya melainkan milik Rayyan dan Arumi.


"Selamat pagi Suster," sapa Zahira ketika dia telah tiba di bangsal Teratai.


Tiga orang perawat yang sedang sibuk melakukan operan tugas menoleh ke sumber suara. Sudut bibir mereka tertarik ke atas saat mendapat sosok perempuan cantik bagaikan Dewi Aphrodite tengah berdiri anggun di depan sana.


"Selamat pagi, Dokter Zahira. Saya pikir besok atau lusa Dokter baru pindah ke bangsal ini." Tiara, salah satu perawat menyambut hangat kedatangan Zahira.


"Aah iya, Sus. Kebetulan badan saya sudah mulai enakan. Jadi daripada ngelamun di rumah, enggak ngapa-ngapain lebih baik pergi ke rumah sakit," jawab Zahira mencoba bersikap ramah kepada mereka.


"Misalkan saat Dokter Zahira sedang bekerja dan merasa badan mulai enggak bilang saja kepada kami. Jangan memaksakan diri," timpal Salman, perawat pria yang mendapat shift pagi bersama Tiara.


Zahira merasa kurang nyaman diperlakukan begitu istimewa oleh mereka. Ingin meminta mereka untuk tidak memperlakukannya layaknya seorang nyonya besar tapi takut mereka malah tersinggung. Akhirnya dia hanya bisa pasrah menerima nasib.


Cukup lama mereka berbincang, mencoba saling mengenal satu sama lain agar kerjasama di antara dokter dan perawat berjalan lancar. Namun, percakapan mereka harus terhenti saat sosok pria dengan tinggi badan kurang dari 180 cm berdiri di ambang pintu. Wajah berseri, senyuman manis terlukis di sudut bibirnya yang tipis.


Dengan ramah dokter pria itu menyapa, "Halo, semua. Selamat pagi."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2