Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
8760


__ADS_3

Malam harinya, Shaka mengajak Zahira makan malam di restoran mewah yang sering ia datangi bersama keluarganya saat mereka berlibur ke Australia. Sebuah restoran mewah nan megah sengaja dipilih khusus untuk makan malam romantis.


Sudah diberitahu sebelumnya bahwa mereka akan makan malam romantis maka Zahira memutuskan mengenakan dress model off shoulder hingga memperlihatkan leher dan pundak mulus tanpa cela sedikit pun. Wajahnya yang cantik dipoles make up flaw less, kendati begitu ia tetap terlihat cantik walau hanya berdandan tipis-tipis.


Zahira keluar dari kamar mandi setelah dirasa penampilannya cukup rapi dan tidak memalukan apabila tanpa sengaja bertemu teman kuliah Shaka dulu. Ya, ada khawatir dalam dada jika dirinya tanpa sengaja membuat Shaka malu karena ia berpenampilan tak menarik hingga membuat sang suami jadi bahan candaan orang lain.


Ketika pintu kamar mandi terbuka lebar, pria berkemeja putih serta jas hitam membalut tubuhnya yang tegap, terpesona pada pasangan dinner-nya. Melihat tubuh mungil itu terbalut dress berwarna merah sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih lembut bagaikan sutera.


"Shaka, bisakah kita berangkat sekarang? Ehm ... aku sudah siap," tutur Zahira malu-malu. Semburat rona merah muda terlukis di wajahnya yang cantik jelita. Ditatap sedemikian lekat membuat jantung gadis itu berdegup tak beraturan.


Shaka begitu terpesona akan kecantikan Zahira, padahal ini bukan kali pertama melihat sang istri tampil memukau dalam balutan dress ataupun gaun pesta. Namun, entah kenapa gadis itu selalu sukses membuat pria keturunan Timur Tengah berpaling dari segala hal dan hanya terpaku pada satu titik di mana saat ini istrinya berdiri.


"So beautiful," gumam Shaka, membuat kedua pipi Zahira semakin merona. Gadis mana yang tidak akan tersipu saat ada lelaki yang dicintai secara terang-terangan memuji di depannya. Akan tetapi, Shaka segera tersadar setelah mengucapkan kalimat terakhir.


Shaka berdehem guna mengendalikan diri untuk tidak terus memandangi salah satu keindahan ciptaan Tuhan. "Hem ... ya, ayo kita berangkat sekarang! Malam ini, aku secara khusus menyewa kendaraan yang akan mengantarmu ke mana pun kamu mau. Aku akan menjadi sopir pribadimu," terkekeh pelan mencoba mencairkan suasana yang dirasa cukup canggung.


Sang pengacara berparas rupawan berjalan mendekat dan menyodorkan siku kekarnya kepada Zahira. "Siap menikmati makan malam romantis pertama kita, Nyonya Shaka?"


"I-iya, Kak," gugup Zahira merengkuh lengan Shaka.


Maka berjalanlah pasangan suami istri itu menuju lobi hotel, tempat di mana kendaraan roda empat terparkir rapi. Keduanya tersenyum lebar dengan hati berbunga-bunga. Banyak harapan dan impian yang tercipta setelah mereka makan malam romantis ala pengantin baru.


***


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Shaka. Silakan masuk, meja yang Anda reservasi telah disiapkan." Seorang pelayan pria berkemeja putih sedikit membungkukan badan pada Shaka dan Zahira.


Shaka mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Zahira tersenyum kaku saat dirinya dipanggil dengan sebutan 'nyonya Shaka'. Gadis itu merasa diperlakukan secara istimewa layaknya nyonya besar. Padahal ia sadar bahwa status pernikahan hanya berawal dari keterpaksaan saja, tanpa ada cinta di dalamnya.

__ADS_1


"Ra, sebelum masuk, bisakah kamu memakai ini?" Shaka meraih sehelai kain berwarna hitam dari atas piring yang disodorkan oleh seorang pelayan.


Zahira mengernyit melihat benda yang ada di tangan Shaka. "Untuk apa pakai itu? Emangnya kita mau apa di dalam? Bukannya kamu bilang kita cuma mau makan malam saja?" tanya gadis itu bingung, mempertemukan tatapannya dengan bola mata Shaka.


"Nanti kamu akan tahu sendiri jika kita sudah masuk ke dalam." Shaka bergerak cepat ke belakang tanpa memberi kesempatan pada Zahira untuk bertanya lagi. Lelaki itu membentangkan penutup mata tersebut, kemudian mengikatnya dengan kencang, tapi tetap terasa nyaman saat dikenakan sang istri.


Pasangan suami istri itu melangkah ke dalam restoran bintang lima. Suasana temaram dan hening. Zahira berhenti sejenak sebab tak mendengar suara apa pun dari dalam restoran bahkan suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring pun tidak terdengar sama sekali.


Shaka mendekati telinga Zahira dan berbisik, "Percayalah padaku, aku enggak mungkin mencelakaimu."


