
"Bagaimana kalau bicaranya habis makan aja? Kebetulan perutku lapar sekali. Biasanya kalau aku lapar, enggak bisa konsentrasi. Jadi, tunggu sampai makananku datang dan setelah itu kita bicara langsung ke pokok masalahnya."
Walaupun Zahira sedikit kesal karena Nizam terkesan menunda-nunda waktu, tapi ia tak bisa memaksa sebab telah terlanjur janji, memberi sedikit waktu kepada lelaki itu untuk berbicara.
"Baiklah, aku setuju!" sahut Zahira singkat.
Tak berselang lama, pelayan pun datang dengan membawa nampan berisi satu piring spaghetti bolognese serta dua gelas jus alpukat. Pelayan pria itu meletakkan semua pesanan di atas meja.
"Selamat menikmati hidangan yang tersedia," katanya setelah semua pesanan ditata rapi di hadapan Zahira dan Nizam.
"Terima kasih," jawab kedua dokter itu hampir bersamaan.
Setelah pelayan itu kembali bekerja, Nizam segera menikmati makanan kesukaannya. Sementara Zahira hanya menyesap jus alpukat sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk, siapa tahu tiba-tiba saja Shaka sudah berdiri di ambang pintu dengan sorot mata tajam bagaikan binatang buas. Andai dia mengetahui lebih awal mungkin resiko terjadi perang dunia ketiga dapat diminimalisir.
Setelah Nizam menghabiskan makanan dan menegak jus alpukat hingga tersisa setengahnya, barulah lelaki itu memulai percakapan.
"Dokter Zahira, sebelumnya aku ucapkan terima kasih karena udah memberikan kesempatan untuk berbicara empat mata denganku. Aku memintamu pergi bersama karena ada hal yang ingin ditanyakan terkait ketidakhadiranmu beberapa hari lalu. Aku dengar berita katanya Dokter Zahira cuti karena pergi bulan madu bareng Pak Shaka. Apa itu benar?" tanya lelaki itu seraya memandangi iris coklat Zahira dengan lekat.
Zahira terpaku sejenak atas pertanyaan yang diajukan rekan sejawatnya itu. Lidah wanita itu kelu, tak mampu berkata-kata. Bola matanya yang indah hanya berkedip mencoba mencerna apa yang terjadi beberapa saat lalu. Akan tetapi, kejadian itu tak berlangsung lama tatkala tiba-tiba terdengar suara sendok dan garpu jatuh ke lantai. Kesadaran wanita itu pun kembali sedia kala.
__ADS_1
Wanita cantik pemilik bibir ranum nan tipis mengangguk. "Benar, Dok. Selama lima hari saya enggak masuk kerja karena cuti liburan. Kebetulan setelah menikah, kami sama sekali belum pergi berbulan madu. Jadi, saya dan suami memutuskan rehat sejenak dari rutinitas sehari-hari tanpa harus terganggu dengan urusan pekerjaan. Kebetulan ada waktu luang jadi kami memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin."
Seketika wajah Nizam tampak murung dari sebelumnya. "Berarti hubungan kalian semakin dekat bila kalian sudah memutuskan pergi berlibur bersama," ujarnya dengan suara lirih yang terdengar sarat luka, tapi juga disertai ketidaksukaan berhasil membuat Zahira terdiam beberapa saat.
"Sudah sejauh mana hubungan antara kamu dan dia? Apa kalian sudah sampai tahap ...."
"Dokter Nizam!" sergah Zahira dengan meninggikan nada suara. Ia menghunuskan tatapan tajam pada sosok pria di hadapannya. Tampak jelas raut emosi terpancar jelas di wajahnya yang cantik jelita.
"Maafkan aku, Dokter Zahira. Aku enggak bermaksud ikut campur dalam urusan pribadimu. Hanya saja aku takut kamu akan terluka untuk kesekian kali jika tahu ternyata dia sama sekali tak pernah mencintaimu. Kamu sudah memberikan sesuatu yang berharga dalam hidupmu, tapi bila ternyata dia pergi meninggalkanmu setelah mendapatkan apa yang diincarnya selama ini, apa kamu siap? Kamu siap hidup menderita karena cintamu tak terbalaskan?"