Perasaan Zahira sedikit tenang saat mendengar perkataan Shaka, tapi ia tetap saja penasaran sebenarnya apa yang tengah disiapkan oleh lelaki tampan di sebelahnya itu.


Terdengar bunyi kursi ditarik, disusul suara bariton seorang pria. "Duduklah dulu, sebentar lagi aku buka penutup matamu."


Tanpa membantah, Zahira mendudukan bokongnya di atas kursi. Irama jantung gadis itu semakin tak beraturan saat merasakan napas Shaka yang terembus, menerpa wajahnya. Dan sesekali tubuh meremang ketika permukaan kulit mereka saling bersentuhan.


Bola mata terpejam, perlahan mulai terbuka. Bulu mata lentik bergerak dan tak lama kemudian sepasang mata sipit terbuka sempurna. "Shaka ... i-ini?" Zahira tak lagi mampu berkata seakan lidahnya kelu secara tiba-tiba.


"Kenapa? Terlalu istimewa?" tebak Shaka sambil mengulas senyuman di wajah. "Wanita secantik dirimu memang pantas mendapat kejutan istimewa ini."


Hati Shaka menjerit. Seharusnya sejak dulu aku memperlakukanmu bak seorang Ratu, Ra. Hanya saja aku yang terlalu bodoh karena enggak bisa menyadari perasaanku sendiri kepadamu.


Zahira masih tampak terkejut akan kejutan yang diberikan oleh Shaka. Bagaimana tidak, restoran mewah itu disulap sedemikian rupa hingga menjadi ruangan yang sangat indah.


Suasana temaram dan hening, tak ada lampu menyala hanya puluhan lilin menjadi satu-satunya sumber cahaya. Zahira mengedarkan pandangan, ia semakin dibuat terkejut bahkan rahang gadis itu nyaris saja copot kala mendapati dirinya tengah berada di antara kumpulan lilin yang dibentuk menyerupai hati. Taburan kelopak mawar merah bersebaran di mana-mana menguarkan aroma khas.


Shaka duduk di hadapan Zahira. Tak lama kemudian seorang pelayan membawa sebuah kue ulang tahun. Kue ulang tahun berbentuk silinder dengan tinggi sekitar 10 cm dan diameter 15 cm. Kue tersebut dilapisi oleh krim strawberi berwarna merah jambu, tampak begitu menggiurkan. Bagian atas kue, terdapat empat buah lilin dengan angka 8760.

__ADS_1


Seorang pelayan undur diri, setelah menyalakan lilin dan menjalankan tugasnya dengan sangat baik.


"Kejutan yang sangat indah, Ka. Namun, kenapa lilin di atas kue ini bertuliskan 8760. Adakah makna dibalik semua angka ini?"


Shaka tersenyum, matanya tidak mau lepas dari sosok bidadari cantik di hadapannya. "Keempat lilin ini melambangkan bahwa selama 8760 hari, kita telah saling mengenal satu sama lain. Bahkan sejak saat kita masih dalam kandungan mungkin saja kamu dan aku saling mengobrol satu sama lain menggunakan bahasa yang hanya dimengerti oleh kita berdua."


Lelucon itu membuat Zahira terkekeh pelan. Malam ini sikap Shaka terkesan begitu berbeda dari biasanya.


Shaka meraih jemari lentik Zahira, kemudian meremasnya dengan lembut. "Terima kasih karena kamu telah terlahir ke dunia ini dan menjadi tulang rusukku, Ra. Aku enggak tahu harus bagaimana jika seandainya saja kamu enggak terlahir ke dunia ini, mungkin aku akan menjadi jejaka lapuk yang selamanya hidup menyendiri."


Jantung Zahira berdetak cepat, hampir melompat dari tempatnya. Sikap Shaka membuat dirinya melayang ke atas awang. "Tapi buktinya, kamu enggak jadi bujang lapuk, Ka, karena aku terlahir ke dunia ini, menyusul kamu."


"Aah ... ya, kamu benar. Predikat bujang lapuk harus kusematkan kepada kedua kakak kembarmu, Ghani dan Zavier, karena sampai sekarang mereka belum menikah," ucap Shaka setengah berkelakar.


"Aih ... kenapa aku malah membahas kedua pria menyebalkan itu. Merusak suasana saja," lanjut Shaka. "Ra, kita tiup lilin ini bersama-sama. Tapi sebelum itu, make a wish dulu."


Keduanya bertatapan, saling melempar senyum satu sama lain, menahan gejolak di dalam dada masing-masing. Lantas, mereka memejamkan mata dan mulai berdo'a dalam hati.


Tuhan, jagalah selalu keutuhan rumah tangga kami. Jangan biarkan ada badai menerpa hingga membuat kapal kami karam dan terhempas oleh gelombang tersebut.


Tuhan, jadikanlah pernikahanku dan Zahira merupakan pernikahan pertama dan terakhir. Hadirkanlah anak-anak yang taat agama dan dapat berguna bagi nusa dan bangsa.


Usai merapalkan do'a, baik Zahira dan Shaka membuka kelopak mata. Kemudian keduanya menarik napas, lalu meniup lilin di atas kue tersebut hampir bersamaan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2