Zahira menggelengkan kepala. Tidak menduga jika Nizam mempunyai keberanian untuk mengatakan suatu hal yang tak sepatutnya diucapkan oleh seseorang yang baru dikenal. Walaupun mereka adalah rekan kerja dan pernah terlibat dalam kegiatan yang sama, tapi ia merasa Nizam tidak pantas berkata begitu kepadanya.
Zahira menghela napas panjang. Kembali mengumpulkan keberanian di dalam dada. "Saya ucapkan banyak terima kasih karena Dokter Nizam begitu perhatian kepadaku. Namun, itu semua adalah urusan pribadiku, Dokter Nizam enggak perlu ikut campur. Mau Mas Shaka mencintaiku ataupun enggak, itu bukan urusanmu jadi tolong jangan pernah mencampuri urusanku lagi!" tandas wanita itu dengan menekankan kalimat yang terucap dari bibirnya.
"Tapi, Dokter Zahira, aku melakukan itu semua karena peduli padamu," ucap Nizam masih belum ingin menyerah. Ya, dia tidak mau ada seseorang yang melukai hati Zahira, sekalipun itu adalah Shaka--suami si cantik jelita.
Zahira menyunggingkan sudut bibirnya ke atas, tersenyum sinis pada Nizam. "Saya hargai kepedulianmu. Namun, saya tegaskan sekali lagi itu semua adalah urusanku. Dokter Nizam enggak repot-repot memikirkan saya sebab antara kita enggak ada hubungan apa-apa. Saya menganggapmu sebagai rekan kerja, enggak lebih. Jadi, tolong jangan melewati batas yang ada di depan kita." Lantas, ia bangkit dari kursi kemudian memasukan dompet dan telepon genggam ke dalam saku snelli. "Saya rasa percakapan kita sampai di sini saja. Ke depannya, tolong jangan pernah ikut campur dalam urusan rumah tangga saya. Permisi!" Tanpa memberikan kesempatan pada Nizam, Zahira segera berjalan meninggalkan lelaki itu.
Akan tetapi, suara Nizam berhasil membuat Zahira menghentikan ayunan langkahnya. "Bagaimana mungkin aku enggak ikut campur dalam urusanmu, Ra, jika dirimu adalah wanita yang sangat spesial dalam hidupku. Kamu begitu berharga hingga aku enggak mau membiarkan ada seseorang yang menyakitimu."
__ADS_1
"Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu bahkan sebelum kamu menyadari perasaanmu sendiri kepada suamimu yang bodoh itu."
Seketika tubuh Zahira membeku di tempat. Perkataan Nizam barusan menimbulkan banyak pertanyaan dalam benaknya.
Bagaimana lelaki itu tahu tentang perasaannya kepada Shaka selama ini? Adakah seseorang yang memberitahu jika dirinya begitu mencintai Shaka hingga rela menggantikan Ziva di pelaminan?
Dengan seulas senyum tipis yang terukir di bibirnya, Zahira membalikan tubuh untuk menghadapi Nizam sebelum benar-benar mengakhiri percakapan mereka.
"Tapi maaf, saya enggak bisa membalas perasaan Dokter Nizam karena di hati saya cuma ada nama Mas Shaka. Selamanya cuma dia yang menduduki singgasana tertinggi di hati saya bukan Dokter Nizam ataupun yang lain. Jadi mulai sekarang, hilangkan perasaan yang ada di hatimu karena saya enggak akan pernah berpaling dari Mas Shaka."
Menghela napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Daripada Dokter Nizam membuang waktu untuk menunggu balasan cinta dari saya, sebaiknya Anda buka hatimu untuk wanita lain. Saya yakin ada banyak perempuan yang tertarik kepadamu, tapi Anda seakan acuh dan pura-pura tak menyadari itu. Janganlah mengharapkan sesuatu yang enggak pasti sedangkan di sekitarmu ada seseorang yang sedang menantimu."
"Sebelum terlambat, pikirkan baik-baik perkataanku sebab hati seseorang dapat berubah-ubah. Jangan sampai Dokter Nizam menyadari itu semua di saat dia telah dimiliki orang lain."
.
.
.
__ADS_1